
Zhou Yuan menghela nafas, ia menyadari pemuda yang bernama Jian Chen ini sudah mencari informasi mengenai dirinya terlebih dahulu sebelum keduanya berbicara.
Zhou Yuan sempat melirik gadis di samping Jian Chen yang merupakan istrinya, dia tidak banyak berbicara dan diam-diam mengawasi sekitarnya.
Ketiganya tetap berada ditempat serikat sampai hari menjadi gelap, ketika malam sudah larut akhirnya mereka berangkat sesuai rencana, pergi ke makam kuno tersebut.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk ketiganya tiba di sana, dihadapan mereka sudah ada seekor beruang yang baru saja terbangun ketika merasakan hawa keberadaan rombong Zhou Yuan.
Beruang itu menjaga pintu makam agar tidak ada siapapun yang masuk, selain tubuhnya besar beruang itu mempunyai bulu yang memancarkan percikan listrik.
Yang menganggu Zhou Yuan saat berhadapan dengan beruang itu adalah aura pembunuh yang dipancarkannya, ia tidak mengerti bagaimana bisa seekor siluman bisa memiliki aura pembunuh sepekat itu.
Untungnya saat tengah malam, tidak ada seorang pendekar pun yang ada disekitar makam.
"Mei'er, maaf aku harus merepotkanmu hari ini, bisakah kau menanganinya?" Jian Chen berbicara pada istrinya sambil melirik beruang itu.
"Aku mengerti Suamiku, biarkan aku yang melakukannya, kalian bisa pergi ke dalam terlebih dahulu."
Jian Chen tersenyum lembut sambil mengelus kepala istrinya. "Berhati-hatilah, jangan sampai kau terluka."
"Aku mengerti..." Meily tersipu lalu mengecup pipi Jian Chen. "Anda juga harus hati-hati di dalam."
Selepas berkata berkata demikian Meily menarik pedang di pinggangnya, sebuah pedang pusaka yang dialiri elemen petir.
Zhou Yuan menebak bahwa pedang petir itu merupakan salah satu dari Pusaka Elemental Dunia yang disebutkan Jian Chen sebelumnya, kualitas maupun ketajamannya tidak berbeda jauh dengan pedang Kusanagi.
Tanpa pikir panjang Meily segera berlari ke beruang itu dan mulai melancarkan serangan, teknik pedang yang dimilikinya cukup lincah untuk membuat beruang itu terluka.
Siluman beruang mengayunkan tangan berbulunya namun Meily dengan sigap menghindar sebelum memberikan serangan balik yang tidak bisa dihindari.
Kulit beruang yang keras dan tidak mudah tergores nyatanya bisa ditembus oleh pedang gadis itu, menunjukkan kualitas pusakanya yang amat tinggi.
__ADS_1
Siluman beruang meraung marah, ia berusaha mencabik-cabik Meily namun kelincahan gadis itu terlalu cepat untuknya.
Meily mulai bergerak mundur dan beruang itu mengikutinya, cara demikian efektif sehingga beruang tersebut mulai bergerak mengejar Meily.
"Pendekar Yuan, sebaiknya kita pergi sekarang!"
Zhou Yuan mengangguk, jika sesuai rencana, Meily sebenarnya hanya mengulur waktu agar beruang itu menjadi sibuk dengannya sementara ia dan Jian Chen akan masuk ke dalam makam.
Kekuatan Meily sebenarnya di atas siluman beruang itu bahkan jika dia menginginkannya, gadis itu bisa membunuh beruang tersebut sekarang juga.
Zhou Yuan dan Jian Chen akhirnya mulai melangkah kakinya ke makam itu, sebuah lorong yang panjang menuju ke bawah tanah adalah pemandangan pertama yang mereka temui.
Keduanya kemudian menuruni tangga, saat tiba di dasar mereka menemukan sebuah ruangan yang memiliki ukuran yang luas tetapi dipenuhi tulang-belulang yang berserakan.
Jian Chen menarik pedang asura dari sarungnya, Zhou Yuan tak lama kemudian mengikuti dan mencabut pedang Kusanagi. Keduanya sama-sama merasakan ada tanda bahaya di ruangan itu.
Ketika baru saja melangkahkan kaki, tiba-tiba tulang-belulang yang berserakan itu mulai bergetar hebat diikuti mereka bergerak dan menyatu dengan tulang lainnya, tak lama kemudian tulang itu menyusun sendiri lalu membentuk kerangka tulang manusia.
Melihat kedatangan penyusup ke makam ini, pasukan tengkorak itu mulai bergerak ke arah Zhou Yuan dan Jian Chen.
Jian Chen yang jadi pertama maju, dengan pedang di tangan ia segera menebas pasukan tengkorak itu satu persatu hingga mereka hancur berkeping-keping.
Zhou Yuan juga tidak tinggal diam saja, dia mulai mengayunkan pedangnya ke pasukan tengkorak ketika mereka sudah berada dalam jarak serangannya.
Walupun jumlah pasukan tengkorak itu sangat banyak namun kekuatan mereka hanya mencapai puncak alam perak. Zhou Yuan bisa dengan mudah menghadapi mereka tanpa kesulitan sedikitpun.
Setengah jam berlalu, Zhou Yuan kemudian merasakan ada yang aneh ketika terlalu lama dikepung pasukan tengkorak itu. Ia yakin seharusnya dirinya dan Jian Chen telah menghabisi lebih dari setengahnya namun jumlah mereka seperti tidak berkurang.
"Pendekar Yuan, lihatlah mereka baik-baik!"
Jian Chen kemudian menunjuk salah satu tengkorak yang sudah hancur, tak lama kemudian tulang yang hancur itu mulai menyatu awal dan tengkorak yang sudah rusak tersebut bergerak dan hidup kembali.
__ADS_1
Zhou Yuan menahan nafas, dia baru menyadarinya. Melawan pasukan tengkorak ini memang mudah namun menghadapi mereka terlalu justru akan menghasiskan banyak tenaga.
Zhou Yuan menggunakan perubahan jenis api yang membuat pedang kusanagi dibalut api biru yang membara, Zhou Yuan menebaskan pedangnya ke arah tengkorak itu, tidak hanya hancur, tulang-tulang itu berubah menjadi debu saat terkena api biru Zhou Yuan.
Tindakan yang sama dilakukan Jian Chen pada pedangnya, pemuda yang memiliki mata emas itu membuat pedangnya dibaluti api.
Zhou Yuan mengerutkan dahi, api Jian Chen terasa aneh menurutnya karena apinya berwana api hitam, meski ada jarak beberapa langkah ia merasakan api Jian Chen lebih panas dari teknik api biru miliknya.
Keduanya terus menebaskan tengkorak-tengkorak itu hingga berubah menjadi debu. Tidak membutuhkan waktu lama hingga mereka berhasil menghancurkan setiap pasukan tengkorak yang ada.
Tidak lama setelah pasukan tengkorak itu habis, dinding di ruangan itu tiba-tiba terbuka lalu menunjukkan jalan lainnya.
"Makam kuno biasanya memiliki beberapa ruangan dan setiap ruangan mempunyai rintangan yang berbeda-beda. Bisa dibilang orang yang membuat makam ini mempunyai niat agar hanya orang-orang kuat saja yang boleh masuk ke dalam..." Jelas Jian Chen .
"Sepertinya anda sudah lebih berpengalaman, Pendekar Jian?"
Juan Chen mengangguk, ini bukan kali pertama bagi dirinya menelusuri makam kuno, tiga dari enam pedang pusaka yang ia dapat berasal dari makam kuno seperti ini.
Jian Chen kemudian mulai melangkah menuju ruangan selanjutnya disusul Zhou Yuan setelahnya.
Setiap ruangan makam nyatanya dipisahkan oleh lorong yang panjang, sebelum Zhou Yuan melangkah ke lorong ia diberi peringatan oleh Jian Chen agar hati-hati karena biasanya lorong makam ditaruh banyak jebakan.
Benar saja, beberapa jarum beracun segera terlepas ketika keduanya menekan salah satu tombol jebakan di lantai lorong.
Zhou Yuan yang sudah diperingatkan jadi lebih siap ketika beberapa jarum itu mengarah padanya, ia mengeraskan kulitnya dengan teknik sisik naga untuk memantulkan serangan anak panah tersebut.
Zhou Yuan yakin mereka yang berada di alam kristal sekalipun tidak bisa menghindari jarum beracun tersebut dalam jarak sedekat itu, kemungkinan besarnya mereka akan tewas karena jebakan di makam ini andai tidak berhati-hati.
Disisi lain Zhou Yuan berdecak kagum melihat Jian Chen yang seolah bisa melihat semua jebakan jarum-jarum itu dan menghindarinya dengan gerakan seminimal mungkin.
Keduanya terus melangkah dilorong makam sampai akhirnya tiba di ruangan kedua, Zhou Yuan mengerutkan dahi ketika di ruangan tersebut ia menemukan banyak patung yang berbaris.
__ADS_1
Patung itu terbuat dari batu dan membentuk patung seorang prajurit yang lengkap dengan senjatanya. Zhou Yuan menyipitkan mata, ia sadar patung-patung itu bukan pajangan biasa di makam ini.