
"Wah, bagaimana Kakak bisa bergerak seperti itu? Ajari aku! Ajari aku!" Zhou Yuyin berkata penuh semangat.
Zhou Yuan tersenyum canggung, setelah beberapa hari dirinya keluar dari pelatihan. Zhou Yuan menghabiskan waktunya bersama adiknya atau lebih tepatnya, Zhou Yuyin yang selalu menempel padanya.
Zhou Yuyin telah tumbuh menjadi anak yang manis, lucu serta energik. Gadis itu selalu penuh semangat dan tersenyum ceria setiap saat.
Saat ini Zhou Yuan sedang melakukan peragaan teknik pedang di halaman luar saat Zhou Yuyin tidak sengaja melihatnya dan meminta untuk mengulanginya.
"Gerakan tadi terlalu berbahaya untukmu, Yin'er, kau bisa terluka jika melakukannya..." Zhou Yuan menyentuh hidung adiknya itu sambil tersenyum simpul.
"Tapi Yuyin mau belajar gerakan itu..." Wajah Yuyin seketika cemberut.
Zhou Yuan menggaruk pipinya canggung, satu hal yang ia kenali dari sifat adiknya itu ia selalu merajuk andai dirinya tidak memenuhi permintaannya.
Tentu saja hal itu adalah sifat manja adiknya padanya sebagai seorang Kakak, Zhou Yuan bisa melihat gadis kecil itu ingin selalu diperhatikan olehnya.
Zhou Yuan memutar otaknya, ia tidak bisa mengajari teknik pedang pada Zhou Yuyin yang masih tiga tahun.
Pandangan Zhou Yuan kemudian terarah ke sebuah ranting tak jauh dari keduanya berdiri. Zhou Yuan mengambil ranting itu lalu memberikannya pada Zhou Yuyin.
"Yin'er, apakah kau ingin belajar pedang?" Tanya Zhou Yuan pada gadis kecil itu.
"Pedang? Apa itu gerakan yang Kakak lakukan sebelumnya?"
Zhou Yuan mengangguk lalu mengatakan bahwa ranting yang di pegang adiknya tersebut adalah pedang untuknya. Zhou Yuan menyuruh agar Yuyin menuruti gerakannya.
"Tapi kenapa pedang aku seperti ini sementara pedang Kakak seperti itu?" Zhou Yuyin menunjuk pedang Zhou Yuan yang merupakan pedang pusaka betulan.
"Pedang ini adalah pedang asli, berat dan juga terlalu tajam untukmu jika memakainya..." Zhou Yuan sempat menyesal tidak membuat pedang kayu terlebih dahulu jika berlatih di tempat terbuka seperti ini. "Intinya, pedang ataupun bukan seseorang bisa belajar bermain pedang walaupun tanpa menggunakan pedang."
Zhou Yuyin mengangguk meski tidak terlalu mengerti sebagian penjelasan kakaknya.
Zhou Yuan kemudian memperagakan teknik pedang Keluarga Zhou yang paling dasar dan tidak memiliki banyak gerakan yang rumit, ia sengaja memperlambat gerakannya agar adiknya dapat mengikuti gerakannya serta bisa memahaminya.
__ADS_1
Biarpun sedikit bermain-main, Yuyin bisa memperagakan teknik yang Zhou Yuan ajarkan dengan benar.
'Hm, sepertinya Yin'er memiliki bakat dalam bermain pedang..." Zhou Yuan mengelus dagunya saat melihat adiknya terus mengulangi gerakan pedang dasar dengan ranting pohonnya.
"Bagaimana Kakak, aku hebatkan!" Yuyin kemudian menghampiri Zhou Yuan sesudah merasa mampu melakukannya. Mata gadis itu bercahaya penuh semangat.
"Iya Yin'er, kau memang gadis yang hebat..." Zhou Yuan tersenyum sambil mengelus pucuk kepala adiknya itu.
Selepas keduanya bermain bersama, Zhou Yuan kembali ke dalam rumahnya, menemukan ibunya yang sedang menghidangkan beberapa masakan di meja makan untuk mereka makan siang.
"Sepertinya hubungan kalian sudah menjadi lebih dekat ya?" Lin Ruyue tersenyum melihat Zhou Yuan kini menggendong Zhou Yuyin di pundaknya.
Zhou Yuan mengangguk, meski awalnya Zhou Yuyin sedikit merasa asing melihat dirinya pertama kali namun setelah beberapa saat bersama, Yuyin mulai terbuka dan ingin bermain dengannya.
"Ibu, kapan peresmian Ayah dilaksanakan?" Zhou Yuan mencomot salah satu topik di meja makan, saat ini hanya ayahnya yang tidak bisa ikut karena terlalu sibuk.
"Besok hari, semua penduduk Kota Riva dan anggota Keluarga Zhou yang lain sedang mempersiapkan perayaaan untuk acara pengangkatan ini. Yuan'er, pastikan besok kamu harus bangun pagi."
Zhou Yuan mengangguk, ia sebenarnya sudah tidak sabar dengan hari tersebut.
Kediaman Keluarga Zhou dibuka untuk umum selama sehari ke depan, penduduk biasa atau turis bisa mengikuti acara itu tanpa perlu memiliki undangan.
Zhou Bing mengumumkan penyerahan tahtanya di depan seluruh penduduk Kota Riva lalu mengangkat Zhou Yao sebagai penggantinya menjadi Ketua Keluarga Zhou generasi selanjutnya.
Zhou Yuan menyaksikan pengangkatan itu sampai akhir, ia duduk di samping singgasana ayahnya saat Zhou Yao secara resmi menjadi pemimpin keluarga.
Acara itu berjalan baik sampai akhir, tidak ada gangguan atau sejenisnya selama perayaan sedang berlangsung.
Beberapa hari setelah pengangkatan ayahnya, Zhou Yuan di ajak Kakeknya untuk mengelilingi Kota Riva. Keduanya tidak bermaksud jalan-jalan melainkan sedang menuju ke salah satu tempat.
Dengan menggunakan kereta kuda bangsawannya yang dapat bergerak cepat, tidak membutuhkan waktu lama hingga keduanya sampai di tujuan.
"Yuan'er, sebelumnya Kakek ingin memberitahukan tentang ini tiga tahun yang lalu saat kita mengunjungi Kota Hana. Tapi situasi saat itu tidak tepat membuat Kakek lupa untuk memberitahukannya."
__ADS_1
Zhou Yuan mengerti karena tidak lama mereka tiba di kota Hana waktu itu, ada kejadian yang membuat mereka bertemu dengan organisasi Salju Abadi. Membuat keduanya tidak bisa menikmati Kota Hana dan keindahan di dalamnya.
Zhou Bing kemudian menoleh ke depan. "Bangunan yang ada di hadapan kita adalah Serikat Pahlawan, tempat dimana para pendekar bisa mencari harta, tahta, dan... Ehm, Dari raut wajahmu sepertinya kau sudah mengetahuinya."
Kata-kata Zhou Bing terhenti melihat ekspresi Zhou Yuan yang tidak terlalu antusias saat mendengar nama serikat pahlawan.
Tebakan itu memang tidak salah, dari buku yang Zhou Yuan baca ada berbagai halaman yang menceritakan tentang Serikat Pahlawan.
Serikat Pahlawan merupakan salah satu program pemerintah Kekaisaran dalam
menangani para organisasi yang mulai bermunculan di berbagai daerah.
Dengan adanya Serikat Pahlawan, para pendekar setidaknya jadi termotivasi untuk bergerak dalam membasmi para organisasi kriminal baik individu maupun yang berkelompok.
Serikat Pahlawan juga menerima berbagai permintaan masyarakat terhadap kejahatan atau masalah yang pernah mereka alami, permintaan masyarakat ini akan disebut sebagai misi bagi pendekar dan kalau bisa diatasi ia akan memperoleh uang sesuai dengan harga dari setiap misinya.
Zhou Bing kemudian mengajak Zhou Yuan masuk ke dalam serikat, kedatangannya langsung menjadi pusat perhatian karena status Zhou Bing sangat terkenal luas di Kota Riva.
Beberapa orang segera memberikan hormat padanya, mereka langsung mempersilahkan jalan pada keduanya padahal saat itu ada antrian panjang di serikat pada bagian administrasi.
Zhou Bing memang merupakan pemimpin yang dicintai rakyatnya, keberhasilan ia dalam mengelola Kota Riva menjadi kota tercantik adalah pencapaian yang tak bisa dibantah lagi.
Zhou Bing sebenarnya sedikit keberatan karena menerobos antrian namun orang-orang disekitar justru sengaja mengedepankan dirinya.
"Tuan Walikota, apakah ada yang bisa aku bantu?"
Petugas administrasi yang merupakan seorang gadis muda memberikan senyum terbaiknya saat mantan Walikota itu berkunjung.
"Aku ingin mendaftarkan cucuku menjadi bagian dari serikat pahlawan..."
Zhou Yuan mengerutkan dahinya dan sedikit terkejut, ia tidak menduga Kakeknya akan bertindak demikian tanpa persetujuan atau membicarakan dulu dengannya.
Petugas administrasi itu mengangguk, ia kemudian bertanya beberapa informasi mengenai identitas Zhou Yuan seperti nama, jenis kelamin, dan umur. Setelah mencatatnya ia lalu memberikan sebuah lencana padanya dengan huruf E tertulis di lencana itu.
__ADS_1
Lencana itu sebagai tanda status Zhou Yuan di serikat pahlawan. Huruf E yang tertera merupakan peringkat Zhou Yuan sebagai pahlawan kelas E, tingkatan paling rendah di dalam serikat.