Legenda Buah Surgawi

Legenda Buah Surgawi
Eps. 162 — Xiao Rou Vs He Bei


__ADS_3

Chu Lingxi tidak mempunyai ide bagaimana agar ia bisa lolos dari kejaran bola api Yifei, sebenarnya sulit untuk tetap tenang dan berpikir di situasi yang dialami gadis itu.


Chu Lingxi hanya bisa menggunakan segenap kecepatan dan kelihaiannya menghindari setiap bola api yang hampir menyentuh tubuhnya. Setelah beberapa saat Chu Lingxi menemukan bola api Yifei perlahan melambat dan ukurannya mengecil.


Menyadari hal tersebut Chu Lingxi mengalirkan tenaga dalam pada kakinya dan bergerak lebih cepat lagi, tidak berangsur lama hingga enam bola api yang mengejarnya mengecil sebelum akhirnya menghilang.


Chu Lingxi menghentikan langkah serta bernafas dengan lega namun baru beberapa detik ia merasa lega, gadis itu dikejutkan dengan Yifei yang sudah berada di dekatnya.


Chu Lingxi terlalu fokus pada enam bola api itu sehingga tidak menyadari Yifei sudah beberapa langkah di depannya dengan pedang yang kini telah terselimuti api biru.


"Celaka-!"


Chu Lingxi tidak mempunyai waktu untuk menghindar, ketika Yifei mengayunkan pedangnya ia segera mengangkat busurnya untuk menahan serangan itu.


Dengan mudah, pedang Yifei yang tajam serta dialiri tenaga dalam membelah busur panah Chu Lingxi seperti tahu.


Busur panah Chu Lingxi bukanlah sebuah pusaka atau senjata yang berkualitas, sehingga tidak mengherankan pedang Yifei bisa memotongnya dengan mudah.


Yifei kembali mengayunkan pedangnya namun sebelum ia melakukannya, Chu Lingxi segera mengangkat kedua tangannya buru-buru. "Berhenti! Aku menyerah!"


Yifei tersenyum tipis sebelum menarik pedangnya kembali.


Setelah senjatanya hancur, Chu Lingxi tidak berbeda jauh dengan Gong Yun yang tidak bisa melakukan apa-apa jika tanpa senjatanya.


"Peserta Jiang Yifei lolos masuk ke perempat final." Xiong Bian mengumumkan kemenangan gadis itu.


Yifei tersenyum puas lalu turun dari arena,


"Bagaimana, kemampuanku tidak buruk bukan?" Yifei melipat tangannya di dada, bertanya pada Zhou Yuan.


Zhou Yuan tersenyum lembut lalu mengelus rambut gadis itu. "Kau sudah bisa berpikir dan melihat semua kesempatan yang ada dalam pertarungan, kau telah bertambah kuat Fei'er."


Yifei merasa senang dipuji demikian meski ia menyembunyikan emosinya dengan memasang ekspresi cuek dan tidak peduli.


Peserta selanjutnya yang terakhir adalah Xiao Rou melawan He Bei.

__ADS_1


He Bei merupakan seorang gadis yang terkenal dengan ilmu kecepatan kakinya yang tinggi serta bersenjatakan sebuah pisau.


Ketika kedua belah pihak telah naik ke atas panggung, He Bei sudah memasang wajah tidak suka pada Xiao Rou.


He Bei tidak menyembunyikan kekesalan pada gadis berambut merah itu karena paras Xiao Rou yang lebih menarik perhatian penonton dibandingkan dirinya.


Wajah He Bei sebenarnya dikategorikan wanita yang cantik namun tentu dihadapan Xiao Rou, gadis itu bukan tandingannya sehingga parasnya tidak terlalu dilirik oleh sebagian penonton dan malah ke arah Xiao Rou.


"Pertandingan ini hanyalah sebuah ajang turnamen, tidak boleh meracuni atau melukai hingga membahayakan lawan. Kalian mengerti?!" Xiong Bian mengingatkan Xiao Rou dan He Bei sebelum keduanya memulai pertandingan.


Xiong Bian bisa merasakan ketidaksukaan He Bei pada Xiao Rou jadi dia menekankan kalimatnya agar kebencian gadis itu tidak sampai membahayakan peserta yang lain.


Xiao Rou dan He Bei mengangguk, Xiong Bian mengambil jarak beberapa langkah sebelum meniup peluit di tangannya.


"Aku akan merusak wajahmu sampai kau tidak bisa dikenali..." He Bei mengeluarkan dua pisau dibalik lengan gaunnya, ia melepaskan aura pertarungan yang hebat.


Xiao Rou sempat kebingungan dengan pernyataan He Bei tetapi ia memilih tidak merespon dan menarik pedangnya.


He Bei menjadi penyerang yang pertama, dia bergerak cepat dan tiba-tiba muncul di depan Xiao Rou sambil menyerang menggunakan dua pisaunya.


Xiao Rou sedikit terkejut dengan kecepatan He Bei namun ia mampu bereaksi, dengan pedangnya Xiao Rou mampu menahan serangan pisau tersebut sebelum mulai menyerang balik.


Kecepatan serangan Xiao Rou jauh lebih lincah dan memiliki gerakan yang rumit untuk di baca.


He Bei berdecak, dia bisa merasakan ada perbedaan kemampuan dirinya dengan Xiao Rou, He Bei segera mengambil jarak karena sadar bertarung jarak dekat bukan lawan gadis berambut merah tersebut.


He Bei mempunyai cara lain untuk mengalahkan Xiao Rou yaitu dengan mengandalkan kecepatannya.


He Bei berlari cepat mengelilingi arena pertandingan sekaligus memutari Xiao Rou, mereka yang tidak memiliki pandangan yang jeli akan kesulitan melihat pergerakan gadis itu.


"Dia memutari Rou'er agar lawannya panik dan kebingungan, dia jelas memperhitungkan semuanya..." Zhou Yuan mengamati pertarungan itu di kursi peserta, dia adalah salah satu orang yang bisa melihat kecepatan kaki He Bei.


Xiao Rou berusaha agar tetap tenang di situasi tersebut sambil mengamati situasi pertarungan lebih jauh saat tiba-tiba dari arah sampingnya sebuah pisau melesat cepat ke arahnya.


Xiao Rou hampir terlambat bereaksi namun dengan sigap ia berhasil menghindari pisau tersebut, biarpun demikian rambut merahnya sedikit terpotong karena pisau itu melaluinya.

__ADS_1


Belum Xiao Rou berpikir He Bei sudah melemparkan beberapa pisau lainnya. Gadis itu terus melepaskan pisau sambil berlari memutari Xiao Rou.


Xiao Rou tidak punya pilihan selain menghindar, akhirnya beberapa luka mulai terukir di tubuh gadis itu karena tidak berhasil menghindari semua serangan He Bei dengan sempurna.


"Kalau kau terus menghindar seperti itu, kulit cantikmu bisa rusak..." He Bei tertawa mengejek disela berlarinya.


Xiao Rou tidak menjawab, dia kemudian memejamkan matanya untuk memfokuskan indra pendengarannya.


He Bei semakin tertawa, ia berpikir Xiao Rou mempunyai masalah di otaknya karena malah memejamkan mata disaat sedang bertarung.


Dia melepaskan pisau dan kali ini di arahkan ke titik buta Xiao Rou, berpikir pisau itu akan mengenai targetnya namun kenyataannya membuat He Bei melotot.


Dengan cepat Xiao Rou berbalik dan menangkis pisau itu dengan pedangnya.


"Bagaimana..." Jantung He Bei berhenti sesaat, Xiao Rou menangkis pisaunya saat mata gadis masih terpejam.


Tidak percaya dengan kejadian tersebut, He Bei kembali menembakkan beberapa pisau lain namun kondisi yang sama terulang, Xiao Rou dapat dengan mudah menangkis serangan itu meski matanya tertutup.


Tidak peduli ia melemparkan pisaunya dari arah mana Xiao Rou seperti bisa melihat serangannya dengan akurat.


"Ketika salah satu indra tertutup maka indra lainnya akan menajam..." Xiong Bian mengelus janggutnya, mengerti alasan Xiao Rou bisa menebak serangan pisau He Bei dengan mudah.


Xiao Rou tidak bisa melihat kecepatan lari He Bei namun ia bisa mendengar pergerakan maupun getaran langkah gadis itu. Dengan cara memejamkan mata, Xiao Rou dapat memaksimalkan indra pendengaran dan indra perabanya ke tingkat yang lebih sempurna.


Keduanya terus beradu serangan, He Bei mengigit bibirnya saat menyadari pisau yang dibawanya telah berkurang lebih dari separuhnya


"Jika seperti ini terus aku bisa kalah..." He Bei mengigit bibirnya.


He Bei tidak mempunyai cara lain untuk mengalahkan Xiao Rou selain taktik serangan yang digunakannya sekarang.


Ketika He Bei masih sibuk melemparkan pisau demi pisau, tiba-tiba Xiao Rou menangkap salah satu pisaunya dan melemparkan balik ke arah gadis itu.


He Bei terkejut dan tidak siap akan di serang seperti ini, pisau yang dilempar Xiao Rou segera menancap telak di pahanya.


Tubuh He Bei langsung terjatuh dan gadis itu berguling kesakitan, Xiong Bian yang menyadari situasinya buru-buru mengakhiri pertandingan. He Bei tidak mungkin melanjutkan pertarungan dengan kondisinya apalagi darah mulai mengucur deras dari paha perempuan tersebut.

__ADS_1


Xiong Bian segera mencabut pisau itu sekaligus mengalirkan tenaga dalam pada He Bei untuk menghentikan pendarahan.


Xiong Bian tersenyum tipis, ia menatap Xiao Rou yang kini perlahan membuka matanya kembali. Dia tidak percaya gadis itu akan mengalahkan lawannya dengan cara seperti ini.


__ADS_2