Legenda Buah Surgawi

Legenda Buah Surgawi
Eps. 126 — Penyerangan Istana VIII


__ADS_3

Sementara di gerbang selatan, timur, dan barat sedang dalam pertempuran masing-masing. Di gerbang utara, Jiang Qisha masih bertarung dengan Guo Zhengxa.


"Hanya dengan pasukan segini kau ingin menghancurkan istana, bukankah kau terlalu percaya diri?" Jiang Qisha mendengus kesal sambil melepaskan bola api ke arah lawannya.


Jiang Qisha dan Guo Zhengxa telah bertukar puluhan jurus, tidak ada dari keduanya yang saling diunggulkan, bisa dibilang mereka memiliki kekuatan yang hampir berimbang.


Guo Zhengxa menghindari bola api itu dan menangkis sisanya dengan tapaknya yang sudah terselimuti cahaya. "Penyerangan ini baru pembukaan, akan aku tunjukkan penyerangan yang sesungguhnya..."


Selepas berkata demikian, Guo Zhengxa mengangkat tangannya lalu menembakkan bola cahaya ke atas langit.


Jiang Qisha mengerutkan dahi, bola cahaya itu meledak di ketinggian yang cukup tinggi lalu meledak seperti kembang api.


Jiang Qisha yakin tembakan cahaya itu bukan tanpa alasan, meski masih siang hari semua orang bisa melihatnya dengan jelas.


Tidak lama kemudian setelah ledakan itu, terjadi sesuatu di atas langit, ratusan siluman burung datang memenuhi langit istana.


"Bagaimana, apa pasukanku ini cukup untuk menghancurkan istanamu?" Guo Zhengxa tersenyum mengejek.


Mata Jiang Qisha melebar, ia sama sekali tidak menanggapi provokasi Guo Zhengxa, perhatiannya tertuju ke atas langit.


Jiang Qisha pernah mendengar ada sebuah organisasi kriminal yang dapat mengendalikan siluman, namun organisasi yang di maksud bukan berasal dari Kekaisaran Bulan melainkan Kekaisaran Matahari.


Dia tidak mengetahui bagaimana Kuil Awan Langit dapat beraliansi dengan mereka. Jiang Qisha bisa melihat dari setiap siluman burung itu ada tiga penunggang di atasnya.


Bukan hanya Jiang Qisha saja yang terkejut tetapi semua prajurit istana dan pasukan organisasi langsung menghentikan pertarungan mereka sesaat, semua perhatian terpusat ke atas langit.


Burung-burung siluman itu perlahan mulai menurunkan ketinggian terbang mereka, di ketinggian yang cukup aman penunggang-penunggangnya mulai melompat ke bagian dalam istana.


"Sial-!"


Jiang Qisha berdecak pelan, ia tidak menduga akan mendapat serangan di atas langit. Jiang Qisha ingin berlari ke bagian dalam istana namun Guo Zhengxa tidak membiarkan dan menghadang langkahnya.


"Jangan halangi aku Zhengxa!" Jiang Qisha mengeram penuh amarah.


Jiang Qisha harus menyelamatkan cucunya, jika serangan dari atas maka Jiang Yifei bisa dalam bahaya.


"Oh, justru aku ingin menghalangimu. Aku tidak akan membiarkan kau bertindak sesukamu."


Jiang Qisha berdecak kesal. "Jangan membuatku bertindak yang membuat kita menyesal, Zhengxa!"


Jiang Qisha kemudian melepaskan api di seluruh tubuhnya, warna api itu kini bukan biru lagi melainkan api putih.


Guo Zhengxa tersenyum tipis. "Akhirnya kau bertarung dengan serius, kalau begitu aku juga akan menggunakan kekuatan penuhku."


Elemen cahaya Guo Zhengxa mulai menyelimuti seluruh tubuhnya dan membentuk sebuah jirah cahaya. Keduanya kembali beradu jurus yang membuat tanah-tanah disekitarnya jadi bergetar.


***


"Bagaimana bisa?!" Zhou Yuan terkejut melihat pasukan siluman burung dan menyaksikan penunggang-penunggangnya mulai turun disekitar bagian dalam istana, memulai penyerangan pada prajurit.

__ADS_1


"Tuan muda..." Prajurit istana yang sejak tadi bersama Zhou Yuan memasang ekspresi pucat melihat situasinya jadi memburuk.


"Apa disini ada busur? Aku ingin kalian membawa busur panah sebanyak mungkin dan memfokuskan menyerang siluman burung itu. Harus ada yang menangani bagian atas disini."


Para prajurit itu mengangguk, persenjataan di istana sangat lengkap, semuanya ada di gudang persenjataan. Para prajurit kemudian pergi meninggalkan Zhou Yuan sendiri.


Pandangan Zhou Yuan kembali ke arah pertempuran dimana situasi prajurit istana semakin terdesak. Zhou Yuan yakin hanya soal waktu prajurit itu akan dibantai oleh pasukan musuh.


"Seandainya ada Kakek Bai, mungkin semua ini akan mudah di atasi..." Zhou Yuan mengepalkan tangannya.


Zhou Yuan teringat dengan kekuatan Kakek pengemis itu, ia belum pernah menemukan seorang pendekar yang memiliki kekuatan yang begitu mengerikan seperti Kakek Bai yang dapat membelah lautan.


Mengingat Kakek Bai membuat Zhou Yuan jadi teringat pemberiannya, Zhou Yuan mengeluarkan sebuah cermin seukuran segenggaman tangan.


"Kata Kakek Bai cermin ini bisa membantuku dalam posisi terdesak..." Zhou Yuan menggaruk kepalanya. "Aku tidak yakin tapi tidak ada salahnya kalau mencoba."


Sesuai yang diinstruksikan Kakek Bai, Zhou Yuan membanting cermin itu ke lantai dengan kuat.


Cermin tersebut kemudian retak, awalnya tidak ada yang terjadi namun setelah beberapa saat sebuah portal muncul di atas cermin itu.


Zhou Yuan mundur dua langkah saat melihatnya, ia baru pertama kali melihat sebuah portal seumur hidupnya. Portal itu terus membesar hingga sampai seukuran orang dewasa.


"Yuan'er, aku tidak menduga kau akan memanggilku secepat ini."


Zhou Yuan mendengar suara seseorang berada dalam portal tersebut, suaranya tidak asing dan Zhou Yuan sepertinya pernah mengenalnya.


"Kakek Bai!" Zhou Yuan mendadak jadi antusias.


Kakek Bai menguap pelan, tampak ia seperti baru bangun tidur. Kakek Bai melihat sekelilingnya dan terkejut ia muncul di tengah peperangan.


Pandangan Kakek Bai kemudian terarah pada Zhou Yuan, ia tampak memahami apa yang akan Zhou Yuan minta padanya.


"Yuan'er, aku mengerti apa yang akan kau katakan tapi sebaiknya kau lupakan tentang itu..." Kakek Bai tersenyum tipis.


Wajah antusias Zhou Yuan memudar, "Kakek Bai, aku membutuhkan bantuan anda disini. Jika pemerintah kekaisaran hancur oleh pihak organisasi maka Kekaisaran Bulan akan dalam kekacauan yang besar..."


Zhou Yuan juga mengatakan bahwa yang menyerang istana saat ini adalah organisasi Kuil Awan Langit, organisasi yang memimpin semua organisasi di dunia persilatan.


Andai Kakek Bai bisa menghabisi pemimpin serta tetuanya disini maka organisasi itu akan runtuh bersama aliansinya, dengan kekuatannya, tidak sulit bagi Kakek Bai menghancurkan mereka.


Zhou Yuan meyakini bahwa Kakek Bai akan membantunya mengingat ia pernah menghancurkan perompak sebelumnya.


"Yuan'er, sepertinya kau salah paham tentangku... Aku tidak memihak siapapun disini, mau pemerintah ataupun organisasi kriminal yang memimpin Kekaisaran, aku tidak peduli. Aku sudah tidak lagi terlibat di dunia persilatan." Kakek Bai tersenyum pahit.


"Tapi Kakek Bai, jika situasi dibiarkan seperti ini terus maka kejahatan akan merajalela. Kita harus menghancurkan semua kejahatan di dunia persilatan..." Zhou Yuan menggaruk kepala, ia sebenarnya tidak punya waktu berdebat seperti ini.


"Dunia akan selalu ada kejahatan, sebab itu kita bisa mengenal kebaikan. Kita tidak akan mengetahui namanya kekayaan jika tidak ada kemiskinan. Mereka semua selalu ada, Yuan'er, tidak bisa salah satu dihilangkan..."


Ekspresi Zhou Yuan menjadi buruk, ia memahami apa yang dikatakan Kakek Bai memang tidak salah. Dunia sejatinya selalu seimbang, ada aturan tidak terlihat yang menyeimbangkan kedua sisi agar tetap setara.

__ADS_1


Tubuh Zhou Yuan merasa jadi lemas, ia merasa Kakek Bai tidak akan membantunya.


Kakek Bai melihat ekspresi Zhou Yuan, bibirnya tersenyum. "Tenang Yuan'er, aku memang tidak akan terlibat dalam dunia persilatan tapi bukan berarti aku tidak akan menolongmu."


Wajah Zhou Yuan mendadak jadi cerah. "Maksud Kakek?"


Kakek Bai tidak menjawab, ia mengayunkan tangannya seketika dari ruang hampa muncul 4 pedang emas yang melayang di udara.


Zhou Yuan mundur dua langkah. "Sihir..."


Kakek Bai tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. "Ini adalah penyimpanan ruang, kau tidak akan memahaminya karena di dunia ini tidak ada yang seperti ini."


Zhou Yuan memang terkejut, harus dia akui apa yang dilakukan Kakek Bai benar-benar diluar nalar pikirannya.


"Aku akan meminjam salah satu jenis pusaka ku padamu, pedang yang bisa kau kendalikan hanya dengan pikiran. Pedang ini-..." Kakek Bai menggaruk kepala melihat Zhou Yuan memasang wajah kebingungan. "Ehm... Akan sulit dijelaskan, lebih baik kau memahaminya dengan cara berbeda."


Kakek Bai kemudian menyentuh dahi Zhou Yuan dengan jari telunjuknya, seketika kepala Zhou Yuan terasa begitu sakit.


Saat jari Kakek Bai ditarik kembali, Zhou Yuan bisa merasakan ada pengetahuan asing yang masuk ke dalam kepalanya, pengetahuan itu adalah cara Zhou Yuan memahami untuk menggerakkan 4 pedang emas itu.


Bukan hanya sampai disana Kakek Bai juga memulihkan tenaga dalam Zhou Yuan yang hilang. Kini Zhou Yuan kembali ke kondisi primanya semula.


"Ini..."


Zhou Yuan tidak mengerti kenapa bisa seperti ini namun ia sadar semuanya karena tindakan Kakek Bai.


"Kakek Bai terimakasih..." Setelah diberi kemampuan seperti ini, Zhou Yuan yakin bisa membalikkan situasi peperangan. Zhou Yuan kemudian pergi menuju ke tengah pertempuran.


Kakek Bai melihat tubuh Zhou Yuan yang menjauh sebelum kemudian menoleh ke arah peperangan yang sedang terjadi, ia menggelengkan kepala.


"Sampai kapanpun, konflik manusia memang tidak akan berakhir..."


Kakek Bai memilih melihat semuanya di atas menara istana sambil menghela nafas seiring waktu.


***


Bagian dalam istana sudah cukup membuat prajurit istana kerepotan dengan pasukan musuh yang berhasil menerobos sehingga tidak bisa dibayangkan ketika siluman burung datang dan membawa pasukan organisasi lain, prajurit istana dibuat kewalahan karenanya.


Prajurit istana merasa pasrah serta ingin menyerah mendapati jumlah pasukan musuh setidaknya dua kali lipat dari mereka.


Prajurit istana semakin putus asa ketika beberapa rekannya mulai tumbang ke tanah, saat pasrah nyawa mereka tidak akan selamat lagi, sebuah pedang emas meluncur ke tengah mereka, membunuh satu pasukan organisasi.


Sebelum semuanya yang melihat bereaksi, tiga pedang emas lainnya menyusul dan menembus 3 anggota organisasi yang lain.


Semua yang menyaksikan tampak mematung apalagi aksi empat pedang emas itu tidak sampai di sana. Ia mulai melayang di udara dan mulai membunuh pasukan organisasi di sekitarnya.


Empat pedang emas memiliki ketajaman pedang yang tinggi, pedang itu meluncur bagai anak panah dan melubangi tubuh pendekar-pendekar yang dilaluinya.


Tidak peduli mereka berada tingkatan mana, pasukan organisasi langsung terbunuh olehnya dalam sekali serangan.

__ADS_1


__ADS_2