
Zhou Yuan mendengar penjelasan Mu Liang sampai akhir tanpa menyela sedikitpun, pandangannya tertuju pada pohon Buah Surgawi sebelum tiba-tiba ia menghela nafas panjang.
Apa yang dikatakan Mu Liang tentang keanehan pohon Buah Surgawi memang benar, dan Zhou Yuan juga menyaksikan hal tersebut dari kehidupan sebelumnya.
Dikehidupan pertama, Zhou Yuan menemukan pohon Buah Surgawi yang tumbuh disekitar tempat tinggalnya, ia menyaksikan jelas bagaimana keistimewaan pohon itu ketika tumbuh, hanya saja yang membedakan pohon Buah Surgawi dihadapannya sangat berbeda dengan pohon Buah Surgawi yang ia jumpai dikehidupan lalu.
Pohon Buah Surgawi yang ditemukan Zhou Yuan memiliki warna hitam, bukan emas seperti ini. Daun, dahan, hingga sampai akar berwarna hitam secara keseluruhan bahkan bentuk Buah Surgawinya juga ikut berwana hitam.
'Sebenarnya Buah Surgawi apa yang aku makan sebelumnya...' Zhou Yuan masih mencari jawaban yang dicarinya.
Buah Surgawi yang di makan Zhou Yuan disebut-sebut sebagai Buah Surgawi ke delapan yang tidak tercatat dalam sejarah dan memiliki nama Buah Kematian. Zhou Yuan sudah bertanya tentang Buah Kematian itu pada Yun Feiyu tetapi perempuan itu tidak mengetahui jawabannya.
Zhou Yuan yakin sebab dirinya bereinkarnasi karena memakan Buah Kematian tersebut, Zhou Yuan memeriksa pohon ini karena ingin mencaritahu tentang Buah Surgawi yang dimakan dikehidupan sebelumnya tetapi sepertinya ia tidak menemukan informasi apapun.
Merasa tidak ada yang ia dapatkan lagi Zhou Yuan berpamitan pada Mu Liang serta berterimakasih pada Kepala Keluarga Mu itu karena jika bukan karenanya, ia mungkin tidak akan mendapatkan Buah Surgawi.
Zhou Yuan dan Yifei kemudian kembali ke penginapan semula dan berisitirahat, keesokannya harinya mereka melanjutkan perjalanan ke kediaman Keluarga Zhou yang sempat tertunda.
Zhou Yuan ingin terbang namun tiba-tiba Yifei menahannya dengan menarik lengan jubahnya.
"Apa ada yang ingin kau katakan Fei'er?" Zhou Yuan tersenyum, Yifei tampak tidak bersikap biasanya pagi ini.
"Aku ingin bertanya, Mm... Apakah aku boleh berjumpa dengan keluargamu?" Tanya Yifei ragu.
Zhou Yuan tersenyum dan mengelus pipi gadis itu. "Kenapa kau bertanya demikian, tentu kau boleh bertemu dengan mereka."
"Tapi aku sedikit gugup ketika membayangkan nanti bertemu dengan orang tuamu."
"Aku justru tidak sabar membayangkan reaksi seperti apa ketika mereka bertemu dengan Fei'er, mereka pasti sangat senang berjumpa denganmu."
Pipi Yifei mendadak memanas dan berubah merah seperti kepiting rebus, tidak menduga Zhou Yuan akan berkata seperti itu.
Zhou Yuan tertawa kecil lalu mengajak gadis itu untuk melanjutkan perjalanan kembali, Yifei kali ini tidak gugup, ia sepertinya mendapatkan kepercayaan dirinya kembali.
__ADS_1
***
"Yue'er, kau datang kesini lagi?" Zhou Yao melihat Lin Ruyue berada di kamar Zhou Yuan sambil memeluk pakaian puteranya dan ia menangis.
"Maaf, suamiku, aku tidak bermaksud-..."
Sebelum Lin Ruyue menyelesaikan ucapannya Zhou Yao sudah mendekat dan memeluknya. "Tidak apa, aku tidak menyalahkanmu jika kau merindukan Yuan'er, aku pun juga sama..."
Tiga tahun lebih berlalu semenjak berita kematian Zhou Yuan, Lin Ruyue tidak bisa berhenti untuk tidak memikirkan puteranya ketika melewati kamar yang dulunya tempat Zhou Yuan tumbuh.
Lin Ruyue masih merasa tidak percaya anak yang ia sayangi meninggal begitu saja, biarpun waktu sudah lama berlalu, kesedihan itu tak kunjung pudar oleh waktu.
Lin Ruyue mungkin terlihat biasa saja jika dilihat dari luar, tersenyum bersama Zhou Yuyin dan suaminya tetapi dalam hatinya, ia menikam perasaannya begitu dalam.
Di hari ini perempuan itu tidak bisa menahan emosinya, ia menangis dalam pelukan Zhou Yao sampai membasahi pakaian suaminya.
"Kau pasti sudah menahannya begitu lama..." Zhou Yao mengelus rambut Lin Ruyue dengan lembut.
Lin Ruyue terus menangis sampai perempuan itu tertidur dalam pelukan suaminya, Zhou Yao kemudian membawanya ke tempat tidurnya agar ia berisitirahat.
Zhou Yao menghela nafas melihat kondisi istrinya, ia menyadari begitu terlukanya Lin Ruyue semenjak kepergian Zhou Yuan.
Zhou Yao tidak bisa berbuat banyak selain menghibur Lin Ruyue, selepasnya dia pergi untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai pemimpin Keluarga Zhou, baru saja ia keluar dari tempat tinggalnya dirinya mendapati Zhou Yuyin, adik Zhou Yuan, tengah berlatih di halaman rumahnya sambil mengayunkan pedang kayunya.
"Ayah, mau ikut berlatih bersamaku?" Yuyin menghentikan latihannya setelah melihat keberadaan Ayahnya.
"Kau sudah berlatih cukup lama hari ini, tidakkah kau ingin berisitirahat Yin'er?" Zhou Yao tersenyum hangat kepada putrinya itu.
Pertanyaan Ayahnya membuat wajah Yuyin seketika berubah menjadi cemberut tetapi ia tidak bisa membantahnya karena memang benar, hal itu membuat Zhou Yao tertawa kecil dan mengacak rambut putri mungilnya karena gemas.
Yuyin adalah satu-satunya yang bisa menghibur dan membuat Zhou Yao dan Lin Ruyue tersenyum semenjak kematian Zhou Yuan.
Zhou Yuyin yang berusia hampir 7 tahun kini telah menjadi gadis yang manis dan ceria, meski tidak sedewasa dan sejenius kakaknya ketika diusia yang sama, Yuyin tetap menjadi kebanggaan Keluarga Zhou.
__ADS_1
"Ayah, dimana Ibu, aku tidak melihatnya hari ini, aku ingin berlatih bersama Ibu daripada Ayah."
Zhou Yao tersenyum. "Ibumu sedang tertidur, kau jangan mengganggunya, dia butuh istirahat saat ini."
Yuyin memanyunkan bibirnya, "Baik ayah, Yuyin mengerti."
Zhou Yao tersenyum dan meminta agar putri kecilnya berlatih sendiri karena ia masih sibuk bekerja, Yuyin kembali mengayunkan pedang kayunya dihalaman rumah sementara Zhou Yao pergi ke ruangan kerjanya.
Ketika baru memasuki ruangannya, Zhou Yao dikejutkan dengan seseorang yang sudah menunggunya di sana.
"Yao'er kau lama sekali, aku sudah menunggu satu jam disini..."
Zhou Yao terkejut ketika melihat Zhou Bing, "Ayah sudah melakukan latihan tertutup?"
"Kau bisa melihatnya bukan?"
Zhou Yao menyipitkan mata, memeriksa kekuatan Zhou Bing dan sesaat ia menahan nafasnya saat menemukan kekuatan Ayahnya itu telah mencapai puncak Alam Kristal.
"Ayah sudah menerobos!?" Zhou Yao terkejut.
"Begitulah, tapi untuk menerobos ke Alam Cahaya kerja keras semata tidaklah cukup, sepertinya aku tidak bisa melakukannya seumur hidupku." Zhou Bing tersenyum tipis.
Menerobos ke Alam Cahaya memang berbeda dengan menerobos tingkatan alam-alam sebelumnya, ada pembatas besar yang menjadi jarak antara kekuatan puncak Alam Kristal dengan Alam Cahaya tahap awal yaitu adanya Gerbang Cahaya.
Selain membutuhkan sumberdaya yang banyak, seseorang harus mempunyai pemahaman beladiri yang matang untuk membuka Gerbang Cahaya. Walupun bisa sekalipun, akan membutuhkan waktu bertahun-tahun saat proses pembukaan gerbang itu terjadi.
"Aku datang kesini karena ingin bertemu denganmu, ada hal yang belum aku bicarakan mengenai anakmu." Ujar Zhou Bing langsung ke intinya.
"Yuan'er?"
"Ya, sebenarnya ada beberapa rahasia yang kau tidak ketahui tentang anakmu itu dan kurasa aku harus memberitahukannya sekarang."
Zhou Yao mengerutkan dahi tetapi ia tidak menyela apalagi Zhou Bing selepasnya langsung bercerita tentang rahasia yang selama ia tutupi mengenai tubuh khusus Zhou Yuan.
__ADS_1