Legenda Buah Surgawi

Legenda Buah Surgawi
Eps. 111 — Permintaan Jiang Qisha


__ADS_3

Jiang Yifei hampir kehilangan keseimbangan akibat serangan tapak tersebut, ia terkejut sekaligus takjub menyaksikan kemampuan Zhou Yuan.


"Bagaimana kau bisa melakukan itu?" Yifei sama sekali tidak melihat kecepatan Zhou Yuan saat tahu-tahu pemuda itu sudah ada di depannya.


"Dengan bergerak secepat angin, melampaui kecepatan gerakan mata..." Zhou Yuan menjelaskan sambil tersenyum lembut.


Yifei mendengus lalu menunjuk Zhou Yuan sambil berkata lantang. "Pertandingan ini belum berakhir, besok aku akan melawanmu lagi!"


Setelah berkata demikian Jiang Yifei berbalik dan pergi meninggalkan Zhou Yuan dan lainnya.


Selama ini Yifei cukup percaya diri dengan kemampuannya apalagi menurut Kakeknya dia sering disebut-sebut sebagai pendekar jenius di generasi sekarang tetapi setelah melihat kemampuan Zhou Yuan, gadis itu harus menghadapi kenyataan pahit.


Biarpun kalah, Yifei mengakui kemampuan Zhou Yuan yang diatasnya, hanya saja sulit bagi dirinya menerima kekalahan dari orang yang seumuran dengannya.


Yifei menghentakkan setiap langkahnya dengan keras menunjukkan suasana hati gadis itu tidak baik.


"Kurasa aku tidak berbuat salah bukan?" Tanya Zhou Yuan pada dua kasim yang menontonnya sejak tadi.


Dua kasim itu saling berpandangan, mereka lebih terkejut dengan kemampuan Zhou Yuan yang melampaui Jiang Yifei padahal sebelumnya mereka menyangka Zhou Yuan akan babak belur disini.


"Kurasa tidak Tuan muda, Tuan Putri tidak akan sebenci itu hanya karena kalah dalam berlatih..." Meski Kasim itu berkata demikian namun di dalamnya hatinya ada keraguan yang terbenak.


Selama ini selain Kaisar Bulan sendiri yang bisa mengalahkan Jiang Yifei, tidak ada yang bisa menandinginya kecuali Zhou Yuan sebelumnya.


Zhou Yuan menghela nafas, berharap Yifei tidak mempermasalahkan ini lebih jauh. Zhou Yuan tidak mempunyai niatan lagi untuk berkeliling setelah peristiwa semua ini jadi ia langsung kembali ke dalam kamarnya dan beristirahat.


Keesokan harinya, Zhou Yuan hendak berlatih di kamarnya seperti biasa saat pintu kamarnya tiba-tiba diketuk dari luar. Zhou Yuan membuka kamarnya dan mendapati seorang gadis cantik berambut pink sudah berdiri di sana.


"Tuan Putri..." Zhou Yuan terkejut karena yang datang adalah Jiang Yifei lalu buru-buru memberikan hormatnya.


"Ikuti aku! Kita bertarung lagi hari ini sampai aku bisa menang darimu!" Tanpa menunggu jawaban Zhou Yuan, Yifei menarik lengan pemuda itu dan membawanya ke salah satu tempat yang ada di istana.


Berbeda dengan tempat sebelumnya yang dimana tempat para prajurit berlatih, kali ini Yifei membawa Zhou Yuan pada tempat tinggalnya.


Tempat itu sangat luas dan dibatasi oleh tembok yang menandakan tidak sembarang orang bisa masuk kesini. Yifei berhenti menarik lengan Zhou Yuan ketika sampai dihalaman depan kediamannya.


"Kita bertarung lagi, terserah kau mau menyerangku atau tidak, aku akan mengalahkanmu!"


Zhou Yuan bisa melihat ada semangat dari sorot mata gadis itu, sepertinya ia masih kesal karena kalah tanding semalam.


Yifei mulai mengalirkan tenaga dalam pada sekujur tubuhnya, seperti sebelumnya ia yang jadi pertama menyerang.

__ADS_1


Zhou Yuan merasa jika ia terus menghindar maka gadis itu akan semakin kesal dengannya jadi kali ini ia balik melawan.


Zhou Yuan menghindari beberapa serangan awal Yifei sebelum menyerang balik, dalam waktu beberapa detik keduanya bertukar serangan gadis itu sudah dalam keadaan terdesak.


Sebuah pukulan mengenai tubuh gadis itu yang membuatnya terdorong tiga langkah, Yifei mendengus dan maju kembali, ia meningkatkan kekuatannya lebih tinggi lagi.


Peristiwa ini tidak terjadi sekali melainkan berulang-ulang, beberapa kali gadis itu terkena serangan Zhou Yuan ia langsung bangkit dan terus melanjutkan pertarungan tanpa putus asa.


Yifei mempunyai teknik beladiri yang hebat namun dihadapan Zhou Yuan teknik-tekniknya seolah tidak berarti, hampir serangan yang ia lepaskan tidak ada yang bisa mengenainya.


Yifei memang menguasai Teknik api biru yang merupakan jurus tingkat tinggi di dunia persilatan hanya saja di dalam pertarungan, teknik tidak selalu menentukan kemenangan.


Sebanyak apapun seseorang belajar teknik beladiri selama mereka tidak mempunyai pengalaman bertarung maka semua itu tidak akan berarti, kasus yang sama dialami Yifei saat melawan Zhou Yuan.


Yifei mungkin sering bertanding dengan para prajuritnya, masalahnya pertandingan itu bukanlah pertarungan sesungguhnya di dunia persilatan. Berbeda dengan Zhou Yuan yang sudah merasakan pertarungan sesungguhnya yang melibatkan hidup dan mati.


Zhou Yuan memberikan serangan tapak lainnya yang membuat Yifei terpental ke sekian kalinya dan kali ini gadis itu jatuh terduduk di tanah.


Nafas Yifei memburu, sesudah merasakan serangan Zhou Yuan gadis itu menyadari ada perbedaan jarak antara kemampuan keduanya.


"Kita lanjut besok, aku akan terus menantangmu sampai kau kalah?!" Jiang Yifei mendengus lalu berbalik dan masuk ke dalam rumahnya.


Keesokan harinya, Yifei mengetuk kamar Zhou Yuan lagi dan minta bertanding ulang, kasus serupa terjadi besok dan lusanya.


Zhou Yuan sudah berulang kali menolak ajakannya tapi Yifei selalu memaksa bahkan mengancamnya. Gadis itu masih bersikeras ingin mengalahkan dirinya.


Disisi lain saat keduanya saling bertanding, Yifei mengalami perkembangan dalam pertarungannya. Yifei selalu menjadikan pelajaran setiap dari kekalahannya dan mencoba menjadi lebih baik dari sebelumnya, hal itu membuat kemampuan gadis itu meningkat.


Secara tidak langsung Zhou Yuan menjadi guru bagi Jiang Yifei dan gadis itu juga mengakui dalam hatinya ia banyak belajar dari pertarungan bersama Zhou Yuan.


"Ternyata kalian berdua ada disini?"


Suara yang akrab terdengar di telinga Zhou Yuan maupun Jiang Yifei, keduanya langsung menghentikan pertarungan saat mengetahui orang tersebut.


"Yang Mulia!"


"Kakek!"


Zhou Yuan memberikan hormatnya sementara Jiang Yifei langsung memeluk kakeknya.


"Fei'er, Kakek mencarimu kemana-mana ternyata kau ada disini." Jiang Qisha mengelus pucuk kepala Yifei yang kini memeluknya dengan manja.

__ADS_1


"Yifei tidak berniat bersembunyi dari Kakek, jadi bukan salah Yifei..." Yifei memperat pelukannya.


Mata Zhou Yuan berkedip cepat, tidak percaya gadis yang selalu bersikap dingin itu berubah sifat saat bertemu Jiang Qisha.


Meskipun cantik, Yifei selalu memasang wajah galak ketika bersamanya namun saat Jiang Qisha muncul, Yifei langsung menunjukkan senyum manis dan berubah menjadi gadis yang cantik dan ceria.


Kedua perbedaan ini cukup membuat Zhou Yuan terkejut.


Pandangan Jiang Qisha lalu menoleh ke arah Zhou Yuan. "Yuan'er, aku tidak menduga kau akan bersama cucuku, awalnya aku ingin memperkenalkan kalian hari ini tetapi sepertinya takdir lebih dulu mempertemukan kalian berdua."


"Takdirnya apanya, Hmph!" Jiang Yifei mendengus kesal lalu pergi ke kediamannya.


"Sepertinya hubungan kalian tidak terlalu baik ya?" Jiang Qisha menatap cucunya yang berjalan pergi.


"Bisa dibilang demikian Yang Mulia." Zhou Yuan tersenyum canggung.


Setiap kali gadis itu kalah darinya, Yifei selalu memandang Zhou Yuan dengan kesal tapi disisi yang sama ia juga menyadari gadis itu tidak sedang membencinya. Yifei hanya tidak suka yang namanya kekalahan.


"Yuan'er, kau jangan ambil hati sikap Fei'er, dia memang gadis seperti itu..."


Jiang Qisha menggaruk kepalanya lalu menjelaskan bahwa sejak kecil Yifei selalu dimanjakan baik oleh orang tuanya maupun Jiang Qisha sendiri. Apapun yang gadis itu inginkan, pihak istana selalu memberikannya.


Hal ini cukup diwajari karena Jiang Yifei adalah satu-satunya cucu perempuan di Keluarga Jiang.


Ketika besar sikap Yifei menjadi lebih kasar, galak, serta tidak mau mengalah, apalagi jika sesuatu tidak memuaskan hatinya. Meski begitu, Yifei sangat manja di depan orang terdekatnya termasuk orang tua dan Kakeknya.


"Yang Mulia tidak perlu khawatir, aku mengetahui terlepas dari sikap Tuan Putri, dia adalah gadis yang baik." Zhou Yuan tersenyum menjawabnya.


"Bagus, itu yang aku harapkan padamu." Jiang Qisha menepuk pundak Zhou Yuan, tertawa lebar. "Sebenarnya aku berencana menemuimu hari ini karena berkaitan dengan Fei'er..."


Jiang Qisha menjelaskan maksudnya bahwa ia ingin Zhou Yuan menjadi guru dari Yifei selama dua minggu ke depan. Karena menurutnya Zhou Yuan adalah satu-satunya yang cocok menjadi guru Yifei selain dirinya.


"Tentu saja aku akan membayarmu, kau tinggal sebutkan saja berapa nilainya aku akan membayarnya nanti."


Zhou Yuan menggaruk kepala, dikehidupan kedua ini ia sudah menjadi guru dari dua gadis yang ia temui, pertama Xiao Rou lalu kedua Yue Linxia.


Zhou Yuan sebenarnya ingin menolak tawaran itu tetapi melihat tatapan Jiang Qisha yang penuh harap padanya, sulit baginya berkata tidak.


Pada akhirnya Zhou Yuan mengangguk dan menyetujui akan menggurui Yifei.


Jiang Qisha tersenyum senang, Zhou Yuan tidak mengetahui bahwa sebenarnya Jiang Qisha sudah merencanakan semua ini sejak lama, Kaisar Bulan itu berniat ingin menjodohkan cucunya dengan pemuda itu secara diam-diam sampai Zhou Yuan jatuh hati pada Yifei.

__ADS_1


Dalam sekali lihat saja, Jiang Qisha sadar masa depan Zhou Yuan akan cemerlang apalagi mengingat bakatnya yang tidak pernah ditemui didalam dunia persilatan selama ini.


Hanya Zhou Yuan yang pantas bersanding disamping cucunya pikir Jiang Qisha.


__ADS_2