
Kedatangan Zhou Yuan berhasil membuat situasi pihak prajurit istana dilokasi itu jadi tertolong.
Ketika pasukan organisasi memfokuskan menyerang Zhou Yuan, mereka menggunakan waktu tersebut untuk memulihkan diri.
Prajurit istana sempat mematung serta merasa takut ketika Zhou Yuan menghabisi lawan-lawannya dengan begitu cepat dan cara mengerikan.
Mereka tidak percaya Zhou Yuan bisa melakukan seperti itu padahal usianya begitu muda, tentu yang paling mengejutkan adalah kemampuan Zhou Yuan yang begitu tinggi.
Jika bukan karena fakta Zhou Yuan ada di pihak prajurit istana, mungkin mereka akan menganggap Zhou Yuan lebih mengancam daripada pasukan organisasi.
Zhou Yuan masih menenangkan nafasnya, sesudah mulai teratur ia kembali bersiap menyerang pasukan organisasi.
Pembantaian yang ia lakukan pada mereka tidak membuat pasukan organisasi itu takut, sebaliknya mereka semakin bernafsu ingin membunuh Zhou Yuan.
Pasukan organisasi segera menyerang Zhou Yuan dari berbagai arah tanpa membiarkannya berisitirahat, mereka yakin tenaga dalam Zhou Yuan sudah terkuras banyak sesudah menggunakan kekuatan sebesar itu.
Hal itu tidak salah, tenaga dalam Zhou Yuan memang telah berkurang cukup banyak. Ketika pasukan organisasi bergerak ke arahnya, Zhou Yuan tidak punya pilihan selain menyambut mereka.
Pedang Kusanagi kembali mengambil nyawa pasukan organisasi, tidak peduli lawannya menggunakan baju pelindung atau teknik pertahanan tertentu, pedang Kusanagi dapat menembus dan melukai lawannya.
Melihat Zhou Yuan diserang diberbagai sisi oleh puluhan musuh, prajurit istana merasa tidak bisa tinggal diam saja, mereka mulai bergerak untuk membantu Zhou Yuan.
Bantuan prajurit istana membuat situasi Zhou Yuan jadi lebih baik, ia mengalirkan tenaga dalam pada pedangnya lalu mulai menghabisi pasukan musuh.
Biarpun pasukan organisasi masih lebih banyak jumlahnya dibandingkan jumlah prajurit istana, namun dengan bantuan Zhou Yuan dengan cepat mereka bisa menekan pasukan organisasi.
Situasi dengan cepat berubah, Zhou Yuan bersama prajurit mulai membalik keadaan.
Zhou Yuan dengan Pedang Kusanagi bagaikan monster kegelapan yang melahap di depannya. Hampir semua lawannya yang berada di Alam Emas atau Alam Perak mati dalam sekali serangan.
Hal itu membuat kengerian bagi mereka yang melihatnya, setiap langkah Zhou Yuan menimbulkan jejak darah.
Dalam waktu hitungan menit pihak Zhou Yuan sudah berada di atas angin, pasukan organisasi yang menyadari jumlahnya telah tinggal beberapa lagi akhirnya memilih melarikan diri.
Prajurit istana hendak mengejar mereka namun Zhou Yuan menahannya. "Tidak usah mengajar mereka, lebih baik fokus memulihkan luka kalian terlebih dahulu, penyerangan ini masih berlangsung lama..."
Prajurit istana saling pandang sebelum mengangguk, mereka juga mengalami beberapa luka yang harus dihentikan perdarahannya dengan tenaga dalam.
Setidaknya ada sekitar 40 prajurit yang telah Zhou Yuan selamatkan. Zhou Yuan meminta salah satu prajurit menjelaskan situasi penyerangan ini lebih spesifik.
Dari prajurit itu, dugaan Zhou Yuan ternyata benar bahwa penyerangan ini berasal dari Organisasi Kuil Awan Langit. Mereka menyerang istana di saat pertemuan besar sedang terjadi.
__ADS_1
Organisasi Kuil Awan Langit membawa organisasi yang berada di aliansinya seperti Merak Putih dan Salju Abadi, mereka juga membawa organisasi-organisasi kecil lainnya yang bergabung untuk menyerang istana.
"Jika mereka berani menyerang ketika banyak jagoan dunia persilatan berkumpul disini berarti mereka mempunyai kepercayaan diri untuk menaklukkan istana..." Zhou Yuan berdecak kesal, ia tidak mengetahui kekuatan Organisasi Kuil Awan Langit sebesar apa namun yang pasti kekuatannya akan sangat merepotkan.
Kalau dipikir kembali, adanya pil hitam yang membuat kekuatan mereka meningkat secara signifikan dalam waktu singkat sudah cukup membuat pasukan istana kesulitan menghadapi pasukan musuh.
"Kita harus selamatkan orang-orang yang ada disini seperti para dayang dan kasim ke tempat yang lebih aman. Menyelematkan orang lebih penting untuk diutamakan sekarang..."
Para prajurit itu mengangguk, karena penyerangan istana terlalu tiba-tiba ada banyak kasim dan dayang yang terlambat bersembunyi.
Sebagian prajurit kemudian pergi berpencar sementara sebagian lainnya mengikuti Zhou Yuan.
Zhou Yuan pergi ke tempat paling tinggi yaitu menara istana yang ada di tengah kediaman kekaisaran, ketika sampai memanjat barulah Zhou Yuan bisa melihat keseluruhan penyerangan di istana kekaisaran.
Walaupun memiliki kediaman luas yang besar, mata Zhou Yuan yang tajam tetap bisa melihat situasi pertempuran yang sedang terjadi dengan jelas.
"Ini..."
Zhou Yuan menarik nafas dingin, peperangan yang dilihatnya diatas menara jauh lebih mengerikan dari yang ia kira.
Peperangan di bagian luar istana terutama di kawasan gerbang ternyata jauh lebih besar, ada ratusan orang disana yang bertempur antara pihak pasukan organisasi dan prajurit.
Zhou Yuan bisa melihat bukan hanya di satu titik lokasi gerbang saja melainkan pertempuran besar lainnya terjadi di empat gerbang yang lain. Pihak pasukan organisasi berusaha masuk ke bagian dalam istana sementara prajurit berusaha mencegahnya.
Biarpun Zhou Yuan baru pertama kali melihat orang itu namun ia mempunyai gambaran tentangnya apalagi teknik elemen cahaya yang digunakannya.
"Guo Zhengxa? Jadi ketua mereka turun tangan di penyerangan ini..." Zhou Yuan cukup terkejut melihatnya.
Guo Zhengxa cukup terkenal di dunia persilatan apalagi saat keterlibatannya di peperangan seratus tahun yang lalu.
Elemen cahaya yang digunakannya merupakan teknik elemen yang langka di dunia persilatan, bahkan bisa dibilang hanya Guo Zhengxa yang bisa melakukan perubahan jenis cahaya.
Zhou Yuan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah yang lain, seketika tubuhnya terdiam melihat seorang pendekar yang dilawan Xiao Fan.
Pendekar itu mempunyai keahlian pedang yang tidak berbeda jauh dengan Xiao Fan, namun yang membuat Zhou Yuan termangu ketika melihatnya adalah kondisi pendekar itu yang hanya memiliki satu tangan.
Biarpun dalam jarak jauh Zhou Yuan dapat mengenali pendekar itu, Zhou Yuan tidak mungkin melupakan wajahnya karena pendekar itu adalah orang sama yang telah membunuhnya di kehidupan pertama.
"Huang Zhang..." Zhou Yuan mengepalkan tangannya keras, amarah mulai menyelimuti hatinya saat melihat kakek tua tersebut.
***
__ADS_1
Xiao Fan pergi ke gerbang sebelah selatan istana, mendapati prajurit istana sudah bertempur besar di sana.
Xiao Fan tidak bisa menunggu lagi, ia mencabut pedang di pinggangnya lalu ikut serta dalam pertarungan tersebut.
Kedatangan Xiao Fan dengan cepat disadari apalagi kemampuan pedang pria berambut merah itu yang begitu tinggi serta dengan mudah mengalahkan lawan-lawannya.
Pasukan organisasi mulai berusaha untuk menyerang Xiao Fan dengan cara mengepungnya.
"Ingin mengalahkanku dengan jumlah, tidak akan semudah itu..." Xiao Fan mengalirkan tenaga dalam pada pedangnya lalu mulai menggunakan teknik pedang air.
Permainan pedang Zhou Yuan berubah seperti air yang mengalir, tubuhnya begitu lentur dan memiliki kelincahan pedang yang sulit diprediksi.
Dengan tekniknya Xiao Fan berhasil menghabisi beberapa pasukan musuh, keberadaan menjadi pusat perhatian karena teknik yang ia lakukan.
"Teknik pedang ini, tidak salah lagi ia adalah teknik pedang milik klan Xiao?!"
"Klan Xiao? Berarti hanya ada satu yang mempunyai keahlian pedang setinggi ini, pendekar Pedang Merah, Xiao Fan."
Pasukan organisasi dan prajurit istana baru menyadari identitas Xiao Fan sebenarnya setelah melihat permainan pedangnya.
Prajurit istana berdecak kagum karena merasa beruntung bisa melihat kemampuan Xiao Fan secara langsung.
Xiao Fan terus menghadapi lawan-lawannya sampai akhirnya ada seseorang yang muncul dan menangkis pedangnya dengan mudah. Mata Xiao Fan melebar saat mengenali pendekar itu.
"Aku tidak akan membiarkan kau bertindak sesukanya Fan." Huang Zhang tersenyum lebar.
"Kau masih tidak mau pensiun setelah kehilangan satu tanganmu?!" Xiao Fan mendengus pelan. "Mungkin aku harus memutuskan tanganmu yang lain agar kau tersadar."
"Kau boleh mencobanya kalau kau bisa."
Huang Zhang dan Xiao Fan bergerak bersamaan dan saling bertukar serangan, keduanya bertarung hingga belasan jurus sampai keduanya mengambil jarak masing-masing.
Ekspresi Xiao Fan merasa tegang. "Kau, bagaimana bisa?!"
Xiao Fan tidak menyembunyikan keterkejutan diwajahnya mengetahui Huang Zhang mempunyai teknik pedang yang bisa mengimbangi Teknik Pedang Air.
"Ini baru permulaan, aku masih menyimpan banyak jurus untuk mengalahkan teknik airmu itu..."
Xiao Fan mendengus. "Kau tidak tahu apa-apa, kini permainan pedangku telah meningkat dibandingkan yang dulu..."
"Oh, kalau begitu aku ingin melihatnya."
__ADS_1
Xiao Fan dan Huang Zhang kembali bertarung, Xiao Fan menggunakan Teknik Pedang Air sementara Huang Zhang memakai jurus pedang ciptaannya.