Legenda Buah Surgawi

Legenda Buah Surgawi
Eps. 119 — Penyerangan Istana


__ADS_3

Dengan teknik api birunya, Jiang Qisha memberikan serangan tapak api pada salah satu lawan yang berada dalam jarak jangkauannya.


Penyerang itu hanya berada ditingkatkan pendekar alam perak, serangan tapak api Jiang Qisha langsung segera membuatnya terpental dan tidak lagi bernyawa.


Jiang Qisha tidak berhenti di sana, ia langsung menyerang pasukan penyerang yang lain. Jiang Qisha melepaskan tembakan api ke arah mereka.


Api yang dilepaskan Jiang Qisha mempunyai suhu yang tinggi dibandingkan Jiang Yifei yang menggunakannya, mereka yang terkena tembakan apinya langsung tewas di tempat dengan tubuh mereka yang berlubang.


Menyadari kekuatan lawannya membuat pasukan penyerang terkejut serta ketakutan.


"Gawat dia adalah Kaisar Bulan, kita bukan tandingannya, mundur!" Seru salah satu dari mereka.


Para penyerang yang memiliki kemampuan rendah memilih mengambil jarak dengan Jiang Qisha, mereka membiarkan rekan-rekan mereka yang lebih kuat untuk menghadangnya.


Jiang Qisha mendengus, dia membuat kedua kepalan tangannya diselimuti api biru lalu mulai menyerang lawannya dengan tangan kosong.


Tidak hanya Jiang Qisha, tamu undangan yang lain serta para prajurit istana langsung ikut gabung memerangi para penyerang tersebut.


Biarpun jumlah pihak Jiang Qisha lebih sedikit daripada orang-orang yang menyerang namun para tamu undangan serta prajuritnya bukanlah orang sembarangan, hampir semua dari mereka adalah pendekar kuat terutama Xiao Fan, Yue Jian, serta Chu Guyu.


Dalam beberapa waktu saja, pihak Jiang Qisha langsung mendominasi pertarungan, pasukan musuh yang rata-rata kekuatannya adalah pendekar alam emas dan alam perak tidak bisa melawan Jiang Qisha dan lainnya meski jumlah mereka lebih banyak.


Salah satu asisten Jiang Qisha tiba-tiba mendekat dan berbisik kepadanya, asisten itu mengatakan bahwa penyerangan tidak hanya pada satu titik saja melainkan 4 titik yang berbeda.


Istana kekaisaran dibangun di tengah-tengah kota dan mempunyai empat gerbang untuk memasuki istana, gerbang itu adalah utara, selatan, timur, dan gerbang barat.


Gerbang yang Jiang Qisha dan para tamu lainnya hadapi saat ini merupakan gerbang utara, jika penyerangan ini berlokasi pada 3 gerbang lainnya maka situasi istana kekaisaran dalam bahaya.


"Apa kau bilang?!" Wajah Jiang Qisha menjadi buruk mendengar informasi tersebut. "Bunyikan lonceng darurat, kerahkan semua pasukan Keluarga Jiang yang kita miliki dan perintahkan mereka untuk melawan para penyerang ini!" Perintah Jiang Qisha pada asistennya.


Keluarga Jiang merupakan keluarga bangsawan terkuat di Kekaisaran Bulan yang melebihi sekte besar seperti Bambu Hijau atau klan Xiao. Selain dirinya, ada 3 pendekar cahaya yang dimiliki Keluarga Jiang, belasan pendekar Alam Kristal serta puluhan pendekar Alam Emas.


Asisten itu mengangguk, tanpa menunggu lama ia langsung pergi untuk menjalankan perintah Jiang Qisha.


Jiang Qisha kemudian menoleh ke arah Xiao Fan, "Saudara Xiao, bisakah anda pergi ke arah gerbang selatan, kekuatan anda akan dibutuhkan di sana."


Xiao Fan sudah mendengar informasi dari asisten itu sebelumnya, dia mengangguk lalu pergi ke sebelah selatan.


"Saudara Yue, bisakah anda juga-..."


"Aku mengerti Yang Mulia, biar gerbang sebelah Timur aku yang urus!" Yue Jian kemudian langsung berangkat sesudah berucap demikian.


Pandangan Jiang Qisha jatuh ke arah Chu Guyu, sebelum ia berbicara gadis itu sudah pergi ke sebelah barat bersama dua bawahannya. Chu Guyu mengerti, mereka harus mengamankan gerbang-gerbang istana terlebih dahulu.


Jika gerbang istana sudah berhasil dibobol maka para penyerang ini akan mudah memasuki dan menguasai istana. Dengan 4 jagoan turun tangan di gerbang masuk, setidaknya mereka bisa menghambat pergerakan pasukan musuh yang berdatangan.


Jiang Qisha menatap Chu Guyu sampai perempuan itu menghilang dalam pandangannya, Jiang Qisha kemudian menoleh ke arah gerbang yang kini pasukan musuh masih terus berdatangan.

__ADS_1


Jiang Qisha merapatkan gigi, ia masih sulit percaya ada sekelompok orang yang berani menyerang Istananya secara terbuka seperti ini serta diwaktu siang hari.


Jiang Qisha berpikir siapa yang berani bertindak seperti ini karena menurutnya, tindakan demikian hanya bisa dilakukan oleh segelintir kelompok.


"Jangan bilang mereka adalah kelompok-..." Sebelum Jiang Qisha menyelesaikan kalimatnya, seseorang tiba-tiba mendarat tepat di hadapannya.


"Lama tidak bertemu Qisha, atau harus aku panggil Yang Mulia..." Orang itu tertawa mengejek.


"Kau-!"


Jiang Qisha terkejut dengan kedatangan orang itu, meski seratus tahun telah terlewati namun ia tidak mungkin bisa melupakan wajahnya.


"Zengxa, jadi semua ini adalah ulah organisasimu?!" Jiang Qisha menatap tajam orang sepuh di depannya, usia orang itu hampir seumuran dengannya.


"Terkejut? Tentu saja, memang siapa yang berani menyerang istanamu secara terbuka seperti ini." Orang itu tersenyum sinis.


Seseorang yang muncul di depan Jiang Qisha adalah Guo Zhengxa, sosok pendekar tingkat tinggi yang merupakan lawan tanding Kaisar Bulan tersebut. Guo Zhengxa adalah pemimpin dari Organisasi Kuil Awan Langit.


"Kau sepertinya begitu percaya diri bisa mengalahkan Keluarga Jiang hari ini. Asal kau tau istana saat ini sedang melakukan pertemuan besar, bukan hanya aku yang ada di istana tetapi 3 jagoan kekaisaran sedang ada disini..."


Guo Zhengxa mendengus, tampak tidak peduli. "Apa kau berpikir aku menyerang kesini tanpa rencana? Akan kupastikan bukan hanya keluarga Jiang saja yang hari ini binasa, tetapi tiga jagoan itu akan terbunuh juga."


Ekspresi Jiang Qisha menjadi kusut melihat kepercayaan diri Guo Zhengxa, ia mengalirkan tenaga dalam pada seluruh tubuhnya seketika api biru muncul lalu menyelimuti tubuhnya, suhu api itu kini lebih panas dari sebelumnya.


"Bukankah kau terlalu percaya diri?" Jiang Qisha menyipitkan matanya.


Gue Zhengxa mengalirkan tenaga dalam pada kedua tapak tangannya lalu merubahnya menjadi energi, tidak lama kemudian kedua tapak Guo Zhengxa mulai bercahaya keemasan.


Berbeda dengan Jiang Qisha yang terkenal karena teknik api birunya, Guo Zhengxa dikenal karena elemen cahayanya yang kuat.


Tidak menunggu lebih lama keduanya bergerak bersamaan dan bertukar serangan, Jiang Qisha melepaskan serangan api biru yang panas sementara Guo Zhengxa menggunakan elemen cahayanya yang kuat.


Keduanya beradu jurus menunjukkan kekuatan mereka yang amat tinggi, para pendekar di dekatnya mengambil jarak dari pertarungan itu karena takut kena imbas dari pertarungan mereka berdua.


***


Di saat penyerangan Organisasi Kuil Awan Langit dimulai, Zhou Yuan dan Jiang Yifei sudah terlebih dahulu mengetahui sebelum kejadian itu terjadi.


Organisasi Kuil Awan Langit mengirimkan beberapa penyusup sebelum ledakan gerbang terdengar.


Mereka bergerak ke arah kediaman Jiang Yifei untuk menculik Tuan Putri tersebut. Zhou Yuan yang saat itu sedang melatih gadis itu terkejut dengan kedatangan pasukan organisasi yang muncul tiba-tiba.


"Siapa kalian, apa urusanmu datang kesini?" Zhou Yuan berdiri tepat di depan Jiang Yifei, memastikan keselamatan Tuan Putri tersebut.


Sekitar ada tujuh orang yang menyusup ke kediaman Jiang Yifei, kekuatan mereka berada di Alam Perak dan Alam Emas. Zhou Yuan begitu waspada melihat penampilan mereka terutama jubahnya.


"Dilihat reaksi dari anak ini, sepertinya perempuan dibelakangnya memang benar cucu dari Kaisar Bulan. Kita harus cepat menculiknya sebelum ada bala bantuan yang datang kesini." Ucap salah satu dari mereka.

__ADS_1


Perkataan anggota organisasi membuat kewaspadaan Zhou Yuan jasi semakin meningkat.


"Apa saat ini istana kekaisaran sedang disusupi..." Zhou Yuan mencoba mencerna situasi yang terjadi sebelum menggeleng pelan. "Tidak, orang bodoh mana yang akan mau melakukannya?"


Zhou Yuan mengerti orang-orang di depannya adalah seorang penyusup yang terlatih karena berhasil lolos dari penjagaan istana yang ketat namun seharusnya tidak ada yang akan berani berurusan dengan Keluarga Jiang apalagi berniat menculik cucunya.


Keluarga Jiang sangat ditakuti oleh organisasi kriminal, banyak dari mereka enggan berurusan dengan Keluarga Kekaisaran tersebut kecuali kelompok itu memang benar-benar ingin dihancurkan oleh pemerintahan.


Saat Zhou Yuan masih berpikir segala kemungkinan dengan situasinya, suara ledakan yang memekakkan telinga tiba-tiba terdengar dengan begitu keras.


Suara tersebut datang dari arah utara, Zhou Yuan tidak yakin namun firasatnya menjadi buruk mendengar ledakan itu apalagi setelah melihat asap hitam yang mengepul ke atas langit.


"Ah, mereka sudah melakukannya, kalau begitu cepat ambil gadis itu. Kita bawa pergi sebelum yang lain datang." Seorang dari ketujuh penyusup itu menunjuk Jiang Yifei.


Jiang Yifei menjadi ketakutan mendengar hal tersebut, gadis itu baru merasakan situasi berbahaya seperti ini di dalam hidupnya.


"Tidak perlu khawatir Tuan Putri, aku akan berdiri disini dan melindungimu..." Zhou Yuan tersenyum lembut pada gadis itu.


Jiang Yifei melihat ke arah Zhou Yuan yang saat ini masih tampak tenang dan malah tersenyum kepadanya. Gadis itu mengangguk, entah kenapa disaat situasi seperti ini jantungnya malah berdebar lebih cepat saat melihat senyuman pemuda tersebut.


"Anak muda, situasi membuatku harus menganggu suasana kalian tetapi sekarang, cepat serahkan gadis itu pada kami." satu orang dari mereka maju dan menarik senjatanya berupa pedang.


Zhou Yuan tidak menjawab, tangannya memegang gagang pedangnya lebih erat.


Penyusup itu mendengus. "Kalau begitu aku harus membunuhmu!"


Penyusup itu langsung bergerak menyerang Zhou Yuan sambil menghunuskan pedangnya.


Zhou Yuan tidak tinggal diam, ia mencabut pedangnya lalu mengayunkan pada penyusup itu dengan cepat.


"Gelombang Ombak!"


Pendekar itu tidak bisa melihat kecepatan ayunan pedang Zhou Yuan yang menggunakan teknik Pedang Elemen saat tiba-tiba pandangannya menjadi gelap lalu kepalanya terlepas dari tempatnya.


"Apa, bagaimana bisa..."


Semua kejadian itu begitu cepat, sebelum enam penyusup yang lain bereaksi lebih jauh Zhou Yuan sudah muncul di belakang mereka. Zhou Yuan mengalirkan tenaga dalam pada pedangnya, dengan teknik yang sama, ia menebas kepala mereka satu persatu.


Mulut Jiang Yifei terbuka, ia sama sekali tidak melihat pergerakan maupun serangan Zhou Yuan. Gadis itu hanya melihat saat Zhou Yuan sudah membunuh lawan-lawannya.


Zhou Yuan tidak peduli pada reaksi gadis itu. "Tuan Putri, sebaiknya kita pergi dari sini. Istana sedang tidak aman kita harus-..."


Belum Zhou Yuan menyelesaikan kalimatnya, belasan penyusup yang lain berdatangan ke kediaman Jiang Yifei dan mengepung mereka berdua.


Para penyusup itu melihat tujuh rekan mereka yang sudah mati mengenaskan sebelum pandangannya jatuh ke arah Zhou Yuan yang saat ini sudah mencabut pedangnya dengan darah mengucur di ujungnya, para penyusup itu segera mengetahui siapa yang membunuh rekan mereka dan menatap Zhou Yuan dengan penuh kebencian.


Zhou Yuan berdecak kesal, segera mendekati Jiang Yifei untuk melindungi gadis itu. Zhou Yuan mengumpat dalam hati, tidak menduga akan ada situasi seperti ini di Istana.

__ADS_1


__ADS_2