
Zhou Yuan mengamati babi hutan raksasa itu, binatang tersebut sudah berubah menjadi siluman yang usianya dua ratus tahun lebih.
Mengalahkannya harus seseorang yang berada di Alam Emas Menengah ke atas, tergantung situasi serta kondisinya.
Babi hutan itu jauh lebih besar dibandingkan saat Zhou Yuan bertemu di desa waktu lalu, selain itu ada yang berbeda darinya yaitu warna tanduk gadingnya yang berwarna kemerahan.
Satu hal yang membuat Zhou Yuan bingung adalah bagaimana siluman setingkat ini ada di hutan Gunung Bambu padahal sebelumnya Patriark Sekte mengatakan tidak ada siluman yang sangat berbahaya.
Dengan ukuran serta usianya, babi hutan itu cukup untuk membunuh pendekar yang berada di Alam Perak.
Kini babi hutan itu menatap Zhou Yuan dan Yue Linxia dari bawah pohon, tampak kesal karena mangsanya berhasil lolos.
Zhou Yuan menoleh pada Linxia yang saat ini wajahnya terlihat sedikit memerah tanpa alasan yang jelas. Butuh beberapa detik hingga gadis itu menormalkan emosi dan perasaannya kembali.
"Bukankah siluman setingkat ini terlalu berbahaya di kompetisi ini?" Zhou Yuan melirik gadis itu, meminta penjelasan.
"Sebenarnya aku juga tidak tahu," Linxia berusaha menjawab tanpa melihat wajah Zhou Yuan. "Seharusnya tidak ada siluman ratusan tahun di gunung ini, aku baru pertama kali melihat ia ada disini..."
Linxia mengatakan bahwa siluman yang usianya di atas seratus tahun lebih sudah di bunuh oleh Panatua Sekte sebelum kompetisi di mulai.
Sebab hal tersebut gadis itu ikut kebingungan namun yang pasti situasi ini sangat berbahaya.
Linxia ingin menjelaskan lebih jauh namun babi hutan di bawahnya tidak membiarkannya. Ia mengambil ancang-ancang sebelum bergerak menyeruduk pohon yang dihinggapi Zhou Yuan dan Linxia, membuat pohonnya bergoyang.
Untungnya pohon itu lumayan kuat, namun tidak akan bertahan lama jika diseruduk terus menerus.
"Hei! Kau..."
Linxia terkejut ketika tiba-tiba Zhou Yuan melompat ke bawah lalu menarik pedang di pinggangnya.
"Teknik Pedang Air — Gelombang Ombak!"
Zhou Yuan mengalirkan tenaga dalam yang besar pada pedangnya sebelum menebas tubuh babi hutan tersebut.
Babi hutan itu merasa kesakitan, ia mundur beberapa langkah saat menyadari kekuatan lawannya. Disisi lain Zhou Yuan mengerutkan dahi ketika tekniknya tidak langsung melumpuhkan siluman itu.
"Kulitnya lebih keras dari dugaanku..." Zhou Yuan tersenyum tipis melihat bagian yang dilukainya tidak mengalami dampak signifikan pada babi hutan tersebut.
Linxia kemudian turun dari pohon lalu mendarat di samping Zhou Yuan, "Kulitnya keras karena dia bukan babi hutan biasa yang kau ketahui, babi hutan ini berjenis babi hutan besi."
"Babi hutan besi?" Zhou Yuan baru mengenal ada babi hutan dengan jenis tersebut.
"Penjelasannya panjang namun yang pasti dia memiliki kulit yang sangat keras. Kau harus melukainya dengan seluruh tenagamu."
__ADS_1
Babi hutan besi memang sangat langka ditemui di dunia persilatan karena hidup mereka yang selalu di pedalaman hutan. Entah karena alasan apa hingga dia kesini yang pasti alasan itu sangat tidak normal.
Babi hutan besi kemudian mengambil ancang-ancang dan menyeruduk ke arah Zhou Yuan dan Linxia lagi, kali ini keduanya sudah siap dan menghindari serudukan tersebut.
Linxia dan Zhou Yuan tidak membiarkan babi hutan itu menyeruduk kembali, keduanya bergerak cepat menyerang babi hutan tersebut dari dua arah yang berbeda, dalam waktu singkat, keduanya berhasil menorehkan banyak luka di tubuh siluman tersebut.
Meski mengalami luka sayatan di sekujur tubuhnya, tidak ada luka yang serius. Babi hutan itu masih terlihat kuat dan siap menyerang kembali.
"Kulitnya terlalu keras, pedangku tidak bisa menembusnya terlalu dalam..." Zhou Yuan menghela nafas lalu melirik ke arah pedang yang di pegang Linxia. "Tapi kurasa kau tidak demikian bukan?"
Linxia mengangguk, jelas Zhou Yuan sudah menyadari kualitas pedangnya yang berada di tingkatan pusaka kelas tinggi, Pusaka Kelas Ternama.
"Berapa persen kau bisa membunuhnya dengan teknik pedangmu?" Tanya Zhou Yuan.
"Hm, apa maksudmu? Kalau aku sendirian, jelas aku tak bisa menang melawannya, mungkin hanya sekitar 20%."
Zhou Yuan mengangguk pelan. "Itu lebih dari cukup, kalau begitu aku akan memberikan jalan untukmu agar kau bisa membunuhnya dalam sekali serangan."
Sebelum Linxia membalas perkataan Zhou Yuan, laki-laki itu sudah menyarungkan pedangnya lalu menghilang dan muncul di hadapan babi hutan tersebut.
Zhou Yuan mengalirkan tenaga dalam pada kepalan tangannya sebelum memberikan pukulan kuat pada hidung babi hutan itu, membuatnya terpental beberapa meter hingga mengenai pohon.
Babi hutan itu terkejut sekaligus menjadi waspada, tidak menduga manusia kecil dilawannya memiliki tenaga yang luar biasa mengerikan. Linxia yang melihatnya sampai kesulitan berkata-kata tetapi ia menyadari bukan saatnya untuk bereaksi dan berdiam diri.
Babi Hutan kemudian bergerak menyeruduk Zhou Yuan namun kali ini laki-laki itu tidak menghindar justru malah berlari ke arahnya.
Zhou Yuan memukul tulang punggung babi hutan itu dengan keras dan berulang-ulang kali, membuatnya meringkik kesakitan hingga memuntahkan darah.
Dengan kualitasnya tulangnya yang telah sempurna, tidak membutuhkan waktu lama hingga tulang punggung babi hutan itu retak.
Disaat tersebut Linxia mengambil kesempatan menyerangnya, ia mengambil kuda-kuda lalu menggunakan jurus dari Teknik Pedang Suara.
"Teknik Pedang Suara — Dentingan Nada Senja."
Linxia bergerak cepat seperti anak panah yang terlepas dari busurnya sambil menghunuskan pedangnya ke arah babi hutan tersebut.
Sebuah tusukan pedang dengan kekuatan daya hancur tinggi menembus kepala babi hutan itu, membuatnya meringkik kesakitan. Tusukan Linxia tidak berhenti di sana, ia menekankan pedangnya kembali hingga akhirnya mengenai otak babi hutan itu dan membuatnya berhenti bernafas.
'Teknik pedang yang dipelajarinya sudah mencapai setingkat ini diusianya yang masih 14 tahun, dia memiliki bakat luar biasa yang sama dengan Rou'er...' Zhou Yuan yang melihat teknik pedang Linxia sebelumnya dan berdecak kagum karena hal itu.
Setelah memastikan babi hutan itu meninggal, barulah Zhou Yuan mengambil permata siluman di dalamnya lalu memberikan pada Linxia, namun gadis itu menolaknya beralasan Zhou Yuan yang berperan besar disini.
"Kau yang membunuhnya jadi kau lah yang memilikinya, ambillah, kau membutuhkan permata ini untuk penerobosanmu..."
__ADS_1
Mendengar itu Linxia menjadi ragu karena memang ia sangat membutuhkan permata silumannya dalam pelatihannya, setelah di desak Zhou Yuan akhirnya gadis itu mau menerimanya.
"Aku tidak mau menerima barang ini secara gratis, ketika kompetisi ini berakhir aku akan membayarnya dengan uang." Linxia tidak mau membalas budi pada seseorang di kehidupannya jadi dia akan membalasnya dengan bentuk apapun.
Zhou Yuan tersenyum tipis, ia tidak mau berdebat lebih jauh dengan Linxia jadi dia mengangguk sebagai jawabannya.
"Sial! Sial! Apa yang kalian lakukan membunuh silumanku! Aku sudah susah-susah menggiringnya kesini dan kalian malah membunuhnya!"
Teriakan cacian bercampur kekesalan terdengar dari salah satu arah, membuat Zhou Yuan dan Linxia menjadi waspada dan menoleh ke sumber suara tersebut.
Keduanya menemukan tiga orang berdiri di atas pohon, salah satu darinya adalah orang yang berteriak tadi.
Zhou Yuan menyipitkan matanya, tiga orang itu adalah peserta kompetisi yang memakai jubah hitam yang menutupi wajahnya saat di lapangan waktu lalu.
Kali ini ketiga orang itu membuka tudungnya sehingga terlihat wajahnya, nampak mereka bukan berasal dari generasi muda, dua diantaranya berumur 40 tahunan sementara satu orang lagi terlihat lebih berumur.
Yang menjadi perhatian keduanya adalah tiga orang itu adalah pendekar Alam Emas. Seharusnya selain Zhou Yuan dan Xi Yan, tidak ada pendekar di kompetisi ini yang sudah di alam tersebut.
'Apa mereka menggunakan teknik khusus agar usia mereka tidak bisa terdeteksi oleh panatua sekte?' Zhou Yuan memikirkan segala kemungkinan.
"Sial, gara-gara dua orang ini rencana kita jadi terganggu!" Satu orang yang tadi masih mengumpat kesal pada Zhou Yuan dan Linxia.
Dua sisanya hanya menghela nafas, jelas rencana yang disiapkan mereka jadi gagal total. "Kita kubur keduanya disini, mereka tidak boleh melaporkan ada babi hutan di kompetisi ini."
Mendengar itu, pria yang kesal sebelumnya langsung tersenyum lebar dan menarik pedangnya, tanpa menunggu ia langsung bergerak ke arah Zhou Yuan dan Linxia dengan niat membunuh.
Linxia menjadi pucat, dia yang merupakan Alam Perak jelas akan kalah oleh pria itu tetapi sesaat ada tepukan di pundaknya.
"Nona Yue, mundurlah, biar aku yang melawannya..."
Menatap mata Zhou Yuan, Linxia langsung mengangguk menurut, entah kenapa ia masih merasa aman serta tenang jika bersama lelaki itu.
"Ingin menjadi pahlawan di depan seorang gadis, harus kuakui generasi muda sekarang memang mengesankan..." Pria kesal tadi tersenyum sinis ke arah Zhou Yuan.
Zhou Yuan menggelengkan kepala pelan, menarik pedangnya. "Kau belum melihat apa-apa dariku..."
"Oh, aku ingin lihat apa kau bisa berkata demikian setelah aku menyayat tubuhmu."
Zhou Yuan tidak menjawab perkataan pria kesal itu melainkan menjadi pihak pertama yang menyerang.
Dengan permainan pedangnya yang lincah, Zhou Yuan berhasil mendesak lawannya membuat pria itu berhenti tersenyum digantikan dengan perasan terancam.
"Kau!"
__ADS_1
Pria itu terkejut mengetahui Zhou Yuan memiliki kekuatan di atasnya dan kemampuan pedangnya jauh lebih tinggi darinya.
Dalam sekejap saja, Zhou Yuan berhasil mendesak pria itu hingga tubuhnya dipenuhi luka pedang. Merasa tidak akan menang, pria itu berteriak meminta tolong pada dua rekannya.