
Zhou Yuan berdiri tepat di depan istana kota, gerbang tinggi dan besar berada dihadapannya. Dengan menarik nafas yang dalam ia kemudian membuka pintu gerbang istana tersebut.
Pandangan pertama yang dilihat Zhou Yuan adalah halaman istana yang cukup luas. Ada taman hias di sana yang semua tanamannya kini sudah mati dan gundul, taman itu seperti ditinggalkan oleh pemiliknya begitu saja.
"Andai kota ini masih hidup, aku yakin dilihat dari arsitektur bangunan dan penataan kotanya, tempat ini tidak berbeda jauh dengan keindahan Kota Riva..." Zhou Yuan melihat kota itu lebih seksama.
Alasan Kota Riva merupakan kota terindah di Kekaisaran Bulan karena penataan bangunannya yang sangat rapih dan simetris. Jalanan kota, pasar, atau pun taman di tata demikian indahnya bagai sebuah perhiasan.
Zhou Yuan merasa kota mati ini juga hampir serupa dengan Kota Riva hanya saja yang membedakan kota didepannya itu tidak terawat alias kotor.
Zhou Yuan terus maju hingga sampai pada pintu istana, ukuran pintunya hampir sama besar dengan gerbang sebelumnya hanya saja pintu itu dibuat dari emas.
Sebenarnya istana ini hampir setengahnya terbuat dari emas murni, membuatnya tempak terlihat lebih kaya dan berkesan.
Zhou Yuan tidak bisa membayangkan berapa banyak kekayaan orang yang membangun istana ini sampai tempat tinggalnya pun terbuat dari emas.
Zhou Yuan mendorong perlahan pintu itu, ia kemudian masuk ke dalamnya dan menemukan ruang utama istana yang besar dan megah.
Di ruangan utama itu Zhou Yuan melihat ada beberapa kursi singgasana. Salah satu singgasana yang paling megah diletakan sedikit di atas singgasana yang lain yang biasanya digunakan oleh pemimpin atau raja sementara singgasana sisanya biasanya digunakan oleh bawahan atau menteri-menteri raja.
Yang paling menarik perhatian Zhou Yuan bukan kemegahan istana itu atau kursi singgasana yang terbuat dari emas melainkan ada seseorang yang sedang duduk di salah satu singgasana tersebut.
Disebut seseorang sebenernya kurang tepat karena yang duduk di singgasana itu adalah sebuah tengkorak. Ya, Tengkorak, yang masih berpakaian lengkap dengan jubah serta mahkota emas di kepalanya.
Zhou Yuan menebak tengkorak bermahkota itu adalah Raja dari kota mati ini.
Zhou Yuan menghampiri tengkorak itu barulah setelah jaraknya cukup dekat ia menyadari tengkorak itu sedang memeluk sebuah pedang.
__ADS_1
"Siapapun dirimu yang datang, kau artinya bisa melihat aura yang terpancar dari pedang ini, sebuah pedang yang bersinar dengan cahaya kegelapannya..." Zhou Yuan membaca sebuah kertas yang tergelatak di bawah kaki tengkorak raja itu. Sepertinya memang sengaja untuk dibaca oleh orang lain.
Dari kertas tersebut Zhou Yuan mendapatkan beberapa informasi namun tidak ada sedikitpun informasi mengenai alasan kenapa kota ini kehilangan penduduknya.
Zhou Yuan menggaruk kepala. "Siapa yang menulis ini, tulisannya buruk sekali..."
Zhou Yuan tidak bisa membaca kertas itu lebih jauh karena huruf tulisannya yang semakin sulit dibaca.
Perhatian Zhou Yuan kemudian terpusat ke arah pedang yang di peluk tengkorak itu, dari surat yang dibacanya tertera bahwa nama pedang itu disebut sebagai Pedang Kusanagi.
Sebuah pedang yang memiliki sarung pedang berwarna hitam dengan beberapa ukiran emas di sekitarnya. Pedang yang disebut-sebut sebagai pedang dari kegelapan, di tempa oleh kesunyian dan kehampaan.
Selain tampak indah pedang itu juga memancarkan sebuah aura yang tak biasa, memang gara-gara aura pedang itulah Zhou Yuan bisa sampai kesini.
Dari kertas yang ditulis tengkorak itu dia mengatakan bahwa pedang yang dipeluknya merupakan sebuah pusaka tingkat tinggi namun saat Zhou Yuan memandangnya ia tidak merasakan pedang tersebut benar-benar sebuah pusaka.
"Gunakanlah pedang yang terselimuti kegelapan ini dengan ribuan cahaya, pahamilah pedangnya seperti engkau memahami dirimu sendiri maka pedang ini akan menjadi milikmu selamanya..." Gumam Zhou Yuan yang membaca surat itu dengan sedikit kesulitan.
Zhou Yuan merasa ciri-ciri itu tertuju ke arahnya, ini berarti tengkorak itu sudah menebak pendekar seperti apa yang datang ke kotanya.
Secara perlahan Zhou Yuan mengambil pedang itu, ia bisa merasakan ketika memegang pedangnya ada hawa yang tak biasa menjalar keseluruh tubuhnya.
Zhou Yuan mencabut pedang itu dari sarungnya secara perlahan, tampak mata pedang yang berwarna hitam pekat. Zhou Yuan yang sering bertemu pedang berwarna serupa namun baru pertama kali ini melihat pedang berwarna hitam sepekat itu
Ketika pedang itu sempurna tercabut dari sarungnya, pandangan Zhou Yuan tiba-tiba menjadi buram diikuti keseimbangannya yang hampir hilang.
Kejadian itu hanya terjadi beberapa detik namun cukup membuat Zhou Yuan terkejut apalagi saat menyadari penyebabnya adalah Pedang Kusanagi di tangannya.
__ADS_1
Tanpa dirinya minta, pedang itu menghisap tenaga dalam Zhou Yuan dengan paksa. Zhou Yuan yang tidak menduga akan terjadi seperti itu langsung refleks melepaskannya.
"Pedang apa ini, dia benar-benar berbahaya!" Zhou Yuan mengatur dadanya yang kembang kempis karena berpikir energi kehidupannya akan terserap oleh pedang itu.
Zhou Yuan baru pertama kali melihat pedang yang bisa menghisap tenaga dalam penggunaannya seperti Pedang Kusanagi, hal tersebut berhasil mengagetkan Zhou Yuan setengah mati.
Butuh beberapa menit hingga Zhou Yuan bisa tenang, ia memandang pedang itu sebelum mencoba mengambil Pedang Kusanagi kembali namun kali ini ia sedikit hati-hati dalam melakukannya.
Saat tangannya bersentuhan dengan gagang pedang tersebut, tenaga dalam Zhou Yuan terhisap lagi namun kali ini Zhou Yuan sudah siap saat merasakannya.
Meski tidak mengalirkan tenaga dalam pada pedang itu, Pedang Kusanagi menghisap tenaga dalam Zhou Yuan dengan cara mengejutkan.
Andai saja tenaga dalamnya saat ini tidak mencapai seratus lingkaran atau tidak dalam kondisi prima, Zhou Yuan yakin energi kehidupannya yang akan diserap oleh pedang itu.
Zhou Yuan melihat Pedang Kusanagi yang begitu sangat tajam, jauh lebih tajam dari pedang pusaka yang ia dapatkan dari gurunya di kehidupan pertama.
Zhou Yuan mengayunkan pedangnya pada salah satu pilar yang ada didekatnya, pilar itu terbuat dari emas yang kokoh, kekerasannya tidak diragukan lagi.
Ketika Zhou Yuan berpikir ia akan membutuhkan beberapa kali untuk menebas pilar emas itu hingga rusak namun ternyata dugaannya salah.
Dalam sekali ayunan yang tidak terlalu bertenaga, Pedang Kusanagi memotong pilar emas itu seperti tahu.
Zhou Yuan menelan ludah sekaligus berkeringat dingin, sadar kalau itu seorang manusia yang mengenainya akan terpotong dengan mudah.
"Benar-benar sebuah pusaka..." Kali ini Zhou Yuan percaya dengan perkataan tengkorak itu.
Memang tenaga dalam Zhou Yuan terus berkurang walau ia tidak menggunakannya tetapi disisi lain pedang itu memberikan harga yang setimpal yaitu kekuatan pedang yang amat sangat tajam.
__ADS_1
Zhou Yuan merasakan pikirannya pusing karena tenaga dalamnya terus terkuras, baru beberapa detik saja ia memegang pedang tersebut namun tenaga dalam yang diambilnya sudah mendekati seperempatnya.
Zhou Yuan kembali menyarungkan pedang itu kesarungnya, tepat Pedang Kusanagi tersarung rapih tenaga dalam Zhou Yuan berhenti diserap.