
Kafa baru meninggalkan toko bunga milik Tante Lita, ia melirik buket bunga Ranunculus di jok sampingnya. Kafa spontan menginjak gas melihat tas merah hati di balik bunga itu. Jangan bilang itu tas milik Mahira, kalau iya maka Kafa harus kembali ke toko itu untuk memberikan tas pada Mahira.
Kafa meminggirkan mobilnya, mengambil tas ransel tersebut. Ia melihat sebuah dompet menyembul dari dalam tas. Apa Mahira tidak membawa dompetnya.
"Ahh!" Kafa memukul kemudi, ia sudah meminta Mahira naik angkutan umum tapi tas dan dompetnya justru tertinggal disini. Kenapa Mahira selalu membuatnya susah. Kafa ingin meremukkan Mahira dan melemparnya ke laut agar dimakan hiu.
Kafa menancap gas memutar balik mobilnya dengan cepat. Kafa menggerutu sepanjang jalan karena bertemu dengan Mahira adalah bencana dalam hidupnya.
"Kafa!" Mahira memekik girang melihat mobil Kafa kembali, ia melompat-lompat menghampiri Kafa. "Kok balik lagi, pasti kamu nggak tega kan ninggalin aku sendiri." Katanya dengan percaya diri.
Kafa melempar tatapan tajam pada Mahira. Tatapan itu seperti pedang yang menghunus tepat ke dalam jantung Mahira tapi tidak membuatnya sakit justru Mahira dibuat jatuh—jatuh hati.
"Naik."
Hanya dengan satu kata itu Mahira naik ke mobil Kafa, ia memangku buket bunga yang berada di jok depan.
"Tas kamu ketinggalan."
"Oh ya?" Mahira mengambil tas yang tak sengaja didudukinya, "ya ampun aku nggak sadar kalau tas ini ada disini."
"Karena kamu udah naik, sekalian aja ikut aku ke Alindra Mall kebetulan tempatnya deket dari sini." Kafa ingin memberi gamis pada Khalisa karena ia melihat Khalisa selalu mengenakan gamis yang itu-itu saja. Sebagai hadiah, Kafa akan memberikan sepotong gamis dan jilbab untuk Cece nya itu. Tentu Kafa tak akan membawa Mahira dengan sia-sia. Kafa akan minta tolong Mahira memilih model gamis yang disukai perempuan.
"Jadi kamu mau kencan di Mall?"
"Kencan?" Kafa menoleh pada Mahira sesaat.
Mahira mengangguk, "kamu janjian sama cewek kamu di Mall?"
"Kalau memang kencan, kenapa aku harus ajak kamu?" Kafa geleng-geleng tak habis pikir dengan tuduhan Mahira kepadanya.
"Terus bunga ini buat siapa?" Mahira melihat buket bunga di pangkuannya, tidak mungkin Kafa membeli bunga untuk dirinya sendiri.
"Buat Ce Khalisa, aku juga mau minta tolong pilihin gamis buat Cece ku."
Mahira mendelik menunjuk dirinya sendiri, "aku nggak tahu apa-apa soal gamis yang lagi ngetrend sekarang."
"Nggak perlu ngetrend yang penting bagus."
Mahira pasrah, yang penting ia bisa numpang mobil Kafa ke tempat kosnya. Ia sedang menghemat uang apalagi jarak dari sini ke kosannya cukup jauh.
"Mbak Khalisa lagi ulang tahun ya?" Mahira memecah keheningan setelah beberapa saat.
"Nggak."
"Kamu kenapa sih nggak mau dipegang, tangan ku bersih loh." Mahira mengacungkan tangannya menunjukkan telapak tangannya yang putih bersih pada Kafa.
Kafa memutar bola mata jengah, selain bawel ternyata Mahira juga bodoh tapi bagaimana bisa ia masuk UII. Apa yang Mahira andalkan.
"Kalau najis anjing bisa disucikan pakai lumpur maka bersentuhan dengan yang bukan mahram nggak bisa dibersihkan pakai apapun, sampai sini ngerti kan?"
Mahira terkejut, sedalam itukah pemahaman Kafa terhadap Islam. Mahira jarang menemukan sosok cowok zaman sekarang yang seperti Kafa atau memang pergaulannya kurang luas.
"Dalam hadits riwayat Thabrani mengatakan ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya."
Mendengar itu Mahira spontan beristighfar dalam hati, ia pernah mendengar hadits tersebut tapi tak pernah menerapkannya di kehidupan nyata.
Mereka sampai di Alindra Mall dan langsung menuju lantai tiga dimana pakaian dengan berbagai model dan merek terpajang menggoda mata.
Kafa masuk ke salah satu tenant diikuti Mahira yang seperti anak kucing mengekori induknya. Mahira terperangah, jika punya uang banyak ia ingin mengambil mereka semua dengan mata tertutup gamis-gamis itu tak ada yang jelek, sungguh.
"Ini bagus banget Kaf." Mahira menyentuh sebuah kaftan dekat pintu masuk. Tubuh Khalisa yang tinggi dan langsing akan cocok mengenakan kaftan tersebut. "Ambil ini aja." Mahira membalik tag baju tersebut. Mahira mendelik, sepotong kaftan itu seharga hampir satu juta.
Kafa ikut melihat kaftan yang Mahira tunjuk.
"Eh cari yang lain aja, masa harganya hampir sejuta, gila!" Mahira berbisik. "Aku lihat kayak gini di e-commerce harganya nggak lebih dari 400."
"Nggak masalah, kita udah sampai sini nggak mungkin beli di e-commerce karena aku mau ngasih gamisnya sore nanti."
"Lihat yang lain dulu." Mahira mendorong punggung Kafa untuk melihat gamis lain yang murah walaupun itu seperti mencari jarum dalam jerami atau menegakkan benang basah alias mustahil.
"Loh kalian jalan berdua?"
Kafa memutar badan mendengar seseorang menegurnya, ia mendapati Azfan sedang memegang dua abaya berwarna hitam.
"Mas ngapain disini?" Tanya Kafa mengabaikan pertanyaan Azfan barusan.
__ADS_1
"Lagi pilih baju buat Haura, kamu?" Azfan balik bertanya, terakhir kali ia mendengar dari Khalisa bahwa Mahira dan Kafa sempat berdebat karena Kafa tidak mau memberi tumpangan pada Mahira. Lalu sekarang mengapa mereka justru pergi ke Mall berdua.
Mahira mengulas senyum pada Azfan, ia melangkah menjauh meninggalkan Azfan dan Kafa untuk mencari gamis yang menurutnya cocok untuk Khalisa. Namun jika dipikir, Khalisa cocok pakai gamis model apapun.
"Sama, aku juga mau beli baju buat Cece tapi minta tolong Mahira soalnya aku nggak tahu model gamis yang bagus seperti apa." Kafa mengusap tengkuknya yang tiba-tiba gatal. "Mas Azfan sendirian?"
"Bertiga kok sama Haura dan Rindang tapi mereka lagi nyari bahan kain di lantai atas jadi aku kesini." Azfan memang ingin membelikan abaya yang Khalisa inginkan dan setelah mencaritahu di internet, abaya tersebut juga tersedia di Alindra Mall. Saat melihat harganya Azfan dibuat terkejut, ia jadi mengerti mengapa Khalisa hanya melihat foto abaya itu tanpa membelinya. Namun karena Azfan sudah berniat memberikannya untuk Khalisa maka ia tetap akan membelinya. Menyenangkan hati istri juga termasuk ibadah.
Kafa memperhatikan abaya di tangan Azfan, mereka tidak terlihat murah sama seperti gamis lainnya di toko ini. "Uang Mas cukup?" Kafa bergerak mendekat dan berbisik.
Azfan tersenyum lembut, "cukup kok." Ia mengembalikan satu abaya dan memanggil pelayan toko untuk membayar satu abaya.
"Eh tapi Mas Azfan jangan bilang Cece ya kalau aku mau beliin dia baju."
"Iya, kamu tenang aja, Mas duluan ya." Azfan mengulas senyum sebelum melangkah ke kasir untuk membayar satu abaya yang sudah dipilihnya.
Kafa dan Mahira lanjut berkeliling ke seluruh toko tersebut. Mahira memanfaatkannya untuk cuci mata karena ia jarang pergi ke tempat seperti ini. Walaupun tidak bisa membeli, melihatnya saja cukup membuatnya senang.
Akhirnya mereka memutuskan untuk membeli kaftan yang pertama kali Mahira lihat. Menurut Kafa, kaftan itu sangat cocok untuk Khalisa.
"Kamu nggak mau beliin aku minum?" Mahira melirik Kafa, mereka melangkah melewati eskalator untuk turun ke lantai dua.
"Minum?"
"Haus tahu habis keliling barusan."
Kafa mendengus, ada-ada saja permintaan Mahira padahal ia ingin segera pulang dan pergi ke rumah Khalisa. Namun karena Mahira telah membantunya, Kafa harus berterimakasih lagi pula hanya minuman kan. Kafa tidak mau berutang budi apalagi pada Mahira yang menyebalkan ini.
Kafa berbelok ke arah tenant minuman setelah sampai di lantai dua sedangkan Mahira sedikit sempoyongan berusaha menyamakan langkah dengan Kafa.
Mahira memesan satu Cheese Tea yang dari dulu membuatnya penasaran, ia menoleh pada Kafa yang hanya berdiri tak jauh darinya.
"Kamu nggak pesen juga?"
"Nggak." Kafa menyodorkan ponselnya untuk membayar minuman Mahira. Kafa terkejut melihat harga minuman tersebut, apakah Mahira menghinanya dengan membeli minuman paling murah disitu.
"Ayo." Mahira sumringah mendapat satu gelas Cheese Tea berukuran besar, ia mengocoknya lebih dulu sebelum meminumnya. "Makasih ya."
"Itu Cheese Tea, nggak usah dikocok." Kafa terganggu melihat Mahira mengocok Cheese Tea itu.
"Minum di mobil aja ntar."
Mahira mengerucutkan mulut padahal ia tidak sabar ingin meminumnya.
"Kamu kenapa pesen itu?"
"Kenapa?"
"Aku lihat harganya paling murah, kamu pikir aku nggak mampu bayarin minuman mu?"
Mahira mendelik tak percaya pada ucapan Kafa, ia bahkan memesan tanpa melihat harganya. Mengapa Kafa berpikiran buruk seperti itu.
"Aku pesen karena penasaran sama yang namanya Cheese Tea, nggak ada maksud buat merendahkan kamu, lagian kamu kenapa sih selalu berpikir negatif gitu?"
Kafa terdiam tidak menemukan kalimat untuk membalas perkataan Mahira. Akhirnya ia mempercepat langkah menuruni eskalator tanpa mempedulikan panggilan Mahira.
******
Mata Khalisa berkilat-kilat melihat isi kotak kado yang Azfan berikan padanya, ia tak percaya ketika mengeluarkan isinya. Itu adalah sebuah abaya hitam yang selama ini Khalisa inginkan. Khalisa selalu melihat foto abaya itu di e-commerce beberapa Minggu terakhir.
Mereka baru pulang dari Alindra Mall, Khalisa membeli bahan kain untuk membuat gamis milik Naira. Kebetulan Rindang juga kehabisan bahan untuk praktek kuliahnya sehingga mereka pergi bersama.
"Mas," Khalisa memeluk Azfan bahkan matanya berkaca-kaca terharu, "Makasih Mas."
"Sama-sama sayang." Azfan mengecup pipi kemerahan Khalisa, ia senang melihat ekspresi bahagia sang istri.
"Jadi selama ini Mas perhatiin aku kalau lagi lihat-lihat foto abaya ini?" Khalisa mengurai pelukan.
"Haura suka kan?"
"Suka banget Mas." Khalisa beranjak menempelkan abaya tersebut ke tubuhnya, "panjangnya pas banget."
"Mau dicoba?"
"Iya." Khalisa manggut-manggut bersemangat masuk ke kamar diikuti Azfan. "Mas, tapi kan ini mahal." Saking senangnya Khalisa tidak menyadari bahwa abaya itu persis seperti yang ia inginkan, tak hanya model tapi juga mereknya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Haura kan jarang beli baju."
Sepertinya Khalisa tak akan membeli baju selamat satu tahun ke depan karena harga abaya ini tidak main-main. Meski Azfan mengatakan tidak masalah tapi tetap saja mereka bisa membeli hal yang jauh lebih penting dengan uang itu.
"Nggak apa-apa sayang, coba pakai aku mau lihat."
Dengan berat hati Khalisa mengganti pakaiannya dengan abaya tersebut. Jujur saja ia sangat menyukai abaya itu.
"Masya Allah, istriku cantik sekali." Puji Azfan seraya menatap kagum pada Khalisa.
"Terimakasih Mas." Khalisa menjatuhkan dirinya ke pangkuan Azfan.
"Istriku cantik pakai apapun tapi baju ini jauh lebih cantik, aku mengerti kenapa Haura menginginkannya."
Khalisa mengecup bibir Azfan singkat tapi berkali-kali.
"Nakal sekali istriku." Azfan balas perlakuan Khalisa lebih dalam dan lama hingga keduanya jatuh ke tempat tidur. "Apa nggak masalah? bayi kita masih kecil." Bisik Azfan seraya melepas jilbab Khalisa.
Khalisa menggeleng, sepertinya tidak masalah. Khalisa lupa menanyakannya pada dokter Helwa ketika memeriksanya. Tentu saja Khalisa tidak berpikir sejauh itu apalagi keadaannya sedang tidak baik saat itu.
"Bismillahirrahmanirrahim." Azfan kembali berbisik dengan napas memburu.
"Mas." Panggil Khalisa yang hanya dijawab gumaman oleh Azfan. "Kayaknya ada yang ketuk pintu, Mas denger nggak?"
Azfan memejamkan mata rapat, ia tidak bisa fokus mendengar apapun itu yang Khalisa katakan.
"Kayaknya suara Kafa deh." Khalisa langsung melompat turun dari tempat tidur dan mengenakan jilbabnya yang tergelatak di atas lantai, tidak lupa merapikan abaya yang baru saja dicobanya sebelum keluar kamar.
"Kafa?" Azfan mencengkram sprei tempat tidur, ia lupa kalau Kafa akan datang untuk memberikan hadiah pada Khalisa. Azfan mengembuskan napas kasar, kenapa Kafa harus datang sekarang.
Khalisa membuka pintu menjawab salam, benar dugaannya itu adalah Kafa. Khalisa mempersilakan Kafa masuk dan duduk.
"Muka Cece kok merah gitu sih, panas ya disini?" Kafa mengedarkan pandangan ke langit-langit rumah Khalisa mencari keberadaan AC.
"Nggak kok, AC nya emang sengaja dimatiin." Khalisa memegang pipinya sendiri, kenapa mereka memerah? "Kamu sendirian?"
"Iya, aku mau ngasih selamat karena Cece hamil, aku seneng banget dengernya." Kafa meletakkan paper bag dan buket bunga di atas meja, "aku harap Cece dan bayinya sehat terus sampai lahiran nanti."
"Wah makasih ya Kafa." Khalisa menerima bunga tersebut dan menghirup aromanya. "Cece boleh lihat?" Ia mengintip ke dalam paper bag berwarna emerald dengan nama salah satu merek lokal tersebut.
"Boleh dong."
"Masya Allah bagus banget, kamu pinter juga pilih baju buat Cece."
Kafa tersenyum bangga meski bukan dirinya yang memilih gamis tersebut. Melihat senyum lebar Khalisa, Kafa tidak mau memberitahu bahwa Mahira yang memilihnya.
"Cece suka?"
"Suka banget Kafa, Cece pasti akan sering pakai ini." Khalisa melipat kaftan tersebut dan memasukkannya kembali ke paper bag. "Bunganya juga cantik."
"Tapi maaf Ce, biasanya Cece suka Peony." Jika bukan insiden tabrakan dengan Mahira pasti Kafa bisa memberikan buket Peony untuk Khalisa.
"Nggak apa-apa, Ranunculus juga nggak kalah cantik kok."
Kafa bersyukur jika Khalisa menyukai hadiah darinya. Kafa jadi tidak sabar menantikan kelahiran keponakannya.
"Kamu mau makan malam bareng Cece disini?" Tanya Khalisa.
"Enggak, aku langsung pulang aja soalnya mau selesain tugas kuliah." Kafa beranjak.
"Kok buru-buru sih?"
"Lain kali aku makan disini, Cece jangan lupa masakin yang enak buat aku." Kafa melambaikan tangan mengucapkan salam dan keluar dari rumah Khalisa.
Khalisa menutup pintu dan kembali ke kamar karena tadi ada urusan yang belum ia selesaikan dengan Azfan. Ia melihat Azfan menutup wajahnya dengan bantal seperti anak yang ngambek karena tidak dituruti keinginannya.
"Mas Azfan tidur?" Perlahan Khalisa naik ke kasur menyentuh lengan Azfan dengan lembut. "Mas?" Ia sedikit mengguncang tubuh Azfan, tidak mungkin Azfan ketiduran karena ia hanya menemui Kafa sebentar. "Ya udah kalau tidur nggak jadi."
Mendengar itu Azfan langsung menyingkirkan bantal yang menutupi wajahnya.
"Jadi sayang." Azfan menahan Khalisa yang hendak turun dari kasur.
Khalisa tersenyum melihat tingkah sang suami yang sangat menggemaskan. Mereka melanjutkan sesuatu yang sempat tertunda karena kedatangan Kafa barusan. Diam-diam Azfan bersyukur karena Kafa menolak ajakan makan malam Khalisa.
__ADS_1