Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
43


__ADS_3

"Apa, serius Sha?" Suara Huma begitu kencang hingga membuat Khalisa menutup telinganya sesaat. Huma terlihat melotot dengan mulut terbuka karena terkejut dengan cerita Khalisa bahwa Fawas anak dosen agama Islam mereka tiba-tiba datang untuk melamar Khalisa. "Sumpah-sumpah ini kayak nggak nyata."


"Kamu aja ngerasa gitu apalagi aku." Khalisa melihat layar laptopnya yang menampilkan wajah Huma. Reaksi Huma termasuk biasa saja dibanding Rindang tadi. Bahkan ketika Khalisa memberitahu hal tersebut Rindang langsung mengambil kunci mobil dan sekarang sedang dalam perjalanan menuju ke tempat Khalisa.


"Terus kamu terima?"


Khalisa mengedikkan bahu, "aku belum jawab apa-apa."


"Ya iyalah, ya kali dia dateng ujuk-ujuk mau ngelamar kamu kalian aja belum kenal kan, PDKT dulu kek, kayaknya dia ke PD an bakal diterima deh."


Khalisa menahan tawa mendengar kalimat ceplas-ceplos Huma, "jangan gitu dong, sebenarnya emang nggak ada salahnya sih karena niat dia baik karena obat dari jatuh cinta itu pernikahan."


"Kayak apa sih si Fawas, mirip pak Husein ya?"


"Sekilas iya tapi Fawas lebih tinggi, kamu bisa bayangin lah kayak apa orang keturunan Arab, alis dan bulu matanya tebal, hidungnya mbangir."


"Kamu kalau nikah sama dia wah nggak bisa bayangin anak kalian kayak apa, pasti putih kayak kamu terus mukanya mirip Kak Fawas."


"Kok jadi kamu yang kesenengan sih?"


"Jadi kamu bakal terima nggak?"


"Aku langsung mau jawab enggak tapi Mama bilang aku nggak boleh terburu-buru untuk ngambil keputusan."


"Tante Ica bener sih, gimana kalau ternyata Fawas itu jodoh kamu yang Allah tulis di Lauhul Mahfudz."


Khalisa menyangga dagu dengan satu tangan, ia masih mengenakan mukenah usai shalat dhuhur dan tilawah Al-Qur'an beberapa lembar. Khalisa makin galau mendengar kalimat Huma. Tak bisa kah satu orang yang mendukungnya untuk menolak lamaran tersebut. Memang tak ada salahnya menikah di usia 20 tahun karena itu juga merupakan ibadah. Namun ini bertentangan dengan hati Khalisa.


"Kalau kamu jadi aku, gimana jawaban kamu?"


"Mau lah." Jawab Huma tanpa berpikir panjang. "Fawas ganteng, shalih dan mapan, nggak ada alasan untuk menolak kecuali aku lagi nunggu orang lain."


Khalisa mengerucutkan bibirnya, apakah Huma tahu jika jauh dalam hatinya Khalisa mengharapkan seorang Azfan. Hanya Azfan yang sederhana dengan kebaikan dan wajahnya yang selalu malu-malu saat bicara dengan Khalisa. Azfan yang mentraktir Khalisa bakmi di tengah pasar dan Azfan yang menolongnya dua kali dari bahaya. Serta Azfan yang memberi Khalisa kaligrafi indah yang saat ini berada di dinding kamar apartemennya.


"Kamu nunggu Azfan?"


"Aku nggak bener-bener nunggu dia karena kita nggak tahu apa yang akan terjadi di masa depan."


"Gimana kalau Azfan nggak punya rasa percaya diri yang cukup untuk mengungkapkan perasaannya sama kamu, gimana kalau dia nggak akan pernah melamar kamu?"


Khalisa kembali terdiam untuk beberapa saat mencerna kalimat Huma yang terasa seperti sambal tempong super pedas yang membuat Khalisa sakit perut.


"Aku yang akan melamarnya." Gumam Khalisa pelan.


"Gila kamu, mana ada cewek melamar cowok."


"Ada kok, Bunda Sayyidah Khadijah radhiyallahu ‘anha dulu melamar Rasulullah."


"Gimana kalau Azfan menolak?"

__ADS_1


Khalisa memejamkan mata rapat-rapat karena ucapan Huma terasa menghujam jantungnya dengan keras. Sahabat baik memang ia yang mau mengatakan apapun meski itu pahit bukan membungkus hal buruk dengan kata-kata manis.


"Bukan karena dia nggak suka sama kamu tapi bisa aja dia mikir kamu terlalu baik untuk dia, inget Sha Azfan itu orangnya suka minder dan nggak percaya diri.


Maka aku akan yakinin dia. Khalisa membalas dalam hati.


Ketukan pintu di kamar Khalisa mengalihkan perhatian gadis itu. Khalisa beranjak dari kursi yang menghadap ke pantai, itu adalah salah satu alasan mengapa ia menyukai kamar ini.


"Khalisa!" Rindang tidak sabar menerobos masuk dan segera menutup pintu seolah mereka hendak melakukan sesuatu rahasia. "Kamu terima lamaran itu, ahh aku nggak rela kamu nikah duluan nanti aku sama siapa?"


"Belum kok."


"Belum? Artinya kamu bakal terima dia nanti?"


Khalisa menggeleng mengajak Rindang duduk untuk menenangkan sahabatnya itu. Khalisa menutup laptopnya mengakhirinya video call dengan Huma.


"Ternyata bener di antara kita yang akan nikah duluan tuh kamu."


"Rindang, aku belum kasih jawaban kok."


Rindang tidak bisa tenang jika Khalisa belum memberi jawaban. Rindang akan turut bahagia jika Khalisa bahagia, ia hanya belum siap ditinggalkan Khalisa. Rasanya lebih sakit dari pada putus dengan pacar karena mereka selalu melakukan hal-hal bersama sejak kecil. Rindang tahu suatu hari mereka akan menemukan pasangan masing-masing tapi tidak secepat ini.


"Kenapa dia ngambil kamu dari aku?" Rindang menghambur ke pelukan Khalisa, ia menangis tersedu-sedu sampai Khalisa bingung harus dengan cara apa untuk menenangkan Rindang.


"Nggak ada yang ngambil aku dari kamu Rin, udah ih nanti tamu sebelah denger tangisan kamu." Khalisa menepuk-nepuk punggung Rindang seperti seorang ibu yang menidurkan anaknya tapi ini sedikit lebih kuat.


Rindang menahan suara tangisannya, ia bahkan tidak sadar kalau saat ini mereka berada di resor dan pasti ada tamu lain di kamar sebelah.


Khalisa bingung karena ia sendiri juga tidak punya foto Fawas tapi ia tetap mengambil ponselnya. Khalisa melihat grub chat HAWASI barangkali ada foto bersama anggota dengan Fawas saat lomba MTQ kemarin.


"Nggak terlalu jelas." Khalisa menyodorkan ponselnya pada Rindang yang menampilkan foto pengurus HAWASI dengan Fawas berada di tengah. Meski kualitas foto itu tidak terlalu bagus tapi Khalisa langsung bisa menemukan sosok tinggi besar itu. "Yang tengah." Tambahnya.


Rindang mengerjapkan mata karena pandangannya berkabut akibat air mata yang menggenang, ia menatap sosok lelaki yang belum pernah ditemuinya di dunia nyata itu. Rindang harus bertemu dengan lelaki bernama Fawas itu, ia harus memastikan laki-laki yang akan menjadi pasangan Khalisa adalah orang yang baik. Tak hanya baik tapi ia harus menjaga Khalisa sepenuh hati dan membimbingnya.


"Ini bukan tipe kamu kan?" Rindang mengembalikan ponsel Khalisa.


"Memangnya tipe ku kayak apa?"


"Kayak Azfan."


Khalisa mencibir, "sok tahu!" Padahal dada Khalisa menghangat kala nama Azfan disebutkan.


"Aku harap kamu bener-bener pikirin ini dengan matang malah kalau bisa sampai gosong juga nggak apa-apa." Rindang beranjak, ia tidak mau mengganggu waktu liburan Khalisa.


"Mau kemana?"


"Balik, berdoa supaya kamu nggak salah pilih."


Khalisa tersenyum karena perhatian Rindang, ia hendak mengantar Rindang hingga lobi tapi sahabatnya itu menolak. Akhirnya Khalisa hanya mengantar Rindang sampai depan pintu kamar.

__ADS_1


******


Usai makan malam di restoran resor, Daniel dan Khalisa duduk di gazebo menikmati pemandangan pantai di malam hari. Lampu pada kamar-kamar resor yang terapung menyala menghasilkan sinar temaram hingga ke bibir pantai.


Hening. Hanya deburan ombak yang terdengar tenang dan teratur. Daniel dan Khalisa sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Cece menyukainya?" Daniel akhirnya memecah keheningan antara dirinya dan sang putri sulung.


Khalisa menoleh menatap lurus pada papanya.


"Gimana perasaan Ce Khalisa tadi waktu denger perkataan Pak Husein?" Tanya Daniel lagi sebelum Khalisa menjawab pertanyaan pertama. Bagi Daniel yang terpenting adalah kebahagiaan sang anak. Jika Khalisa tidak senang maka Daniel tak akan menerima lamaran itu.


Khalisa tak bisa menggambarkan dengan kata-kata bagaimana perasaannya tadi, ia hanya terkejut karena tak menduga bahwa Husein datang dengan maksud melamarnya untuk Fawas.


"Kalau Khalisa ingin menolak, tolak saja karena yang terpenting bagi Papa itu kebahagiaan anak Papa." Daniel menarik tangan Khalisa san menggenggamnya. "Fawas memang terlihat baik dan sopan, tapi Papa nggak mau Khalisa menerima dia secara terpaksa, Papa ingin Khalisa menikah dengan laki-laki yang benar-benar Khalisa cintai."


Khalisa menatap papanya, kalimat itu yang ingin didengarnya. Seseorang yang mendukung keputusannya. Rupanya Daniel mengerti perasaan Khalisa yang sebenarnya. Daniel percaya jika Khalisa mengikuti kata hatinya maka semua akan baik-baik saja.


"Makasih Pa." Khalisa memeluk papanya.


"Cece nggak perlu mikir apapun, Papa yang akan bicara baik-baik sama Pak Husein, Papa yakin mereka pasti akan mengerti dan mau menerima keputusan Ce Khalisa." Daniel mengusap jilbab panjang Khalisa dengan sayang.


Dari kejauhan Ica melihat pemandangan yang membuatnya tersenyum sekaligus tersentuh karena setiap masalah yang terjadi di keluarga mereka, Daniel akan selalu merangkul Ica dan anak-anaknya lalu menemukan jalan keluarnya. Sebenarnya ini tidak bisa disebut sebagai masalah tapi ujian baru bagi mereka sebagai orangtua. Namun Daniel akan selalu menghadapinya dengan bijaksana. Sejak pertama kali menikah hingga kini Ica dan Daniel tak pernah berhenti belajar. Tak hanya menjadi suami dan istri yang baik tapi juga orangtua baik serta pemimpin perusahaan yang baik. Meski tak sempurna tapi mereka akan selalu berusaha melakukan yang terbaik.


"Masuk gih, udah malem, Papa dan Mama mau pulang dulu, Zunaira pasti udah ribut gangguin Koko nya." Daniel mengusap pipi Khalisa dan melepas pelukan.


"Khalisa tidur satu malam disini ya Pa, tadi udah izin juga sama Mama."


"Itu Mama." Daniel melihat Ica menghampiri mereka. "Udah semua?" Tanya Daniel karena setelah makan tadi Ica bilang akan menyelesaikan sedikit pekerjaannya.


"Udah." Ica mengangguk, "Cece masuk gih, angin malam nggak bagus."


"Iya, Papa dan Mama hati-hati di jalan." Khalisa mencium punggung tangan Daniel dan Ica sebelum mereka pulang.


"Kami pulang ya." Ica mengusap puncak kepala Khalisa dan mengecup keningnya. "Besok Cece puasa nggak?"


"Puasa inshaa Allah Ma."


"Mama udah bilang sama room service untuk siapin makanan sahur buat Khalisa."


"Khalisa bisa bikin makanan sendiri kok Ma." Khalisa hanya ingin bermalam disini tanpa merepotkan karyawan resor.


"Nggak apa-apa, di Jogja kan selalu siapin makanan sendiri sekarang mumpung disini."


"Makasih Ma." Khalisa memeluk mamanya sesaat lalu bergegas masuk ke resor karena ia belum mendirikan shalat isya'.


"Hari ini capek ya?" Daniel merangkul Ica dari samping ketika mereka berjalan menuju tempat parkir mobil.


"Kok tahu?" Ica menoleh pada sang suami. Sinar temaram membuatnya tidak bisa melihat ekspresi Daniel saat ini dengan jelas tapi ia bisa melihat senyum suaminya itu begitu tulus padanya.

__ADS_1


"Sampai rumah aku pijitin." Daniel mendekat mencium pipi Ica.


Ica menoleh ke belakang takut ada yang melihat mereka barusan meski ia yakin semua karyawan berada di dalam.


__ADS_2