
Aisyah, Khalisa dan Mahira berjalan keluar restoran setelah mengisi perut dengan hidangan hot pot. Sementara itu Rindang dan Levin berada agak jauh di belakang. Levin sengaja menggunakan kesempatan ini untuk bicara dengan Rindang.
Rindang ingin menghindar seperti yang biasa ia lakukan setiap kali bertemu Levin. Namun keberadaan yang lain membuat Rindang tak bisa menghindar. Rindang takut Levin menyinggung soal pernikahan lagi, ia belum siap melakukan itu.
"Mahira itu—" Levin menanyakan seorang gadis bernama Mahira yang tampak asing, ia tak pernah bertemu dengan gadis itu.
"Calon tunangannya Kafa." Rindang mengerti apa yang membuat Levin penasaran.
"Kafa mau tunangan? kapan?"
Rindang mengedikkan bahu, ia juga tidak tahu pasti kapan tanggal pertunangan Kafa dan Mahira. Yang Rindang tahu Kafa sangat pandai memilih pasangan, Mahira memiliki mata lebar yang sangat cantik.
"Rindang, aku tahu selama ini kamu menghindar dari aku." Levin mengalihkan pembicaraan.
"Maaf Ko." Lirih Rindang, seharusnya ia memang tidak menyiksa Levin dengan selalu menghindarinya. "Aku nggak bermaksud seperti itu."
"Rindang, apa yang kamu takutkan soal pernikahan?"
Rindang mengedarkan pandangan ke arah barisan manekin di salah satu tenant pakaian. Tiba-tiba udara jadi panas ketika Levin mulai membahas soal pernikahan.
"Kamu nggak suka sama aku?" Levin melirik Rindang.
"Bukan gitu Ko."
"Jadi kamu suka sama aku?"
"Hm?" Rindang terjebak, harusnya ia tidak mengatakan hal seperti itu. "Intinya aku nggak mau menggantung Ko Levin."
"Apa yang kamu takutkan soal pernikahan?"
Rindang tidak segera menjawab, bagaimana caranya menjelaskan pada Levin tentang perasaan dan ketakutannya soal pernikahan. Rindang tak bisa memilih kalimat yang tepat untuk dikatakan.
"Aku sangat mengerti keadaan kamu Rindang, aku bisa menerima kamu yang seperti ini."
Rindang menunduk, "Koko pantas mendapat wanita yang jauh lebih baik dari aku."
"Mungkin di luar sana banyak wanita yang lebih baik dari kamu tapi cuma kamu yang terbaik buat aku, nggak ada yang lain." Levin berpegangan pada pinggiran eskalator yang akan membawa mereka menuju lantai satu. "Kita bisa memperbaiki diri bersama-sama." Tambahnya. "Kalau ada waktu, kamu bisa berkunjung ke rumah dan ngobrol-ngobrol sama Mama ku."
"Iya Ko." Rindang mengangguk pelan.
Rindang merasa takut jika bertemu mama Levin yang berwajah judes itu apalagi ia tak bisa mengajak Khalisa padahal Valerie terlihat sangat menyukai Khalisa. Rindang akan menggunakan kesempatan ini untuk PDKT dengan Valerie, bukankah ia harus dekat dengan calon mertuanya seperti Khalisa dekat dengan Kirana.
******
Azfan menurunkan buku-buku yang sudah tidak terpakai dari rak dan memindahkannya ke kardus. Sebagian dari mereka adalah buku non fiksi yang sudah tidak dibaca lagi oleh Azfan maupun Khalisa. Seperti biasa Azfan akan menyerahkan buku tersebut ke taman baca agar orang lain memiliki kesempatan membaca tanpa harus membelinya.
"Sayang, ini masih mau dibaca?" Azfan mengacungkan sebuah buku fiqih wanita bersampul merah muda pada Khalisa yang tengah sibuk berkutat dengan laptopnya.
"Enggak Bi, aku punya yang versi lain."
"Aku taruh di kardus ya."
__ADS_1
"Iya, makasih Bi."
Azfan telah memasukkan semua buku yang tidak akan dibaca lagi ke dalam 3 kardus. Mereka cukup sering membeli buku dan setiap kali mendapat yang baru, Azfan dan Khalisa harus mengeluarkan yang lama.
"Istirahat sayang." Azfan menyentuh pundak Khalisa dan duduk di samping sang istri. Jam digital di atas meja belajar sudah menunjukkan pukul 11 malam tapi Khalisa belum juga beranjak dari kursinya sejak menidurkan Azka sekitar 2 jam yang lalu.
"Abi tidur aja dulu, tanggung nih sedikit lagi Bi." Khalisa masih mengerjakan skripsinya, ia menggunakan produknya sendiri yakni krim anti strechmark Alindra Beauty karena ia begitu memahami produk tersebut. Khalisa telah membuatnya dari awal jadi ia sangat menguasai materi skripsinya.
"Lanjut besok aja ya, Umma kurang istirahat kan akhir-akhir ini." Azfan memijit bahu Khalisa pelan, duduk di depan laptop terlalu lama pasti membuat bagian tersebut pegal-pegal ditambah tubuh Azka sekarang sudah lebih berat. Azfan dapat merasakannya saat ia menggendong si kecil. "Sayang sekali kita berada di fakultas yang berbeda jadi aku nggak bisa membantu Umma."
"Aku juga nggak bisa bantu Abi, cuma bisa kasih semangat aja."
"Umma butuh istirahat, yuk." Azfan mengusap rambut Khalisa dan menyelipkan nya di belakang telinga. "Nanti kalau kecapekan ASI nya bisa berkurang." Akhirnya Azfan menemukan cara untuk membuat Khalisa berhenti. Azka selalu berhasil membuat Khalisa menghentikan aktivitasnya.
Khalisa menyerah, akhirnya ia menutup laptopnya dan menghadap Azfan. Mereka berpandangan lama seolah menyelami isi hati masing-masing.
"Aku bikinin susu ya." Azfan hendak beranjak tapi Khalisa menahannya.
"Jangan Bi, ini sudah malam, kita tidur saja."
"Terimakasih karena sudah mengurus Azka dan aku dengan baik, sayang." Azfan memeluk tubuh mungil Khalisa.
Khalisa mengembuskan napas panjang, ia memang sedang lelah dengan aktivitasnya yang padat. Khalisa tidak memiliki waktu istirahat walaupun sebentar. Selain membantu Kafa menyiapkan acara lamaran, Khalisa juga harus menyelesaikan skripsi sambil mengurus Azka. Meski demikian Khalisa tak mau mengeluh karena Azfan juga sama lelah nya. Namun Khalisa bersyukur karena pada saat seperti ini Azfan selalu ada untuk menguatkannya. Pelukan seperti sekarang mampu merontokkan semua rasa lelah Khalisa.
"Semoga Allah selalu melapangkan hatimu, Umma." Azfan mengecup kening Khalisa.
"Terimakasih Bi, semoga Abi selalu diberi kekuatan."
"Ayo tidur." Azfan beranjak lebih dulu.
"Abi wangi banget." Khalisa membenamkan wajahnya di dada Azfan. Ia memejamkan mata ketika Azfan melantunkan sholawat dengan suaranya yang merdu. Khalisa bisa tidur dengan mudah ketika mendengar suara sang suami yang menenangkan jiwanya.
Mereka baru berpindah ke dunia mimpi ketika tangis Azka terdengar dan terpaksa menarik keduanya kembali ke dunia nyata.
Khalisa tertawa pelan mendengar tangisan Azka, ia melepaskan diri dari dekapan nyaman Azfan dan turun dari ranjang.
"Anak Umma kok udah bangun?" Khalisa mengangkat tubuh Azka dan mengecup bibirnya, "bau pesing Azka nih, popoknya udah penuh ya?"
Azfan ikut turun dari ranjang, "biar aku yang ganti popoknya."
"Nggak apa-apa biar aku yang ganti." Khalisa meletakkan Azka di atas Baby Tafel dan membuka celana si kecil.
"Azka poop ya?" Azfan mengambil popok baru dan celana bersih untuk Azka.
"Iya Bi." Khalisa membersihkan bekas poop Azka dengan tisu basah.
Azka menangis kuat merasakan dinginnya tisu basah, kakinya gemetar menendang-nendang ke sembarang arah.
"Cepetan Umma, Azka dingin." Azfan menirukan suara anak kecil.
"Sabar sayang ku, biar bersih dulu."
__ADS_1
Azfan berusaha mengalihkan perhatian Azka dengan menggoyangkan mainan boneka jari berbentuk singa dan kerbau.
"Nggak mau main boneka Bi, maunya mimik susu Umma ya?" Khalisa menimang Azka setelah selesai mengganti popok.
Khalisa duduk di kursi dekat Baby Tafel untuk menyusui Azka.
"Enak banget Azka minum susu Umma, Abi jadi iri." Azfan ikut duduk di samping Khalisa.
Azka langsung diam begitu berada di dekapan Khalisa seraya meminum ASI.
"Abi mau satunya nggak?" Goda Khalisa seraya melirik Azfan.
Azfan menggeleng.
"Yakin nggak mau?"
"Umma, jangan gitu." Azfan mengalihkan pandangan ke arah gorden kamar, padahal tak usah ditanya pasti Azfan tidak akan menolak. "Biarin Azka tidur dulu."
Khalisa tertawa, "nggak mau barengan?"
"Nggak mau nanti Azka kalah." Azfan mengusap-usap telapak kaki Azka yang berwarna merah muda, sepasang kaki sang buah hati selalu membuat Azfan gemas ingin menggigitnya. "Boleh gigit nggak sih?"
"Nggak boleh ih." Khalisa menjauhkan kaki Azka dari Azfan, "nanti nangis."
"Kalau gitu gigit Umma nya aja." Sebagai gantinya Azfan menggigit pipi Khalisa pelan, lagi pula keduanya sama-sama berwarna kemerahan.
"Udah minumnya?" Khalisa mengusap mulut Azka. "Nggak mau tidur?"
Azka tertawa merespon perkataan Khalisa, kakinya juga menendang-nendang dengan ceria.
"Udah malem loh Nak." Khalisa beranjak, ia mengubah posisi Azka menjadi tegak dan menempel pada bahunya. Itu akan membuat Azka bersendawa setelah banyak minum.
Azfan memeluk Khalisa dari belakang, ia bermain ciluk ba dengan Azka yang sama sekali tidak menunjukkan wajah mengantuk. Itu karena Azka sudah cukup lama tidur tadi. Ini pertanda bahwa mereka akan bergadang semalaman.
"Abi tidur aja dulu." Ujar Khalisa, mereka bisa gantian menjaga Azka.
"Aku nggak mungkin biarin Umma sendirian." Azfan tak akan bisa tidur jika Khalisa masih terjaga.
Khalisa membaringkan Azka di atas tempat tidur bersamanya dan Azfan. Mereka mengajak Azka bermain boneka jari berwarna-warni yang begitu menarik perhatian. Boneka tersebut juga bisa mengeluarkan suara saat dipencet. Itu adalah boneka milik Zunaira yang diberikan pada Azka. Walaupun Zunaira belum bertemu langsung dengan Azka tapi ia menitipkan banyak boneka dan mainan miliknya untuk sang keponakan.
"Habis poop kok masih wangi ya anak Abi?" Azfan menciumi wajah Azka berkali-kali.
"Kan udah dibersihin sama Umma, Bi jadi nggak bau poop lagi."
"Makasih Umma udah gantiin popok Azka."
"Sama-sama sayang." Khalisa mencium pipi Azfan. Bagi Khalisa Azfan dan Azka sama-sama menggemaskan, Khalisa tak bisa menahan diri untuk tak menciumnya.
Azfan memutar kepala dan balas mencium Khalisa tapi bukan di pipi melainkan bibir ranum sang istri. Khalisa reflek memejamkan mata ketika Azfan melakukan itu.
Azka melihat Umma dan Abi nya dan tertawa, kakinya menendang-nendang dengan ceria.
__ADS_1
"Eh Azka mau dicium juga ya?" Azfan kembali melihat Azka.
Khalisa dan Azfan mencium Azka bersamaan dan memeluk tubuh mungil sang buah hati. Mereka begitu bersyukur memiliki Azka yang dapat menjadi pelipur lara. Tawa dan tangis Azka membangkitkan semangat dalam diri mereka.