Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
123


__ADS_3


Aroma bayi tercium ke seluruh kamar dengan cat dinding abu-abu tersebut. Khalisa baru saja selesai memandikan Azka, itulah mengapa aroma segar bayi tercium begitu kuat membuat Khalisa betah di kamarnya. Khalisa tak pernah lagi menggunakan pengharum ruangan sejak kehadiran Azka. Aroma bayi jauh lebih menenangkan dibandingkan pengharum ruangan manapun.


"Udah gede nih anak Umma, kok cepet banget ya?" Khalisa memandangi sang buah hati, ia tiba-tiba melow mengingat saat melahirkan Azka 3 bulan yang lalu. "Umma sama Abi mau pengajian dulu ya, Azka di rumah sama Mbak Nadira." Khalisa mengoleskan minyak pada rambut Azka. Rambut Azka yang lebat tampak mengkilap setelah Khalisa mengoleskan minyak beraroma khas bayi itu.


Azka tertawa merespon ucapan Umma nya, ia memegang guling kecil yang biasa menemaninya tidur. Jika mengerti pada ucapan Khalisa pasti Azka akan menangis karena ia tidak diajak pergi bersama.


"Atau Azka diajak aja?" Azfan mengerti perasaan Khalisa, pasti istrinya itu berat meninggalkan Azka disini.


"Mendung Bi." Khalisa melihat langit yang berwarna kelabu. "Disana pasti rame juga, kasihan Azka belum terbiasa sama keramaian."


"Ya udah Abi sama Umma pergi ya." Azfan mengecup bibir Azka, "uh wangi banget anak Abi."


"Siapa dulu yang mandiin."


"Umma dong, Umma siap-siap dulu gih biar aku gendong Azka." Azfan mengangkat tubuh mungil Azka dan mengajaknya bercanda. "Azka makin gede makin mirip Akong nih."


"Abi nya nggak kebagian."


"Kebagian dong Umma, rambutnya."


Khalisa mengusap kepala Azka, "Umma ganti baju dulu ya."


Khalisa telah menyiapkan pakaian yang hendak dikenakan hari ini sejak semalam saat Azka tidur. Jika tidak begitu pasti mereka akan buru-buru hari ini. Khalisa harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin saat Azka tidur.


"Masya Allah, Azka lihat deh Umma cantik banget kan?" Azka menghadapkan Azka ke Khalisa.


"Ya ampun jangan gitu Bi." Khalisa memegang pipinya yang terasa hangat, ia tersipu malu dipuji seperti itu oleh Azfan. "Bajunya bagus ya."


"Bagus, sangat cocok dengan Umma."


Khalisa mengenakan pakaian yang baru dijahitnya. Itu adalah baju pertama yang berhasil Khalisa buat setelah melahirkan, walaupun modelnya sederhana tapi butuh effort yang tidak sedikit. Untungnya Azka tidak rewel dan pengertian terhadap Umma serta Abi nya yang sibuk.


Beberapa saat kemudian Nadira masuk ke kamar mereka untuk menjaga Azka selama Khalisa dan Azfan pergi.


"Baik-baik ya Mbak."


"Iya Mbak Khalisa, hati-hati di jalan."


"Jangan rewel sama Mbak Nadira ya sayang." Khalisa mencium Azka sekali lagi begitupun dengan Azfan. Mereka tak akan pernah merasa cukup mencium Azka.


******


"Deres banget hujannya, untung kita nggak ajak Azka kasihan dia bisa kedinginan kalau ikut." Khalisa melihat keluar jendela sesampainya di halaman masjid An-Nur yang sudah dipenuhi oleh mobil dan sepeda motor.


Azfan diundang untuk mengisi pengajian di masjid An-Nur sore ini. Penceramah pada pengajian tersebut adalah Umar. Seperti biasa Azfan akan membacakan beberapa ayat Al-Qur'an ketika Umar hendak memulai ceramah. Kadang di tengah-tengah sesi tanya jawab Azfan juga akan melafalkan ayat-ayat yang berkaitan dengan pertanyaan jamaah.


"Setelah Azka lebih besar, kita bisa ajak dia kemana-mana." Azfan melepas seatbelt begitupun dengan Khalisa.


Dua orang panitia menghampiri mobil Azfan untuk memayungi Khalisa dan Azfan menuju masjid.

__ADS_1


"Terimakasih Mas, biar saya pegang." Azfan mengambil satu payung di tangan panitia, ia berjalan mengelilingi mobil dan membukakan pintu untuk Khalisa. "Gamis Umma awas basah."


"Tetep basah Bi, kecuali aku bisa terbang." Khalisa tertawa menyambut uluran tangan Azfan.


"Satu payung cukup?" Tanya panitia tersebut.


"Cukup Mas, terimakasih ya." Ucap Azfan sekali lagi, sebenarnya mereka punya payung di dalam mobil tapi karena dua panitia itu telah menghampiri mereka maka tak mungkin Azfan dan Khalisa mengabaikan payung tersebut.


Azfan melingkarkan tangan pada pinggang Khalisa, mereka berjalan pelan menuju dalam masjid.


"Abi pakai parfum kebanyakan, wangi banget." Khalisa mengendus lengan Azfan,  ia bisa mencium aroma Bergamot, Cyclamen dan Musk pada waktu yang bersamaan. Khalisa tebak Azfan menggunakan parfum pemberian Jaya. Akong mereka memberikan satu parfum lagi untuk Azfan karena ia memiliki belasan parfum yang masih baru dan tidak terpakai. Khalisa yakin nanti Akong nya itu akan memberikan semua parfum pada Azfan atau Kafa karena ia mudah bosan terhadap wewangian.


"Umma mau aku ganti baju?" Azfan menunduk melihat Khalisa.


"Memangnya Abi bawa baju ganti?" Khalisa mendongak hingga pandangannya bertemu dengan Azfan lalu terkunci untuk beberapa saat. Derasnya hujan tidak membuat mereka buru-buru masuk, justru Azfan dan Khalisa menikmati momen ini. Dua panitia yang tadinya berada di belakang Azfan kini berjalan terlebih dahulu karena merasa tidak enak jika melihat kemesraan Azfan dan Khalisa.


"Enggak." Azfan terkekeh. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyadarkan diri dari pesona sang istri. Azfan seolah terhipnotis oleh kecantikan Khalisa padahal mereka sudah 2 tahun menikah. Namun kecantikan Khalisa masih saja membuat Azfan terpesona.


"Terus kenapa nanya?" Khalisa mencubit perut Azfan gemas.


Masjid An-Nur begitu megah dengan pilar-pilar berwarna putih dan emas. Di antara batas dinding dan langit-langit terdapat kaligrafi yang mengelilingi masjid. Kaligrafi menakjubkan itu adalah hasil karya tangan Azfan dan dua orang lainnya yang proses pembuatannya memakan waktu hingga 3 bulan.


Azfan duduk menghadap jamaah yang semuanya adalah perempuan. Biasanya penyajian laki-laki dan perempuan dilakukan secara terpisah di hari yang berbeda. Beberapa saat kemudian Umar datang bersama Aisyah, mereka memang belum kembali ke Banyuwangi sejak lamaran Kafa dan Mahira. Selain sibuk menyiapkan pernikahan Kafa, Umar juga memiliki jadwal pengajian yang cukup padat.


Aisyah bergabung duduk bersama Khalisa dan para jamaah. Tema pengajian hari ini adalah tentang Kasih Sayang Allah.


Umar membuka pengajian hari ini dengan mengucapkan salam dan doa agar kegiatan ini berjalan lancar serta memberikan berkah.


Kemudian Azfan membacakan QS An-Naml ayat 60-63 dengan khusyuk. Suara merdu Azfan menggema ke seluruh penjuru masjid. Suara yang mampu menggetarkan hati pendengarnya.


(QS 27:63)


Air mata Khalisa meleleh ketika suara Azfan menembus ke gendang telinga hingga ke hatinya. Begitu banyak nikmat Allah yang telah diberikan tapi Khalisa masih sering mengeluh. Padahal dibandingkan rasa lelahnya, tentu nikmat Allah jauh lebih banyak.


"Jika kita merasa memiliki dosa yang tidak terhitung maka itu adalah pemikiran yang kurang benar karena sesungguhnya dosa-dosa tersebut telah tertulis di buku catatan malaikat Atid sedangkan rahmat dan kasih sayang Allah benar-benar tidak terhitung, maka jangan berputus asa terhadap rahmat Allah yang jauh lebih besar dari dosa-dosa kita."


Pengajian siang itu ditutup dengan doa bersama dipimpin oleh Umar. Tak langsung bubar, para jamaah melakukan sesi foto bersama di masjid megah tersebut.


"Boleh foto sama Mas Azfan aja nggak?" Tanya seorang jamaah yang terlihat masih seumuran dengan Khalisa dan Azfan. Ia melihat ke arah Khalisa untuk meminta izin.


Khalisa mengangguk. Beberapa jamaah yang masih berusia 20 tahunan itu berkumpul memposisikan diri berdiri di samping kanan dan kiri Azfan. Mereka memasang timer kamera yang diletakkan pada tripod. Azfan melihat Khalisa berjalan menjauh.


"Kalau cemburu bilang aja, jangan pura-pura ikhlas Azfan dikerubungi cewek gitu." Aisyah berbisik di telinga Khalisa. Walaupun Khalisa berusaha tersenyum tapi ia tak bisa menyembunyikan kecemburuannya di depan Aisyah. Walaupun bukan ibu yang melahirkan Khalisa tapi Aisyah juga ikut merawat Khalisa sehingga ia paham betul terhadap gerak-gerik keponakannya itu.


Khalisa mengalihkan perhatian dari Azfan, ia tiba-tiba berpikir apakah Azfan juga sering diajak foto bersama para wanita saat sedang pengajian. Karena selama ini Khalisa hampir tidak pernah ikut Azfan pengajian, ia tak tahu tentang hal itu. Khalisa juga tak pernah bertanya pada Azfan. Lagi pula tujuan Azfan adalah demi kebaikan, sungguh tidak pantas jika Khalisa bertanya macam-macam terhadap sang suami.


"Ai cemburu nggak kalau Suk Umar diajak foto bareng jamaah?"


"Tergantung,"


"Tergantung apa?"

__ADS_1


"Tergantung yang ngajak foto siapa, mungkin kalau bareng-bareng kayak barusan Ai nggak cemburu tapi kalau sama cewek-cewek muda kayak mereka, Ai jelas cemburu, itu sifat alami wanita."


"Nggak mungkin Khalisa larang mereka foto bareng Mas Azfan." Khalisa tidak mau mereka menganggap dirinya sombong. Bukankah itu hanya foto bersama.


"Mending tolak permintaan mereka atau pilih cemburu? pilihan ada di kamu Khalisa."


Khalisa menghela napas berat, ia tak bisa memilih antara dua hal itu. Lagi pula selama ini Khalisa tak pernah cemburu karena ia tak memiliki alasan untuk melakukannya. Azfan selalu bersikap baik dan memprioritaskan Khalisa. Seharusnya Khalisa memang tidak perlu ikut pengajian, lebih baik ia tinggal di rumah dengan Azka.


"Sudah ya, terimakasih sudah hadir di pengajian ini." Azfan menyudahi sesi foto tersebut dan melangkah menghampiri Khalisa, sebenarnya ia tidak nyaman diminta berfoto bersama. Mengingat dulu Azfan adalah orang yang tertutup dan tidak memiliki banyak teman lalu sekarang tiba-tiba ada yang mengajaknya foto bersama padahal ia bukan artis. Namun Azfan juga tak tahu bagaimana caranya menolak karena Khalisa mengizinkan.


"Kalian langsung pulang?" Tanya Umar pada Azfan dan Khalisa.


"Iya Suk, kasihan kalau ninggalin Azka terlalu lama." Jawab Khalisa. "Susuk dan Ai hati-hati ya."


"Iya kalian juga."


Mereka berpisah masuk ke mobil masing-masing. Hujan sudah mulai reda setelah puas menghujam bumi selama kurang lebih 2 jam, cukup untuk membuat jalanan becek.


"Aku bantu pasang." Azfan mencondongkan tubuhnya untuk memasang seatbelt Khalisa.


"Nggak usah." Khalisa buru-buru memasang sendiri seatbelt nya.


Azfan melihat perubahan wajah sang istri, apakah karena sesi foto itu tapi bukankah Khalisa sendiri yang mengizinkan mereka melakukan foto bersama Azfan.


"Ada apa sayang?" Tanya Azfan lembut, "biasanya juga aku yang pasangin."


"Ayo jalan."


"Mau mampir beli makanan nggak?"


"Kan tadi aku udah masak buat makan malam, Mas nggak mau makan masakan aku?"


Loh kok jadi marah sih, terus kok manggil nya jadi mas lagi? Ayo Azfan pikirkan cara untuk mengembalikan mood istrimu.


"Maksudku untuk mu, kalau aku sudah pasti lebih suka masakan Umma."


"Langsung pulang aja." Khalisa melipat tangan di depan dada.


"Siap istriku yang shalihah." Azfan tersenyum lebar, antara lucu dan menakutkan melihat Khalisa marah seperti itu. Namun bukan berarti Azfan menyukai kemarahan Khalisa, tidak sama sekali.


Sesampainya di rumah Khalisa langsung naik ke lantai dua. Khalisa melihat Nadira memejamkan mata dengan kepala bersandar pada dinding di samping box Azka yang juga sudah tidur.


"Mbak, pindah ke kamar gih." Khalisa menepuk paha Nadira pelan.


Nadira terkesiap dan langsung beranjak, "maaf Mbak, saya ketiduran."


"Nggak apa-apa."


"Kalau gitu saya permisi ke bawah dulu." Pamit Nadira, ia ingat masih belum mencuci baju Azka siang ini. Nadira tak bisa meninggalkan Azka sendirian untuk mengerjakan yang lain karena Khalisa melarangnya.


"Sayang, sudah ashar aku sekalian ke masjid dulu ya." Azfan berdiri di depan pintu kamar.

__ADS_1


Khalisa menjawabnya dengan anggukan tanpa melihat Azfan.



__ADS_2