
Kedatangan Azfan disambut oleh mahasiswa kampus lain dan beberapa dosen yang ikut bangga dengan kemenangan Azfan. Mereka bahkan menyiapkan bunga yang dikalungkan pada leher Azfan. Mereka ikut merasakan kebahagiaan Azfan karena gelar juara itu.
Azfan tersenyum lebar pada mereka meski ia malu setengah mati dan ingin acara penyambutan ini segera berakhir. Azfan tidak suka menjadi pusat perhatian apalagi mereka menyanjungnya dengan berlebihan. Padahal juara ini Azfan dapat bukan semata-mata karena dirinya tapi juga dukungan mereka dan kehendak Allah. Azfan tidak merasa hebat hanya karena juara itu.
Dari lantai 3 Khalisa bisa melihat orang-orang mengerumuni Azfan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum. Azfan yang dulu pemalu dan selalu bersembunyi akhirnya sekarang bisa menunjukkan diri bahwa ia juga mampu mengharumkan nama almamater.
"Jangan khawatir, walaupun banyak cewek yang ngerumunin Azfan, nama mu yang akan tetap dia sebut." Huma mengeluarkan kata-kata bijaknya di samping Khalisa, ia juga melihat keluar jendela pada kerumunan di bawah sana.
"Sebut dimana?" Khalisa melihat Huma sesaat.
"Di dalam sepertiga malamnya dan wawancara televisi."
Khalisa menahan senyum kembali melihat ke bawah sana, perut Khalisa bergejolak jika mengingat saat Azfan menyebutkan namanya waktu itu. Apakah ini yang dinamakan kupu-kupu terbang? itu hanya kupu-kupu imajiner tapi Khalisa jelas merasakan kehadiran mereka di dalam perutnya lalu mendesak ke diafragma dan jantung.
"Jaga mata, lagi puasa." Huma memperingatkan Khalisa.
Khalisa segera mengalihkan pandangannya dan membuang jauh bayangannya tentang Azfan. Meski dari lantai 3 Khalisa tak bisa melihat Azfan terlalu jelas tapi ia tetap mengalihkan perhatiannya pada layar laptop nya. Khalisa mencoba fokus mengerjakan tugasnya sedangkan Huma asyik membaca novel Harry Potter and the Cursed Child yang sudah ratusan kali dibacanya.
"Walaupun nggak puasa tetep harus jaga pandangan." Kata Khalisa pada dirinya sendiri.
"Emang kamu nggak puasa?"
"Puasa."
"Udah ah aku nggak mau ngomong terus nanti haus."
Khalisa melirik jam dinding di atas pintu kelas, pukul 2 siang. Mereka sudah tidak memiliki kelas tapi Khalisa masih ingin berada di kampus untuk menyelesaikan tugasnya.
"Buka puasa masak apa ya?"
Khalisa melirik Huma, katanya tidak mau bicara tapi belum 5 menit Huma sudah bicara. Pasti itu akan menjadi pertanyaan rutin bagi Huma selama 30 hari ke depan.
"Kulkas kamu kan udah penuh jadi nggak perlu bingung mau masak apa." Kemarin Huma telah berbelanja hingga dua troli untuk stok bahan makanan selama beberapa hari ke depan. Anak kos pasti akan bingung setiap hari untuk makanan buka puasa.
"Kalau kamu?"
Khalisa juga belum memikirkan akan memasak apa untuk buka puasa, kalau tidak ada waktu maka ia akan membeli saja.
Khalisa menutup laptop setelah mengirim tugasnya ke dosen, ia memasukkan laptop tersebut ke dalam tas dan beranjak membuat Huma keheranan. Bahkan Huma baru membaca 3 lembar novel.
"Kok udah?"
"Udah selesai."
"Aku belum selesai baca."
"Kamu sih ngomong terus gimana mau selesai, kita udah satu jam disini."
__ADS_1
"Tungguin!" Huma berteriak pada Khalisa yang sudah berada di ambang pintu, ia benar-benar tidak kehilangan sedikit pun energinya meski tengah berpuasa. Justru Huma semakin aktif.
Mereka turun melalui tangga menuju tempat parkir dimana motor Huma berada. Khalisa akan menumpang pada Huma menuju apartemennya.
"Khalisa!"
Langkah Khalisa terhenti mendengar suara seseorang memanggilnya. Itu terdengar seperti suara Azfan tapi tidak mungkin, Khalisa baru saja melihat Azfan masih berada di jalan utama boulevard. Setelah 10 hari tidak bertemu pasti Khalisa tak lagi mengenal suara Azfan kan?
"Dipanggil tuh, malah bengong." Huma heran melihat Khalisa justru terpaku di tempatnya tanpa menoleh pada Azfan di belakang sana.
Khalisa mendengar langkah kaki Azfan semakin mendekat, karena kampus sepi ia bisa mendengar dengan jelas sepatu Azfan beradu dengan lantai keramik koridor.
Aku nggak salah denger, dia memang Azfan.
Khalisa menoleh kaku, ia melihat Azfan melangkah semakin mendekat. Khalisa spontan mundur ketika Azfan semakin dekat, ia tak mau Azfan mendengar suara jantungnya yang bergemuruh meski tentu saja itu tidak mungkin, hanya Khalisa yang bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri.
"Azfan, selamat ya, Masya Allah kamu dikaruniai suara yang luar biasa oleh Allah." Akhirnya Khalisa bisa mengeluarkan kalimat itu.
"Alhamdulillah, terimakasih Khalisa, ini buat kamu dan Huma." Azfan menyodorkan dua paper bag berwarna hijau dan satu berwarna merah pada Khalisa. "Titip juga untuk Rindang."
"Kenapa kamu bawa oleh-oleh, kamu kembali kesini dengan selamat aja kami udah seneng." Khalisa memberikan satu paper bag pada Huma. Khalisa mengerti paper bag warna merah untuk Rindang karena ia sedikit mengintip ke dalamnya.
"Aku nggak punya banyak uang, jadi cuma bisa bawa pulang kain itu untuk kalian."
"Terimakasih ya." Ucap Khalisa dan Huma bersamaan.
"Sama-sama, kalau gitu aku kembali dulu, kalian juga mau pulang kan?"
Mereka berpisah di koridor tersebut, Khalisa dan Huma menuju tempat parkir sedangkan Azfan hendak pergi ke ruang sekretariat HAWASI untuk bertemu Hasan dan anggota senior lainnya.
Ketika sampai di apartemen Khalisa langsung mengeluarkan isi paper bag pemberian Azfan, terdapat pashmina berwarna mocca dengan motif abu-abu yang cantik. Khalisa membentang pashmina itu dan mencobanya kemudian mematut diri di depan cermin.
"Bagus." Pujinya. Itu akan menjadi pashmina motif pertama yang ia miliki karena semua pashmina nya polos. Namun jilbab bermotif seperti ini ternyata juga bagus.
Khalisa melepas pashmina itu dan menggantungnya di lemari khusus jilbab bersama jilbabnya yang lain.
Khalisa membersihkan diri sebelum mengganti pakaian dengan gamis rumahan. Ia mengambil tasbih digital dan mulai membisikkan shalawat nabi sembari menunggu waktu ashar. Setelah ashar baru ia akan masak untuk buka puasa. Sebenarnya Renata hendak menggunakan jasa katering untuk buka puasa tapi Khalisa menolaknya karena ia masih bisa memasak makanan sederhana yang tak akan menyita banyak waktunya.
Gerakan ibu jari Khalisa berhenti begitupun dengan bibirnya, ia membuka mata mendengar suara lantunan ayat 14 surat Al-Baqarah. Suara itu amat jelas, apakah pengeras suara masjidnya baru?
Khalisa melangkah keluar menuju balkon kamarnya. Entah kenapa angin yang bertiup di bulan Ramadhan terasa berbeda atau ini hanya perasaan Khalisa saja.
"Nggak salah lagi, itu suara Azfan." Gumam Khalisa mendengar suara Qiro'ah dari masjid Ulil Albab yang mampu membuat sekujur tubuhnya berdesir.
Setelah cukup lama berdiri bersandar pada pagar balkon, Khalisa mendengar shalawat tarhim itu berarti waktu ashar semakin dekat. Maka Khalisa kembali ke kamar dan mengenakan mukena. Sesungguhnya hari-harinya hanya lah untuk menunggu waktu shalat.
******
__ADS_1
Usai mendirikan shalat berjamaah di masjid Ulil Albab, Azfan pulang ke tempat kosnya yang baru. Akhirnya Azfan bisa menemukan tempat tinggal baru yang juga tidak jauh dari kampus bahkan lebih bagus dari kosannya yang lama. Ia bersyukur karena kaligrafinya banyak terjual saat festival kesenian dua Minggu lalu.
Azfan menggunakan hasil penjualannya untuk disumbangkan ke panti sosial, membeli media kaligrafi dan membayar tempat tinggal. Sebagian lagi untuk sesuatu yang Azfan niatkan sejak lama tapi ia belum berani melakukannya.
Kirana, ibu Azfan dan Safa serta Marwah telah menunggu Azfan di tempat kosnya yang baru. Mereka berangkat tadi pagi dari Bantul menggunakan angkutan umum karena Azfan akan pulang dari Turki.
"Assalamualaikum." Salam Azfan langsung dijawab oleh tiga bidadari nya di dalam sana. Ia masuk dengan senyum bermekaran melihat ibu dan dua adiknya telah menunggunya.
"Mas, kok lama?" Marwah beranjak memeluk Azfan, maksudnya lama di kampus.
"Sekalian shalat di masjid barusan, Kak Hasan juga minta Mas Qiro'ah sebelum adzan."
"Bisanya juga pakai mesin Qiro'ah nya." Marwah duduk di sofa ruang tamu begitupun dengan Azfan.
"Kan bagus kalau bisa Qiro'ah setiap hari, melantunkan nama Allah yang bisa didengar banyak orang."
"Tapi kan Mas puasa, nanti kalau haus gimana?"
Azfan, Kirana dan Safa tertawa mendengar ucapan polos si bungsu. Puasa kan memang menahan haus dan lapar kalau tidak haus patut dipertanyakan, apakah tak sengaja menelan air saat wudhu?
"Mas, Marwah cantik nggak pakai jilbab ini?" Marwah mengenakan jilbab yang Azfan bawakan dari Turki.
"Bagus, pakai terus ya, Marwah kan udah baligh." Kata Azfan lembut.
Marwah baru mendapat haid pertama beberapa saat yang lalu maka Azfan mulai mengajari Marwah untuk istiqomah menutup aurat sesuai syariat. Adi juga telah pelan-pelan memberi pengertian kepada Marwah untuk berjilbab meski katanya teman-temannya masih banyak yang belum berjilbab.
"Inshaa Allah." Jawab Marwah, ketika Adi yang memberitahunya rasanya ia ingin mencari alasan lain agar tetap boleh lepas pasang jilbab. Namun saat Azfan yang berkata demikian, Marwah tidak bisa menolak.
"Mas, Mbak Khalisa tinggal dimana sih?" Marwah melihat keluar pada gedung pencakar langit yang menjadi pemandangan tempat kos tersebut.
"Disitu." Azfan menunjuk gedung apartemen Khalisa yang tampak jelas dari sini.
"Aku pengen ketemu Mbak Khalisa lagi." Safa menyahut.
"Besok kalau ada kesempatan kita ketemu Mbak Khalisa ya." Ucap Azfan.
"Kenapa kita nggak ajak Mbak Khalisa buka puasa disini?" Celetuk Marwah.
"Jangan, nanti Mbak Khalisa nggak mau ah jangan macem-macem ya." Azfan tidak setuju.
"Kenapa Mas, Mbak Khalisa bilang kan masakan Ibu enak."
"Mumpung kami belum balik ke Bantul lo."
"Kalian ada-ada saja, besok Mas coba tapi nggak janji Mbak Khalisa mau ya."
"Pasti mau." Sahut Safa dan Marwah bersamaan.
__ADS_1
Azfan melihat ibunya dan tersenyum samar, ia menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal. Dari mana mereka mendapat ide untuk mengajak Khalisa buka puasa disini, Azfan saja tak pernah berpikir sejauh itu.