Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
38


__ADS_3

Khalisa memperhatikan sepasang angsa yang berenang di danau kampus UII dengan riang merasakan hangatnya air danau berpadu dengan angin sepoi-sepoi yang bertiup tenang. Khalisa menoleh ke kanan dan kiri berharap ada mahasiswa lain di sekitar sini. Apakah ia datang terlalu cepat?


Siang ini setelah ujian hari terakhir HAWASI mengadakan pertemuan di pinggir danau sebelum libur panjang. Biasanya mereka melakukan pertemuan di ruang sekretariat HAWASI. Namun karena hari ini pembahasan mereka tidak terlalu serius maka Hasan berinisiatif mengadakan pertemuan di pinggir danau ini.


Khalisa menatap tasbih digital bertabur swarovski berwarna merah yang tersemat di jari telunjuknya. Khalisa menekan tombol reset karena ia telah mencapai angka 1000 sejak tadi pagi. Khalisa beranjak, ia tidak tahan jika terus berdiam diri seperti ini.


Khalisa berjalan melewati jembatan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Ketika pandangannya mengarah pada kursi di bawah pohon trembesi, ia tidak sengaja melihat Azfan.


"Kenapa dia masih disana?" Khalisa mengangkat lengannya melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, "ternyata aku yang kecepetan." Hasan mengumumkan di grub chat bahwa mereka harus berkumpul pukul 2 dan itu masih setengah jam lagi.


Khalisa melihat Azfan sedang menunduk fokus pada Al-Qur'an berukuran kecil di tangannya. Sejak bertemu di toko 2 Minggu yang lalu, Khalisa tidak pernah bertemu Azfan lagi karena mereka sama-sama sibuk mengikuti ujian.


Khalisa telah melupakan kekesalannya meski kadang dari jauh ia melihat Azfan mengobrol dengan beberapa mahasiswa lain. Sebab rasa kesal itu hanya akan menyakiti Khalisa sendiri dan itu tidak sehat untuknya.


"Khalisa, assalamualaikum."


"Waalaikumussalam." Khalisa berbalik melihat Levin berdiri di belakangnya.


"Kok kamu disini sendirian?" Levin melihat sekitarnya memastikan apakah Khalisa benar-benar sendiri karena gadis itu hampir tidak pernah terlihat seorang diri. Pasti ada saja seseorang yang Khalisa ajak ngobrol.


"Iya aku pikir sekarang kumpulnya ternyata masih setengah jam lagi jadi aku jalan-jalan dikit biar nggak bosen." Khalisa tersenyum lebar, ia menyandarkan tubuhnya pada pegangan jembatan.


"Gimana kalau pulang dari sini kita makan, ajak Rindang sekalian sama Meylin dia pengen ketemu kamu."


"Boleh." Khalisa mengangguk, "maaf ya Ko, acara makan kita jadi tertunda lama banget."


"Nggak apa-apa kok." Levin sama sekali tidak masalah karena ia juga harus fokus pada ujian. Mereka bisa makan kapanpun karena sebentar lagi ia akan ke Banyuwangi untuk koas disana.


Satu per satu anggota HAWASI mulai berdatangan, mereka duduk di atas rumput yang sengaja ditanam di pinggir danau. Wajah mereka kelelahan setelah 2 Minggu mengikuti ujian akhir. Sekarang mereka bisa sedikit bernapas lega.


Hasan membuka pertemuan siang itu dengan salam dan menanyakan kabar mereka setelah mengikuti ujian. Hasan mengatakan bahwa setelah libur panjang nanti mereka harus bersiap menyambut kedatangan anggota baru untuk Maba UII.


Khalisa mengeluarkan ponselnya yang bergetar sembari mendengarkan Hasan. Ia mendapat dua pesan dari Rindang.


Khalisa beres pertemuan organisasi, Azfan ngajak kita makan bakmi. Enggak boleh nolak.


Khalisa mengerutkan kening, mengapa Azfan tiba-tiba mengajak mereka makan bersama sedangkan ia telah membuat janji dengan Levin.


Aku udah janji duluan sama Ko Levin mau makan bareng. Nggak enak lah mau dibatalin lagi.


Yah, gimana dong dia ngajak kita makan bareng dua Minggu lalu pas kita abis bikin smoothies.


Khalisa mengingat-ingat ketika mereka membuat smoothies, kenapa Rindang baru bilang sekarang. Namun tetap saja Khalisa tidak bisa membatalkan janjinya dengan Levin yang lebih dulu mengajaknya makan. Kenapa di antara banyak hari mereka harus mengajak Khalisa makan hari ini.


"Jadi selain membahas itu, meskipun sudah 2 Minggu berlalu tapi saya tetap ingin mengucapkan selamat sekali lagi pada Azfan dan Syifa yang telah berhasil menduduki peringkat pada lomba MTQ tahun ini."


Tepuk tangan riuh terdengar menyambut kalimat Hasan.

__ADS_1


"Kami para senior sengaja mengumpulkan sedikit rezeki untuk memberi hadiah pada kalian berdua, boleh maju kesini." Hasan berdiri dari posisi bersila meminta Azfan dan Syifa maju.


"Berkat kalian juga nama HAWASI semakin dikenal banyak orang karena peserta MTQ kemarin tidak hanya diikuti mahasiswa tapi juga murid SMA." Hasan memberikan bingkisan kepada Azfan.


"Selamat ya Syifa." Aliyah juga memberikan bingkisan kepada Syifa. Itu adalah bingkisan berisi mushaf Al-Qur'an dan tasbih yang terbuat dari kayu gaharu.


"Kami tidak akan mencapai titik ini tanpa bantuan Kakak-kakak senior dan teman-teman yang selalu memberi dukungan dan doa." Azfan menyunggingkan senyum, matanya berkaca-kaca karena ini pertama kalinya ia mengikuti lomba dan mendapat juara karena dulu ia tak pernah berani melakukannya.


"Mereka terlihat serasi." Kiara berbisik di telinga Khalisa.


Khalisa tersenyum kecut melihat pemandangan di depan sana. Syifa memang memiliki segalanya, cantik dan pintar ditambah gelar juara pertama yang didapatnya membuat Khalisa merasa iri. Iri karena ia masih jauh berada di bawah Syifa.


Azfan kembali ke tempatnya membawa paper bag di pelukannya karena ia tahu isinya adalah mushaf Al-Qur'an. Ia mengintip sedikit ke dalam paper bag tersebut barusan.


Pertemuan hari itu berakhir setelah bincang-bincang sebentar. Azfan menoleh ke belakang ke arah Khalisa duduk barusan tapi gadis itu sudah tidak ada disana. Padahal Azfan baru saja hendak mengajak Khalisa makan bersama. Kemana Khalisa? Apakah Rindang lupa bilang pada Khalisa bahwa mereka akan makan di luar. Atau Khalisa sudah tahu tapi ia tidak mau. Terlalu banyak pertanyaan di benak Azfan saat ini.


Azfan mengeluarkan ponselnya dari saku jas, ia melihat dua panggilan tak terjawab dari Rindang. Azfan takut jika  penolakan karena untuk mengajak dua gadis itu makan bersama bukanlah hal yang mudah baginya. Azfan harus menyisihkan sedikit uangnya dan mencaritahu makanan apa yang kira-kira cocok di lidah mereka. Azfan melakukannya dengan hati-hati.


Azfan mendial nomor Rindang lalu menempelkan ponsel di telinganya.


"Halo Azfan, sorry ya hari ini kita nggak bisa makan bareng dulu."


Wajah Azfan muram, tapi ia berusaha berpikir positif karena Rindang pasti memiliki alasan khusus untuk membatalkan janji mereka.


"Bukannya aku nggak mau tapi Khalisa udah bikin janji dulu sama Ko Levin, besok atau lusa ya kita atur lagi."


Azfan spontan mengangguk meski lawan bicaranya tidak ada disini. "Iya nggak apa-apa Rin, lagian warung bakmi nya nggak akan tutup kok."


"Besok kita atur ya."


"Iya thanks Fan." Rindang memutus sambungan.


Ayolah ini hanya makan bersama, Azfan tidak perlu begitu galau hanya karena Khalisa telah memiliki janji lebih dulu dengan Levin.


"Azfan, kamu masih disini?" Syifa datang menghampiri Azfan dengan senyum manis menghiasi bibirnya.


"Iya." Azfan mendongak lalu beranjak dari atas rumput.


"Bros aku ketinggalan tapi dimana ya?" Syifa menunduk mencari bros berbentuk bunga yang tadi tersemat di jilbabnya. Ia menyadari bahwa bros tersebut tak ada setelah ia berjalan cukup jauh dari sini.


"Bentuknya gimana?" Azfan ikut mencari bros tersebut.


"Bentuknya bunga warna emas."


Azfan menajamkan penglihatan seharusnya jika berwarna emas benda itu akan berkilau dan mudah ditemukan.


"Ini bukan?" Azfan menemukan benda itu di tempat dimana Syifa duduk tadi. Ia menyodorkan bros berbentuk bunga berwarna emas itu kepada Syifa.

__ADS_1


"Iya bener, makasih Fan tadinya aku mau ikhlasin aja karena kayaknya nggak bakal ketemu."


"Sama-sama, kalau gitu aku duluan ya." Azfan melangkah cepat meninggalkan Syifa, ia harus segera pergi ke Mangan Gelato untuk bekerja bersama karyawan baru. Azfan harus mengajari karyawan tersebut sebelum berhenti karena ia ingin fokus memulai usahanya sendiri membuat kaligrafi dan beberapa kerajinan tangan.


Sebenarnya Syifa masih ingin mengobrol sebentar dengan Azfan tapi cowok itu buru-buru pergi setelah menemukan brosnya. Syifa kembali menyematkan bros tersebut pada bagian depan jilbabnya lalu melangkah pergi ke arah berlawanan dengan Azfan.


Azfan sampai di tempat parkir, ketika hendak naik ke motornya ia melihat Khalisa masuk ke dalam mobil Levin. Khalisa tampak tertawa begitupun dengan Levin. Apa yang Azfan harapankan? Tentu saja mereka hanya teman biasa seperti Khalisa memperlakukan teman yang lain. Azfan telah berpikir berlebihan hanya karena Khalisa memberinya kartu akses masuk Casey Avenue atau meneleponnya setiap kali hal genting terjadi. Itu hanya karena Khalisa yang terlalu baik hati.


******


Aroma daging panggang menyambut pengunjung yang datang ke restoran dengan interior jawa klasik tersebut. Sebagian dindingnya yang terbuat dari kayu memiliki banyak ukiran-ukiran cantik membuat pengunjung betah berlama-lama disana. Selain karena menu western yang terkenal enak, desain interior bangunannya menjadi daya tarik tersendiri. Cukup untuk mempercantik feed Instagram bagi mereka yang menyukainya.


"Mau pesan apa?" Levin melihat Khalisa dan Rindang yang duduk di hadapannya lalu Meylin di sampingnya. "Meme pasti Spaghetti Vongole kan?" Levin hafal pada menu kesukaan adiknya di restoran tersebut karena mereka sering makan disini.


"Iya." Meylin mengangguk. "Ce Rindang sama Ce Khalisa kalau bingung pesen sirloin aja, itu menu andalan mereka."


"Oh ya?" Alis Rindang terangkat, sungguh ia bosan dengan menu steak bagian apapun dan ia bisa menebak kalau Khalisa pasti merasakan hal yang sama tapi dari pada bingung lebih baik ia memesan menu yang Meylin sarankan. "Ya udah itu aja."


"Aku juga." Khalisa ikut-ikutan memesan menu tersebut karena ia juga malas membaca deretan nama menu di buku itu. Sekarang Khalisa justru membayangkan sate klatak dengan bumbu kacang dan lontong serta sambal yang banyak. Hanya dengan memikirkannya saja membuat mulut Khalisa berair.


Pesanan mereka datang setelah menunggu cukup lama karena restoran tersebut juga penuh oleh pengunjung lain bertepatan dengan jam makan malam.


"Aku pikir kalian sering kesini karena restoran ini terkenal banget." Tukas Levin.


"Aku sama Khalisa emang sering eksplor Jogja pas weekend tapi kami justru jarang makan di restoran malah hampir nggak pernah, ya Sha?" Rindang menyikut lengan Khalisa.


Khalisa mengangguk, "tapi aku yakin tempat makan pilihan Ko Levin nggak akan salah." Katanya mengulas senyum ramah khas Khalisa yang menular pada Levin.


"Semoga kalian suka ya."


Mereka melahap makanan masing-masing setelah membaca doa.


Khalisa mengiris daging sirloin itu hingga mengeluarkan cairan lemak yang akan meleleh di mulut ketika dimakan. Ia jadi ingat saat Azfan membantunya memotong steak untuknya. Itu adalah hal manis yang sering Khalisa saksikan karena Daniel selalu melakukan hal tersebut untuk Ica dan kadang juga padanya. Namun ketika Azfan yang melakukannya ada sensasi berbeda dalam dada Khalisa.


"Eh itu udah kepotong dagingnya." Rindang kembali menyikut Khalisa karena ia lihat Khalisa terus memotong daging yang telah terpotong sempurna, "lama-lama piringnya ikut terbelah itu."


"Astaghfirullah." Khalisa menyadari kebodohannya sendiri, ia mengerjapkan mata berusaha kembali ke dunia nyata.


"Kamu kenapa?" Tanya Levin karena ia lihat Khalisa lebih banyak diam dari biasanya.


"Nggak apa-apa."


"Kepikiran kompor udah dimatiin belum." Rindang menimpali.


"Serius? kalau gitu mending aku anterin kalian pulang aja, makanannya dibungkus."


"Ya ampun Ko, percaya aja sama Rindang." Khalisa mengibaskan tangannya, ia bahkan tidak memasak tadi pagi.

__ADS_1


"Kepikiran bakmie kan kamu." Rindang berbisik.


Khalisa mendelik spontan menginjak kaki Rindang. Khalisa hanya perlu menghabiskan daging yang enak ini lalu pulang.


__ADS_2