
"Sayang, kamu sudah selesai nifas kan?" Azfan meletakkan kopiahnya, ia baru pulang dari masjid setelah mendirikan shalat isya'. Azfan langsung melangkah mendekati box Azka, ia menatap Azka yang masih tertidur nyenyak.
"Kok Abi tahu?" Khalisa menyusul Azfan ikut melihat Azka. Ia tersenyum penuh arti mendapat pertanyaan seperti itu. Khalisa sengaja menyalakan diffuser dengan aroma lavender yang menenangkan dan menyemprotkan parfum di badannya demi menyambut Azfan.
"Aku menghitungnya." Azfan mengalihkan pandangan pada Khalisa, matanya berbinar-binar menatap sang istri.
"Aku sudah bersuci kemarin." Senyum Khalisa semakin lebar.
"Umma," Azfan memegang lengan Khalisa, wajahnya berubah muram. "Kok kemarin nggak bilang?"
"Maaf Bi, aku lupa karena kemarin kan Abi pengajian sampai jam 11 terus langsung istirahat." Khalisa tidak berbohong, kemarin ia benar-benar lupa mengatakannya pada Azfan.
Azfan kembali tersenyum, ia memegang kedua tangan Khalisa dan menatap sang istri dalam.
"Kalau gitu malam ini bisa?"
"Bisa." Khalisa mengangguk, dari tatapan Azfan ia sudah mengerti apa maksud dari sang suami tanpa mengucapkannya. "Kapanpun Abi mau."
"Yuk." Azfan manggut-manggut seperti anak kecil yang merayu ibunya untuk pergi ke suatu tempat.
Azfan bergegas mematikan lampu ruangan dan menyalakan lampu tidur dengan cahaya temaram berwarna kekuningan. Azka dibiasakan dengan cahaya temaram sehingga ia tak akan rewel meskipun mereka mematikan lampu ruangan.
"Abi nggak makan malam dulu?" Khalisa melepas jilbab dan menyisir rambutnya.
"Nanti aja." Azfan sedang tidak ingin makan apapun walaupun perutnya belum terisi sejak tadi siang. Namun ada hal yang lebih penting dari sekedar makan.
"Nanti?" Khalisa berbalik dan Azfan sudah berada di hadapannya.
"Kangen banget." Azfan memeluk Khalisa erat seolah mereka tidak bertemu lama. Hanya saja sejak Khalisa keluar dari rumah sakit Azfan tidak berani melakukan apapun kecuali pelukan dan ciuman sekilas. Azfan takut tidak bisa mengendalikan diri sedangkan Khalisa masih dalam masa nifas.
"Aku juga."
"Umma juga?" Azfan menangkup pipi Khalisa dan mencium bibirnya.
Tiba-tiba mereka mendengar suara bel berdenting beberapa kali. Azfan menahan napas sekaligus emosi yang membuncah, siapa yang bertamu malam-malam begini walaupun ini baru jam 8 tapi siapapun orang itu Azfan akan memakannya sekarang juga sampai habis karena telah berani mengganggu waktunya dengan Khalisa.
Khalisa tersenyum salah tingkah, "biarin aja?"
Azfan menggeleng, tidak mungkin mereka membiarkan tamu.
"Aku yang buka."
"Aku saja." Azfan segera keluar dari kamar dengan langkah cepat membuka pintu.
"Assalamualaikum." Wajah polos Kafa langsung muncul dari balik pintu, "Mas Azfan belum tidur kan, aku ganggu kalian nggak?"
"Ganggu." Lirih Azfan dengan raut wajah muram. Dua kali Kafa bertamu ke rumah mereka pada saat yang tidak tepat. Azfan ingin marah karena ia telah menunggu 41 hari untuk mendapatkan momen malam ini dan Kafa datang dengan wajah seolah tak berdosa. Mengapa Kafa tidak datang besok saja atau lusa atau Minggu depan atau bulan depan yang penting jangan malam ini.
"Emang kalian udah mau tidur?" Kafa mengangkat tangannya melihat arloji, "masih jam 8 loh."
"Ada apa kesini?" Tanya Azfan tidak sabar.
"Aku nggak disuruh masuk dulu?" Kafa menaikkan alisnya sebelah.
"Ya udah ayo masuk." Azfan mengembuskan napas keras saat menutup pintu kembali.
Kafa duduk bersila bersandar pada dinding, ia melihat Khalisa turun melalui tangga.
"Awas kalau nggak penting." Gerutu Azfan seraya ikut duduk bersama Kafa.
"Ada apa Kafa?" Khalisa duduk di samping Azfan.
"Aku mau ngomong serius sama Cece dan Mas Azfan." Kafa menegakkan tubuhnya, ia sudah menyusun kalimat sejak saat di apartemen. "Aku udah ngomong ini juga ke Ummi dan Abi."
"Hal serius apa?"
"Aku mau melamar Mahira."
Azfan dan Khalisa saling berpandangan tak menyangka dengan apa yang Kafa katakan barusan.
"Secepat itu?" Mata Khalisa melebar. "Maksud Cece, kamu sebelumnya nggak pernah menunjukkan ketertarikan sama Mahira dan tiba-tiba sekarang mau melamar dia, ada apa Kafa?"
"Ce, aku sudah meyakinkan hatiku dengan istikharah dan aku nggak mau memendam perasaan ini, aku harus mewujudkannya."
"Kamu sudah mendapatkan jawabannya melalui istikharah?" Tanya Azfan.
__ADS_1
"Iya Mas." Kafa mengangguk yakin.
"Baiklah kalau begitu."
"Aku mau Mas Azfan dan Cece ikut ke rumah Mahira, kalian wali ku disini kan?"
"Kamu tahu rumah Mahira?" Tanya Khalisa.
"Belum." Kafa menggeleng. "Aku belum bilang apapun ke Mahira tapi aku yakin dia nggak akan nolak."
"Kenapa kamu yakin sekali?" Khalisa harus memperingatkan Kafa bahwa ia tak boleh memiliki kepercayaan diri yang berlebihan karena nanti kalau hasilnya tidak sesuai ia akan kecewa.
"Ce, aku tahu Mahira tertarik sama aku." Kafa percaya diri, ia tahu sejak Mahira selalu mendatanginya setiap ada kesempatan pasti Mahira memiliki perasaan padanya.
"Tetep aja kamu harus bilang ke Mahira, masa ujuk-ujuk kita dateng kesana ternyata Mahira nggak mau."
"Besok aku akan menemui Mahira."
"Cece dukung kamu sepenuhnya." Khalisa mengulas senyum.
"Makasih Ce." Kafa tersenyum lebar, ia tak pernah memiliki rasa pesimis di hidupnya. Kafa hidup dengan perasaan optimis sepanjang waktu.
"Kamu mau makan disini?"
Azfan menyentuh paha Khalisa mengalihkan perhatian sang istri. Azfan menggeleng, tolong jangan minta Kafa makan malam disini.
"Aku udah makan."
Azfan mengembuskan napas lega mendengar itu.
"Emang Cece masak apa?"
"Hm?" Khalisa gelagapan, "nggak masak apa-apa." Dustanya. Ia meminta maaf pada Kafa dalam hati karena telah membohongi adik sepupunya itu. Khalisa melakukan ini semua demi sang suami.
"Kalau gitu aku pesen makanan online aja ya." Kafa mengeluarkan ponselnya.
"Katanya kamu udah makan." Seru Azfan dan Khalisa bersamaan.
Azfan berdeham seperti ada sesuatu yang tercekat di tenggorokannya.
"Emang kenapa kalau aku mau makan lagi?"
"Nggak boleh." Azfan dan Khalisa kembali menyahut bersamaan.
Kafa menatap mereka heran, "kalian kenapa sih?" Akhirnya Kafa memasukkan ponselnya lagi ke dalam saku jaket. "Azka mana?"
"Azka tidur."
"Mending kamu sekarang pulang deh."
"Mas Azfan ngusir aku?" Kafa tak terima, kenapa ia diusir?
"Bukan ngusir tapi ini udah malem, bahaya lo kamu keluar sendirian."
Kafa mencibir, sejak kapan perjalanan dari apartemen kesini jadi berbahaya padahal jaraknya kurang dari 3 kilometer.
"Ya udah aku pulang, nanti aku kabarin kalian lagi ya." Kafa beranjak dari duduknya.
Azfan mengembuskan napas lega setelah Kafa masuk mobil. Azfan segera mengunci pintu dan berdoa agar tidak ada yang mengganggu malam pertama mereka kali ini. Setidaknya ini akan menjadi malam pertama setelah Khalisa melahirkan.
Khalisa tertawa geli melihat tingkah Azfan, bisa-bisanya mereka mengusir Kafa.
"Jangan tertawa Umma."
"Abi lucu banget loh sekarang."
"Aku ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin." Azfan menggendong tubuh Khalisa membawanya menaiki tangga.
"Ya ampun, Abi masih kuat gendong aku? naik tangga lagi." Khalisa menatap kagum Azfan, ia mencolek ujung hidung Azfan dengan gemas. Khalisa memiliki dua laki-laki menggemaskan di rumahnya. Azfan dan Azka sama-sama membuat Khalisa tertawa bahagia dengan tingkah mereka.
"Jangan meremehkan kekuatanku sayang." Azfan baru berusia 22 tahun bahkan untuk 20 tahun ke depan ia masih bisa menggendong Khalisa.
******
Terik matahari tidak membuat Kafa menyerah menunggu Mahira di tempat parkir. Ia berlindung di bawah pohon sawo kecik yang rimbun tapi panasnya matahari mampu menembusnya. Kafa menyeka keringat yang mengalir di keningnya, untungnya ia telah memakai tabir surya untuk melindungi dirinya dari panas matahari.
__ADS_1
Kafa mengedarkan pandangan ke sekitarnya, apa saja yang dipelajari Ahwal Al-Syakhshiyah hingga harus pulang begitu terlambat. Kafa yang tadinya bersandar pada pohon di belakangnya spontan menegakkan tubuhnya melihat Mahira sedang mengobrol dengan seorang mahasiswa. Dilihat dari jasnya, cowok itu berada di jurusan yang sama dengan Mahira.
"Siapa tuh cowok, kenapa Mahira ketawa-ketawa gitu, kalau sama aku aja jutek terus, maunya apa sih dia?" Kafa menggerutu.
Panasnya matahari semakin membara beradu dengan panas di dalam dada Kafa melihat Mahira tersenyum bahkan tertawa dengan cowok lain. Dada Kafa kembang kempis tak tahan melihat Mahira masih belum mengakhiri sesi mengobrol dengan cowok tersebut. Bahkan sekarang ada dua cowok lain yang mengobrol dengan Mahira.
"Eh kalian!" Kafa berseru menunjuk mereka.
Mahira dan tiga cowok yang sedang mengobrol tadi mengalihkan perhatian pada Kafa. Mahira mendelik, ada apa Kafa menghampirinya? apakah ia punya salah sampai wajah Kafa merah padam seperti kepiting rebus begitu. Tolong siapapun yang bikin Kafa marah, kabur sekarang juga!
"Kalian ngapain disini?" Kafa melihat mereka satu per satu.
Mereka kebingungan mendapat pertanyaan seperti itu dari Kafa. Maksudnya—ini kampus dan mereka mahasiswa disini lalu kenapa Kafa bertanya seperti itu.
"Mahira." Kafa melihat Mahira dengan tatapan dinginnya. Dingin seperti es batu bukan seperti mata air yang menyegarkan tapi justru membekukan.
"Hah?" Mahira gelagapan, ia bingung melihat tingkah aneh Kafa.
"Rumah kamu dimana?" Tanya Kafa to the point.
"Rumah aku?" Mahira menunjuk dirinya sendiri, "di Jogja."
"Jojga mana yang jelas dong kalau jawab!" Alih-alih bertanya dengan nada lembut, Kafa justru membentak Mahira. Tadinya Kafa tidak berniat seperti ini tapi karena Mahira tertawa dengan cowok lain, ia jadi kesal bukan main.
"Jetis." Mahira seolah dihipnotis, ia menjawab pertanyaan Kafa dengan jujur.
"Jetis mana?" Kafa semakin mendekat.
"Emang kamu tahu Jetis?" Alis Mahira terangkat.
"Tahu." Meskipun tidak tahu tapi Kafa harus menjaga image nya di depan Mahira, ia bisa mencaritahu di internet.
"Cokrodiningratan."
"Aku besok mau ke rumah kamu." Walaupun baru pertama kali mendengar nama daerah Cokrodiningratan tapi Kafa tetap bersikap percaya diri.
"Ngapain?" Mahira mengerutkan kening.
"Ketemu orangtua kamu."
"Ngapain ketemu orangtua ku?" Mahira kembali mendelik, sikap orang kaya memang selalu aneh.
"Mau lamar kamu!" Ucap Kafa dengan suara lantang hingga beberapa mahasiswa lain yang berada disana mengalihkan perhatian padanya.
Tiga cowok yang sedang bersama Mahira itu mendelik. Di antara mereka, Mahira lah yang paling kaget mendengar pernyataan Kafa.
Mahira melirik tiga temannya lalu segera ngacir menarik tangan Kafa agar pergi dari sana.
"Kamu ngapain bawa aku lari?" Kafa melepaskan pegangan Mahira setelah mereka berhenti berlari.
"Kafa, kamu jangan main-main ya sama aku." Ancam Mahira, ia memang menyukai Kafa tapi tetap saja ia tidak bisa dipermainkan dengan mudah.
"Siapa yang main-main, aku serius."
"Kamu bilang mau lamar aku?"
"Iya, besok weekend harusnya kamu pulang ke rumah kan?"
"Iya."
"Aku besok mau menemui orangtua kamu, aku nggak mau denger penolakan."
Mahira melongo, siapa juga yang mau nolak kamu Kafa, aku masih sangat waras untuk nerima kamu sepenuh hati tapi bukankah selama ini Kafa terlihat sangat membencinya?
"Tunggu aku besok." Kafa segera berlalu dari sana meninggalkan Mahira yang masih terpaku tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.
Mahira terduduk lemas setelah kepergian Kafa. Jantungnya berdegup kencang seperti hendak melompat dari peradabannya. Sesuatu yang beterbangan di perut Mahira bukan lagi kupu-kupu melainkan tawon yang mampu membuat sekujur tubuhnya kesemutan.
Mau lamar kamu!
Kalimat Kafa terus terngiang di telinga Mahira. Hingga tempat parkir sepi Mahira belum beranjak dari duduknya, kakinya lemas tak mampu berdiri. Mahira tak pernah membayangkan bahwa perasannya yang selama ini ia pendam bisa terbalas bahkan Kafa mengatakan akan melamarnya. Kafa si cowok dingin, galak tapi tampan dan super taat agama begitu tak tergapai oleh Mahira. Namun tak ada yang tak mungkin bagi Allah yang maha membolak-balikkan hati seseorang. Rasanya sekarang Mahira ingin terbang menembus troposfer, stratosfer, mesosfer, termosfer hingga eksosfer atau fer fer yang lain saling senangnya.
Tatapan Kafa kalau lagi lihat Mahira ketawa sama cowok lain.
__ADS_1