
Kafa itu cowok paling galak se galaksi Bima Sakti, dia sombong dan selalu melihat sesuatu dari sisi negatif. Dia selalu berjalan dengan dagu terangkat seolah bumi yang dipijak adalah miliknya. Tapi anehnya aku jatuh cinta pada cowok galak dan sombong itu!
Kafa yang selalu berjalan dengan dagu terangkat kini ciut berhadapan dengan penghulu dan bapak Mahira. Keringat dingin tak henti membanjiri Kafa hingga ia harus mengusap tangannya berulang kali pada lap kain di dalam saku celananya.
Di ballroom hotel Surya yang megah dan penuh nuansa putih ini Kafa merasa dirinya begitu kecil dan lemah. Kepercayaan diri Kafa yang semula setinggi gedung apartemennya kini merosot ke tanah.
Dingin. Tangan bapak Mahira sama dinginnya ketika Kafa bersentuhan dengan telapak tangan yang kemudian menggenggam kuat. Kafa berdeham untuk menetralkan suaranya yang mungkin akan serak dan tak terdengar bagus. Tidak boleh. Suara Kafa harus terdengar bagus meskipun tentu saja tak akan se-bagus suara Azfan.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Kafa Alindra bin Zaidan Umar Kahfi dengan Mahira Atiqah binti Muhammad Azizi dengan mas kawin uang seribu poundsterling dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Mahira Atiqah binti Muhammad Azizi dengan mas kawin uang seribu poundsterling dan seperangkat alat sholat dibayar tunai." Kafa berhasil mengucapkan kalimat itu dengan satu tarikan napas. Sekarang Kafa merasakan manfaat dirinya rutin berenang karena ia memiliki tarikan napas yang panjang.
Kafa merasa lega luar biasa, ia merasa tubuhnya seperti balon helium—ringan lalu terbang menembus atap beton ballroom hotel itu. Kafa sudah gila. Sungguh cinta membuatnya hilang kewarasan apalagi ketika melihat sosok Mahira yang baru saja resmi menjadi istrinya melangkah perlahan digandeng oleh Huma dan Rindang menuju ke arahnya.
Kafa spontan berdiri, sepasang matanya berbinar-binar dan berkabut ketika Mahira semakin dekat. Walaupun Kafa tak pernah melihat bidadari surga tapi sungguh, Mahira secantik itu. Mata Mahira yang lebar dengan bulu mata lentik sungguh membuat Kafa terpesona.
Kafa menunduk karena malu menatap Mahira terlalu lama. Ia merasa berdosa padahal batinnya berteriak mengatakan bahwa wanita itu halal untukmu dan tak masalah jika kau memandangnya lama bahkan sampai bola mata mu keluar pun tak apa. Namun Kafa tidak terbiasa. Belum terbiasa berpandangan dengan wanita yang bukan Aisyah atau Fatimah. Kini Kafa menambahkan satu nama wanita yang boleh dipandangnya yakni Mahira—Mahira Atiqah istrinya.
"Silakan cium tangan suamimu." Ucap penghulu pada Mahira.
Mahira mengangkat tangannya dengan ragu padahal biasanya ia gemar sekali menarik tangan Kafa dan membawanya lari.
Tubuh Kafa bergetar seperti tersengat listrik tegangan tinggi ketika Mahira mencium punggung tangannya lama. Lama sekali hingga fotografer mengatakan 'sudah' artinya mereka telah mendapatkan gambar yang bagus dan sesuai. Kafa buru-buru melepas tangannya, ia ingin pingsan saja.
Mahira mengulumm senyum melihat tingkah Kafa, ia mengerti pasti Kafa tidak terbiasa seperti ini.
Kafa menyentuh ubun-ubun Mahira dan membisikkan doa sesuai Sunnah. Ia menghafal doa ini bersama Azfan 2 Minggu sebelumnya, beruntung doa tersebut tidak ikut menguap bersama kepercayaan dirinya.
Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.
"Kecup kening istrimu, Kafa."
Kafa menoleh pada penghulu yang memintanya mencium kening Mahira. Kenapa harus ada sesi seperti ini? berpegangan tangan saja membuat Kafa seperti hilang kesadaran apalagi mencium kening.
Umar mengangguk memberi isyarat pada Kafa untuk mencium kening Mahira. Ia menahan senyum, tingkah Kafa sungguh lucu dan menggemaskan.
Kafa maju selangkah dan mencium kening Mahira dengan gerakan sangat pelan karena ia tidak siap melakukan itu apalagi di depan banyak orang. Mahira spontan memejamkan mata ketika bibir Kafa mendarat di keningnya. Dingin. Bibir itu terasa dingin. Mahira menunduk mengintip kakinya memastikan masih menapak lantai marmer putih itu atau justru telah melayang membumbung ke angkasa karena ia merasa demikian ketika Kafa mengecup keningnya. Namun untungnya kaki Mahira masih menapak, rupanya hanya jiwanya yang terbang tanpa bisa ia kendalikan.
"Tahan tahan .... " Seru fotografer sengaja membuat Kafa berlama-lama mencium kening Mahira.
Kafa tidak tahan, dadanya seperti terhimpit benda berat hingga ia tak bisa bernapas. Kemana perginya udara di ruangan ini? Kafa ingin berlari keluar dari menghirup udara sebanyak mungkin.
"Oke!"
Kafa segera mundur dan mengembuskan napas keras, ia ingin melakukannya sekali lagi tapi takut jika ia mati mendadak karena ciuman pertama saja membuatnya sesak napas. Lagi pula terlalu banyak orang disini.
__ADS_1
Prosesi sungkeman berlangsung penuh dengan tangisan mengharu biru. Air mata Kafa tidak bisa berhenti meleleh, ia mengucapkan terimakasih pada orangtunya dan orangtua Mahira.
Mahira itu hanya gadis biasa yang menyebalkan dari pertama kali bertemu. Seluruh jiwa dan ragaku tidak menyukainya. Ia sok tahu, sok kenal sok dekat. Pokoknya aku tidak menyukainya. Namun seolah tersihir oleh sesuatu yang aneh, tiba-tiba kebencian ku berubah menjadi rasa cinta. Benar kata orang terdahulu, tidak boleh membenci berlebihan karena kau bisa jatuh cinta dan sekarang aku mengalaminya. Aku memilih Mahira untuk menjadi istriku, menghabiskan semua waktu ku di bumi bersamanya.
******
Pertama kali Mahira menginjakkan kaki di apartemen Kafa, rasanya sungguh menakjubkan. Apartemen itu sangat megah dan luas untuk ditinggali Kafa sendirian tapi bukankah sekarang ada Mahira? tidak, ini tetap terlalu besar untuk mereka berdua.
Peralatan yang serba modern dan penataan ruangan yang apik membuat apartemen itu terasa nyaman untuk ditinggali. Ada balkon di ruang tengah yang menyajikan pemandangan gunung Merapi tapi karena hari sudah malam, Mahira tak bisa melihat pemandangan itu sekarang.
"Ummi dan Abi nggak pulang kesini?" Tanya Mahira pada Kafa yang barusan menjadi tour guide nya menjelajahi apartemen ini, melihat setiap ruangannya dan memberi sedikit penjelasan seolah mereka sedang melakukan study tour.
"Mereka tidur di hotel." Kafa menyandarkan tubuhnya pada pagar balkon memandang langit yang penuh gemintang.
"Fatah dan Fatimah juga?" Mahira menoleh melihat Kafa, dari samping Kafa terlihat tampan. Tidak. Kafa memang tampan dari sisi manapun. Rasanya Mahira belum percaya kalau sekarang ia telah menikah dengan Kafa. Ijab qobul sungguh ajaib bisa menyatukan mereka dalam hubungan yang halal dan diridhoi Allah.
"Iya." Kafa mengangguk, dari ekor matanya ia sadar bahwa Mahira tengah menatapnya. Kenapa Mahira menatapnya? apakah ada sesuatu di wajahnya? semoga tidak.
Suasana antara keduanya sangat canggung walaupun beberapa kali Mahira berusaha melontarkan pertanyaan untuk mencairkan suasana.
"Aku atau kamu dulu yang mandi?" Kafa tak tahan dipandang terlalu lama oleh Mahira. Wajah Kafa mulai memanas oleh pandangan itu dan ia harus segera mengguyur tubuhnya dengan air.
"Ya udah aku mandi dulu." Kafa segera menghilang dari sana.
Mahira ikut pergi ke kamar karena Kafa meletakkan semua barang-barangnya disana.
Mahira melepas mahkota dengan taburan kristal di seluruh bagiannya. Mahkota itu teramat cantik, Mahira penasaran apakah ini bisa menjadi miliknya atau harus dikembalikan pada MUA yang tadi mendandaninya. Mahira juga melepas jarum pentul satu per satu meletakkannya pada kotak kecil agar tidak berantakan.
Mahira baru saja hendak mengeluarkan pouch tempat ia menyimpan skincare dan sedikit make-up yang didapatnya dari seserahan lamaran. Namun Mahira melihat skincare lengkap di meja rias sehingga ia tak jadi mengeluarkan pouch miliknya.
Mahira menatap dirinya di cermin sekali lagi sebelum menuangkan cleansing oil ke telapak tangan untuk meluruhkan riasan wajahnya.
Serem amat muka ku kalau begini, jangan sampai Kafa lihat bisa ketakutan dia lihat aku kayak gini.
Mahira ingin melepas pakaiannya yang terasa berat tapi ia tak bisa melakukannya sendirian. Tadi saja ia harus dibantu empat orang untuk mengenakan gaun berwarna peach tersebut. Sebaiknya Mahira menunggu Kafa selesai mandi untuk membantunya melepas gaun itu.
Di kamar mandi Kafa sengaja berlama-lama, ia menuang sabun berkali-kali dan membalur nya ke seluruh tubuh. Kafa harus wangi di dekat Mahira.
"Kafa." Mahira melihat Kafa keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe. "Bantuin aku buka baju dong."
Kafa berdiri kaku di depan kamar mandi mendengar permintaan Mahira. Ia cukup terkejut melihat Mahira tanpa jilbab. Rambut Mahira yang hitam legam sepanjang pinggang membuat Kafa terpesona. Namun Kafa merasa berdosa walaupun ia telah mewanti-wanti pada dirinya sendiri bahwa Mahira sudah halal untuknya. Lalu sekarang Mahira meminta Kafa melepaskan baju. Kafa makin mati kutu dibuatnya.
__ADS_1
"Aku?"
"Iya siapa lagi cuma ada kita disini."
"Kamu nggak bisa lepas sendiri?"
"Kalau bisa aku udah lepas dari tadi, tapi ini susah banget." Mahira mendengus kesal bahkan ia menghentakkan kakinya ke lantai.
Kafa mendekat selangkah demi selangkah dengan ragu, wajah kesal Mahira sama sekali tidak membuatnya bergegas membantu gadis itu melepas pakaian.
"Buruan Kafa, kamu nggak tahu seberapa berat baju ini." Seru Mahira gemas.
Kafa menarik turun resleting gaun Mahira pelan-pelan takut membuatnya rusak karena baju itu akan selamanya menjadi milik Mahira maka jangan sampai ia merusak karya indah Gracia itu.
Kafa memejamkan mata seiring resleting itu bergerak turun tapi tak seperti dugaannya, ia melihat pakaian lain yang melekat di badan Mahira. Kafa pikir ia akan langsung melihat punggung Mahira tanpa apapun tapi beruntung Mahira masih mengenakan spandek berwarna putih, entah beruntung atau sial. Kafa tidak dapat berpikir jernih sekarang. Pikiran Kafa seperti selokan yang kemudian airnya diobok-obok bebek hingga menjadi keruh. Kenapa Kafa jadi memikirkan selokan.
"Lengannya juga susah tolong bantu tarik." Ucapan Mahira membuyarkan lamunan Kafa. "Pelan-pelan nanti rusak kita dimarahin sama Ci Gracia."
Kafa menatap Mahira tak mengerti, "kenapa Ci Gracia harus marah?"
Mahira tak segera menjawab karena ia sedang berusaha melepaskan diri dari gaun yang beratnya belasan kilogram itu. Mahira mendorong gaun itu ke bawah lalu ia melompat keluar.
"Ahhh akhirnya." Mahira mengembuskan napas panjang setelah terbebas dari pakaian pengantinnya. "Ya marah kalau bajunya rusak."
"Ini punya kamu."
"Hm?" Alis Mahira terangkat, ia tak mengerti ucapan Kafa. "Bukannya sewa ya?"
"Emang ada yang sewa baju pengantin?" Ekspresi Kafa bingung, ia sungguh tak mengerti arah pembicaraan mereka.
Mata Mahira melebar, apa maksud dari pertanyaan Kafa. Bukankah semua orang yang menikah hanya menyewa pakaian itu untuk satu malam. Setidaknya itu yang Mahira ketahui dari saudara atau temannya yang menikah. Gaun-gaun itu akan dikembalikan pada MUA nya setelah acara selesai.
"Ya semua orang."
"Semua orang? tapi—"
Kini Mahira benar-benar melebarkan matanya memegang lengan Kafa dengan dramatis, kini ia baru sadar bahwa mereka berasal dari kalangan keluarga yang jauh berbeda.
"Jadi keluarga kamu nggak pernah sewa baju pengantin tapi beli?" Tanya Mahira, pertanyaan yang sudah ia tahu jawabannya.
"Iya." Kafa mengangguk polos.
"Terus baju ini buat apa, nggak mungkin aku pakai lagi kan?"
"Ya dipajang aja di walk in closet buat kenang-kenangan, udah kamu mandi gih biar aku yang pindahin bajunya."
__ADS_1
"Makasih ya suamiku." Mahira mentowel pipi Kafa sebelum melenggang pergi ke kamar mandi.
Kafa berdeham merasa ada sesuatu yang tercekat di tenggorokannya. Wajahnya memerah akibat dipanggil suami oleh Mahira. Itu terdengar aneh tapi Kafa menyukainya, ia mendambakan panggilan itu lagi.