
Khalisa dan Azfan kembali ke akitivitas mereka seperti biasa. Sepulang kuliah Azfan akan langsung pergi ke toko kaligrafinya, menjaga toko sekaligus membuat kaligrafi serta pajangan dinding yang banyak diminati oleh pembeli dari berbagai kalangan. Kadang Azfan juga memenuhi undangan pengajian setelah mendapat dorongan dari Khalisa yang mengatakan Allah memberi Azfan anugerah suara indah maka tidak adil jika ia hanya menyimpan untuk dirinya sendiri.
Biasanya panitia akan memberikan uang untuk Azfan setelah pengajian selesai. Azfan menyimpan uang tersebut di tabungan tersendiri, ia dan Khalisa memiliki rencana untuk membuka bimbingan belajar bagi mereka yang ingin menghafal Al-Qur'an. Meski mereka tidak tahu kapan bisa mengumpulkan uang cukup untuk membuka tempat seperti itu. Mereka mengumpulkan sedikit demi sedikit untuk mewujudkan mimpi tersebut.
Khalisa dan Azfan belajar dari Daniel yang membuat komunitas mualaf hingga sekarang memiliki banyak anggota hampir di seluruh daerah Indonesia. Ia juga belajar dari Jaya yang membangun rumah sakit khusus mereka yang kurang mampu.
Tanpa terasa pernikahan mereka memasuki bulan ke delapan. Rumah tangga keduanya berjalan dengan harmonis dan penuh cinta meski kadang dibumbui sedikit pertengkaran. Namun baik Khalisa ataupun Azfan tidak sungkan untuk meminta maaf lebih dulu.
Bulan ini juga mereka harus keluar dari apartemen yang sudah Khalisa tempati sejak awal dirinya berkuliah di UII. Banyak kenangan yang tertinggal di apartemen itu. Tetangga yang baik, staf apartemen yang ramah dan lingkungan yang nyaman membuat Khalisa berat meninggalkannya. Namun ia juga tak keberatan tinggal dimanapun asalkan bersama Azfan.
Setiap bulan Khalisa selalu berharap dirinya telat haid yang menandakan adanya janin di dalam perutnya. Namun Allah belum mengabulkan doa mereka untuk memiliki keturunan hingga pernikahan berjalan 8 bulan. Azfan tak pernah menuntut Khalisa untuk segera hamil, ia menerima apapun keadaan sang istri. Sebab bagi Azfan pernikahan tak hanya tentang keturunan, masih banyak hal yang bisa mereka lakukan dalam hal beribadah pada Allah.
Mereka menemukan rumah kontrakan yang cukup dekat dengan kampus. Tidak terlalu luas tapi cukup untuk ditinggali. Memiliki dua kamar tidur dan satu kamar mandi serta ruang tamu dan ruang makan yang tidak luas. Untungnya Khalisa memiliki perabotan yang cukup lengkap sehingga ketika pindah tempat tinggal ia tidak perlu membeli yang baru. Banyak alat-alat dapur hadiah pernikahan dari teman-teman Khalisa yang masih bisa digunakan sampai sekarang. Itu sangat membantu mereka menghemat pengeluaran.
Khalisa juga dibantu oleh dua sahabatnya, Rindang dan Huma serta Geza memindahkan barang-barang dari apartemen ke rumah tersebut sekaligus menatanya. Kebetulan tempat kos Geza dekat dengan rumah baru Khalisa dan Azfan. Sedangkan untuk barang-barang yang besar seperti sofa dan lemari Khalisa menggunakan jasa pindah rumah.
"Minum dulu." Khalisa meletakkan es teh di atas meja untuk Rindang, Huma, Geza dan Azfan yang beristirahat setelah menata barang-barang di rumah mereka. Khalisa menuangkan es teh untuk Azfan.
"Mbak nggak tuangin teh buat aku?" Geza mengangkat gelasnya.
"Tuang sendiri." Desis Azfan.
"Ya ampun Mas Azfan masa gitu aja nggak boleh."
"Nggak boleh."
"Udah jangan coba-coba bangunin singa tidur, biar aku tuangin buat kamu." Huma menuangkan teh untuk Geza agar berhenti meributkan nya.
"Terimakasih Maira." Geza sumringah.
"Maira?" Rindang dan Khalisa mengulang panggilan Geza untuk Huma dengan heran.
"Kok pada kaget sih itu kan emang nama nya." Kata Geza setelah meneguk setengah gelas es teh buatan Khalisa yang sedikit tawar. Ia hendak protes tapi kasihan Khalisa yang sudah membuatnya.
"Ya tapi kan nggak ada yang panggil Maira sebelumnya." Rindang mencibir.
"Itu panggilan spesial biar Geza berkesan di hati Huma." Khalisa menimpali.
"Jangan suka godain kalau nggak ada niat serius." Azfan meletakkan gelasnya yang sudah kosong. Ia menggeser tubuhnya agar Khalisa bisa ikut duduk.
"Bener Fan, nih anak nggak ada sungkan-sungkannya sama kating." Huma menunjuk Geza karena suka membuatnya salah tingkah padahal ia tahu Geza memang cowok yang mahir bercanda sekaligus menggoda lawan jenis. Huma sudah mencoba membangun benteng untuk menghalau godaan Geza tapi itu tidak berhasil. Sejak pertama kali bertemu Huma telah menaruh perhatian lebih terhadap Geza—si tampan yang bawel dan suka melawak meski lawakannya garing seperti kerupuk.
"Kan Maira sendiri yang bilang kalau kita tuh seumuran." Geza tidak mau kalah.
__ADS_1
"Khalisa, kamu nasehatin deh nih anak." Huma menyerah terhadap Geza, ia harus tetap menjaga diri sebagaimana seorang muslim yang belum menikah. Huma jadi malu pada Rindang yang begitu menjaga fitrahnya sebagai perempuan bahkan sekarang Rindang telah Istiqomah mengenakan cadar kecuali ke kampus karena itu adalah universitas Kristen. Sedangkan Huma merasa masih jauh tertinggal oleh Rindang.
"Jangan suka tebar pesona sama cewek mentang-mentang ganteng." Omel Khalisa pada Geza.
Azfan spontan menoleh pada Khalisa, ia cemberut karena Khalisa mengatakan Geza ganteng.
"Apa?" Khalisa membalas tatapan aneh Azfan. Apakah ia membuat kesalahan?
Haura, berani sekali kamu mengatakan cowok lain ganteng di depan ku? Haura, kamu harus dapat hukuman!
"Coba aku anak orang kayak seperti Mbak Khalisa, aku pasti udah nikahin Maira." Sahut Geza enteng seolah pernikahan semudah membalikkan telapak tangan.
"Tutup telinga kamu." Rindang menutup kedua telinga Huma agar tidak mendengar celotehan Geza.
"Mending kamu pulang deh." Usir Huma.
"Tunggu dulu jangan esmosi nanti hipertensi." Geza mengeluarkan sesuatu dari dalam saku hoodie yang ia kenakan. "Buat Maira."
Huma membelalak melihat sebuah figure tokoh Harry Potter yang sedang memegang tongkat, itu adalah figure yang dikeluarkan tahun kemarin dan Huma belum memilikinya.
"Aku ikhlas kok nggak minta imbalan apa-apa." Geza meyakinkan Huma yang terlihat ragu untuk menerima figure di tangannya. "Lucu kan?"
"Lucu banget." Huma menyambar figure tersebut dan mendekapnya, ia tidak bisa menolaknya karena memang menyukai Harry Potter. "Tapi sebenernya tokoh yang paling jadi favorit aku itu bukan Harry Potter."
"Terus siapa?" Geza menyesal telah membeli figure langka tersebut jika ternyata Huma tidak menyukainya.
"Siapa itu?" Bisik Azfan pada Khalisa, ia tidak mengerti apa yang sedang Huma dan Geza bicarakan.
"Itu tokoh antagonis yang ada di film Harry Potter." Jelas Khalisa dengan suara pelan.
"Ayo balik, biar Khalisa dan Azfan bisa istirahat." Ajak Rindang sebelum Huma larut dalam pembahasan serial kesukaannya bersama Geza.
"Ya ampun Mbak Ririn emang suka buru-buru nih padahal masih sore." Geza pura-pura melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya.
"Ririn siapa, kamu emang suka banget gonta-ganti nama orang ya." Rindang sewot.
"Aku bukannya ganti tapi kan kalau nama Chinese suka diulang-ulang, Ling-Ling, Ping-Ping, Yang-Yang, apa salah kalau aku bilang Ririn."
"Salah!" Sahut Rindang dan Khalisa bersamaan membuat Geza ciut.
"Huma, ayo balik." Rindang menarik tangan Huma.
Akhirnya Huma pun menuruti Rindang, ia juga harus segera kembali ke tempat kos karena tugas kuliahnya sudah menumpuk.
__ADS_1
"Makasih ya Gez." Huma tidak lupa mengucapkan terimakasih pada Geza yang sudah memberinya figure Harry Potter untuk menambah koleksinya.
"Ya udah aku ikut balik juga, ogah jadi obat nyamuk disini." Geza ikut beranjak.
Azfan dan Khalisa mengantar mereka hingga depan rumah.
"Makasih ya kalian udah bantuin Mas Azfan dan aku buat pindah rumah." Ucap Khalisa.
Rindang melepas tangan Huma untuk memeluk Khalisa, terbiasa tinggal bersebelahan membuatnya berat meninggalkan Khalisa. Rindang sudah berusaha menahannya sejak tadi tapi ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya berpisah dari Khalisa.
"Kalau butuh sesuatu telepon aku ya, aku ada 24 jam buat kamu." Gumam Rindang.
"Iya." Khalisa menepuk-nepuk punggung Rindang. "Walaupun kita bakal jarang ketemu tapi aku selalu berdoa buat kamu supaya Allah melindungi kamu dan meneguhkan hati mu untuk selalu mencintai-Nya."
Rindang mengeratkan pelukannya, mereka memang masih tinggal di lingkungan yang sama tapi kesibukan masing-masing pasti akan membuat keduanya semakin jarang bertemu. Kehidupan memang tak akan selalu berjalan seperti yang kita mau. Ada kalanya mereka harus mengalah pada keadaan yang terpenting doa selalu dipanjatkan untuk kebaikan masing-masing. Mereka sadar semakin dewasa, persahabatan tak hanya tentang pertemuan tapi juga pengorbanan.
Khalisa melambaikan tangan pada Rindang dan Huma yang masuk ke dalam mobil sedangkan Geza berjalan kaki karena tempat kos nya cukup dekat dari rumah kontrakan Khalisa dan Azfan.
"Maaf ya." Lirih Azfan, ia merasa bersalah karena telah membuat Khalisa harus tinggal jauh dengan Rindang.
Khalisa menggeleng, ini bukan suatu kesalahan, Azfan berhak atas diri Khalisa lebih dari siapapun.
"Ayo masuk." Azfan menutup pintu membawa Khalisa masuk.
"Mas." Panggil Khalisa.
"Ya?" Azfan menoleh sesaat, ia sedang membereskan gelas bekas teh dan membawanya ke dapur sementara Khalisa mengekorinya di belakang.
"Ayo periksa ke dokter."
Azfan berbalik setelah meletakkan gelas kotor di wastafel.
"Supaya kita tahu penyebab kenapa aku nggak hamil juga sampai sekarang."
Azfan mengangguk, jika itu keinginan Khalisa maka ia akan menurutinya.
"Haura cek dulu apa uang kita cukup untuk ke dokter karena biayanya nggak murah kan." Azfan mengusap-usap lengan Khalisa, ia bicara dengan hati-hati.
"Aku mau izin sama Mas untuk pakai uang ku seandainya uang kita nggak cukup, selama ini aku nggak pernah pakai uang ku sendiri jadi kali ini aku mohon sama Mas Azfan izinin aku pakai uang itu." Khalisa memiliki saldo yang cukup banyak di rekening pribadinya tapi sejak menikah ia hampir tidak pernah menggunakan uang itu atas permintaan Azfan. Khalisa berusaha menjadi istri yang taat sekaligus menghargai Azfan.
Raut wajah Azfan menyiratkan kekecewaan, ia kecewa pada diri sendiri karena tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka. Penghasilan Azfan selama ini cukup untuk biaya kuliahnya sendiri dan kebutuhan hidup yang sudah dihemat oleh Khalisa.
"Baik kalau begitu, maafkan aku sayang." Azfan memeluk Khalisa, ia tidak mau membuat Khalisa kecewa tapi apa boleh buat, ia belum mampu memiliki penghasilan lebih.
__ADS_1
Cast Rindang: @luciaawella on Instagram