Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
63


__ADS_3

"Cantik sekali anak Papa." Suara Daniel gemetar melihat wajah sang anak sulung yang telah selesai dirias melalui pantulan cermin. Perasaan Daniel saat ini sama seperti ketika melihat Khalisa menangis pertama kali di ruangan rumah sakit. Antara haru, kagum dan bahagia bercampur menjadi satu, bedanya saat ini ada perasaan sedih yang hinggap di hatinya.


"Anak Mama." Sahut Ica yang muncul di belakang Daniel.


"Ma, Khalisa cantik sekali." Daniel merangkul pinggang Ica dari samping, ia tak sanggup mengucapkan kalimat apapun kecuali pujian terhadap Khalisa.


Khalisa beranjak dengan gerakan perlahan lalu membalikkan badan melihat mama dan papanya. Khalisa menatap lekat pada dua orang yang paling berjasa di hidupnya. Mama yang telah melahirkan dan mendidiknya hingga menjadi seperti sekarang dan papa yang telah memperlakukannya seperti seorang ratu.


"Mama juga cantik banget hari ini." Puji Khalisa karena Ica juga memakai riasan tidak seperti hari biasanya.


"Udah siap?" Ica menghampiri Khalisa.


Khalisa hanya tersenyum samar, jawaban Khalisa akan selalu sama yakni siap, siap menempuh kehidupan yang baru dengan status menjadi seorang istri. Taat kepada suami dan mencintainya dengan sepenuh hati. Khalisa tak henti merapalkan doa agar Azfan dimudahkan mengucapkan kalimat Qabul sebentar lagi.


"Pak Daniel dan Bu Ica, mari keluar, semua orang sudah hadir." Seseorang memanggil Daniel dan Ica agar menuju venue tempat dimana akad nikah akan berlangsung.


"Mama dan Papa ke depan dulu, Khalisa ditemenin Rindang dan Humaira disini ya." Ica mengusap pundak Khalisa lembut sebelum menggandeng tangan Daniel keluar ruangan itu.


Kaligrafi Surat Ar-Rum ayat 21 berukuran 1 meter persegi yang ditulis dengan tinta berwarna emas itu tampak berkilau terkena cahaya lampu. Kaligrafi itu mencuri perhatian tamu undangan yang telah memenuhi ballroom hotel Jinggo.


"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang."


Daniel duduk di hadapan Azfan bersama seorang penghulu, wajahnya tegang begitupun dengan Azfan. Daniel pikir ia hanya akan merasakan bagaimana tegangnya berada di kursi akad ini satu kali seumur hidup yakni ketika menikahi Ica. Namun ternyata Daniel kembali merasakan ketegangan ini karena harus menikahkan Khalisa.


Azfan terpaku di kursinya, biasanya ia akan mengusap tengkuk saat merasa gugup atau grogi. Namun kali ini untuk melakukan hal itu pun Azfan tak punya nyali, ia benar-benar seperti patung di hadapan Daniel dan penghulu.

__ADS_1


Azfan telah belajar mengucapkan kalimat Qabul sejak semalam tapi sekarang pikirannya terasa kosong. Hening. Seolah-olah otaknya direset dan tak dapat memikirkan apapun. Bagaimana jika ia salah atau suaranya tidak keluar. Tidak. Tidak akan.


Penghulu memberikan wejangan terhadap Azfan sekaligus mencoba mencairkan suasana agar sang mempelai pria tidak terlalu tegang. Namun itu tak berpengaruh, Azfan masih saja beku seperti es batu.


"Silakan Pak Daniel." Penghulu mempersilakan Daniel untuk menjabat tangan Azfan.


Daniel menggenggam tangan Azfan yang dingin. Mereka saling berpandangan seolah sedang berkomunikasi melalui hati masing-masing.


Kalau macam-macam dengan Khalisa, saya orang pertama yang akan membunuh kamu!


Pak Daniel tenang saja, bahkan saya rela mempertaruhkan nyawa saya untuk melindungi Khalisa.


Begitu kira-kira arti dari pandangan Daniel dan Azfan.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Azfan Khuffa Ameezan bin Abdurahman Soleh dengan anak saya Khalisa Syanin Alindra binti Daniel Alindra dengan mas kawin kaligrafi dan emas 6 gram dibayar tunai."


"Bagaimana para saksi?"


"Sah!"


Maka pada saat itu Arsy Allah berguncang karena beratnya  perjanjian yang dibuat oleh suami di depan Allah dengan disaksikan para malaikat dan seluruh tamu undangan. Maka andai saja seorang istri yang menghisap darah dan nanah dari hidung suami ,maka itupun belum cukup untuk menebus semua pengorbanan suami terhadap istri.


Maka aku tanggung dosa-dosanya dari ayah dan ibunya. Dosa apa saja yang telah dia lakukan dari tidak menutup aurat hingga ia meninggalkan sholat.


Semua yang berhubungan dengan si dia aku tanggung dan bukan lagi orang tuanya yang menanggung. Serta akan aku tanggung semua dosa calon anak-anakku. Aku juga sadar,sekiranyaaku gagal dan aku lepas tangan dalam menunaikan tanggung jawab, maka aku fasik, suami yang dayus dan aku tahu bahwa neraka lah tempatku karena akhirnya isteri dan anak-anakku yang akan menarik aku masuk kedalam Neraka Jahanam dan Malaikat Malik akan melibas aku hingga pecah hancur badanku.

__ADS_1


(HR. Muslim)


Khalisa yang berada di ruangan lain tidak kuasa menahan tangis haru ketika mendengar suara Daniel dan Azfan bergantian mengucapakan ijab qabul. Maka ia resmi menyandang status menjadi seorang istri yang harus senantiasa taat pada sang suami bukan lagi pada papa nya.


Khalisa berdoa dengan khusyuk seperti halnya orang-orang di luar. Ia bersyukur kepada Allah karena akad berjalan dengan lancar.


Azfan beranjak ketika Khalisa berada di ujung karpet putih bersama Rindang dan Huma di kanan dan kirinya. Dengan langkah pelan tapi pasti Khalisa menghampiri tempat berlangsungnya prosesi akad nikah.


Azfan enggan mengalihkan pandangan dari wajah Khalisa yang kini telah menjadi istrinya maka halal baginya untuk memandang sosok itu lama-lama. Azfan baru menyadari bahwa senyum Khalisa amat manis hingga ia takut jika dirinya bisa diabetes kalau melihat senyum itu terlalu lama. Namun manis itu justru menyegarkan tubuhnya, membuat Azfan yang tegang seketika merasa lega dan tenang.


“Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih.” Azfan membisikkan doa seraya meletakkan tangan di atas ubun-ubun Khalisa.


Ya Allah sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.


"Silakan cium tangan suami mu Khalisa." Pembawa acara memberi arahan pada Khalisa.


Azfan mengulurkan tangannya pada Khalisa yang tetap menunduk. Ragu-ragu Khalisa menyentuh tangan Azfan, ternyata begini rasanya menggenggam tangan Azfan. Dingin.


Azfan bisa merasakan air mata Khalisa jatuh mengenai punggung tangannya saat Khalisa mengecupnya lama.


Jika orang-orang mengatakan jatuh cinta seperti halnya ada kupu-kupu yang mendesak keluar dari dalam perut maka sekarang Khalisa merasa kupu-kupu itu berterbangan sangat banyak di dalam perutnya hingga ke dada. Apakah jika Khalisa membuka mulut, kupu-kupu itu akan keluar dari sana.


Bagi Azfan, Khalisa adalah keajaiban dari Allah yang diberikan untuknya. Tentu saja doa-doa yang senantiasa Azfan panjatkan setiap malam tak akan menggantung di langit dengan sia-sia kecuali Allah mengabulkannya.


Azfan ingin memuji Khalisa cantik tapi lidahnya terasa kelu tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Bagaimana ini? Azfan hanya berani memuji kecantikan Khalisa di dalam hati.

__ADS_1


"Menikahlah denganku, aku harap dengan itu kita bisa meraih cinta Allah bersama-sama."


Ucapan Khalisa saat itu kembali terngiang di telinga Azfan seolah baru kemarin ia mendengarnya dari mulut seorang gadis yang dicintainya. Maka sejak saat itu Azfan berjanji terhadap dirinya sendiri untuk senantiasa membimbing Khalisa meraih cinta Allah.


__ADS_2