
Embun masih membasahi daun padi yang membentang sepanjang mata memandang seperti padang rumput. Ketika burung Bondol hinggap di atasnya, daun itu bergoyang hingga embun menetes jatuh ke tanah. Padi itu belum berbuah sehingga tak ada petani yang akan meneriaki burung-burung tersebut. Nanti ketika padi mulai menguning para petani akan sibuk memasang orang-orangan sawah atau kaleng bekas biskuit lebaran agar menimbulkan suara saat digoyang untuk menakuti burung.
Di sisi lain suara mesin penanam padi tidak terlalu kencang teredam angin. Dahulu orang-orang menanam padi dengan cara manual, mengambil bibit padi dan menancapkan nya pada tanah. Namun sekarang keberadaan mesin penanam padi memudahkan petani untuk mempersingkat waktu.
Azfan menghentikan motornya sejenak di pinggir jalan sekedar untuk menghirup udara di sekitar sawah yang terasa dingin masuk ke rongga hidungnya. Akhirnya ia pulang meski ada sesuatu yang mengganjal di hatinya ketika meninggalkan Sleman. Sepanjang perjalanan Azfan berpikir apakah ada barangnya yang ketinggalan tapi ia telah mengecek ranselnya sebanyak 3 kali dan barang-barangnya sudah lengkap disana.
Beberapa orang yang melewati jalan itu menyapa Azfan dan menanyakan kabar cowok itu.
Setelah cukup menikmati pemandangan persawahan Azfan melanjutkan perjalanannya menuju rumah. Azfan sudah mengabari ibunya bahwa dirinya akan pulang hari ini karena ia tidak mau kena omelan. Kadang Azfan ingin memberi kejutan kepada orang-orang di rumah dengan pulang tanpa memberi kabar alhasil ibunya mengomel. Biasanya ibu Azfan akan menyiapkan banyak makanan jika Azfan pulang.
Dari jarak 5 meter Azfan sudah bisa mencium aroma kuah gule kambing. Azfan turun dari motor dengan tidak sabar dan mengetuk pintu rumahnya seraya mengucap salam.
"Waalaikumussalam." Safa membuka pintu dan langsung mencium punggung tangan Azfan.
"Ibu mana?" Azfan melangkah masuk sedangkan Safa mengekorinya dari belakang.
"Ada di dapur."
Azfan pergi ke kamar lebih dulu untuk meletakkan ransel nya yang berisi beberapa potong pakaian dan barang-barang penting miliknya. Azfan hanya membawa sedikit barang karena rencana ia hanya akan tinggal seminggu disini, sisanya ia ingin menyelesaikan urusan toko.
"Assalamualaikum Bu." Azfan memeluk ibunya dari belakang, ia mencium punggung tangan ibunya yang selalu beraroma rempah. Kalau tidak pasti tangan luar biasa itu beraroma lilin karena kegiatan ibu Azfan sehari-hari memang membatik dan memasak.
"Waalaikumussalam, udah sarapan belum?"
"Belum, sengaja mau makan masakan ibu." Azfan juga menyapa Galuh yang membantu ibunya memasak.
"Bagus kalau gitu, ibu masak gule kambing sama acar timun kesukaan kamu."
Azfan tidak sabar menyantap masakan ibunya yang selalu membuatnya ingin pulang. Seenak apapun makanan yang Azfan beli di kampus, masakan ibu selalu membuatnya rindu kampung.
"Marwah kemana Bu?" Azfan pasti akan selalu bertanya keberadaan orang rumah yang belum ia lihat saat baru sampai.
"Ada di kamarnya." Ibu menyuapkan sesendok nasi dengan gule kambing pada Azfan, "kurang apa?"
Azfan mengunyah perlahan merasakan aroma jintan yang begitu kuat dan gurih dari kaldu tulang kambing yang direbus lama.
"Kurang banyak." Azfan nyengir, perutnya mulai keroncongan tapi sepertinya masih ada masakan lain yang belum matang sehingga ia masih harus menunggu beberapa saat.
"Mas!" Suara Marwah terdengar dari depan pintu dapur.
"Hei." Azfan merentangkan tangan untuk memeluk si bungsu.
"Mas tinggal lama kan disini?"
"Iya dong." Azfan merapikan rambut panjang Marwah yang dibiarkan tergerai.
"Kamu mau ngomong penting apa Fan sama Ibu?" Tanya Ibu, ia ingat semalam Azfan bilang hendak membicarakan sesuatu yang penting dengannya. "Jangan bilang kalau kamu mau ngelamar cewek, kamu baru mau semester tiga lo."
"Memangnya boleh?"
"Jadi beneran mau melamar gadis?" Ibu terkejut bahkan ia hampir saja menjatuhkan spatula di tangannya. Galuh juga melihat Azfan kaget karena selama ini adik iparnya itu tidak pernah memiliki pacar.
"Siapa ceweknya Mas, yang waktu itu diajak kesini ya?" Marwah ikutan kepo.
Azfan tertawa puas karena mereka mudah percaya begitu saja pada ucapannya. Padahal bukan itu yang hendak Azfan bicarakan.
"Azfan jangan ketawa dulu." Ibu menyerahkan spatula pada Galuh agar menggantikannya menggoreng kerupuk.
"Ibu setuju sama dia?" Azfan melirik Marwah.
"Setuju-setuju." Marwah menjawab dengan semangat.
__ADS_1
"Bukan kamu yang ditanyain." Sahut Ibu. "Azfan, kamu serius?"
"Aku nggak mau ngomong tentang itu kok Bu."
Akhirnya ibu menghela napas lega, ia takut jika Azfan benar-benar ingin melamar seorang gadis karena ia belum memiliki tabungan yang cukup untuk melakukan itu. Tentu melamar seorang gadis butuh biaya yang tidak sedikit sedangkan Azfan masih kuliah. Perjalanan Azfan masih panjang. Ibu bukannya tidak mau Azfan memiliki rasa suka dan bagus jika mereka menginginkan hubungan serius. Namun untuk sekarang sebagai orangtua ia belum siap.
"Ini berita bahagia." Azfan memulai pembicaraannya dengan serius. "Papa Khalisa, Pak Daniel ngasih aku bangunan toko untuk menjual kaligrafi aku sendiri."
"Alhamdulillah, kok dia baik sama kamu?" Mata ibu Azfan berkaca-kaca, meski Azfan tak pernah bilang tapi ia tahu kalau anaknya itu ingin memiliki toko sendiri. "Berapa biaya sewanya per tahun?"
"Pak Daniel nggak membicarakan soal biaya sewa, beliau bilang pakai saja sampai aku bosan, Khalisa dan keluarganya memang baik Bu."
"Masya Allah, pertolongan Allah begitu dekat Fan." Ibu memeluk Azfan lalu Marwah ikut bergabung.
Galuh tersenyum melihat mertua dan adik-adik iparnya berpelukan seperti itu, ia mematikan kompor setelah menggoreng semua kerupuk.
"Memangnya seperti apa Pak Daniel itu, apa mirip Khalisa?" Ibu mengurai pelukan.
"Sebentar." Azfan merogoh ponsel di dalam saku celananya, ia mengetik nama Daniel Alindra pada kolom pencarian di internet. Foto Daniel langsung muncul beserta biodata lengkapnya. "Ini Pak Daniel, dan yang ini Ibu Alisha atau akrab dipanggil Ica."
"Mereka kelihatan lebih kaya dari juragan padi disini Fan."
Azfan tertawa mendengar ucapan ibunya, "emangnya ibu tahu wajah orang kaya seperti apa?"
"Kayak gini kan." Ibu Azfan menunjuk wajah Daniel dan yang lain pada layar ponsel Azfan.
"Nanti Marwah mau ke toko baru Mas Azfan ya?"
"Iya sama yang lain juga."
"Oh iya Nduk, panggil Safa, suamimu dan Agam buat makan sama-sama." Pinta ibu pada Galuh.
Jika hari biasa mereka jarang makan bersama di meja karena jadwal makan yang berbeda-beda. Namun saat ada Azfan mereka lebih sering menggunakan ruang makan karena Azfan jarang berada di rumah.
"Oh iya Fan, kamu bisa nggak temani Pak Dhe Tris kirim batik ke Jawa Timur?" Ibu mengambil nasi untuk Azfan lalu 6 piring lainnya. Ia sudah hafal porsi masing-masing termasuk si bungsu Marwah yang lagi doyan-doyannya makan.
"Kapan Bu?" Azfan mencomot kerupuk yang masih panas karena baru diangkat dari penggorengan.
"Lusa insha Allah, kasihan Pak Dhe mu kalau ngirim sendirian, biar bisa ganti-gantian nyetirnya."
Azfan mengangguk. Lumayan jika ia bisa pergi sekalian jalan-jalan gratis karena ia tak pernah pergi jauh meski libur panjang.
*******
Khalisa menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur king size di kamarnya yang berwarna serba putih. Jika dilihat sekilas kamar itu seperti hotel karena Khalisa memang menata semua barang agar mirip dengan hotel. Semua itu Khalisa lakukan agar setiap hari terasa seperti menginap di hotel padahal sedang di rumah.
"Kangen banget." Khalisa menghirup aroma kamarnya, ia kangen kamar di rumah ini.
"Cece!"
Khalisa membuka mata bangun dari posisi tidur mendengar suara Zunaira. Adik bungsunya itu pasti tak akan pernah membiarkannya tenang meski ia telah melalui perjalanan yang melelahkan dari Yogyakarta.
Khalisa melangkah untuk membuka pintu, ia segera mengubah raut wajah lelahnya dengan senyum lebar.
"Cece!" Zunaira menghambur ke pelukan Khalisa sampai membuat tubuh Khalisa limbung dan hampir jatuh ke belakang. Tubuh gempal Zunaira membuat Khalisa tidak kuat lagi menggendong sang adik. "Cece kapan sampai?"
"Baru aja." Khalisa mencium pipi Zunaira.
"Zunai mau tidur sama Cece malam ini."
"Oke."
__ADS_1
Zunaira menarik tangan Khalisa membawanya keluar kamar, "Mama bikin puding jagung Ce, baunya enak."
"Oh ya?" Khalisa dan Zunaira menuruni anak tangga menuju dapur di lantai satu. "Pasti rasanya juga enak."
Meski Ica mengakui bahwa masakannya tidak terlalu enak tapi Khalisa, Azmal dan Zunaira akan memuji masakan mama mereka.
"Zunai, Cece kan masih capek baru sampai harusnya biarin Cece istirahat dulu." Ica melihat Khalisa dan Zunaira masuk ke dapur.
"Nggak apa-apa Ma." Khalisa menghampiri mamanya yang sedang memarut keju. Sedangkan Zunaira naik ke kursi kitchen island melihat sekotak puding berwarna kuning disana.
"Zunai boleh makan ini nggak Ma?" Tanya Zunaira.
"Boleh sayang." Jawab Ica, ia mengambil sendok untuk Zunaira. "Bismillah dulu."
"Desain baju yang Khalisa kirim waktu itu masih ada yang perlu diganti nggak Ma?" Khalisa mencuci tangan untuk membantu mamanya menghaluskan jagung menggunakan blender.
"Udah bagus kok, Mama suka." Ica melanjutkan memarut keju untuk mempercantik tampilan pudingnya. Ica hendak membuat tiga porsi puding lagi untuk diantarkan ke rumah orangtua dan mertuanya.
"Alhamdulillah kalau Mama suka."
"Gimana di kampus? kamu makin betah disana kan?"
"Kok Mama tahu?"
"Kelihatan." Ica tersenyum lebar, ia senang jika Khalisa menyukai pilihannya sendiri untuk kuliah di UII.
"Aunty Zayaan juga bilang gitu."
"Bilang apa?"
"Bilang kalau Khalisa sepertinya betah disana karena Khalisa kelihatan gemukan."
Suara blender membuat suara Khalisa tidak terlalu jelas sehingga Ica meminta Khalisa mengulangi kalimatnya.
"Zayaan bilang gitu?" Ica memperhatikan Khalisa, "enggak kok."
Khalisa tersenyum, pasti mamanya sedang menghibur dirinya, meskipun itu tidak sopan ia sama sekali tidak masalah jika orang lain mengomentari tentang fisiknya.
"Memangnya berapa berat kamu sekarang?"
"Lima puluh."
"Itu normal sayang, Zunaira sekarang empat puluh, dokter sampai bilang Mama harus pantau setiap makanan yang masuk ke tubuh Zunaira karena usianya baru 6 tahun." Ica merendahkan suaranya agar tidak terdengar Zunaira.
Khalisa menyaring jagung yang sudah dihaluskan ke dalam wadah sebelum dicampur dengan bahan lain.
"Oh iya, gimana perkembangan toko Azfan?" Tanya Ica, beberapa hari yang lalu Daniel sempat mengobrol dengan Azfan di telepon, Azfan bilang ia baru menata beberapa kaligrafi di dinding.
"Katanya sih butuh waktu agak lama untuk mulai buka toko soalnya dia bikin semua kaligrafi nya satu satu."
"Dan nggak bisa buru-buru juga kan."
"Aku harap dengan Azfan memulai usahanya sendiri, selain enggak terikat sama orang lain keuangannya juga bisa lebih stabil."
"Memangnya dia bayar semua uang kuliahnya sendiri?" Ica meletakkan panci di atas kompor dan menambahkan gula pasir, santan serta susu kental manis.
"Kayaknya sih gitu tapi untungnya Azfan itu dapat beasiswa 50% jadi nggak terlalu berat karena kita semua tahu kalau biaya kuliah nggak murah Ma."
"Allah pasti mudahkan jalan untuk hamba-Nya yang mau berusaha."
Khalisa tersenyum melihat mamanya sekilas, ia selalu mendapat ketenangan setiap kali mengobrol dengan mama dan papanya. Mereka tak pernah membentak apalagi memarahi anak-anaknya. Sebaliknya mereka bicara dengan penuh kelembutan dari hati ke hati.
__ADS_1