
Setelah beberapa hari berada di area evakuasi akhirnya Khalisa bisa kembali ke rumah bergantian dengan relawan lain. Keadaan rumahnya cukup kacau akibat hujan abu, tapi untungnya rumah itu masih berdiri tegak karena bangunannya masih baru. Itu artinya Khalisa dan Azfan harus meluangkan waktu lebih lama untuk membersihkan bagian terasa.
Abu halus itu masuk melalui celah kecil ke dalam rumah sehingga mereka harus membersihkannya dengan vacuum cleaner. Alat itu sangat berguna bahkan mereka hampir tidak pernah menggunakan sapu.
Jam dinding menunjukkan pukul 11 siang ketika mereka selesai membersihkan semuanya termasuk mencuci sprei, selimut, gorden dan taplak meja. Mereka menggantinya dengan yang baru.
"Mau mandi bersama?" Azfan mengambil 2 handuk baru dari dalam lemari.
"Tapi kalau mandi bareng justru lebih lama."
"Enggak dong sayang." Bukankah jika mandi bersama justru akan mempersingkat waktu.
"Iya terakhir mandi bareng tuh kita lamaaa banget di kamar mandi."
Azfan melangkah menghampiri Khalisa yang sedang mengelap menata barang pada meja rias.
"Sayang." Azfan mengusap lengan Khalisa, "tapi kita mandinya nggak lama."
"Terus yang lama ngapain?" Khalisa tersenyum menggoda Azfan.
Pertanyaan itu membuat wajah Azfan memerah hingga ke telinga, ia tak sanggup menjawabnya. Azfan bingung memilih kalimat apa yang tak terdengar memalukan. Ayolah hanya ada mereka berdua di rumah ini, kenapa juga Azfan harus malu.
"Ayo, aku bantu keramas dan pijat kepala Haura."
"Mas, tapi aku nggak berniat untuk keramas tadi pagi kan udah."
"Aku akan membuat Haura keramas siang ini."
Khalisa menahan senyum, ada saja alasan untuk mengajaknya mandi bersama. Namun sebenarnya Khalisa memang tak berniat menolak ajakan Azfan. Khalisa hanya ingin menggoda sang suami walaupun pada akhirnya justru Khalisa yang tergoda.
"Kuku Haura juga sudah panjang, kebetulan ini hari Senin."
Azfan menerapkan ajaran Rasulullah di kehidupan sehari-hari termasuk hal-hal kecil yang mulai dilupakan. Seperti memotong kuku di hari yang disunnahkan yakni Senin, Kamis dan Jumat. Atau masuk kamar mandi dengan kaki kiri dan keluar dengan kaki kanan.
Setelah menikah Khalisa banyak belajar dari Azfan. Sebelumnya Khalisa hanya mengerjakan sunnah tertentu seperti shalat sunnah rawatib, shalat dhuha atau tahajjud. Namun setelah menikah, hampir aktivitas mereka mengacu pada kebiasaan Rasulullah. Menanamkan cinta kepada Allah dan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam akan membuat rumah tangga mereka semakin tentram dan membawa berkah.
Orang-orang di luar sana mungkin berpikir bahwa Azfan beruntung menikah dengan anak sulung Daniel Alindra. Namun kenyataannya Khalisa yang merasa amat beruntung, Azfan adalah seseorang yang membuat Khalisa selalu merasa lebih dekat dengan sang Maha Cinta.
"Ya udah ayo." Khalisa menyerah, ia tak mungkin bisa menggoda Azfan lebih lama.
Azfan menyiapkan baskom mengisinya dengan air hangat dan bath salt serta tea tree essential oil untuk merendam kaki Khalisa. Azfan sudah terbiasa dengan ritual mandi Khalisa yakni menambahkan bath salt ke dalam air yang sebenarnya sampai sekarang ia tak tahu apa fungsi dari garam tersebut. Khusus untuk merendam kaki, Azfan menambahkan tea tree oil.
"Maaf ya Mas." Khalisa mencelupkan kakinya ke dalam baskom yang telah Azfan siapkan.
"Enak nggak?" Azfan mengusap-usap kaki Khalisa dengan air hangat itu.
"Enak banget, kayak di salon." Walaupun Khalisa belum pernah memotong kuku di salon tapi ia memperkirakan pelayanan salon mirip seperti yang Azfan lakukan.
"Haura selalu berendam dengan bath salt merek ini, apa manfaatnya?"
"Sebenernya bath salt merek apapun fungsinya sama Mas, bikin rileks sama ngilangin pegal-pegal dan lebih sehat juga buat kulit, itu produk punya temennya Papa makanya aku pakai terus." Khalisa terkekeh, ia tidak terlalu memperhatikan merek tertentu. Itu hanya merek yang selalu ada di kamar mandi Khalisa sejak kecil jadi ia selalu menggunakannya sampai sekarang.
Khalisa perlu merendam kakinya sekitar 10 menit sebelum Azfan memotong kukunya.
"Sebenernya aku masih bisa potong kuku sendiri Mas."
"Tapi susah kan jadi mending aku yang potongin, Haura sudah membawa bayi kita kemana-mana dan ini sudah jadi tugasku." Azfan memotong kuku kaki Khalisa hati-hati begitupun dengan kuku tangan.
Sekarang Khalisa tahu sikap manis Azfan itu mirip sekali dengan Kirana. Mereka berdua sangat manis hingga membuat Khalisa tersentuh. Rasanya Khalisa tidak memiliki mertua tapi dua ibu kandung yang luar biasa. Ibu yang melahirkan Khalisa dan ibu yang melahirkan suami Khalisa.
Sebagai gantinya karena Azfan sudah memotong kuku, Khalisa membantu Azfan mencuci rambut dan memijatnya.
"Bekas jahitannya masih kelihatan." Khalisa meraba bekas luka jahitan di kepala Azfan akibat ranting pohon yang terjatuh saat upacara pembukaan ospek 2 tahun lalu.
"Mungkin emang nggak bisa hilang sayang karena kalau di kepala susah dikasih obat."
"Kalau inget kejadian itu aku panik banget." Khalisa menggeleng kuat menepis ingatan tentang kejadian itu.
Azfan tersenyum, entah kenapa ia jadi ingat saat Rindang mengatakan bahwa Khalisa menyukainya. Azfan berdebar mengingat saat-saat dimana ia dan Khalisa masih malu-malu untuk mengatakan perasaan mereka. Sampai sekarang Azfan tidak mengatakan bahwa Rindang pernah memberitahunya tentang perasaan Khalisa tersebut.
"Aku nggak pernah pingsan sebelumnya, itu pertama kalinya." Azfan terkekeh, luka pada kepalanya justru meninggalkan kesan baik di pikirannya. "Aku cuma denger Haura manggil-manggil namaku terus semuanya gelap dan senyap."
"Untung Mas Azfan bisa langsung pulang hari itu juga." Khalisa mengecup kening Azfan.
"Terimakasih Haura." Azfan mengulurkan tangannya ke atas untuk menyentuh dagu Khalisa. "Dari dulu sampai sekarang Haura selalu merawat ku."
Setelah mandi Azfan pergi masjid untuk shalat duhur berjamaah sedangkan Khalisa shalat di rumah. Nikmat yang paling Azfan rasakan setelah pindah ke tempat baru adalah jarak masjid cukup dekat dari situ. Hanya sekitar 5 menit dari rumah dengan berjalan kaki.
******
Siang itu Khalisa dan Azfan mengunjungi pabrik Alindra Beauty di Yogyakarta. Produk pertama Khalisa masih harus diteliti lebih lanjut, Khalisa akan mengeluarkan krim anti strechmark buatannya setelah ia melahirkan nanti. Ia ingin memastikan apakah krim tersebut benar-benar efektif untuk mencegah strechmark.
__ADS_1
"Wah nggak nyangka pabrik yang sering aku lewatin dulu ternyata punya keluarga Haura." Azfan melihat ke sekeliling, ruangan itu penuh dengan warna putih. Mereka juga menggunakan pakaian khusus untuk masuk pabrik lengkap dengan masker.
"Alindra Beauty dipimpin oleh Ai Aisyah, selain punya bakat di dunia fashion dan manajemen, Ai juga mahir di dunia perawatan tubuh." Jelas Khalisa seraya masuk lebih dalam ke pabrik tersebut. "Kalau Mas belum tahu, dulu Mama kerja di butik Ai Aisyah dan disitu awal Mama ketemu Papa."
Di balik maskernya Azfan tersenyum, kisah cinta Daniel dan Ica selalu terdengar manis jika diceritakan.
"Kalau aku ketemu Mas Azfan di Mangan Gelato dan itu akan jadi tempat bersejarah buat aku."
"Bagiku juga, ngomong-ngomong aku belum pernah bertanya tentang pendapat Haura saat pertama kali ketemu aku."
"Nanti aja aku ceritain pas kita pulang, nggak enak disini." Khalisa melangkah lebih dulu padahal Azfan sangat penasaran mengenai pandangan Khalisa saat mereka pertama kali bertemu.
Mereka melihat proses pembuatan shampo dan sabun Alindra Beauty yang selalu jadi best seller karena cocok untuk semua kalangan. Sabun yang juga disukai oleh Marwah.
"Selamat siang Ci Khalisa." Salah seorang karyawan menghampiri Khalisa.
"Siang Bu Karin, ini suami saya Mas Azfan." Khalisa mengenalkan Azfan pada karyawan bernama Karin tersebut.
"Selamat siang Mas Azfan." Karin juga menyapa Azfan seraya mengulas senyum di balik maskernya, meski tahu senyumnya tak terlihat tapi ia tetap melakukannya.
Azfan membalasnya dengan anggukan dan senyum tipis.
Karin mengajak Khalisa dan Azfan duduk di sudut ruangan agar lebih leluasa membicarakan tentang produk yang akan mereka luncurkan nanti.
"Sampel krim strechmark mau kami kirim lagi Ci?"
"Sepulang dari sini sekalian saja saya bawa sampel nya."
"Apa ada bahan-bahan yang perlu direvisi Ci?"
"Karena kita menggunakan minimal ingredient jadi krim itu hampir tidak memiliki aroma, bagaimana jika kita menambahkan sedikit saja aroma floral seperti mawar atau mungkin Bu Karin memiliki referensi aroma lain?"
"Mungkin kita bisa menambahkan aroma bergamot yang segar, banyak orang menyukainya."
"Haura, boleh aku usul?" Azfan menyela.
"Boleh sayang." Sahut Khalisa.
"Beberapa orang alergi terhadap bergamot, bagaimana kalau Haura membuat dua varian."
"Ide yang bagus Mas, jadi kita membuat varian tanpa aroma dan satu lagi dengan tambahan bergamot essential."
"Betul kata Mas Azfan, karena bergamot menimbulkan reaksi alergi terhadap beberapa orang jadi kita harus menambahkan essential lain." Karin melihat Azfan kagum karena mengetahui tentang hal tersebut. Padahal yang Karin tahu kuliah Azfan tidak ada hubungannya dengan wewangian apalagi kandungan terhadap bahan-bahan tertentu.
"Apa Ci Khalisa mau coba bikin, kebetulan kita punya essential bergamot dan lavender."
"Boleh." Khalisa beranjak dari duduknya, ia bersemangat untuk membuat krim dengan tambahan aroma. "Mas Azfan mau ikut nggak?"
"Aku disini aja, mau lihat-lihat yang lain." Azfan mengusap lengan Khalisa sesaat.
"Ya udah, aku tinggal sebentar ya." Khalisa izin pergi ke ruangan lain bersama Karin dan dua karyawan lainnya.
Sementara itu Azfan pergi ke bagian packing, datang langsung ke pabrik Alindra Beauty adalah pengalaman baru baginya. Bahkan ia ikut andil dalam pembuatan salah satu produk disini. Semua proses dilakukan oleh mesin, karyawan pabrik hanya bertugas mengoperasikan mesin tersebut.
Senyum Khalisa merekah seperti mawar ketika keluar dari pabrik Alindra Beauty dengan membawa satu jar sampel krim strechmark. Karena kali ini Khalisa menambahkan essential bergamot dan lavender ia jadi tidak sabar untuk mencobanya nanti malam.
"Aku juga ingin mencobanya." Setiap malam Azfan mengusapkan krim itu ke perut Khalisa dan itu membuatnya penasaran seperti apa rasanya memakai krim tersebut.
"Tapi Mas Azfan nggak mungkin pakai krim seperti ini."
"Nanti oleskan ke perutku juga, aku ingin tahu seperti apa rasanya."
Khalisa tertawa, "ya udah, Bapak hamil lagi ngidam harus diturutin."
"Oh iya, Haura bilang akan bercerita tentang pertemuan pertama kita."
"Pertama kali ketemu, aku lihat name tag Mas dan langsung kayak orang sok kenal kan, pasti Mas Azfan kaget waktu itu."
Azfan tertawa karena tebakan Khalisa benar.
"Yang bikin aku kagum adalah Mas Azfan orang kidal pertama yang aku temuin dan tulisan Mas Azfan bagus banget, Masya Allah untung sekarang udah jadi suamiku." Khalisa ingin memeluk Azfan sekarang tapi sang suami sedang fokus pada jalanan.
"Sebenarnya sebelum Mas Fendi pulang ke Jepara, beliau ngasih tahu kalau akan ada pelanggan yang selalu memesan Butterscotch Vanilla, dia cantik dan super ramah sama semua orang, namanya Khalisa, Khalisa Syanin Alindra." Mata Azfan berbinar mengingat obrolannya dengan Fendi waktu itu. "Makanya waktu Haura menyebut nama lengkap waktu itu, aku sedikit kaget karena—" Azfan memberi jeda sejenak.
"Karena apa?" Khalisa memutar badannya memasang telinganya baik-baik takut jika kalimat Azfan ada yang terlewat.
"Karena Haura cantik sekali sampai aku nggak berani menatap lama." Azfan tak pernah berani menatap lama seolah kecantikan Khalisa akan berkurang jika ia melakukannya.
Khalisa tersipu mendengar pujian Azfan, ia memegangi pipinya yang terasa panas.
"Tapi waktu Kak Levin datang aku langsung berpikir kalau kalian sepasang kekasih karena Haura terlihat sangat akrab dengan Kak Levin."
__ADS_1
"Aku anggap Ko Levin seperti Koko aku sendiri."
"Tapi untungnya Haura menjadi kekasihku kalau nggak, mungkin sekarang aku cuma berani lihat Haura dari jauh atau bahkan nggak berani lihat."
Khalisa mengembangnya senyum lembut mengusap lengan Azfan. Dengan segala perasaan rumit yang mendiami hati mereka, akhirnya keduanya bisa bersatu dalam ikatan suci pernikahan. Beberapa bulan ke depan kebersamaan mereka akan dilengkapi dengan kehadiran sang buah hati yang diimpikan sejak lama.
******
Sudah satu bulan sejak gempa 7,0 skalarichter mengguncang Provinsi Jawa Tengah. Jalan-jalan mulai diperbaiki dan kembali seperti semula. Aktivitas gunung Merapi sudah normal, BMKG telah menurunkan aktivitasnya menjadi level 1. Masyarakat kembali ke rumah masing-masing dan menjalankan aktivitas seperti biasa. Begitupun dengan kegiatan belajar mengajar.
Sudah lebih dari satu bulan berlalu sejak Kafa bertemu dengan Mahira di lapangan basket kampus dan hingga hari ini Kafa belum melihat batang hidung cewek pecicilan itu. Kafa sengaja berkeliaran di sekitar kelas FIAI, alasannya ingin menemui Azfan padahal ia ingin bertemu Mahira. Apakah ia merindukan gadis itu? Tidak. Kafa hanya merasa ada yang ganjil dengan hidupnya karena tak ada Mahira yang biasa mengusiknya.
Kemana Mahira?
Apakah Kafa terpesona dengan perubahan penampilan Mahira karena jilbabnya yang lebar? Tidak. Bukankah jilbab Rindang lebih lebar dari Mahira. Seharusnya Kafa lebih terpesona pada penampilan Rindang. Ahh! Kafa mengacak rambutnya frustrasi karena tidak mengerti perasaannya saat ini.
Ketika hendak keluar kelas Mahira terkejut melihat sosok Kafa. Rasanya aneh melihat cowok angkuh itu di dekat kelasnya. Seperti ada kembang api yang meletup-letup di dalam dada Mahira, apalagi ada yang berubah dari penampilan cowok itu. Mahira mencari-cari apakah yang membuat Kafa terlihat berbeda hari ini. Pakaian Kafa masih seperti biasa begitupun dengan sepatunya. Ah benar, gaya rambut Kafa terlihat berbeda. Sungguh tidak adil, Kafa hanya sedikit merubah gaya rambutnya tapi ketampanannya bertambah berpuluh kali lipat. Sungguh Mahira tidak lebay.
"Mahira mana?"
Mahira mendelik mendengar Kafa mencarinya. Ia melangkah menghampiri Kafa dan teman sekelasnya itu.
"Kamu nyari aku?" Mahira keluar dari balik pintu.
Kafa terkejut mendengar suara Mahira, ia mengusap tengkuknya yang tiba-tiba merinding. Mahira memang seperti hantu yang kedatangannya membuat Kafa merinding.
"Enggak." Kafa menggeleng.
"Aku denger kamu barusan nyari aku." Mahira melipat tangan di depan dada.
Teman Mahira segera pergi dari sana karena mencium aroma perdebatan akan segera terjadi.
"Salah denger kali, mana mungkin aku nyariin kamu." Kafa gengsi untuk mengatakannya padahal apalagi tujuannya duduk di depan sini jika bukan mencari Mahira. Kafa bukan Khalisa yang mengenal banyak orang.
"Ya udah." Mahira berbalik hendak berlalu dari sana padahal sebenarnya ia ingin melihat Kafa lebih lama. Namun ia harus menahan diri, bukankah Kafa tidak suka dengan sifatnya yang seperti itu.
"Eh, tunggu!" Kafa beranjak, ia tidak mau penantiannya sia-sia. Kafa sudah berjalan cukup jauh dari kelasnya kesini. Meskipun rasa gengsinya menggunung tapi bukankah gunung juga bisa meletus sewaktu-waktu.
"Apalagi?" Mahira memasang wajah judes, seperti yang biasa Kafa lakukan padanya.
"Iya aku nyari kamu!" Seru Kafa sebal karena harus terus terang.
Mahira tersenyum, akhirnya Kafa mengakuinya.
"Tapi jangan GR dulu, aku kesini mau balikin kotak makanan kamu." Tambahnya sebelum membuat telinga Mahira mekar karena ke-GR-an.
"Mana?" Mahira menengadah tangannya, padahal sebenarnya Kafa tidak perlu mengembalikan kotak itu. Ternyata Khalisa dan Kafa memiliki kesamaan yakni mencuci kotak makan sekali pakai itu.
"Ada." Kafa mencari-cari alasan karena sebenarnya ia tidak membawa kotak itu sekarang.
"Dimana?" Mahira memperhatikan Kafa, ia tidak melihat kotak makanan itu di tangan Kafa.
"Di mobil." Kafa berharap menemukan kotak itu di mobilnya meski mustahil karena terakhir melihatnya kotak milik Mahira ada di rak dapur. Tidak mungkin kotak makanan itu tiba-tiba melayang masuk mobil Kafa.
"Ya udah ayo, emang mobil kamu parkir dimana?"
"Tempat biasa."
Mereka berjalan beriringan melewati koridor yang ramai oleh mahasiswa lain. Kafa memutar otak bagaimana caranya agar Mahira melupakan soal kotak tersebut.
"Kamu kenapa nggak kelihatan akhir-akhir ini—maksud ku biasanya kamu selalu nyamperin aku."
"Bukannya kamu sendiri yang bilang, aku kelihatan cantik kalau pergi dari hadapan kamu jadi aku nggak pernah muncul lagi."
Kafa mendelik tak percaya, jadi karena itu Mahira tidak pernah menemuinya. Kafa memang berlebihan saat itu tapi ia tak bermaksud membuat Mahira tersinggung.
"Kamu bodoh banget sih?" Sebal Kafa, "jadi menurutmu itu masuk akal?"
"Ng ... nggak masuk akal sih tapi kalau kamu yang bilang jadi masuk akal."
"Mahira-Mahira, bukannya selama ini kamu nggak pernah denger omongan ku tapi kenapa tiba-tiba kalimat ku yang itu kamu turutin?"
"Tapi kita emang udah nggak ada urusan lagi kan?"
Kafa kaget, kenapa Mahira bicara seperti itu seolah-olah tidak ingin bertemu dengannya lagi.
"Nggak ada, jadi kita nggak perlu ketemu lagi kan?" Wajah Kafa merah padam menahan amarah, ia tidak mengira jika Mahira akan berkata seperti itu. "Kalau gitu aku pergi." Kafa mempercepat langkah meninggalkan Mahira.
"Loh katanya mau balikin kotak makanan aku?" Mahira melihat punggung Kafa semakin menjauh. Kenapa tiba-tiba pergi begitu padahal Kafa sendiri yang mengajaknya ke tempat parkir mobil.
__ADS_1
"Nggak jadi! udah aku buang!" Teriak Kafa tanpa menoleh kembali. Memangnya Mahira pikir dia siapa bisa memperlakukan Kafa seperti itu. Kafa tidak mau Mahira menginjak-injak harga dirinya.