
Pengajian empat bulanan kehamilan Khalisa digelar sederhana di sebuah ruko yang dulu sempat mencuri perhatian Khalisa dan Azfan. Setelah mengumpulkan sedikit demi sedikit uang dari hasil penjualan kaligrafi dan berbagai undangan yang Azfan hadiri akhirnya mereka berhasil menyewa ruko dua lantai tersebut. Selain itu Khalisa juga menggunakan uang dari mendesain seragam hotel dan Resor Jinggo, Ica memberikan harga yang cukup tinggi untuk dua desain tersebut. Khalisa belum menggunakan uang tersebut sehingga ia bisa memakainya untuk menyewa ruko itu.
Lantai pertama akan digunakan untuk bimbingan hafalan Al-Quran sedangkan lantai dua untuk tempat tinggal mereka. Sekali lagi, mereka harus pindah dari rumah kontrakan lama ke ruko tersebut.
Khalisa dan Azfan mengundang anak yatim dan keluarga inti bahkan Jaya ikut mengunjungi Khalisa dan Azfan untuk pertama kalinya. Biasanya hanya Renata yang selalu pergi ke Sleman. Pengajian tersebut dipimpin oleh Umar ba'da ashar. Beberapa anggota komunitas mualaf juga ikut menghadiri pengajian itu.
Lantunan ayat suci Al-Qur'an terdengar merdu. Azfan membacakan surat Luqman dengan hikmat. Khalisa yang duduk di samping Azfan ikut menghayati arti dari ayat-ayat tersebut. Ia akan selalu merasa tersentuh setiap kali mendengarkan bacaan Azfan. Suara itu amat menyejukkan. Setiap Khalisa merasa gelisah dan sedih, Azfan akan menenangkannya dengan bacaan Al-Qur'an ditambah pelukan yang hangat. Rasanya setelah itu Khalisa akan lebih kuat dan siap menghadapi apapun yang terjadi di masa depan.
Umar lanjut memimpin doa untuk kebaikan sang janin agar ketika lahir nanti ia menjadi anak yang bermanfaat bagi orang lain. Agar proses kelahirannya nanti berjalan dengan lancar.
"Semoga semuanya lancar ya sayang." Ica memeluk Khalisa, ia menangis terharu sepanjang Umar memimpin doa. Ica memberi kecupan di pipi anak sulungnya itu.
"Aamiin, makasih Ma." Mata Khalisa bengkak karena semalaman ia menangis saat mendirikan shalat tahajjud. Bukan tangis kesedihan melainkan sebaliknya, kebahagiaan itu membuat air mata Khalisa mengalir tiada henti. Usia kandungan Khalisa sudah 4 bulan dimana ruh mulai ditiupkan pada janinnya. Namun rasanya Khalisa belum percaya bahwa ada sesuatu yang tumbuh di dalam tubuhnya.
Pipi Khalisa terlihat tembam karena sejak memasuki usia kandungan 3 bulan ia lebih doyan makan. Tak seperti trimester pertama yang hanya diisi oleh mual dan muntah sehingga Khalisa tidak bisa sembarang makan sesuatu.
Azfan tidak bisa mengalihkan pandangan dari Khalisa yang sedang berpelukan dengan Daniel. Ia memandang Khalisa seolah ini adalah pertama kalinya mereka bertemu. Cinta Azfan terus beregenerasi setiap hari. Kadang Azfan heran mengapa ada wanita secantik Khalisa.
Terakhir mereka makan bersama. Khalisa sudah memesan berbagai hidangan untuk mereka. Tak hanya masakan khas Jogja seperti gudeg dan sate klatak tapi juga makanan khas Banyuwangi. Dua makanan dengan rasa berbeda yang cukup mencolok itu bersanding di tempat yang sama.
Anak-anak yatim mendapat bingkisan berupa paper bag berisi Al-Qur'an dan sedikit uang. Itu juga Khalisa yang membungkusnya sejak jauh hari karena jika memesan bingkisan dari orang lain pasti harganya lebih mahal padahal isinya sama. Sehingga Khalisa memutuskan untuk membungkus dan menghiasnya sendiri dibantu Rindang dan Huma.
"Sayang." Azfan diam-diam memegang tangan Khalisa ketika orang lain sibuk membagikan bingkisan.
"Kenapa?" Khalisa melihat tangannya dan Azfan yang bertautan.
"Di dunia ini nggak ada yang sempurna, lalu Haura datang dari mana?"
Khalisa melongo sesaat mendengar kalimat Azfan. Apakah sekarang Azfan sedang menggombal? Tiga detik berikutnya Khalisa dibuat tersipu, ia menunduk dalam menyembunyikan wajahnya yang ia yakin sekarang sudah memerah.
"Mungkin aku datang dari alam lain?" Khalisa menanggapi gombalan Azfan setelah berhasil mengkondisikan ekspresi wajahnya.
Azfan mendekat dan berbisik, "aku ingin menggigit pipi Haura, boleh?"
Khalisa membelalak lalu menyikut Azfan agar sedikit menjauh. Nanti saja genitnya, sekarang masih banyak orang. Satu per satu tamu mulai pergi. Khalisa dan Azfan mengucapkan banyak terimakasih karena mereka mau datang.
"Minum Ce." Azmal datang menyodorkan segelas teh hangat pada Khalisa.
"Makasih ya sayang." Khalisa mengusap kepala Azmal yang sudah lebih tinggi darinya.
Azmal menarik kursi untuk Khalisa agar duduk saat minum. Adik yang jarang bicara tapi paling perhatian.
"Mas Azfan mau teh juga?" Tawar Azmal.
"Nggak usah nanti Mas ambil sendiri." Tolak Azfan lembut.
"Ce." Panggil Azmal, sekilas ia tampak ragu hendak melanjutkan kalimatnya.
"Kenapa?" Khalisa meletakkan gelas tehnya di atas meja.
"Aku boleh pegang perut Cece?"
"Boleh." Khalisa menarik tangan Azmal dan meletakkan di atas perutnya, "Cece udah bisa rasain gerakannya."
"Dulu waktu Mama hamil Zunai aku juga sering lihat perut Mama gerak-gerak." Azmal meraba perut Khalisa dengan hati-hati.
"Zunai aktif banget kan pas di dalam perut."
"Tapi setelah keluar lebih aktif lagi Ce."
Khalisa tertawa, di antara mereka Zunaira lah yang paling aktif dan cerewet. Tidak bisa diam sekalipun sedang tidur.
"Sayang, aku antar mereka dulu."
"Iya mas."
Azfan meninggalkan Khalisa dan Azmal, ia melangkah keluar untuk mengantar anak-anak kembali ke panti asuhan. Tadi mereka dijemput menggunakan dua mobil milik Khalisa dan Kafa.
"Zunai juga mau pegang." Zunaira ikut bergabung dengan Azmal, bukan memegang ia justru menempelkan telinganya pada perut Khalisa berharap mendengar sesuatu dari dalam sana.
"Sebentar lagi jadi Ai Zunai." Ujar Khalisa seraya mentowel pipi Zunaira.
"Ai Unai aja ya panggilnya." Zunaira mengangkat kepalanya menatap Khalisa.
"Kenapa Unai?"
"Biar imut."
"Ya ampun centil banget adik Cece." Khalisa memeluk Zunaira gemas.
Kirana menghampiri Khalisa membawa jambu dersana yang sudah dicuci dan dipotong lebih kecil. Saat hendak kesini, Khalisa meminta mertuanya itu membawa jambu dersana yang pohonnya berada di belakang rumah Azfan.
"Mau dimakan pakai bumbu rujak nggak?" Tanya Kirana, "kalau mau Ibu buatin."
"Tapi Khalisa nggak punya gula merah di dapur Bu."
"Nggak apa-apa, ibu udah bawa bahannya kok dari rumah, ibu bikinin dulu sebentar ya." Kirana kembali ke dapur untuk membuat bumbu rujak buah.
"Zunai mau main dulu sama Mbak Safa dan Mbak Marwah." Zunaira berlari menghampiri Safa dan Marwah di salah satu sudut ruangan. Entah apa yang mereka lakukan bersama Fatimah.
__ADS_1
"Fatah sendirian tuh di pojokan, samperin gih." Pinta Khalisa pada Azmal melihat Fatah sendirian.
"Fatah lagi hafalan, Azmal nggak mau ganggu."
"Kalau gitu Azmal nanti malam muroja'ah bareng Cece dan Mas Azfan ya." Khalisa memainkan rambut Azmal yang lurus dan lembut seperti tekstur rambutnya.
"Azmal malu kalau sama Mas Azfan, Ce."
"Malu kenapa, Mas Azfan baik kok walaupun salah nggak akan dibentak apalagi diketawain."
"Aku muroja'ah sama Ko Kafa aja karena dia galak jadi Azmal nggak akan sungkan." Azmal nyengir, justru karena Azfan terlalu baik jadi ia sungkan untuk berhadapan langsung dengan kakak iparnya itu.
Khalisa tertawa, "dasar kamu tuh."
Kirana dan Ica datang membawa satu nampan penuh buah-buahan dan saus gula merah yang diberi sedikit kacang serta cabai. Awalnya hanya Khalisa yang ingin makan rujak buah tapi karena Kirana membawa jambu cukup banyak, akhirnya Kirana dan Ica membuat porsi besar rujak buah agar semuanya kebagian.
"Ini buat Khalisa." Kirana menyodorkan rujak buah pada Khalisa, "bumbunya nggak pedes kok."
"Khalisa doyan pedes kok Bu, makasih ya." Khalisa segera memasukkan sepotong jambu dersana berbalut saus gula merah ke dalam mulutnya. Jambu dersana yang mengandung banyak air dan bertekstur lembut itu berpadu sempurna dengan saus gula yang sedikit pedas.
Kirana dan Ica menaruh rujak buah pada wadah-wadah kecil untuk yang lain. Cuaca panas Sleman sangat pas untuk menikmati segarnya rujak buah meski hari sudah sore.
******
Malam harinya keluarga Azfan dan Khalisa berkumpul di ruang tamu usai mendirikan shalat isya'. Mereka muroja'ah bersama masih mengenakan mukena. Fatah, Fatimah dan Zunaira yang baru memulai hafalan melakukan sambung ayat dengan Umar. Safa dan Marwah bersama Azfan dan Daniel. Sedangkan Kafa dan Azmal sudah pergi sejak sebelum magrib ke apartemen Kafa. Azmal juga akan menginap disana.
Jaya dan Yusuf—Ayah Ica berada di teras depan ditemani teh hangat. Dua laki-laki paruh baya yang tak pernah kehabisan bahan untuk mengobrol.
Para wanita mencuci piring bekas makan malam dan membereskan meja makan. Satu meja tidak cukup untuk menampung mereka semua sehingga dibutuhkan dua meja saat makan malam tadi.
"Ibu mau tidur dimana, disini atau di hotel?" Tanya Khalisa seraya mengambil piring yang sudah dicuci untuk mengeringkannya.
"Ibu, Safa dan Marwah tidur disini aja Nduk." Jawab Kirana.
"Nenek dan Kakek juga disini biar Mama dan Papa mu aja yang di hotel." Timpal Nenek Khalisa.
"Papa biar sama aku aja Ca di apartemen Kafa." Sahut Aisyah.
"Iya Mbak." Jawab Ica.
"Tante Ica nggak kepikiran bikin hotel disini? jadi enak kalau keluarga Khalisa dan Azfan dateng bisa nginep di satu tempat." Rindang yang sedang menyapu lantai ikut nimbrung.
"Duh belum kepikiran Rin, bisa fokus ke resor di Banyuwangi aja udah Alhamdulillah."
"Alindra Mall kan udah ada, tinggal hotel Jinggo aja yang belum Tante atau ada yang mau tidur di apartemen ku malam ini?"
"Tante di Aswatama hotel aja, besok Om Daniel juga ada janji disana."
"Belum selesai ini piringnya masih banyak Bu."
"Nggak apa-apa, biar Ibu yang selesain."
"Biar aku yang lap piringnya." Rindang menggantikan Khalisa setelah menyapu lantai dapur.
"Khalisa tolong anterin ini buat Kakek dan Akong di depan." Ica menyodorkan sepiring bolu pisang pada Khalisa.
"Khalisa mau." Khalisa membuka mulutnya, ia juga ingin mencicipi bolu pisang buat mamanya.
Ica menyuapkan potongan kecil bolu pisang yang diberi topping parutan keju.
Khalisa pergi ke teras untuk mengantarkan bolu pisang pada Jaya dan Yusuf.
"Wah lagi ngomongin apa nih?" Khalisa meletakkan bolu pisang tersebut di meja yang terletak di antara dua kursi. Ia berjongkok di lantai menatap akong dan kakek nya bergantian.
"Duduk disini gih, Kakek ambil kursi lagi." Yusuf beranjak masuk mengambil satu kursi lagi.
"Sini Khalisa suapin Akong." Khalisa memotong bolu dengan garpu dan menyuapkannya pada Jaya. "Enak nggak, Mama yang bikin."
Jaya tersenyum lembut seraya mengangguk, meskipun ia tahu menantunya itu tidak pandai memasak tapi kali ini kue tersebut cukup enak.
"Kakek juga Khalisa suapin." Khalisa juga menyuapkan bolu itu pada kakeknya yang kembali membawa satu kursi.
"Khalisa suka tempat ini?" Tanya Jaya.
"Iya Akong, dari awal lihat ruko ini Khalisa suka, tempatnya juga deket sama pasar jadi tinggal jalan kaki aja dari sini."
"Kalau gitu biar Akong beli ruko ini untuk Khalisa atau mau tempat lain yang lebih besar?"
Khalisa menggeleng, "tempat ini udah lebih dari cukup buat kami."
"Kalau gitu besok Akong akan hubungi pemiliknya."
Khalisa mengulurkan tangannya menggenggam tangan Jaya dan kembali menggeleng.
"Khalisa dan Mas Azfan sudah bayar sewanya."
Jaya kembali tersenyum, sifat keras kepala Khalisa mengingatkannya pada Daniel. Ketika telah memutuskan sesuatu maka tak ada siapapun yang dapat mengubahnya.
Di balik kacamata tebalnya Jaya melihat Khalisa yang tampak berbeda, wajahnya berseri-seri. Rupanya Azfan berhasil membahagiakan Khalisa meski dengan kesederhanaan. Jika Renata ada disini sekarang pasti ia ikut bahagia dan sibuk menyiapkan banyak hal untuk menyambut kelahiran cicit mereka.
__ADS_1
"Khalisa, ini kaos kaki nya diganti." Kirana datang dengan sepasang kaos kaki di tangannya, "Ibu lihat kaos kaki kamu basah tadi waktu di dapur." Kirana berjongkok hendak mengganti kaos kaki Khalisa.
"Eh, nggak usah Bu biar Khalisa pasang sendiri." Khalisa bahkan tidak sadar jika kaos kakinya basah.
"Nggak apa-apa, kamu udah mulai nggak bisa nunduk kan."
"Bisa Bu."
Kirana mengabaikan ucapan Khalisa dan tetap melepas kaos kakinya yang basah.
"Jangan Bu, Khalisa nggak enak kalau Ibu kayak gini." Khalisa berusaha merebut kaos kakinya dari tangan Kirana.
"Kenapa, Ibu biasanya pasang kaos kakinya Marwah, kamu anak Ibu juga kan."
Khalisa terdiam, kalimat tersebut begitu menyentuhnya. Tak heran jika Azfan memiliki hati yang lembut, ia dibesarkan oleh seorang ibu yang juga penuh kelembutan.
"Terimakasih Bu." Khalisa meminta Kirana segera berdiri setelah memasang kaos kaki untuknya.
Jam menunjukkan pukul setengah 9 ketika para wanita selesai membereskan dapur dan anak-anak selesai muroja'ah. Aisyah dan Umar izin pergi ke apartemen Kafa lebih dulu bersama Jaya. Sedangkan Ica dan Daniel serta Zunaira telah memesan kamar di Hotel Aswatama milik Michael papa Levin.
Tinggal kakek dan nenek Khalisa di rumah itu berserta Kirana, Safa dan Marwah. Karena rumah itu hanya memiliki 3 kamar, tidak semua keluarga bisa menginap disana.
*******
Azfan membaluri kaki Khalisa dengan body oil berbahan dasar argan. Itu akan membuat tidur Khalisa lebih nyenyak. Azfan juga membalurkan krim anti Stretch Mark pada perut Khalisa. Itu adalah sampel produk Alindra Beauty yang Khalisa buat. Khalisa menentukan bahan-bahan untuk membuat krim Stretch Mark itu bersama tim Alindra Beauty. Sebelum diproduksi dalam jumlah yang besar, Khalisa harus mencobanya lebih dulu.
"Eh dia bergerak." Azfan spontan mengangkat tangannya dari perut Khalisa.
"Dia tahu kalau Abi nya lagi olesin krim."
"Sakit nggak?" Azfan meratakan krim itu ke seluruh perut Khalisa dengan lembut.
"Enggak kok karena geraknya juga masih nggak terlalu kenceng."
"Aku pijitin kakinya sekalian, pasti hari ini capek kan." Azfan meletakkan tube krim di atas nakas dan memijit kaki Khalisa.
"Mas Azfan lebih capek, pindah rumah bener-bener nguras tenaga."
"Maaf ya sayang, kita harus pindah-pindah tempat tinggal kayak gini."
Khalisa memegang tangan Azfan membuat suaminya itu spontan menghentikan pijatan.
"Aku nggak masalah, ini memang jalan yang harus kita lalui Mas." Khalisa yang semula duduk bersandar pada ujung tempat tidur, menggeser posisi dan menghambur ke pelukan Azfan. "Hari ini aku bahagia."
"Aku bisa lihat dari tadi Haura nggak berhenti tersenyum."
"Aku bersyukur dikelilingi orang-orang baik, Ibu juga baik banget sama aku, dia nggak anggap aku menantu."
"Hm?" Azfan terkejut dengan kalimat terakhir Khalisa.
"Ibu anggap aku anak kandung."
Azfan mengembuskan napas lega, ia pikir ada perlakukan ibunya yang membuat Khalisa tersinggung atau sebaliknya.
"Itu karena Haura juga memperlakukan Ibu seperti Ibu kandung Haura sendiri, bahkan ketika punya sesuatu Haura pasti mengutamakan Ibu dulu dari pada Mama."
"Itu karena rumah Ibu lebih deket sama kita Mas, lagi pula anak laki-laki itu selamanya milik ibunya jadi aku nggak mau Ibu punya perasaan kalau aku mengambil Mas darinya."
"Ibu nggak mungkin berpikir seperti itu kok." Azfan mengurai pelukan dan turun dari tempat tidur untuk mengembalikan body oil dan krim ke meja rias.
"Udah ada pendaftar ya Mas." Khalisa melihat Azfan mengambil laptop. Mereka telah membuka pendaftaran untuk bimbingan hafalan Al-Qur'an kemarin.
"Ada tiga pendaftaran." Azfan melihat 3 nama pendaftar tersebut. "Kita akan mengadakan pertemuan mulai Minggu depan."
"Alhamdulillah Mas kita dikasih kesempatan untuk berbagi ilmu pada orang lain." Khalisa mengusap-usap lengan Azfan lalu mengendus aroma tubuh suaminya itu. "Mas pakai parfum apa?"
"Parfum dikasih Akong, enak nggak?"
"Enak banget." Khalisa menempelkan hidungnya ke lengan Azfan seolah tidak rela kehilangan aroma itu meski hanya sedetik. "Aku suka."
Azfan tersenyum lebar, ia merangkul Khalisa mengikis jarak di antara mereka. Mereka fokus pada laptop di pangkuan Azfan.
Hingga akhirnya Khalisa menguap, ia mulai mengantuk karena seharian ini mereka sibuk memindahkan barang dan persiapan pengajian.
"Ayo tidur sambil aku pijitin." Azfan beranjak meletakkan laptop kembali ke tempatnya.
Khalisa membaringkan tubuhnya, ini adalah tempat tinggal ketiga mereka sejak menikah. Pindah rumah memang sangat menguras tenaga dan waktu tapi inilah proses hidup. Khalisa tak pernah berkecil hati jika harus pindah ke tempat yang lebih sederhana dibandingkan apartemennya dulu.
"Mas." Panggil Khalisa pada Azfan yang sedang memijit kakinya.
"Ya sayang?"
"Aku lebih suka dipeluk."
Azfan tertawa pelan, ia menghentikan pijatannya dan berbaring di samping Khalisa. Ia menarik selimut dan mendekap tubuh Khalisa.
__ADS_1
Kucing Zunai gemoy nggak?