Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
62


__ADS_3

Takbir berkumandang dari segala penjuru sejak diumumkan jatuhnya satu Syawal tadi dalam oleh menteri agama. Idhul Fitri saatnya semua umat muslim kembali ke fitrah seperti bayi baru lahir.


Pagi itu angin berhembus pelan mengantarkan muslim yang berbondong-bondong pergi ke masjid untuk mendirikan shalat Ied. Matahari bersinar cerah sehingga cuaca hari itu benar-benar sempurna dimana mereka tidak merasa kepanasan atau kedinginan.


Daniel memarkir mobilnya di depan rumah Arfan sehingga ia tinggal menyeberang ke masjid Al-Fatah yang persis berada di seberang jalan. Ia tidak bisa memarkir mobil di halaman masjid karena akan digunakan untuk shalat.


"Arfan, titip mobil." Seru Daniel pada Arfan yang baru keluar dari rumahnya disusul Zayaan, Hamiz dan Aminah anak keduanya.


"Dengan senang hati, mau sampai nanti siang juga nggak apa-apa Niel." Kata Arfan disertai senyum lebar.


"Aduh ini nih bidadari nya Kak Daniel dan Ica yang mau menikah, Masya Allah wajahnya berseri-seri." Zayaan mendekati Khalisa yang telah mengenakan mukena.


"Alhamdulillah kalau calon suami mu itu seorang pecinta Al-Qur'an karena inshaa Allah dia juga akan selalu memuliakan istrinya." Tukas Arfan, ia sekeluarga telah mendapat undangan pernikahan Khalisa dan Azfan sejak seminggu yang lalu.


"Aamiin, makasih Uncle, Aunty." Ucap Khalisa.


Mereka berangkat bersama menuju masjid Al-Fatah karena banyak jamaah lain yang sudah datang memenuhi tak hanya di dalam masjid tapi juga di halamannya yang luas.


"Ce, itu suara Suk Umar ya?" Zunai berbisik pada Khalisa ketika ia mendengar khutbah oleh Umar.


"Iya, dengerin khutbah Suk-suk ya." Kata Khalisa.


Zunaira mengangguk patuh, si cerewet yang tiba-tiba pendiam saat masuk masjid.


Seluruh jamaah mendirikan 2 rakaat shalat Ied dengan khusyuk enggan menyia-nyiakan shalat yang hanya dikerjakan setahun sekali tersebut. Di beberapa bagian anak-anak juga tak kalah antusias untuk ikut shalat meski mereka belum paham betul bacaannya.


Usai melaksanakan shalat Ied, seluruh jamaah saling bermaaf-maafan dihari kemenangan setelah berpuasa selama satu bulan.


Sungguh bulan Ramadhan tahun ini memberikan banyak keberkahan bagi Khalisa sekeluarga. Daniel dan Ica akan segera memiliki menantu sehingga mereka tak perlu khawatir ada seseorang yang berbuat jahat lagi pada Khalisa sebab Azfan telah terbukti mampu menyelamatkan Khalisa hingga dua kali.


"Koko!" Khalisa berseru melihat Levin keluar dari masjid, ia mengulas senyum lebar menghampiri Levin.


Untuk sesaat Levin terpaku melihat Khalisa setelah beberapa bulan mereka tidak bertemu. Levin sudah mendapat undangan pernikahan Khalisa sehingga untuk saat ini sebenarnya ia tidak siap bertemu gadis itu. Levin belum sempat menguatkan hatinya. Levin tak menyangka jika Khalisa dan Azfan akan menikah secepat itu. Membayangkan Khalisa bersanding dengan Azfan di pelaminan saja cukup membuat Levin sakit hati. Bahkan ia kurang tidak beberapa hari ini sejak mendapat kabar pernikahan tersebut.


Levin pikir setelah cukup lama tidak bertemu dan bertukar pesan dengan Khalisa bisa membuatnya lebih mudah melupakan gadis itu. Namun Levin salah besar karena nyatanya perasaan itu masih bersemayam di dalam hatinya hingga sekarang.


"Mohon maaf lahir dan batin Ko, pasti selama ini aku banyak salah sama Ko Levin maka aku mohon dengan sangat untuk Koko maafin aku."


Levin tersenyum, "kamu adik aku yang paling baik bahkan lebih baik dari Meylin, aku juga minta maaf ya sama kamu."


Khalisa melihat wajah Levin begitu lesu, pasti berat untuk Levin merayakan kemenangan tanpa keluarga disaat semua orang bergembira menyambut Idhul Fitri dengan keluarga mereka.


"Koko ke rumah yuk." Ajak Khalisa.


"Aku harus balik ke rumah sakit."


"Loh, Koko nggak ambil cuti?" Khalisa mengerutkan kening.


"Besok aku ambil cuti khusus buat kamu dan Azfan." Levin tersenyum lebar berusaha menahan perih yang menusuk-nusuk hatinya.


"Makasih ya Ko." Ucap Khalisa tulus. "Aku samperin Pak Daniel dulu." Ia buru-buru menghampiri Daniel di teras masjid untuk meminta maaf.


Daniel memeluk Levin dan menepuk punggungnya beberapa kali, "aku pikir kamu pulang Ke Jogja."


"Enggak Pak, lagian disini sama di Jogja sama aja." Levin tersenyum getir, di keluarganya hanya ia sendiri yang beragama muslim sehingga tempat manapun terasa sama. Ia menganggap semua muslim juga keluarganya.

__ADS_1


"Kalau gitu ayo ke rumah, kamu pasti belum makan kan?" Ajak Daniel.


"Maaf Pak, saya harus kembali ke rumah sakit."


"Oh, kalau gitu nanti setelah pulang dari sana langsung ke rumah ya."


"Inshaa Allah Pak Daniel."


Mereka berpisah disana karena Levin harus bersiap-siap kembali ke rumah sakit.


Sebelum pulang mereka lebih dulu mampir ke rumah Arfan. Zayaan telah menyiapkan berbagai kue kering yang dibuatnya sendiri bersama putrinya Aminah yang untungnya juga suka membuat kue. Mungkin karena Arfan dan Zayaan sama-sama sering berada di dapur. Selain memiliki bisnis makanan, Zayaan juga suka mencoba-coba membuat resep sendiri.


"Ini apa?" Ica penasaran pada kue berbentuk lingkaran dengan gambar senyum di depannya.


"Itu Smiley Cake kata Aminah." Jawab Zayaan. "Boleh dicoba."


"Masya Allah, Aminah pinter banget bikin kuenya." Ica mengambil satu kue itu dan memberikannya pada Daniel lebih dulu.


"Enak." Daniel menyuapkan separuh kue itu pada Ica.


"Khalisa, Azmal, Zunaira nggak mau coba?" Zayaan melihat anak-anak Ica bergantian.


"Penasaran Aunt." Khalisa lebih dulu mencomot kue berbentuk emoticon smile tersebut diikuti Azmal dan Zunaira. "Wah Aminah kamu jago banget bikin kuenya."


"Aku mau jualan kue juga kayak Umma sama Abuya kak." Kata Aminah dengan bangga.


"Masya Allah, jiwa pebisnis sejak kecil."


"Zunai mau bawa pulang kue itu, Ma." Zunaira berbisik pada Ica, bisikan yang terlalu keras hingga semua orang mendengarnya.


"Ih malu sama Uncle dan Aunty loh bilang kayak gitu." Ica merendahkan suaranya.


"Zunaira tenang aja, Aunty udah bungkusin kue buat Zunai untuk dibawa pulang, ya."


Zunai tertawa malu-malu, "makasih ya Aunty, Uncle, Kak Aminah."


"Sama-sama, kamu lucu banget sih." Zayaan mencubit pipi gembul Zunaira pelan.


Setelah beberapa saat mengobrol dan menghabiskan minuman yang disajikan oleh Zayaan, mereka pamit pulang. Ica dan Daniel juga harus mengunjungi orangtua Ica di Glenmore.


******


Daniel dan Ica duduk di sofa panjang ruang tengah sementara anak-anak mereka menunggu giliran untuk sungkem memohon maaf atas kesalahan mereka selama ini.


Khalisa berjalan dengan lututnya lalu duduk di lantai menggenggam tangan Daniel dan menciumnya.


"Khalisa minta maaf kalau selama ini Khalisa banyak salah sama Papa, Khalisa memohon ridho Papa untuk pernikahan Khalisa besok, Khalisa sayang Papa." Khalisa memeluk Daniel sangat lama.


"Papa juga minta maaf karena pasti sebagai orangtua, Papa banyak kekurangan tapi Papa selalu berusaha memberikan yang baik untuk Khalisa, Papa selalu berdoa untuk kebahagiaan Khalisa." Daniel mencium kening lalu kedua pipi Khalisa, ia menahan tangisnya dengan sekuat tenaga karena ini adalah hari bahagia tidak seharusnya Daniel menangis.


"Ma, Khalisa minta maaf yang sebesar-besarnya sama Mama atas semua kesalahan Khalisa selama ini." Khalisa mencium punggung tangan Ica dan memeluknya, "terimakasih Mama selalu jadi Mama, sahabat dan kakak untuk Khalisa."


"Mama juga minta maaf sama Cece ya, pasti ada ucapan atau tindakan Mama yang bikin Cece sakit hati maka Mama minta maaf untuk itu." Ica mencium kening, kedua pipi dan hidung Khalisa. Ica menatap wajah sang anak sulung dan mengelusnya sebentar, setelah ini putri kecilnya ini akan menjadi istri seseorang. Waktu berlalu begitu cepat, Ica masih rindu canda tawa anak-anak di rumah ini. Namun inilah proses yang ia lalui sebagai orangtua.


Khalisa duduk di samping mamanya, kini giliran Azmal sungkem pada orangtuanya dan Khalisa. Si anak tengah yang paling pendiam tapi perhatian dalam satu waktu.

__ADS_1


"Azmal suka nggak sama Mas Azfan?" Tanya Khalisa dengan suara pelan saat Azmal duduk di sampingnya setelah Zunaira mendapat giliran terakhir untuk meminta maaf.


"Suka." Azmal mengangguk. "Nanti Mas Azfan pasti akan menuruti permintaan Cece walaupun itu aneh."


Khalisa mengerutkan kening, "memangnya Cece pernah minta sesuatu yang aneh?"


"Sering Ce."


"Apa itu?"


"Contohnya minta Mama masak pancake sampai gosong."


"Ssshhh!" Khalisa memukul paha Azmal pelan, sesungguhnya ia tidak meminta hal itu tapi karena ia tahu kebiasaan mamanya yakni memasak pancake hingga gosong. Itu membuat lidah Khalisa terbiasa memakan pancake gosong dan sampai sekarang mamanya mengira ia menyukai pancake yang gosong. Begitulah cara mereka menghargai seorang mama yang telah mengerahkan waktu dan tenaga untuk memasak.


"Cece, Zunaira minta maaf kalau selama ini ada salah sama Cece dan tolong kasih Zunai THR yang banyak." Zunaira sok serius saat meminta maaf pada Khalisa yang justru membuat Khalisa amat gemas.


"Sebutkan saja angkanya maka Cece akan kasih." Khalisa merapikan jilbab Zunaira karena rambutnya sedikit terlihat.


"Baik Ce, seratus ribu."


"Oke." Khalisa mengeluarkan amplop bergambar ketupat dan menyodorkannya pada Zunaira. Ia memang memasukkan seratus ribuan ke dalam amplop itu karena tiap tahun Zunaira selalu menyebutkan angka itu. "Buat adik Cece yang paling ganteng juga." Khalisa juga memberikannya pada Azmal.


"Xie-xie Ce." Ucap Azmal dan Zunaira bersamaan.


Setelah bermaaf-maafan mereka bergegas pergi ke ruang makan untuk sarapan. Dua ART di rumah itu telah memasak berbagai macam makanan khas Idhul Fitri seperti opor ayam, ketupat, sambal goreng ati hingga rendang. Setelah diet satu bulan, berat badan akan naik kembali dalam waktu satu hari karena makanan saat hari raya sama sekali tidak bisa ditolak. Berbagai kue kering juga hanya ada saat Idhul Fitri.


"Eh Mbak Zul, makannya sedikit banget, lagi diet ya?" Zunaira meletakkan dua potong daging pada piring Zul—salah satu ART di rumah itu.


"Kalau Bi Mar sih nggak mau diet-diet udah tua." Celetuk Mareta yang juga menikmati makanannya.


"Eh harus jaga makan biar tetep sehat." Sahut Ica memperingati Mareta.


"Eh iya Mba Ica." Mareta menunduk malu-malu.


"Mbak Zul sama Bi Mar udah packing baju belum?" Tanya Ica karena setelah sarapan dua ART nya itu akan pulang ke rumah masing-masing yang tidak terlalu jauh dari ini. Sebenarnya Ica telah memberikan libur kepada mereka sebelum Idhul Fitri tapi rupanya mereka tidak mau meninggalkan Ica sini. Mereka tahu kalau Ica tidak pandai memasak sehingga Zul dan Mar akan pulang setelah membuat masakan.


"Sudah Bu." Jawab mereka.


Mereka menikmati sarapan pagi itu dengan canda tawa seperti layaknya keluarga.


*******


Ombak lembut pantai Bomo menyambut kedatangan Azfan dan keluarga besarnya. Resor tersebut ditutup untuk umum dan dikhususkan untuk keluarga Azfan yang akan menginap hingga lusa.


Dua orang karyawan mengarahkan mereka menuju kamar masing-masing di lantai dua. Resor itu cukup untuk menampung semua keluarga besar Azfan yang berjumlah 30 orang.


"Silakan Mas Azfan di kamar nomor 3." Salah satu karyawan memberikan kunci kartu pada Azfan, sesuai pesan Khalisa, Azfan diminta untuk menempati kamar nomor 3 yang menjadi favorit Khalisa saat bermalam disini.


"Terimakasih Mbak." Azfan melangkah menaiki tangga sedangkan keluarganya yang lain sudah lebih dulu melihat kamar mereka masing-masing.


Tidak susah mencari kamar nomor 3 karena keberadaannya dekat dengan tangga.


Azfan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur yang empuk dan memeriksa ponsel. Ada banyak pesan masuk dari grub HAWASI tapi Azfan mengabaikannya. Ia melihat pesan terakhirnya bersama Khalisa 3 hari yang lalu saat Khalisa mengirim foto pakaiannya yang sudah selesai dijahit.


Waktu berjalan begitu lambat, Azfan ingin esok hari segera tiba. Meski setelah ini tanggungjawab nya juga akan bertambah, tak hanya sebagai kakak laki-laki tapi juga seorang suami.

__ADS_1


Azfan juga harus siap memasuki dunia Khalisa yang ramai dan jauh beberapa dari dunianya. Pernikahan ini akan mengubah hidup Azfan. Namun ia merasa mempunyai bekal yang cukup untuk memulai pernikahan, ia telah belajar fiqih munakahat. Sebelum kuliah Azfan juga mempelajari kitab Fathul Izar di pondok yang dulu ia anggap tabu tapi ternyata itu amat penting karena pernikahan adalah ibadah yang paling lama. Jika tidak cukup ilmu maka hanya akan mendatangkan dosa.


__ADS_2