
"Eh pengumuman pemenang lomba MTQ dari semua cabang udah keluar." Huma menepuk-nepuk lengan Khalisa yang berjalan di sampingnya. Mereka baru keluar kelas setelah mengikuti ujian akhir hari pertama.
Khalisa ikut melihat layar ponsel Huma membaca pengumuman lomba yang dilaksanakan 5 hari di kampus UII.
"Azfan masuk juara favorit juri." Huma masih heboh menepuk lengan Khalisa padahal Khalisa juga sudah melihatnya.
Khalisa membaca nama Azfan berada di deretan peserta yang masuk juara favorit juri, "wah lumayan juga untuk pengalaman pertama ikut lomba, Azfan bisa menduduki juara walaupun bukan juara utama."
"Lihat deh apa yang lagi trending di YouTube." Huma semakin heboh membaca judul video yang menduduki trending nomor 1 di YouTube.
"Tak hanya tampan, mahasiswa UII ini juga memiliki suara merdu." Khalisa membaca judul tersebut dengan suara lantang, terdapat foto Azfan sedang duduk di panggung. Itu adalah video saat Azfan membaca Alquran pada lomba MTQ malam itu.
"Wah Azfan terkenal dalam sekejap." Huma memasukkan ponselnya, ia akan menonton video itu nanti karena sekarang mereka sedang menuju ke kantin. Huma tidak bisa fokus menonton sambil berjalan.
Harusnya Khalisa senang jika akhirnya Azfan banyak dikenal orang karena selama ini cowok itu seperti seekor kucing yang bersembunyi di bawah meja karena takut dengan dunia luar. Ini akan menjadi langkah awal Azfan mencoba pengalaman baru dan memiliki lebih banyak teman. Namun ada rasa tidak rela dalam diri Khalisa jika nanti Azfan memiliki banyak teman lain, ia takut ditinggalkan. Khalisa harus membuang perasaan itu jauh-jauh karena ini adalah hal positif bagi Azfan.
"Mau makan apa?" Tanya Huma sesampainya di kantin yang sudah ramai oleh mahasiswa lain.
"Nasi gila aja."
"Ya udah kamu cari meja kosong gih biar aku yang pesen."
Khalisa mengangguk meninggalkan Huma menuju salah satu meja kosong di tengah kantin. Ia menyapa beberapa orang yang dikenalnya di kantin tersebut. Mereka menawarkan Khalisa untuk duduk bergabung tapi ia yakin Huma tidak akan mau.
"Khalisa." Seorang mahasiswi menghampiri Khalisa.
"Ya?" Khalisa mengenal mahasiswi tersebut, ia adalah Kiara yang juga merupakan anggota HAWASI dari FIAI. "Kenapa Kiara?"
"Tahu nggak dua anggota organisasi kita yang ditunjuk Kak Hasan untuk ikut lomba, dua-duanya dapat juara."
"Oh ya?" Khalisa pikir hanya Azfan yang mendapat juara tapi ternyata Syifa juga mendapatkannya.
"Syifa juara satu tartil putri, wah sebagai anggota HAWASI kita jadi ikut bangga."
"Alhamdulillah, aku belum sempet baca semua nama-nama juaranya, syukurlah kalau gitu nama organisasi kita juga akan makin dikenal banyak orang."
"Tapi HAWASI kan emang udah terkenal, Sha."
"Iya sih." Khalisa tertawa begitupun dengan Kiara. Pandangan Khalisa teralih pada sesuatu di belakang Kiara sekitar 5 meter dari sini, yakni Azfan sedang dikerubungi mahasiswi yang memberi selamat padanya. Bahkan beberapa dari mereka memberikan bunga pada Azfan.
"Nah itu bintang kampusnya, aku duluan ya." Kiara melambaikan tangan pada Khalisa karena ia hendak memberi selamat juga pada Azfan.
Meski bibir Khalisa tersenyum tapi entah kenapa hatinya seperti diiris-iris oleh sesuatu yang tajam melihat pemandangan itu. Khalisa tidak boleh begini, harusnya ia ikut bahagia untuk Azfan.
"Muka kamu kok gitu?" Huma datang membawa dua piring nasi gila dan teh botol di sela lengannya.
"Kenapa?" Khalisa mengambil botol lebih dulu agar Huma mudah meletakkan makanan di atas meja.
"Merah banget." Huma duduk di hadapan Khalisa, biasanya wajah Khalisa akan memerah jika kepanasan tapi suasana kantin saat ini tidak begitu panas berkat 3 buah AC yang dipasang di berbagai sisi. "Ini pedes lo nasinya."
__ADS_1
"Iya tahu."
"Maksudnya kamu belum makan pedes aja udah merah gitu mukanya."
"Panas." Khalisa mengipas wajahnya dengan tangan. Tadinya memang tidak panas tapi setelah beberapa saat duduk di kantin ini tiba-tiba Khalisa merasa panas. Apakah AC nya mati? Khalisa bahkan mengedarkan pandangan ke arah AC karena ingin tahu apakah mereka beroperasi dengan baik atau tidak.
"Minum dulu nih." Huma menyodorkan teh botol yang sudah ia buka tutupnya pada Khalisa.
"Makasih." Khalisa meneguk sebotol teh itu setelah mengucap bismillah. Sensasi dingin mengalir ke seluruh tubuh Khalisa membuatnya merasa lebih baik. Khalisa mengambil sendok dan garpu lalu mengaduk nasi dengan topping sosis, bakso, telur dan sawi tersebut.
"Aku boleh gabung nggak?" Clarin menghampiri meja Khalisa dengan membawa nampan berisi soto dan teh botol.
Khalisa dan Huma mendongak mendengar seseorang yang hendak bergabung dengan meja mereka.
"Duduk aja." Khalisa mempersilakan Clarin duduk, ia yakin tak ada meja kosong lagi di kantin.
"Itu lagi pada ngapain sih?" Clarin memanjangkan lehernya demi melihat sesuatu yang dikerubungi oleh mahasiswi seperti semut yang mengerubungi gula.
"Ada mahasiswa angkatan kita yang menang lomba MTQ kemarin." Jelas Huma.
"Oh." Clarin manggut-manggut kembali fokus pada soto di hadapannya, ia tidak terlihat tertarik pada berita heboh tersebut. "Di kelasku juga ada yang juara katanya, Syifa ya namanya?"
"Iya." Khalisa menjawab.
Khalisa kembali melirik Azfan, satu per satu mahasiswi mulai meninggalkan cowok itu. Azfan tampak memegang beberapa bunga dan makanan pemberian teman-temannya tadi.
Bukankan ini yang selalu Khalisa inginkan yakni Azfan dikenal banyak orang dan memiliki teman baru. Namun setelah itu terjadi Khalisa justru tidak senang.
Azfan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur berukuran 120×200 yang hanya cukup untuk dirinya sendiri. Bertemu banyak orang membuat energi Azfan terkuras. Lebih baik Azfan melayani puluhan pembeli dari pada membalas sapaan teman-temannya sesama mahasiswi. Azfan jadi ingat pada Khalisa yang bisa akrab dan menyapa semua orang, menurutnya Khalisa luar biasa.
Azfan melihat bunga dan beberapa kotak hadiah dari teman-teman yang tidak ia kenal. Tadi Azfan sudah berkenalan tapi tidak bisa mengingat nama mereka. Tentu saja Azfan tidak bisa mengingatnya karena ia bukan Khalisa yang memiliki kelebihan mengingat nama semua orang yang pernah ditemuinya.
Azfan ingin tidur sebentar sebelum pergi ke bangunan toko pemberian Daniel yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat kosnya. Beberapa hari yang lalu Azfan telah melihat lokasi dan interior toko tersebut. Dan hari ini Azfan ingin membersihkannya lagi sebelum memajang beberapa kaligrafinya.
Azfan mengurungkan niatnya untuk tidur, ia bergegas mengganti pakaian dengan yang lebih santai dan keluar tempat kosnya. Ia tidak boleh menunda pekerjaan.
"Mas, mau kemana?" Suara Ayu terdengar tak jauh dari Azfan.
Azfan yang sudah naik ke motor menoleh pada Ayu, "mau ke toko."
"Oh iya, katanya Mas Azfan mau buka toko kaligrafi sendiri ya?"
"Insha Allah tapi nggak dalam waktu dekat karena aku mau fokus ujian dulu."
"Oh iya katanya juga Mas menang lomba MTQ itu ya, aku lihat juga lo waktu Mas tampil di atas panggung, selamat ya Mas."
"Makasih ya kamu udah dateng." Azfan tersenyum simpul.
"Ibu ngajak Mas makan di rumah nanti malem kalau nggak sibuk."
__ADS_1
"Oh ya?" Azfan ingin menolak karena ia sungkan dengan semua kebaikan orangtua Ayu yang sering memberinya makanan lalu sekarang ia diajak makan di rumah Ayu. Tapi walau bagaimanapun Azfan tidak enak jika menolaknya. "Terimakasih ya bilang sama Ibu, inshaa Allah nanti aku kesana."
"Iya, sampai ketemu nanti malem Mas." Ayu melambaikan tangan dengan senyum sumringah di wajahnya karena Azfan memenuhi undangannya untuk makan bersama.
Perjalanan dari tempat kos ke area pertokoan yang juga dekat dengan pasar pakem hanya memakan waktu sekitar 10 menit menggunakan motor.
"Bismillah." Azfan berbisik sebelum membuka kunci Bungan toko berukuran 7×5 meter tersebut. Toko itu tentu lebih besar dari tempat kos Azfan dan terdapat kamar mandi serta ruangan kecil yang cukup digunakan untuk shalat.
Sebenarnya Azfan tidak sabar ingin memajang banyak kaligrafi disini tapi ia hanya memiliki beberapa kaligrafi yang sudah jadi di tempat kosnya. Selama ini Azfan hanya berkesempatan membuat kaligrafi untuk toko tempatnya bekerja. Itupun ia tidak bisa bebas menentukan bacaan dan gaya tulisannya sendiri karena semua sudah ditentukan oleh pemilik toko. Sekarang Azfan berharap dengan memiliki toko sendiri ia lebih bisa mengembangkan hobinya.
"Assalamualaikum."
Azfan membalikkan badan mendengar suara yang tidak asing di telinganya, apakah ia salah dengar?
"Waalaikumussalam, Khalisa." Azfan kaget melihat Khalisa disini, ia melangkah menghampiri gadis yang berdiri di ambang pintu tersebut. "Kamu disini?"
"Iya barusan aku beli buah soalnya tadi pagi nggak sempet," Khalisa sedikit mengangkat kantong belanjanya yang berisi buah apel, pir, buah naga dan jeruk. "terus aku lihat toko ini buka jadi aku samperin kesini."
"Kamu sendirian?"
"Iya tadinya mau ngajak Rindang tapi dia belum pulang dari kampus kalau nunggu takutnya kemaleman."
"Mau masuk?" Azfan mundur untuk membiarkan Khalisa masuk.
"Boleh." Khalisa meletakkan tas belanjanya di samping pintu dan masuk ke dalam toko yang telah menjadi milik Azfan tersebut. "Ini mau dicat ulang nggak?" Khalisa mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru toko yang masih kosong, hanya terdapat beberapa penyangga kanvas di sudut ruangan.
"Nggak usah catnya masih bagus kok." Selain masih bagus, Azfan ingin menghemat biaya dengan membeli sesuatu yang benar-benar diperlukan.
"Oh iya, aku lupa ngasih kamu selamat atas juara favorit pilihan juri yang berhasil kamu dapetin, kamu hebat banget Fan."
Azfan menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal, ia curiga ada bulu ulat yang menempel disana, ulat imajiner yang akan selalu muncul ketika ia sedang gugup.
"Semua ini berkat kamu juga yang selalu ngasih aku semangat."
"Tadi kamu juga dikerumuni banyak ukhti di kampus." Khalisa melihat ke sembarang arah saat mengatakan itu. Lihatlah wanita memang hobi memancing kemarahan dalam dirinya sendiri seperti yang Khalisa lakukan sekarang. Namun Khalisa berpikir untuk apa ia marah hanya gara-gara Azfan mendapat banyak ucapan selamat. Pasti pikiran Khalisa sedang tidak sehat sekarang.
Azfan tersenyum hambar, jika boleh memilih ia tidak ingin menjadi pusat perhatian seperti tadi.
"Kamu seneng kan?" Tanya Khalisa.
"Seneng Alhamdulillah." Siapa yang tidak senang mendapat juara meski itu bukan juara utama melainkan karena favorit para juri. Namun tetap saja Azfan bahagia dan bangga mendapat pengalaman berharga seperti ini. Ibunya juga luar biasa senang saat mendapat kabar tersebut, Azfan jadi tidak sabar untuk pulang setelah liburan nanti.
"Oh." Khalisa hanya ber-Oh ria mendengar jawaban Azfan. Tuh kan dia seneng dikelilingi cewek-cewek cantik nan baik hati yang ngasih dia banyak hadiah. "Kalau gitu aku balik dulu ya."
"Hm?" Alis Azfan terangkat, kok tiba-tiba? "Iya Khalisa sebelum langitnya gelap."
"Assalamualaikum." Khalisa menarik kantong belanjanya dengan kasar, bahkan ia tidak sabar telah melakukan itu.
"Waalaikumussalam, hati-hati Khalisa."
__ADS_1
Khalisa tidak lagi membalas kalimat Azfan bahkan ia sama sekali tidak menoleh. Khalisa melangkah cepat dan masuk ke dalam mobilnya yang diparkir tak jauh dari toko Azfan.