
"Ma, Khalisa nggak mau dilamar." Ucap Khalisa ketika mereka kembali ke mobil. Perasaannya saat ini campur aduk antara kaget, takut dan bingung karena mereka belum saling kenal. Obrolan pertama mereka langsung membicarakan tentang hubungan yang serius dan Khalisa sama sekali tidak siap untuk itu.
"Mama tahu." Balas Ica tetap fokus pada jalanan. "Tapi nggak bijak kalau kita langsung menolak atau menerima lamaran Fawas, apa alasan Ce Khalisa nggak mau?"
Khalisa berpikir, ia tidak memiliki alasan untuk itu karena ketika mendengar ucapan Husein tadi ia langsung ingin menolak lamaran tersebut karena ia tidak suka. Meski semua orang tahu bahwa Fawas adalah laki-laki baik, pintar dan shalih, wajahnya juga tampan karena darah Arab mengalir di tubuhnya. Benar kata mamanya, sungguh tidak bijak jika mereka langsung menolak lamaran tersebut.
"Kita harus menyertakan Allah disetiap urusan kita termasuk untuk memutuskan hal ini, mungkin sekilas Khalisa nggak suka tapi gimana kalau ternyata Fawas adalah laki-laki yang Allah kirimkan untuk Khalisa?" Ica juga kaget ketika Husein tiba-tiba menyatakan niat untuk melamar Khalisa tadi. Namun inilah ujian menjadi orangtua, Ica harus tetap bijaksana menghadapi ini dengan memberikan pengertian terhadap Khalisa secara perlahan.
"Kita harus minta petunjuk sama Allah supaya nggak salah dalam mengambil keputusan."
Khalisa menunduk tidak dapat membalas ucapan mamanya karena kalimat itu tidak salah. Hanya saja Khalisa tidak siap untuk menikah dalam waktu dekat, atau sebenarnya ia sedang menunggu seseorang?
"Mama juga gitu waktu Papa melamar?"
Ica menaikkan alis tak menduga bahwa Khalisa akan menanyakan hal itu. Dulu ia juga menolak lamaran Arfan dua kali karena ia tidak yakin pada lelaki itu. Namun ketika Daniel datang melamar, dengan mengucap bismillah memohon kemudahan pada Allah, ia menerima lamaran tersebut.
"Tentu saja, menikah itu adalah ibadah yang paling lama jadi kita nggak boleh buru-buru untuk hal ini."
Khalisa mengalihkan pandangan keluar jendela, pemandangan pantai mulai terlihat yang berarti tujuan mereka hampir sampai. Khalisa galau karena hatinya berkata ia tidak mau menerima lamaran itu. Namun benar ucapan mamanya, bagaimana jika Fawas adalah laki-laki yang Allah kirimkan untuknya.
"Mama dulu juga pernah dilamar sama laki-laki selain Papa kamu."
Ucapan Ica membuat Khalisa menoleh, ia memperhatikan mamanya menunggu kalimat selanjutnya.
"Waktu Mama kaget sekali karena nggak pernah menyangka kalau dia akan melamar Mama di kantin, ada Tante Dianis juga, dia laki-laki baik dan shalih bahkan banyak perempuan yang menyukainya tapi hati kecil Mama berkata enggak, Mama bilang belum siap menikah karena mau fokus kuliah dan waktu itu Mama sadar kalau kalimat itu hanya kedok untuk menolaknya agar dia nggak terlalu sakit hati."
"Lalu pada suatu waktu dia melamar untuk kedua kalinya dan bilang kalau dia dijodohkan dengan perempuan pilihan Abah nya."
__ADS_1
"Terus?" Khalisa makin penasaran.
Mobil Ica berhenti di depan resor tapi mereka tidak berniat untuk segera turun.
"Mama bilang pilih lah perempuan itu dan temukan namanya dalam shalat istikharah kamu, saat itu Mama merasa jadi perempuan jahat karena udah nolak dia dua kali tapi akhirnya sekarang dia bahagia sama istrinya dan Mama bahagia sama Papa terus dikasih anak-anak yang Alhamdulillah baik-baik seperti kamu, Azmal dan Zunaira."
Khalisa tersenyum, ia juga berharap apapun keputusan yang ia buat semuanya akan berjalan dengan baik.
"Khalisa kenal nggak sama orangnya?"
"Uncle Arfan."
Mata Khalisa membulat, ternyata dulu Arfan pernah melamar mamanya. Pantas saja Khalisa merasa ada yang berbeda dari pandangan Arfan pada mamanya. Namun Khalisa tidak berani bilang siapapun karena mungkin itu hanya perasaannya saja. Khalisa juga tahu hubungan Arfan dan Zayaan sangat harmonis.
"Terus sekarang Papa bilang apa sama mereka Ma?" Khalisa turun dari mobil menyusul Ica.
Khalisa mengangguk, ia percaya sepenuhnya pada Daniel—cinta pertama Khalisa. Laki-laki yang akan selalu berpihak pada Khalisa. Sosok yang paling Khalisa kagumi seperti halnya ia mengagumi Ica.
"Cece!" Sosok Kafa berteriak dari pintu resor, ia berlari ke arah Khalisa dan Ica. "Kok Ce Khalisa nggak bilang kalau mau pulang?"
"Sengaja mau bikin kejutan, niatnya mau ke rumah kamu nanti siang eh kamu dateng duluan." Khalisa mengajak sepupunya itu masuk untuk sarapan bersama. Khalisa perkirakan croissant yang Dianis buat tadi sudah matang. Sedangkan Ica melanjutkan pekerjaannya di lantai dua.
Restoran yang berada di lantai satu resor telah menyajikan menu sarapan bagi para tamu pada meja panjang agar mereka bebas memilih makanan sesuai selera. Sarapan pagi ini merupakan menu khas negara Perancis seperti Chouquette, Pain Aux Raisins yang berisi kismis dan creme patissiere serta Croissant meski asalnya dari negara Austria tapi Croissant populer di negara Perancis.
Khalisa dan Kafa memilih meja di tengah ruangan bersama tamu yang lain. Mereka memakan Croissant dengan saus stroberi serta teh hangat.
"Calon mahasiswa udah siap berangkat ke Jogja?" Khalisa menggoda Kafa yang sebentar lagi akan mulai berkuliah.
__ADS_1
"Aku justru nggak sabar pengen merasakan panasnya matahari Jogja, Ce Khalisa pasti juga kaget kan waktu dari Jogja kesini karena cuaca Banyuwangi terasa lebih dingin." Kafa memotong Croissant menjadi dua bagian lalu mencelupkan nya ke dalam saus.
"Bener, aku udah antisipasi minum vitamin C dari kemarin."
"Tapi Kulit Cece sama sekali nggak gosong lo."
"Karena pakai baju panjang terus sama pakai sunblock wajib."
"Besok Akong minta kita ke rumah sakit."
"Oke." Khalisa ikut menyantap Croissant miliknya.
Khalisa tak pernah bingung mengisi waktu liburannya karena ia bisa pergi ke rumah neneknya, resor, rumah sakit, hotel Jinggo, Alindra Carnival dan Alindra Mall sebagai pilihan terakhir. Khalisa bisa menemukan banyak teman di semua tempat itu.
"Kamu mau tinggal sama aku nggak?"
Kafa menggeleng, Renata telah memilih apartemen yang cocok untuknya, katanya hanya berjarak 1 kilometer dari apartemen Khalisa.
"Ama baik-baik aja kan akhir-akhir ini?" Khalisa takut jika kabar pelecehan seksual yang ia alami satu bulan lalu akan sampai ke telinga Renata dan Jaya. Khalisa tidak mau kejadian itu membebani pikiran Ama dan Akong nya serta kakek neneknya. Cukup Khalisa dan orangtuanya yang tahu tentang hal itu. Semakin banyak yang tahu maka Khalisa juga akan sibuk membuat mereka yakin bahwa dirinya baik-baik saja saat ini.
Mereka tak perlu tahu tangisan Khalisa di malam hari ketika ia mengingat kejadian itu. Khalisa terlihat kuat di depan banyak orang tapi saat sendiri ia benar-benar rapuh. Khalisa hanya bisa bersimpuh di atas sajadah dengan berderai air mata.
"Alhamdulillah Ama sehat Ce, kenapa?"
"Nggak apa-apa, aku cuma khawatir tekanan darah Ama naik lagi."
Usai makan Khalisa pergi ke kamar yang telah dipesannya sedangkan Kafa bergegas pulang untuk ikut kajian bersama Umar—Abinya di masjid Al-Fatah yang cukup dekat dari rumahnya.
__ADS_1
Khalisa mengingat ekspresi Fawas tadi saat melihatnya dari dekat, lelaki yang beberapa tahun lebih tua darinya itu terlihat sangat dewasa. Khalisa mengambil tasbih digital dari dalam tasnya. Berdzikir adalah cara Khalisa untuk menenangkan diri dari hal yang begitu tiba-tiba ini. Khalisa juga berbisik dalam hati agar Allah memberinya jawaban dari kegelisahannya saat ini. Hati Khalisa jelas berkata tidak tapi apakah keputusannya itu diridhoi oleh Allah atau sebaliknya.