Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
140


__ADS_3

Levin memasang jarum pada pen lancet untuk memeriksa gula darah Rindang. Levin termangu beberapa saat memandangi bekas luka tusukan jarum di ujung jari Rindang. Akhirnya Levin meraih tangan kiri Rindang tapi ia menemukan bekas luka yang sama disana. Air mata Levin merebak, ia tak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang harus Rindang alami setiap harinya. Levin menggeleng cepat untuk mengembalikan konsentrasinya, ia harus segera memeriksa Rindang.


Levin menusukkan jarum pada telunjuk Rindang, setelah mengeluarkan darah ia menempelkannya pada strip tes gula darah.


"Maaf Pa, boleh ngebut sedikit lagi?" Ujar Levin pada Jonas ketika ia melihat angka pada glukometer menunjukkan 60 mg/DL. Itu angka yang sangat rendah hingga membuat Rindang tidak sadarkan diri.


"Berapa gula darahnya?" Michelin menoleh ke belakang dengan raut wajah khawatir.


"60 Ma."


"60?!" Michelin semakin kalut, beberapa kali gula darah Rindang memang sempat drop tapi biasanya berada pada kisaran angka 100.


"Ma, boleh tolong ambilin hp Levin di dashboard?"


"Oke." Michelin meraba-raba dashboard mobil hingga ia mendapatkan ponsel milik Levin.


"Makasih Ma." Ibu jari Levin bergerak tak sabaran pada layar ponselnya dan menghubungi rumah sakit Kafasa agar mempersiapkan brankar untuk Rindang.


Levin melompat keluar lebih dulu bahkan sebelum mobil berhenti dengan sempurna. Beberapa perawat mendorong brankar mendekat ke mobil Levin.


"Tolong siapkan dekstrosa 40%." Levin memindahkan Rindang dari mobil ke brankar. "Saya yang akan menanganinya."


Mahkota yang tadinya bertengger indah di atas kepala Rindang terjatuh saat Levin mengangkat tubuhnya. Levin mengabaikan benda tersebut, itu bukanlah hal yang penting sekarang.


"Tapi bukankah dokter Levin sedang cuti?"


"Saya yang paling paham kondisinya." Levin setengah berlari mendorong brankar menuju UGD. Levin segera mengganti jas dengan jubah dokternya. "Gula darahnya 60 mg per DL." Jelas Levin pada perawat yang sedang bersiap membantunya. Levin mencuci tangan dan memasang medical gloves sebelum melakukan tindakan.


Seorang perawat melepas cadar Rindang, mereka melihatnya prihatin karena dihari bahagianya Rindang harus mengalami ini.


Untuk sesaat Levin memperhatikan wajah Rindang yang pucat pasi. Tak ada rona pada wajah cantik Rindang, bibirnya terkatup rapat.


"Dokter akan memberikan cairan dekstrosa menggunakan injeksi bolus IV?" Salah satu perawat melihat Levin.


"Iya."


"Ini terlalu beresiko dok."


"Saya tahu tapi kita harus segera menaikkan gula darahnya atau dia akan koma."


Levin mengoleskan krim anestesi pada tangan kiri Rindang untuk mengurangi rasa nyeri, walaupun saat ini Rindang dalam keadaan tak sadar tapi mungkin saja ia bisa merasakan sakit.


Levin menyuntikkan larutan dekstrosa pada pembuluh darah Rindang secara perlahan untuk mengurangi efek samping yang dapat ditimbulkan dari prosedur tersebut. Dua orang perawat menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan Levin dan mencatat waktu pemberian larutan tersebut.


"Maafkan aku." Levin meraih tangan Rindang yang tidak dipasangi infus lalu menggenggamnya. "Kamu pasti bisa melalui ini." Ia mengecup punggung tangan Rindang beberapa kali. Tangan yang sejak pertama kali Levin menggenggamnya terasa begitu dingin. Levin pikir itu karena Rindang gugup tapi ternyata itu adalah gejala hipoglikemia nya. Harusnya Levin bisa menyadari itu lebih awal. Levin merasa amat payah karena Rindang harus mengalami ini.


"Kami akan mengganti pakaiannya." Ucap perawat setelah mereka selesai melakukan tindakan pada Rindang.


"Mungkin sedikit lebih sulit karena pakaian pengantinnya." Dengan berat hati Levin melepas genggamannya pada tangan Rindang. Setelah beberapa saat berada dalam genggaman Levin, tangan Rindang mulai hangat.

__ADS_1


"Kami akan melakukannya dengan hati-hati." Perawat tersebut meyakinkan Levin.


"Terimakasih, kita bisa memindahkannya ke ruang rawat setelah itu."


"Baik Dok."


Levin keluar dari UGD sementara perawat mengganti pakaian Rindang dengan baju rumah sakit. Tubuh Levin lunglai saat menemui orangtua Rindang yang menunggu di depan UGD dengan wajah cemas. Khalisa dan Azfan juga berada disana, tatapan mereka tak kalah khawatir. Levin tahu mereka begitu berharap keadaan Rindang baik-baik saja tapi ia tak bisa berbohong karena saat ini Rindang belum siuman. Rindang bisa saja koma jika tak segera ditangani.


"Gimana Vin?" Michelin bangkit lebih dulu.


"Saya sudah melakukan protokol hipoglikemia tapi kita belum bisa melihat hasilnya, kami harus melakukan pemeriksaan secara berkala, semoga gula darahnya kembali stabil."


Azfan menarik tangan Levin agar duduk bersama mereka, ia tahu Levin lah yang paling terpukul atas kejadian ini sebab Levin mengetahui kondisi Rindang secara mendetail.


Kini Azfan berada di antara Khalisa dan Levin, ia menggenggam tangan Khalisa untuk menenangkannya. Azfan meyakinkan Khalisa bahwa Rindang pasti baik-baik saja meski ia tak tahu persis apa yang terjadi. Khalisa membicarakan hipoglikemia, Azfan tak berani bertanya lagi karena semua orang sedang panik. Azfan hanya bisa berdoa agar Rindang segera siuman.


Khalisa menunduk memandangi mahkota di tangannya. Ia meraba setiap swarovski yang bertabur di seluruh bagian mahkota tersebut lalu jemarinya berhenti pada sisi mahkota yang gempil akibat terjatuh tadi. Walaupun kini mahkota itu tak sempurna tapi ia sempat berada di atas kepala Rindang dan membuat Rindang terlihat amat cantik. Khalisa tak pernah melihat Rindang secantik itu, bahkan ia enggan mengedipkan mata saat pertama kali melihat Rindang keluar tadi.


Khalisa mengangkat wajah mendengar suara tangisan yang begitu familiar di telinganya. Khalisa melihat Ica melangkah ke arahnya sambil menggendong Azka yang menangis kuat.


"Azka nyariin kamu, nggak mau digendong yang lain."


Khalisa memasang senyum mengambil alih Azka di gendongan Ica. Karena setiap hari Azka hanya berada di rumah dan diurus oleh Khalisa dan Azfan dan Nadira, ia tidak terbiasa bersama orang lain. Azka sudah bisa mengenali wajah Umma dan Abi nya.


"Azka haus ya, Bi tolong bawain tas aku." Khalisa melangkah menuju ruangan khusus menyusui diikuti oleh Azfan.


"Iya." Khalisa duduk di kursi yang telah disediakan.


"Tapi itu masih luka."


"Nggak apa-apa, namanya juga nyusuin." Khalisa menatap Azka yang mulai tenang berada di gendongannya. "Mau minum nggak?"


Azka mengulurkan tangannya menyentuh pipi Khalisa yang masih basah akibat menangis barusan.


"Eh Abi mau lihat gigi Azka loh coba tunjukin."


Azfan menarik kursi untuk mendekat, "coba lihat."


"Ini Bi yang atas udah ada satu, bawah juga satu." Khalisa membuka mulut Azka agar Azfan bisa melihat pertumbuhan gigi buah hati mereka.


"Masya Allah, pantas Umma kesakitan waktu Azka nyusu."


Azka kembali merengek karena Khalisa tidak segera memberinya minum. Ia bisa tenang setelah mendapat ASI dari sang Umma sambil mendengarkan lantunan shalawat abinya.


"Aku pikir ini nggak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit yang Rindang alami, harusnya aku nggak ngeluh." Suara Khalisa gemetar, mengingat kondisi Rindang saat ini membuat air matanya kembali merebak.


"Umma boleh ngeluh." Azfan mengusap bahu Khalisa. "Kita nggak harus selalu terlihat kuat."


"Aku takut—" Kalimat Khalisa tertahan, dadanya terasa amat sesak membayangkan hal buruk yang bisa saja terjadi pada sahabatnya.

__ADS_1


"Ssshhh, Umma sendiri kan yang bilang kalau Rindang itu orangnya kuat buktinya dia bisa bertahan dengan kondisi itu."


Khalisa membuka mulut hendak membalas ucapan Azfan tapi mereka mendengar suara seseorang di luar sana.


"Kenapa kamu melakukan prosedur yang beresiko tinggi terhadap pasien, dia bisa saja mengalami hipersensitivitas atau bahkan embolisasi."


"Saya tahu resikonya tapi saya tidak punya pilihan, dia tidak sadarkan diri dan gula darahnya sangat rendah." Suara itu terdengar putus asa.


Itu adalah suara Levin, Azfan dan Khalisa saling berpandangan seolah berkomunikasi melalui pandangan tersebut.


"Sebagai dokter yang baru mulai, kamu sangat berani mengambil tindakan seperti ini, kalau terjadi sesuatu sama dia rumah sakit kita akan dituntut."


"Saya melakukan tindakan sesuai prosedur medis bukan asal-asalan."


"Kamu dokter umum disini dan saya Sp.PD harusnya kamu menghubungi saya lebih dulu."


"Kondisinya sangat kritis dan saya tidak punya waktu untuk melakukan itu, kalau dokter keberatan—saya akan mendapatkan gelar Sp.PD itu secepatnya agar saat saya melakukan prosedur seperti itu tidak ada yang meragukan saya lagi."


Terdengar langkah seseorang yang perlahan semakin samar.


"Dokter Levin, saya belum selesai bicara."


"Saya harus lihat kondisi istri saya."


Itu adalah kalimat terakhir yang bisa Azfan dan Khalisa dengar. Lalu langkah lainnya juga terdengar menjauh dari situ.


"Itu dokter Irwan, salah satu dokter spesialis penyakit dalam di rumah sakit ini." Jelas Khalisa sebelum Azfan bertanya, ia tahu Azfan ingin tahu siapa yang baru saja bicara dengan Levin.


"Apa kondisi Rindang separah itu?"


Khalisa mengangguk pelan, "kita nggak tahu kapan dia siuman karena hipoglikemia bisa membuat seseorang koma."


"Aku yakin Kak Levin sudah melakukan yang terbaik untuk Rindang."


"Rindang mengalami ini semua dihari pernikahannya."


"Semoga Allah selalu melimpahkan keberkahan untuk rumah tangga mereka setelah ini."


Khalisa mengaminkan doa Azfan. Cobaan yang berat di awal pernikahan pasti akan membuat mereka lebih kuat di masa depan. Khalisa mengusap rambut Azka, tak butuh waktu lama si kecil sudah terlelap dalam dekapan Umma nya. Khalisa merasa lebih baik setelah menyusui Azka. Jika Azka tidak datang pasti sekarang Khalisa masih menangis.





Reader: Kok fotonya nggak ada yang senyum sih?


Author: Lagi sedih woy!

__ADS_1


__ADS_2