
Berawal dari toko kecil kini kaligrafi dan kerajinan tangan Azfan sudah dipajang di toko yang tiga kali lebih besar dari sebelumnya. Mulanya Azfan membuat sendiri kaligrafi di tokonya lalu ada Geza yang membantunya. Sekarang Azfan memiliki 20 orang pegawai yang menggarap kaligrafi, hiasan dinding dan kerajinan tangan lainnya. Bahkan sekarang mereka yang juga mengirim kaligrafi ke luar negeri.
"Aku bangga sama Abi." Khalisa menggandeng tangan Azfan ketika mereka turun dari mobil menyusuri jalan Malioboro yang padat oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Mereka sedang menyaksikan berbagai kerajinan tangan, batik, hingga makanan tradisional Jawa Tengah yang berada di kiri kanan jalan.
Event festival tahunan di jalan Malioboro kali ini jauh lebih ramai dari tahun sebelumnya. Ada puluhan kerajinan tangan yang dipromosikan mulai dari gantungan kunci, pajangan dinding, kain batik hingga pakaian.
Azfan mendapat kehormatan memajang kaligrafi miliknya di jalan masuk festival tersebut sehingga semua orang yang datang pasti akan melihatnya. Apalagi kaligrafi itu diletakkan pada bingkai kaca berukuran 2×2 meter. Nantinya kaligrafi itu akan dilelang dan hasilnya akan disumbangkan ke yayasan sosial.
"Aku nggak akan bisa seperti ini tanpa Umma." Azfan mengecup punggung tangan Khalisa. Entah apa yang bisa Azfan berikan untuk membalas semua kebaikan dan kesabaran Khalisa selama ini. Azfan hanya bisa memberikan seluruh hidupnya untuk Khalisa.
"Tahun ini padat banget." Khalisa merapatkan tubuhnya pada Azfan saat berpapasan dengan penghujung lain yang memenuhi jalan Malioboro sore itu. "Untung kita nggak bawa Azka."
"Karena jenis barang yang dipromosikan juga lebih banyak, Umma mau coba itu nggak?" Azfan menunjuk salah satu tenda yang menjual bubur atau biasa disebut jenang. Kadang jenang juga merujuk pada makanan yang terbuat dari tepung ketan, santan kelapa dan gula merah yang dimasak dalam waktu lama.
Namun jenang yang dimaksud Azfan sekarang adalah jenang gempol—salah satu makanan manis tradisional Yogyakarta yang terbuat dari tepung beras, tepung kanji dan santan kelapa lalu dibentuk bulat-bulat sebesar kelereng. Dahulu makanan itu banyak di jual di jalan Malioboro tapi seiring berjalannya waktu, makanan tradisional mulai tergeser oleh makanan modern. Event tahunan ini juga bermaksud untuk mempertahankan kebudayaan Yogyakarta yang banyak ditinggalkan anak-anak muda.
"Itu apa?" Khalisa tidak pernah melihat makanan seperti itu sebelumnya.
"Jenang Gempol, Umma harus coba." Azfan memesan dua porsi jenang gempol untuk dirinya dan Khalisa. "Dulu Ibu sering membuat jenang ini."
"Kayaknya enak."
"Terimakasih." Ucap Azfan seraya menyodorkan selembar 50 ribu. "Rasanya manis, coba deh." Azfan memberikan satu mangkok pada Khalisa.
Khalisa celingukan mencari kursi untuk mereka makan tapi semua kursi sudah terisi oleh pengunjung lain.
"Aku bawa ini." Azfan mengeluarkan koran dari dalam tasnya, ia memang menyiapkan itu untuk alas duduk.
Khalisa tersenyum lebar dan duduk di atas koran. Mereka bisa menikmati makanan manis itu tanpa terburu-buru karena harus berbagi kursi dengan pengunjung lain.
"Gimana?" Azfan tidak sabar mendengar komentar Khalisa tentang jenang itu.
"Enak, manis." Khalisa memakan sesuap lagi. Selain jenang gempol, ada bubur sumsum gula merah yang disajikan bersama dalam satu mangkok. "Aku pengen bawa pulang buat Azka."
"Azka nggak suka makanan manis."
"Nggak apa-apa biar Azka bisa coba juga."
"Ya udah nanti kita mampir kesini lagi kalau mau bawa pulang."
"Eh Abi inget nggak, dulu Abi punya stand disana." Khalisa menunjuk ke seberang jalan lebih tepatnya pada stand yang menjual kain batik, ia ingat dulu Azfan juga pernah ikut dalam kegiatan event tahunan ini.
"Gimana aku bisa lupa sedangkan waktu itu Umma memborong kaligrafi ku jadi Idris bisa dapat gaji lebih banyak."
"Itu doang ingetnya?"
"Ada lagi yang jauh lebih penting dan yang nggak bisa aku lupa sampai sekarang."
"Apa itu?"
"Hari itu aku bertekad untuk memperjuangkan Umma padahal aku belum punya apa-apa, beli cincin aja harus bongkar celengan dulu, bener-bener cuma bismillah aja setelah itu Allah lancarkan semuanya."
"Cincinya akan selalu disini." Khalisa menunjukkan cincin yang masih tersemat di jari manisnya. Itu akan menjadi satu-satunya perhiasan yang selalu Khalisa pakai.
Setelah menghabiskan jenang, mereka lanjut menelusuri sepanjang jalan Malioboro. Jika ada sesuatu yang menarik perhatian mereka akan singgah dan membeli beberapa kerajinan atau makanan.
"Waktu itu hati aku dipenuhi rasa bimbang, gimana kalau Mas Azfan menolak karena sudah menyukai wanita lain, gimana kalau Mas Azfan nggak suka sama aku dan pikiran-pikiran negatif lainnya."
"Aku nggak punya alasan untuk nggak memilih Haura."
Pipi Khalisa memerah mendengar kalimat itu. Mereka sudah melewati beberapa tahun bersama tapi Azfan masih bisa membuat Khalisa tersipu.
Azfan mengecup kening Khalisa seolah tak ada orang lain disitu. Khalisa terkejut lalu melirik kesana-kemari berharap tak ada yang melihatnya.
"Banyak orang Bi, malu tahu." Khalisa memukul lengan Azfan pelan.
"Nggak ada yang lihat." Azfan tersenyum jahil, kalaupun ada yang melihat itu tidak masalah lagi pula mereka pasangan suami istri. "Alih-alih menerima lamaran Kak Fawas yang sempurna, terimakasih Umma sudah memilihku."
"Bagiku, Abi yang terbaik di antara semua laki-laki."
Pengunjung semakin memadati kawasan jalan Malioboro ketika hari makin sore. Acara lelang akan segera dimulai di panggung yang terletak di ujung barisan stand.
Salah satu barang yang dilelang adalah kaligrafi bertuliskan potongan QS At-Thaha ayat 39 dengan tinta berwarna emas berukuran besar. Tak hanya terlihat mewah, kaligrafi itu memiliki arti yang indah.
"Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku."
Azfan dibantu dua karyawannya menyelesaikan kaligrafi itu dalam satu Minggu sebelum event tersebut dimulai.
"Barang pertama yang akan kami lelang adalah, kaligrafi dari Griya Ameezan karya kaligrafer dan qori terkenal Azfan Khuffa Ameezan."
"Seluruh hasil lelang akan diberikan pada lima yayasan panti sosial di Yogyakarta dan sekitarnya, kita mulai dari harga 10 juta."
__ADS_1
Seseorang mengangkat angka yang telah disediakan panitia, ia menawar dengan harga 50 juta. Lalu dua orang lainnya 75 dan 100 juta.
"Angka tertinggi saat ini 100 juta, ada yang berani menawar dengan harga lebih tinggi?"
Azfan terkejut mendengar angka itu, ia pikir kaligrafi tersebut tak akan terjual lebih dari 50 juta. Namun ada yang menawar hingga angka 250 juta.
"Tiga ratus!" Pembawa acara bersorak melihat angka 300, itu menjadi angka tertinggi karena tak ada yang berani menawar lebih tinggi dari itu. "Kalau boleh tahu dengan siapa?"
Panitia memberikan mic pada seorang laki-laki yang berhasil mendapatkan kaligrafi seharga 300 juta.
"Saya Christian Jason."
Mendengar nama itu perhatian Azfan dan Khalisa langsung teralih padanya. Mereka tidak salah dengar, itu adalah Jason yang mereka kenal.
"Dilihat dari namanya, anda seorang Kristiani benar?
"Benar."
"Lalu mengapa anda terlihat begitu menginginkan kaligrafi ini?"
"Untuk berdonasi?" Kalimat Jason terdengar menggantung, dari pada jawaban kalimat itu justru terdengar seperti pertanyaan.
"Beri tepuk tangan untuk Christian Jason yang sudah mendapatkan kaligrafi seharga 300 juta."
Tepuk tangan riuh mengikuti langkah Jason saat naik ke atas panggung. Tadinya Jason ingin mengangkat kaligrafi tersebut tapi ternyata itu sangat besar dan berat.
Dibantu empat orang panitia, Jason membawa kaligrafi itu turun dari panggung menuju tempat parkir mobil setelah menyelesaikan transaksi.
"Jason, terimakasih." Azfan menghampirinya Jason, "kamu membelinya dengan harga yang sangat tinggi."
"Aku boleh minta tolong sama kalian?" Jason melihat Azfan dan Khalisa bergantian.
Azfan setuju walaupun belum tahu apa yang akan Jason katakan selanjutnya.
"Khalisa dan Azfan, tolong berikan ini pada Levin, walaupun terlambat tapi bilang sama dia ini hadiah pernikahan dari aku." Walaupun tidak bisa memiliki Rindang tapi setidaknya Jason bisa memberikan hadiah berharga yang akan dipajang di rumah Rindang. Walaupun tidak suka, Rindang tak mungkin membuangnya.
"Kamu udah tahu kalau Ko Levin menikah dengan Rindang?" Tanya Khalisa.
Jason mengangguk, "tentu saja, kami sempat bertemu sebelum Levin pergi ke Banyuwangi."
"Kami akan menyampaikannya pada Levin dan Rindang."
"Thanks ya, aku pergi dulu." Jason segera berlalu dari sana.
Jason melangkah perlahan melewati sepanjang jalan Malioboro, ia ingin menikmati senja seorang diri di tengah lautan manusia. Jason merasa kesepian di tengah ramainya pengunjung lain. Jason bertanya-tanya apakah ia satu-satunya manusia yang merasa kesepian di luasnya bumi ini. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan Rindang.
Bukankah sebagian orang mengatakan sendiri itu menyenangkan?
******
Sebelum kembali ke rumah, Azfan dan Khalisa mampir ke Taman Baca untuk memberikan buku yang telah mereka kumpulkan dari rak di rumah mereka. Ini adalah kegiatan rutin mereka untuk memberikan buku-buku yang sudah tidak dibaca ke Taman Baca agar ada banyak orang yang bisa membaca tanpa membayar.
Mereka sengaja datang saat tempat itu sudah tutup agar tidak mengganggu pengunjung. Azfan menurunkan dua kardus buku dari bagasi. Bulan ini mereka cukup banyak membeli buku sehingga buku yang diberikan juga harus lebih banyak.
"Bi, aku mau beli minyak telon dulu di minimarket seberang ya, aku lupa minyak telon nya Azka habis."
"Kita bareng aja setelah aku ngasih buku-buku ini."
"Nggak apa-apa cuma sebentar kok." Khalisa menyeberang ke minimarket untuk membeli minyak telon Azka.
"Assalamualaikum." Azfan mengucapkan salam.
"Waalaikumussalam, wah banyak sekali kali ini." Seorang lelaki berusia 60 tahunan muncul dari salah satu rak buku yang berderet di ruangan itu. Ia adalah Irsyad pemilik tempat ini.
"Bulan ini kami membeli lebih banyak buku." Azfan meletakkan kardus itu di dekat pintu masuk.
"Duduk dulu Fan." Irsyad mempersilakan Azfan duduk. "Makasih ya, berkat kamu dan istrimu tempat ini bisa bertahan sampai sekarang."
"Sama-sama Pak Irsyad." Azfan mengulas senyum tipis, ia juga berterimakasih karena berkat Taman Baca tak ada buku yang menumpuk di rumah.
Azfan telah menyumbangkan banyak buku bahkan sebelum ia menikah. Namun dulu Azfan tak pernah membeli lebih dari tiga buku dalam satu bulan. Azfan bersyukur karena saat ini ia bisa membeli buku-buku yang dulu tak bisa dibelinya. Keuangannya lebih stabil sekarang.
"Kamu sudah sukses sekarang, bisnis mu berkembang pesat."
"Alhamdulillah, Pak."
"Kamu juga suka menolong orang lain."
Azfan melihat ke seberang jalan menunggu Khalisa keluar dari minimarket.
"Fan." Panggil Irsyad Azfan tidak fokus kepadanya.
__ADS_1
"Ya?" Azfan kembali melihat Irsyad yang duduk di hadapannya. Ia tak bisa fokus karena Khalisa tidak segera datang padahal Khalisa hanya bilang hendak membeli minyak telon. Apakah ada banyak jenis minyak telon yang membuat Khalisa bingung untuk memilihnya.
"Kalau saya minta sama kamu untuk menolong seseorang, kamu mau?"
"Tolong apa Pak?"
"Sebelumnya gimana pendapat kamu tentang poligami?"
Khalisa membawa satu kantong plastik berisi tiga botol minyak telon dan hair oil untuk Azka. Ia menoleh ke kanan dan kiri sebelum menyeberang menuju Taman Baca.
"Poligami itu diperbolehkan dan halal dalam Islam."
Langkah Khalisa terhenti mendengar percakapan Irsyad dan Azfan. Ia mengurungkan niatnya untuk bergabung ke dalam sana.
"Ada seorang wanita yang saya kenal, dia hampir menikah dengan laki-laki pilihannya tapi sayangnya lelaki itu tiba-tiba pergi dan nggak ada kabar sampai sekarang, wanita itu pernah datang ke pengajian yang kamu hadiri dan sempat memberikan surat, apa kamu nggak ingat?"
Azfan tak pernah benar-benar memperhatikan pemberian jamaah perempuan. Azfan menerima semuanya tanpa terkecuali tapi ia akan memberikan barang atau makanan dari mereka pada orang lain. Itu cara Azfan menjaga perasaan Khalisa.
"Bagaimana kalau kamu menikahinya?"
Azfan tersentak mendengar pertanyaan itu. Tentu saja ia enggan menikahi perempuan lain. Azfan tak akan pernah menduakan Khalisa.
Khalisa hampir saja menjatuhkan kantong plastik di tangannya mendengar pertanyaan Irsyad pada Azfan. Khalisa membalikkan badan dan berjalan cepat masuk mobil.
Hati Khalisa terasa perih mendengar semua itu. Matanya terasa panas bersiap mengeluarkan airnya. Dulu Khalisa sempat berpikir ia bisa saja berbagi suami dengan Naira tapi sekarang ia akan menentang dengan keras jika Azfan ingin menikah lagi. Khalisa tak akan pernah mengizinkannya sampai kapanpun.
"Maaf Pak, saya nggak bisa menikah dengan wanita manapun, bagi saya Khalisa sudah cukup."
"Dengan menikahinya itu berarti kamu menolongnya."
"Jika keadaan ekonominya kurang baik saya bisa membantunya dengan memberikan uang, saya bisa menolongnya tapi bukan dengan menikahinya, saya tahu poligami itu halal tapi saya ingin memuliakan istri saya satu-satunya yakni Khalisa, terimakasih Pak, saya pamit dulu." Azfan undur diri dari sana, ia tak mau mendengar ucapan Irsyad lagi.
"Loh Umma disini, aku tungguin keluar dari tadi ternyata udah masuk mobil." Azfan melihat Khalisa sudah berada di dalam mobil.
"Abi pernah dapat surat dari jamaah?"
Azfan menoleh pada Khalisa, apakah Khalisa mendengar percakapannya dengan Irsyad barusan. Apakah Khalisa mendengar semuanya atau hanya sebagian.
"Aku nggak ingat karena ada banyak barang yang mereka berikan setiap ada kesempatan tapi aku nggak pernah bawa pulang."
"Ini apa?" Khalisa mengeluarkan sebuah amplop dari dashboard, ia sempat ingin mengambil amplop itu dan melihat isinya. Namun karena amplop itu milik Azfan, Khalisa tak berani membukanya tanpa izin.
"Bahkan aku lupa kalau ada amplop disitu." Azfan sudah bersiap menginjak gas tapi tidak jadi karena Khalisa menunjukkan amplop padanya. "Umma buka aja, aku nggak mau ada kesalahpahaman di antara kita."
Khalisa merobek amplop itu dan mengeluarkan selembar kertas dari sana.
Assalamualaikum Ustadz Azfan, semoga selalu dalam keadaan sehat.
Saya sudah lama mengagumi Ustadz Azfan. Ustadz memiliki suara yang luar biasa indah. Jika ustadz berkenan, pasti sudah banyak yang mengatakan ini pada ustadz, saya tidak masalah menjadi istri kedua ustadz.
Tangan Khalisa gemetar membaca isi surat tersebut. Ia menatap Azfan dengan mata berkaca-kaca.
"Berikan padaku." Azfan meminta surat itu dari Khalisa.
Khalisa enggan memberikannya pada Azfan.
Azfan menarik surat itu lalu merobeknya, ia tak tahu apa isi dari surat tersebut tapi yang jelas itu telah membuat Khalisa marah.
Azfan meraih tangan Khalisa dan menggenggamnya erat, "Umma percaya nggak sama aku?"
Khalisa menunduk tidak menjawab pertanyaan Azfan, ia ingin sekali percaya sepenuhnya pada sang suami. Namun setelah mendengar percakapan Azfan dan Irsyad tadi, Khalisa jadi ragu.
"Sampai kapanpun aku nggak akan pernah menduakan Haura, cuma Haura istriku, sedikitpun nggak terlintas di pikiranku untuk menikah lagi."
Khalisa mengusap pipinya yang basah, ia tak berani membalas tatapan Azfan.
"Umma pasti nggak mendengarkan obrolan ku dan Pak Irsyad sampai selesai makanya Umma jadi salah paham gini."
Khalisa mengangkat wajah, memangnya apa yang mereka bicarakan setelah itu?
"Aku menolak keras hal itu, apapun alasannya aku nggak bisa dan nggak mau menikah lagi, kita bisa menolong mereka yang kesusahan tapi nggak mungkin aku menikahinya, cuma kamu—Khalisa Syanin Alindra—Umma nya Azka yang aku pilih sebagai istri."
Azfan menangkup pipi Khalisa, "Umma percaya kan sama aku?"
Khalisa mengangguk samar.
Azfan segera menarik Khalisa ke dalam pelukannya. Setelah apa yang mereka lalui bersama, Khalisa masih berpikir jika Azfan bisa saja menduakan nya. Membayangkannya saja Azfan tak pernah, dalam hidupnya hanya Khalisa wanita yang ia cintai.
__ADS_1
Azka: Abi dan Umma mau kemana? Azka ikuuuut!