
Mobil Levin berhenti di depan rumah dua lantai dengan gaya minimalis bercat dominan putih dan sedikit abu-abu. Beberapa hari ini Levin berusaha mencari rumah Jason karena cukup lama Jason tidak hadir ke pertemuan. Levin sudah membicarakan hal ini dengan ustadz Malik bahkan bercerita pada Azfan. Akhirnya Levin memutuskan untuk mendatangi kediaman Jason.
"Permisi Pak." Levin turun dari mobil ketika seorang satpam melihatnya. "Ini benar rumah Jason?"
"Iya benar." Jawab satpam tersebut dengan sopan.
"Saya ada perlu sama Jason."
"Mas Jason lagi keluar, nggak tahu pulangnya kapan."
"Nggak apa-apa saya tunggu." Levin sudah berada disini dan tidak mungkin ia pulang padahal urusannya belum selesai. Levin harus mengetahui alasan Jason tidak datang ke pertemuan selama satu bulan lebih.
"Coba hubungi nomornya Mas."
"Iya Pak." Levin sudah mencoba menghubungi nomor telepon Jason tapi tidak pernah diangkat. Pesan-pesan yang Levin kirimkan bahkan tidak dibaca.
"Mau tunggu di dalam atau disini?"
"Saya tunggu di dalam mobil aja." Levin kembali ke dalam mobilnya. Dengan harapan yang kian menipis Levin mencoba menghubungi Jason. Namun hasil sama, Jason mengabaikan telepon Levin.
Levin membuka laptopnya, ia akan menyelesaikan beberapa pekerjaan sembari menunggu Jason. Internship Levin sebentar lagi selesai dan ia sedang menimbang-nimbang apakah akan mengambil pendidikan spesialis atau tidak.
Levin melirik kotak hadiah di jok samping, itu adalah pakaian dan sepatu yang akan ia berikan pada anak Khalisa besok. Levin tersenyum, banyak orang yang mengatakan bahwa dirinya sempurna. Wajah rupawan, calon dokter dan orangtua yang kaya raya. Namun Levin justru mendapat penolakan dari dua wanita yang ia sukai. Levin harus sabar menunggu hingga waktu yang tak bisa ditentukan. Levin sendiri tidak tahu apakah suatu hari Rindang akan menerimanya atau justru bersama orang lain, mungkin Jason orangnya.
Levin meregangkan tubuhnya setelah cukup lama berkutat dengan laptopnya. Ia menurunkan kaca jendela mobil melihat langit yang mulai mendung, ia melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya. Dua jam Levin menunggu di mobil tapi tak ada tanda-tanda kedatangan Jason.
"Pulang nggak ya?" Levin bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Jika pulang maka penantiannya akan sia-sia.
"Mas, yakin masih mau nunggu, sebentar lagi gelap lo." Satpam rumah Jason kembali menghampiri Levin karena tidak tega melihat Levin menunggu lama sedangkan mereka tidak tahu kapan Jason pulang.
"Saya tunggu 15 menit lagi." Ucap Levin masih dengan senyum lebar di wajahnya padahal ia mulai lelah karena harus menunggu hal yang tidak pasti.
Levin penasaran apa yang membuat Jason menghilang tanpa kabar, kalaupun memang ada yang membuatnya tidak nyaman, Jason bisa menceritakan nya pada Levin. Atau kalaupun Jason ingin belajar sendiri di rumah, ia juga bisa bilang sebelumnya agar tidak membuat semua orang bingung. Apakah ini ada hubungannya dengan Rindang, Levin ingat waktu itu sempat melihat Jason bicara dengan Rindang. Dan itu menjadi hari terakhir Levin melihat Jason. Levin juga tidak berani bertanya langsung pada Rindang karena takut membuat gadis itu tersinggung. Sejak Levin mengungkapkan perasaannya pada Rindang, mereka jadi canggung saat bertemu. Padahal Levin sudah berusaha bersikap biasa saja tapi tidak bisa. Rindang selalu terlihat menghindar dari Levin.
15 menit berlalu Jason tak juga datang, Levin segera pamit pulang pada satpam yang berjaga di rumah itu. Mungkin lain hari Levin akan kesini lagi untuk menemui Jason agar semuanya jelas.
Baru sekitar 1 kilometer mobil Levin meninggalkan rumah Jason, ia melihat seorang laki-laki yang sekilas seperti sosok Jason. Levin spontan menginjak rem dan meminggirkan mobilnya.
"Jason." Levin turun dari mobil melihat Jason bersama teman-temannya di salah satu cafe. "Jason, kamu disini?"
Jason menghentikan tawanya melihat Levin, ia beranjak menarik tangan Levin agak menjauh dari teman-temannya.
"Aku ke rumah kamu barusan, ternyata kamu disini."
"Ada apa Vin?"
"Harusnya aku yang tanya gitu ke kamu."
Jason berdeham dan melirik teman-temannya di belakang sana seolah takut jika obrolannya dengan Levin akan didengar oleh mereka.
"Maaf aku harus bilang kalau—" Jason berhenti sejenak. "Kalau aku nggak bisa lagi gabung di komunitas itu."
"Kamu mau belajar sendiri? nggak apa-apa banget Jason."
"Bukan itu." Jason menggeleng.
"Oh kamu gabung di komunitas lain, santai aja aku nggak bakal marah kok karena di luar sana tuh banyak saudara muslim kita yang mau merangkul kamu."
"Vin, dengerin aku dulu."
"Oke." Levin mencoba mengendalikan diri.
"Maksud aku, aku nggak bisa lagi memeluk Islam, aku sudah melepaskannya." Jason mengatakan itu dengan lantang dan jelas karena tidak mau membuat Levin salah paham lagi.
Levin tertegun tak percaya mendengar kalimat Jason, telinganya terasa berdenging dan tak bisa mendengar apapun lagi selain gema kalimat itu.
"Tapi kenapa? apa alasannya, kalau kamu nggak nyaman sama suasana di komunitas atau kamu merasa nggak enak sama salah satu anggota, kamu bisa bilang sama aku." Suara Levin gemetar karena tak bisa lagi mengendalikan emosinya, ia tak percaya mendengar kalimat Jason.
"Aku nggak bisa lagi."
"Tapi waktu itu kamu bilang jatuh cinta sama Tuhan yang udah bikin Rindang seperti sekarang."
Jason terdiam.
"Alasannya apa?"
__ADS_1
"Aku nggak bisa, ini bertentangan dengan kata hatiku." Jason berkata jujur.
"Kita bisa belajar pelan-pelan, aku juga dulu waktu awal mualaf sempet merasa down dan sendirian tapi kita nggak boleh menyerah."
"Stop Vin!" Nada bicara Jason meninggi. "Aku nggak bisa jangan paksa aku."
"Ya udah." Levin mengembuskan napas berat "Semoga Allah memberi mu hidayah lagi." Levin berbalik pergi meninggalkan Jason.
Levin merasa hancur kehilangan satu anggota di komunitas tersebut, lebih dari itu ia patah hati karena saudara muslim nya berkurang satu orang. Namun Levin juga tak mungkin memaksa Jason, ia hanya bisa mendoakan agar Jason kembali.
******
Pemandangan manis pagi ini yang membuat Khalisa tak bisa berhenti tersenyum adalah Azfan yang tengah menimang Azka di balkon kamar sambil melantunkan shalawat.
Azka baru saja selesai dimandikan oleh Ica dan disusui Khalisa. Kemudian Azfan menggendong si kecil membawanya menuju balkon yang memiliki pencahayaan bagus. Katanya matahari pagi bagus untuk untuk tumbuh kembang bayi. Ditambah lantunan shalawat merdu dari sang Abi, Azka sukses mendapat perawatan dari luar dan dalam.
Kini kamar mereka beraroma bayi yang membuat Khalisa tak ingin beranjak dari sana setelah diperbolehkan pulang kemarin oleh dokter. Di sudut ruangan terdapat banyak barang pemberian dari teman-teman Khalisa dan Azfan yang menengok Azka.
Azka tidak memiliki kamar khusus karena dua kamar lainnya biasa digunakan untuk anggota keluarga yang menginap disana. Selain itu, kamar utama tersebut cukup luas. Khalisa rasa Azka belum butuh kamar khusus.
Khalisa baru selesai berganti baju ketika melihat pemandangan indah tersebut. Pemandangan yang mungkin akan Khalisa lihat selamat beberapa bulan ke depan. Ia perlahan melangkah menghampiri Azfan dan Azka di balkon kamar.
Azfan memutar kepala merasakan kehadiran Khalisa, "Azka udah tidur." Lirihnya. Setelah mandi dan kenyang Azka tak bisa menahan kantuknya dan tertidur dalam gendongan Azfan.
"Jago nih Abi bikin Azka tidur." Khalisa menyentuh bibir mungil Azka yang amat menggemaskan.
"Itu karena Azka abis nyusu banyak."
Khalisa bersyukur karena ASI langsung lancar sejak pertama kali belajar menyusui karena ia memang rutin minum ASI booster mulai kandungannya berusia 36 Minggu. Walaupun demikian kondisi psikis ibu juga kadang mempengaruhi. Keberadaan suami dan keluarga membuat Khalisa merasa nyaman. Mereka sangat membantu Khalisa dalam hal ini.
"Abi sarapan dulu gih biar aku yang gendong Azka."
Azfan enggan berpisah dari Azka padahal ia hanya akan sarapan sebentar. Tadi Khalisa sudah sarapan lebih dulu sebelum menyusui Azka, sarapan yang kedua kalinya karena Khalisa mudah lapar sejak menyusui.
"Azka udah lelap banget nih, tidur di dalam box aja ya." Azfan membalikkan badan.
"Boleh." Khalisa mengekori Azfan masuk ke kamar.
Azfan meletakkan Azka dengan hati-hati ke dalam box nya.
Kirana dan orangtua Ica masih menginap di rumah itu. Hari ini Khalisa juga akan kedatangan Nadira—suster yang akan membantunya mengurus Azka. Nadira bukanlah orang asing bagi Khalisa karena sejak kecil mereka menghabiskan waktu bersama. Dulunya Nadira adalah anak seorang tukang becak yang Khalisa dan Daniel kenal.
"Assalamualaikum."
Suara itu mengejutkan Khalisa yang sedang asyik memperhatikan Azka.
"Waalaikumussalam." Khalisa spontan mengangkat wajahnya melihat ke arah pintu. "Rindang?"
"Khalisa, maaf." Rindang berjalan menghampiri Khalisa dan memeluknya. Ia meminta maaf karena sempat marah pada Khalisa setelah terlibat perdebatan di Mall saat itu. Rindang bahkan terlambat datang, ia baru bisa datang hari ini untuk menengok Azka. Harusnya ia datang lebih awal ke rumah sakit.
"Aku juga minta maaf." Khalisa menepuk-nepuk punggung Rindang, "aku udah bikin kamu tersinggung."
"Aku tahu bukan itu maksud kamu, aku udah salam paham Khalisa." Rindang sangat menyesal karena tidak bisa mengendalikan emosinya. Ia tidak mau mendengarkan Khalisa dan pergi begitu saja.
"Semua udah berlalu." Khalisa mengurai pelukan.
Rindang melihat bayi Khalisa yang terlelap di dalam box nya.
"Masya Allah, anak kamu cakep banget." Rindang melangkah mendekat, rasanya ia tidak percaya jika bayi kecil itu sebelumnya berada di perut Khalisa. "Mirip Om Daniel."
"Semua orang bilang begitu."
"Boleh pegang nggak, tanganku bersih kok." Rindang melihat Khalisa penuh harap.
"Boleh lah, mau gendong juga boleh tapi pelan-pelan ya soalnya baru aja tidur."
"Nanti aja deh gendongnya, kasihan baru tidur, siapa sih nama si cakep ini?" Rindang mengusap pipi Azka dengan hati-hati.
"Nama ku Azka Kashif Alindra." Khalisa sengaja membuat suaranya agar terdengar seperti anak kecil.
"Halo Azka, kamu panggil aku Mama ya?"
"Oke Mama, makasih stroller nya Ma, Azka suka banget."
Rindang tertawa tanpa sadar setetes kristal bening meleleh di pipinya karena terharu melihat Azka.
__ADS_1
"Ya ampun, kamu udah jadi Umma sekarang." Rindang menatap Khalisa dan kembali memeluknya.
Rasanya baru kemarin mereka main kejar-kejaran di halaman belakang rumah Jaya sambil memegang balon berbentuk kepala Mickey Mouse. Baru kemarin mereka memakai baju kembaran saat acara perpisahan TK. Setelah Khalisa keluar dari pondok dan Rindang lulus SMA, mereka sepakat kuliah di Yogyakarta meskipun tidak satu kampus tapi tempat tinggal keduanya berada di apartemen yang sama.
Hingga akhirnya menemukan pasangan lebih dulu dan sekarang telah melahirkan seorang putra. Rindang ikut bahagia meskipun kisah hidupnya tak bisa dibilang seindah Khalisa. Bagi Rindang, ia memiliki versi indah nya sendiri. Menemukan Islam adalah kisah paling indah bagi hidup Rindang.
"Kamu boleh anggap Azka anak kamu juga asal jangan Mas Azfan jangan ikut dianggap suami." Lirih Khalisa di telinga Rindang.
Rindang tertawa memukul lengan Khalisa, "gila apa aku anggap Azfan suami."
Khalisa mengajak Rindang duduk di kursi dekat jendela agar mereka lebih nyaman mengobrol.
"Soal Ko Levin—"
Rindang menggeleng, "jangan bahas itu dulu, aku lagi mau fokus sama skripsi."
Khalisa mengatup bibir tidak lagi melanjutkan kalimatnya.
"Kamu juga harus mulai kerjain skripsi kan? emangnya bisa sambil ngurus Azka?"
"Inshaa Allah bisa, aku usahain supaya dua-duanya bisa dikerjain, Mama juga akan datengin Mbak Nadira buat jadi suster Azka."
"Terus anak-anak Mbak Nadira gimana?"
"Katanya sih udah bisa ditinggal."
"Syukur deh kalau ada yang bantu karena pasti kamu akan keteteran ngurus bayi, suami, rumah belum lagi kuliah."
"Kan ada Mama nya yang mau bantu ngurus Azka." Canda Khalisa.
"Aku bagian cium-cium Azka aja." Rindang sama sekali tidak bisa mengurus bayi, menggendong bayi baru lahir saja ia tidak pernah. "Kamu beruntung banget punya mertua kayak Bu Kirana, aku sering denger kalau mertua itu jahat loh."
Khalisa tertawa, "nggak semua mertua jahat kali Rin." Salah satu buktinya adalah Ibu Azfan yang menganggap Khalisa seperti anak kandung sendiri.
"Nggak kebayang kalau mertuaku Tante Val." Rindang bergidik ngeri, ia masih ingat sorot mata tajam mama Levin saat mereka bertemu di acara Anniversary 3 tahun lalu.
"Emang kenapa, Tante Valerie baik kok."
"Kamu tuh polos banget sih Khalisa, kamu nggak lihat mata Tante Val tuh judes banget."
"Hus, nggak boleh ghibah!" Khalisa memukul paha Rindang untuk menghentikan sahabatnya itu.
Rindang langsung mengucapkan istighfar karena telah membicarakan keburukan orang lain.
"Umma, ada Kak Levin di bawah." Azfan muncul dari balik pintu kamar.
"Iya Bi." Khalisa beranjak dari kursi, ia mencolek lengan Rindang agar ikut pergi ke bawah bersamanya. "Kamu katanya mau gendong Azka." Khalisa mengangkat Azka memindahkannya ke gendongan Rindang.
"Duh takut banget." Rindang takut jika tangannya membuat tubuh lembek Azka sakit.
"Pelan-pelan turun tangganya ya." Pesan Azfan pada Rindang saat keluar dari kamar.
Khalisa memegangi Rindang saat mereka turun dari tangga menuju lantai satu.
Levin tersenyum melihat Rindang menggendong anak Khalisa. Rindang terlihat takut saat menuruni tangga tersebut.
"Masya Allah, ganteng banget, siapa namanya?"
"Azka Om." Jawab Azfan. "Aku udah wangi loh Om."
"Coba aku mau gendong." Levin mengulurkan tangan pada Rindang.
"Eh aku nggak bisa ngasihnya."
Azfan dan Khalisa tertawa, akhirnya Azfan mengambil alih Azka dan memberikannya pada Levin. Azka si piala bergilir yang tetap tertidur nyenyak dan tak peduli pada orang-orang di sekitarnya.
"Eh iya beneran wangi nih, udah ganteng wangi lagi." Levin tidak bisa berhenti tersenyum melihat Azka.
"Umma duduk." Azfan menepuk-nepuk kursi di sebelahnya, satu-satunya kursi yang ada disana karena mereka biasanya lesehan saat berada di lantai satu.
"Maaf ya aku duduk di atas." Khalisa duduk di kursi tersebut.
"Nggak apa-apa kok." Sahut Levin.
"Aku ke belakang dulu." Rindang segera undur diri dari sana karena tidak nyaman berlama-lama bersama Levin. Ia bergabung dengan Ica dan mertua Khalisa di dapur.
__ADS_1