Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
130


__ADS_3

Setelah Mahira selesai mandi Kafa masih senyum-senyum sendiri di depan pintu walk in closet. Mahira bingung apalagi ia tak pernah melihat Kafa tersenyum seperti itu. Kafa selalu memasang wajah galak seperti induk ayam yang takut kehilangan anaknya.


"Kamu kenapa senyum-senyum gitu?" Mahira mendekat.


"Enggak." Kafa langsung merubah ekspresinya sedatar mungkin lalu mundur selangkah memberi ruang bagi Mahira masuk ke walk in closet.


Mahira mengganti pakaiannya dengan kimono satin berwarna merah muda. Mahira menyemprotkan sedikit pewangi di beberapa bagian tubuhnya, hanya sedikit karena ia tak mau Kafa justru mabuk jika mencium aroma yang terlalu kuat.


"Enak juga parfum dari Mbak Khalisa." Mahira menyisir rambutnya dan menatap cermin sekali lagi sebelum keluar menemui Kafa. Bukankah mereka harus segera melakukan ibadah suami istri seperti yang pernah Mahira dengar dari cerita orang-orang yang telah menikah.


"Kafa." Panggil Mahira.


"Hm?" Kafa menoleh, ia tidak bisa berkedip melihat Mahira mengenakan kimono dengan rambut terurai serta aroma floral yang menguar dari tubuhnya.


"Hadiah dari Ci Rindang, bagus ya?" Mahira memutar tubuhnya di depan Kafa meminta pendapat tentang kimono tersebut.


"Bagus." Kafa mengomel dalam hati, kenapa Mahira harus berputar-putar seperti itu.


Mahira duduk di samping Kafa pada pinggiran tempat tidur king size yang terletak di tengah-tengah kamar.


"Kamu diem aja, nggak suka sama baju ini?" Mahira bingung melihat raut wajah Kafa. "Kalau nggak suka aku ganti yang lain." Ia hendak beranjak tapi Kafa menahannya.


"Suka-suka!" Seru Kafa, suka banget tapi—


"Terus kenapa mukanya gitu?"


"Maaf, aku cuma nggak tahu harus gimana."


"It's okay." Mahira menghadap Kafa sepenuhnya. "Sekarang kita mau ngapain?"


Kafa juga tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, apakah mereka hanya akan berpandangan seperti ini sampai besok pagi.


"Aku nggak tahu caranya beribadah yang seperti pasangan biasanya lakukan saat malam pertama." Mahira sengaja menekankan kata ibadah pada kalimatnya.


"Ibadah yang gimana?"


"Yang bisa bikin kita punya anak." Mahira mengatakan itu dengan polos.


"Hah?" Kafa kaget, jadi maksud Mahira ibadah yang seperti itu.


"Aku nggak pernah soalnya."


"Kamu pikir aku pernah?" Kafa tersinggung dengan kalimat Mahira.


Mahira mengerucutkan mulutnya, mereka sudah dewasa tapi obrolan ini terdengar seperti sepasang remaja yang sedang berdebat.


Kafa merasa dirinya payah karena ia telah membahas ini hingga tengah malam bersama Azfan. Namun pada prakteknya Kafa tak tahu harus memulai dengan cara apa.


"Kamu kan anak FK jadi kamu yang lebih pinter disini." Mahira mencolok perut Kafa dengan telunjuknya. Perut Kafa terasa keras, Mahira menduga Kafa rutin berolahraga selama ini.

__ADS_1


"Terus?"


"Ya harusnya kamu tahu caranya."


"Seingat aku waktu pelajaran biologi kita dikasih tahu proses pembuahan dan ovulasi bukan kopulasi."


"Tahu ah aku nggak ngerti kamu ngomong apa." Mahira merangkak naik ke tempat tidur, sebaiknya ia segera tidur dari pada memikirkan kalimat Kafa yang tidak ia mengerti.


"Masa kamu nggak tahu, ini pelajaran SMA loh." Kafa menoleh pada Mahira.


"Aku SMK!" Semprot Mahira membuat Kafa sontak terdiam, ia menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya. Mahira kesal karena malam pertama yang ia bayangkan seharusnya tidak seperti ini.


"Jangan tidur dulu." Kafa ikut merangkak naik, ia menarik selimut Mahira dan tak sengaja ikatan kimono Mahira juga ikut terlepas hingga ia mendapati sesuatu yang tak pernah ia lihat sebelumnya. "Maaf-maaf!"


"Kenapa minta maaf?"


Kafa menelan salivanya beberapa kali, ia butuh minum. Namun bukannya turun dari ranjang untuk mengambil air, Kafa justru ikut masuk ke selimut dan berbaring di samping Mahira. Dari jarak amat dekat Kafa bisa mencium aroma saffron atau kuma-kuma yang berasal dari bunga Crocus sativus yang termasuk dalam marga crocus famili Iridaceae. Kafa mengutuk dirinya sendiri karena pada saat seperti ini ia masih sempat memikirkan marga rempah saffron yang pernah ia pelajari dulu. Ingatannya memang cemerlang tapi Kafa tak membutuhkan hal tersebut sekarang.


"Kenapa harus ada tali ini?" Kafa melempar tali itu ke lantai. "Kamu wangi, aku menginginkanmu istriku." Ia menarik Mahira lebih dekat mengikis jarak di antara mereka hingga saling menempel.


Mahira bisa merasakan deru napas Kafa yang memburu mengenai ceruk lehernya. Mahira bahkan tak bisa membalas ucapan itu karena ia telanjur dibuat melayang oleh kecupan-kecupan kecil Kafa di pipi, bibir dan dagunya.


Kafa menyingkirkan apapun yang menghalangi tubuh Mahira dan melemparkannya ke sembarang arah.


Awalnya tubuh Mahira menegang tapi perlahan ia merasa nyaman dan menginginkan lebih.


Mereka menghabiskan sepanjang malam tanpa tidur hingga adzan subuh berkumandang dari masjid Ulil Albab. Tak ada waktu lagi untuk tidur, mereka harus segera membersihkan diri dan menunaikan ibadah sholat subuh.


Berkas matahari yang menerobos masuk melalui celah gorden mengenai wajah Mahira—membangunkannya dari tidur yang baru sebentar. Mahira meraba-raba ruang di sampingnya, kemana Kafa? Rasanya Mahira tidak mau lekas beranjak dari kasur empuk itu, ia ingin tidur sampai siang. Tubuh Mahira terasa remuk seperti baru saja olahraga berat. Mahira tak tahu apakah yang ia lakukan semalam bersama Kafa termasuk olahraga atau bukan.


Mahira melirik jam digital di atas nakas, pukul 6 tepat itu berarti ia tidur 2 jam setelah shalat subuh tadi. Tidur setelah subuh memang tidak dianjurkan tapi Mahira belum tidur sejak semalam.


Sekarang Mahira justru memikirkan berapa seribu poundsterling jika dirupiahkan. Apakah jumlahnya sangat banyak? Mahira harus memikirkan dengan matang untuk apa ia akan menggunakan uang tersebut. Mungkin untuk membeli batagor di kantin hingga ia kekenyangan atau gelato hingga otaknya membeku.


"Sayang, kamu udah bangun? tolong bikin nasi goreng buat sarapan dong."


Mahira kaget mendengar itu dan spontan menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Ia kaget oleh dua kata dari ucapan Kafa. Pertama panggilan sayang, sejak kapan Kafa memanggil Mahira sayang dan kedua nasi goreng, Mahira terlalu malas untuk turun dari tempat tidur apalagi harus berjalan ke dapur dan membuat nasi goreng. Mahira ingin mengomel tapi tak memiliki cukup tenaga untuk melakukannya.


"Nasi goreng?" Mahira mengulang kembali perkataan Kafa.


"Iya, nasi goreng buatan kamu kan enak banget jadi aku pengen mengawali hari ini dengan sesuatu yang enak."


"Aku capek." Rengek Mahira, ia tidak berbohong soal itu. Mahira benar-benar capek dan ingin tidur sampai nanti siang.


Kafa duduk di pinggiran tempat tidur, ia mengusap kepala Mahira dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya.


"Kalau gitu kita pesen makanan aja buat sarapan." Kafa meraih telepon rumah untuk menghubungi restoran apartemen.


"Kafa." Mahira menarik-narik lengan Kafa.

__ADS_1


"Hm?" Kafa menoleh melihat Mahira.


"Seribu poundsterling itu berapa sih?"


"Halo, saya dari unit 29 ingin memesan dua porsi nasi goreng dengan daging kepiting dan scallop sama es krim mochi stroberi." Kafa menyebutkan pesanannya setelah tersambung dengan bagian restoran. "Itu saja, terimakasih." Ia menutup telepon dan kembali melihat Mahira. "Kamu nanya apa barusan?"


"Seribu poundsterling itu berapa rupiah sih?"


"Aku nggak tahu angka pastinya."


"Aku bisa beli apa dengan uang itu?"


"Beli motor mungkin?"


Mahira berpikir, tak mungkin ia membeli sepeda lagi.


"Oh iya, aku belum punya kontak kamu." Kafa meraih ponselnya bersiap mencatat nomor hp Mahira.


Mahira menyebutkan angka-angka nomor hp yang ia hafal di luar kepala. Lucu sekali rasanya jika mereka baru menyimpan nomor masing-masing setelah malam pertama.


Mahira terperanjat oleh suara ponselnya, ia mencari-cari di bawah bantal dan menemukan benda tipis tersebut.


"Aku simpan nomor kamu juga ya." Mahira menyimpan nomor Kafa dengan nama Suamiku. "Kamu simpan nomorku pakai nama apa?" Ia ikut melihat ponsel Kafa. Mahira? "Kok Mahira sih?"


"Nama kamu Mahira kan?"


Mahira memutar bola mata kesal, ia tidak bicara apapun lagi dan memainkan ponselnya. Mahira jadi menemukan solusi dari sesuatu yang mengganggu pikirannya pagi ini, ia akan menggunakan mahar tersebut untuk membeli ponsel baru. Kondisi ponsel Mahira saat ini sangat memperihatinkan, layarnya pecah sana sini. Mahira tidak membeli baru karena ponsel itu masih bisa digunakan dengan baik.


Diam-diam Kafa mengganti nama Mahira dengan bahasa Mandarin Baobao yang artinya harta berharga. Kafa ingat saat SMA dulu salah satu temannya memberi nama pacarnya dengan Baobao.


"Ayo bangun." Kafa mengecup kening Mahira mengajaknya bangun dan cuci muka bersiap sarapan.


"Nggak mau!" Mahira kembali merengek, ia tak mau bangun. "Nggak mau bangun, jangan paksa aku."


Kafa tertawa, ia baru tahu kalau Mahira bisa bertingkah menggemaskan seperti itu.


"Mau jeruk nggak?" Kafa mengambil satu buah jeruk yang baru saja dibawanya dari dapur.


"Nggak mau." Mahira hanya ingin tidur.


"Ini enak lo."


"Jeruk dimana-mana rasanya sama."


Kafa mengupas jeruk itu, "cium deh." Ia mendekatkan jeruk itu pada Mahira.


Mahira bangun dari posisi tidur dan mencium pipi Kafa lalu tidur lagi, kepalanya terasa berat saat bangun karena tidak tidur semalaman.


Bibir Kafa melengkung membentuk senyum padahal ia meminta Mahira mencium aroma jeruk di tangannya.

__ADS_1


Pagi ini ketika Kafa bangun ia merasakan sesuatu yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Kafa jatuh cinta pada Mahira—jatuh sedalam-dalamnya pada wanita yang kini resmi menyandang status sebagai istrinya. Kafa ingin selalu berada di dekat Mahira, menatapnya lama hingga matanya terasa panas karena lupa berkedip.



__ADS_2