
Pagi ini Mahira berencana untuk mengajari Kafa mengendarai sepeda. Setelah shalat subuh dan berdzikir saat Kafa masih berada di masjid, Mahira buru-buru membuat sarapan untuk mereka. Mahira membuat omelet dengan isian jamur, tomat, paprika dan sosis. Mahira pernah membuat telur dadar biasa tapi Kafa berkata jika lebih baik menambahkan beberapa sayur atau sosis. Kafa suka masakan dengan topping beragam. Seperti halnya nasi goreng yang Mahira buat, ia menambahkan banyak isian sehingga Kafa tak pernah bisa. Justru Mahira yang bosan karena mau tidak mau ia memakan menu yang sama dengan Kafa.
Mahira mencuci semua bahan dan memotongnya lebih kecil agar mudah saat dimakan nanti. Kemudian ia memecah 3 buah telur ke dalam mangkok lalu menambahkan bahan yang sudah dipotong.
"Mmm bau apa ini?" Suara Kafa terdengar memasuki dapur.
"Udah pulang?" Mahira mengusap tangannya pada lap sebelum mencium punggung tangan Kafa.
"Kamu rajin banget pagi-pagi udah masak." Kafa mengintip ke dalam penggorengan.
"Setiap hari juga masak." Mahira membalik telur yang sudah hampir matang. "Enak nggak baunya?"
"Nggak lebih enak dari aroma kamu." Kafa mencium puncak kepala Mahira, ia menghirup aroma shampo yang menyegarkan dari rambut Mahira. "Mau dibikinin apalagi?"
"Udah, itu aja sama nasi."
"Yakin?" Mahira melirik Kafa, tak mungkin Kafa bisa makan hanya dengan satu lauk. Paling tidak Mahira harus membuat dua macam pendamping nasi untuk sang suami.
"Iya, kan kamu lagi hamil nggak boleh capek." Meski perut Mahira masih raya tapi Kafa tidak lupa jika istrinya itu sedang hamil.
Mahira tertawa, "masak doang, nggak capek kok."
"Eh tapi biasanya kamu masih baca Al-Qur'an pas aku pulang dari masjid, mau kemana masaknya pagi banget?" Kafa masih curiga karena Mahira masak se-pagi ini.
"Aku mau ajarin kamu naik sepeda." Akhirnya Mahira mengatakan rencananya untuk membantu Kafa mengendarai sepeda.
"Nggak mau ah." Tolak Kafa, sejak awal ia memang tidak mau Mahira mengajarinya. Kafa bisa kehilangan harga diri jika Mahira melakukan itu. Lagi pula mereka punya mobil, kenapa harus naik sepeda.
"Lah, kenapa?" Mahira sudah merencanakan ini sejak semalam.
"Kan aku udah bilang mau belajar di tempat kursus, aku nggak mau diajarin kamu."
"Aku juga jago loh." Mahira melihat Kafa sekilas.
"Aku tahu tapi aku maunya belajar di tempat kursus profesional." Kafa bersikukuh tidak mau belajar sepeda dengan Mahira. Selain itu Kafa takut membuat sepeda Mahira rusak seperti milik Azfan.
"Kita belajar di lapangan biar kamu nggak nabrak-nabrak lagi." Mahira masih merayu Kafa agar mau belajar.
"Enggak-enggak." Kafa geleng-geleng.
"Kenapa sih sayang ku kok nggak mau?" Mahira mencubit dagu Kafa dengan gemas, ia merapatkan giginya karena geregetan dengan sifat keras kepala Kafa.
"Nanti kalau kamu jatuh juga gimana, pokoknya enggak."
"Ya udah kalau nggak mau." Mahira meletakkan omelet yang sudah dipindahkan ke piring ke atas kitchen island. "Lagian kenapa sih kamu nggak bilang dari awal, aku nggak bakal marah juga."
"Aku pengen kelihatan sempurna di mata kamu."
"Kamu udah sempurna."
"Aku nggak mau punya kelemahan dan nggak bisa naik sepeda adalah kelemahan ku, aku mau jadi suami serba bisa buat kamu."
Mahira membalikkan badan, ia memegang lengan Kafa dan menatapnya dalam.
"Kamu tahu nggak, keinginan untuk jadi sempurna itu mencerminkan sifat sombong karena nggak ada yang sempurna kecuali Allah."
Kafa menelan ludahnya kasar, kalimat Mahira membuatnya terdiam.
"Pernikahan itu menyatukan dua orang yang sama-sama memiliki kekurangan untuk saling menguatkan."
Pandangan Kafa berubah lembut, ia menurunkan tangan Mahira dari lengannya untuk ia genggam.
__ADS_1
"Kamu tahu nggak, iblis dikeluarin dari surga gara-gara mereka merasa lebih baik dari manusia, ketika makhluk lain bersujud sama manusia, iblis nggak mau padahal mereka pernah bersujud selama seribu tahun pada Allah."
"Maksud kamu, aku kayak ib—"
"Ssshhh bukan itu." Mahira membekap mulut Kafa dengan tangannya. "Maksudku kita nggak boleh sombong karena kesombongan akan membakar pahala-pahala yang udah kita dapat."
Kafa menarik Mahira untuk memeluknya. Kini Kafa memiliki satu alasan lagi mengapa ia menikahi Mahira. Dulu saat membuat keputusan tersebut Kafa tak memiliki alasan yang bisa ia utarakan dengan kalimat.
Semakin berjalannya waktu Kafa mulai mengerti mengapa Allah memberikan istri seorang Mahira untuknya. Mahira begitu sederhana dan biasa, itu sebagai penyeimbang bagi Kafa yang memiliki pikiran rumit. Mahira juga mudah memahami perasaan Kafa sehingga walaupun Kafa orang yang sulit mengutarakan perasaan, komunikasi mereka tetap berjalan lancar.
"Ayo naik sepeda ke kampus, aku yang nyetir."
"Nggak, naik mobil aja."
Mahira tersenyum, Kafa tetap saja bersikeras mempertahankan harga dirinya.
"Kalau macet gimana?" Mahira berusaha mencari alasan.
"Kita bisa berangkat lebih pagi."
"Dasar, nggak mau ngalah!" Mahira mendorong badan Kafa pelan agar melepas pelukannya.
Kafa tertawa, ia hanya bisa mengalah pada Fatah dan Fatimah adik-adiknya. Kafa memang selalu mendominasi, ia akan selalu seperti itu.
"Oh iya, aku udah bikin janji temu sama dokter kandungan, kita bisa periksa bareng Cece Khalisa nanti sore."
"Oke." Mahira penasaran seperti apa bentuk bayinya sekarang di dalam sana. Pasti masih sangat kecil karena Mahira belum merasa bahwa dirinya sedang hamil.
******
Setelah lelah berkeliling Alindra Mall, Rindang dan Levin beristirahat di salah satu kafe untuk minum kopi sambil membicarakan rencana-rencana besar mereka setelah ini. Sebenarnya Rindang memiliki lebih banyak rencana yang ingin ia kerjakan dalam waktu beberapa bulan hingga dua tahun ke depan. Rindang telah membuat catatan di buku miliknya mengenai apa saja yang harus ia kerjakan agar semuanya tetap berjalan sesuai rencana. Sedangkan Levin hanya memiliki satu target yakni menjalani pendidikan spesialis.
"Ini untuk pertama kalinya aku nanya, gimana pendapat Koko memiliki istri yang cukup populer di media sosial sepertiku?" Rindang mengajukan pertanyaan itu di tengah-tengah ia meneguk kopi dingin miliknya. Rindang menunggu beberapa saat, Levin sedang menyesap kopinya yang masih mengepulkan asap.
"Harus jawab jujur?" Levin meletakkan mug kopinya, lidahnya terasa melepuh karena minum kopi yang masih panas itu. Levin masih saja gugup berhadapan dengan Rindang padahal ini sudah hampir satu bulan berlalu sejak mereka menikah.
"Iya dong, harus jujur." Rindang mencomot pisang goreng yang dilapisi tepung panir di depan mereka. Rindang tak tahan dengan aromanya yang sejak tadi menusuk-nusuk hidung.
"Mmm aku bangga tapi di sisi lain aku khawatir dan takut."
"Lebih banyak bangga nya atau takut?"
"Takut."
"Kenapa?"
"Karena dulu kamu pernah dapet pelecehan seksual dari orang asing, walaupun sekarang penampilan kamu sudah jauh berubah dan orang-orang di luar sana akan lebih menghormati mu dan sekarang ada aku, tapi nggak 24 jam aku bisa sama kamu dan kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan."
Rindang manggut-manggut setuju, ia sempat trauma setelah kejadian itu apalagi beberapa bulan setelahnya Khalisa mendapat perlakuan yang sama bahkan lebih parah karena Revan telah merencanakan semuanya. Itu sebabnya Rindang lega ketika Khalisa memutuskan untuk menikah.
"Aku suka melakukan semua itu, ini udah jadi pekerjaan ku tapi karena sekarang aku jadi milik Koko, aku nggak boleh egois, aku harus tanya pendapat suami ku jadi apa Koko mau aku berhenti jadi influencer?"
Levin terdiam untuk beberapa saat, ia memiliki kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu karena tak mau menyakiti perasaan Rindang. Sejujurnya Levin ingin Rindang berhenti tapi itu adalah dunia keduanya dimana Rindang lebih dulu menjadi influencer sebelum mengenalnya. Levin merasa tidak berhak membuat larangan meski sekarang statusnya adalah suami Rindang.
"Karena kamu menyukainya jadi menurutku nggak perlu berhenti, dari situ juga kamu bisa bantu banyak orang dengan mempromosikan banyak produk bahkan produk rumahan yang awalnya nggak banyak yang tahu jadi terkenal setelah kamu promosikan." Levin menatap lurus Rindang, "tapi kalau suatu hari kamu capek dan ingin berhenti, kamu harus berhenti apalagi setelah ini kamu harus lebih fokus sama butik."
Rindang tersenyum mendengar rangkaian kalimat Levin yang membuatnya merasa tenang. Levin adalah pendengar yang baik, Rindang bisa menceritakan semua keluh kesahnya pada sang suami.
Rindang mendekatkan wajahnya pada Levin, "aku dapat banyak uang dari situ." Bisiknya.
Levin terkekeh, ia tahu para influencer mendapat banyak uang dari berbagai pekerjaan yang dilakukannya.
__ADS_1
"Aku akan berusaha memenuhi semua kebutuhan setelah kamu berhenti walaupun gaji dokter nggak sebesar itu."
Rindang tertawa, ia hanya bercanda soal itu. Tentu saja Rindang tak lagi mengkhawatirkan tentang uang meski ia menikah dengan seorang laki-laki yang pendapatannya di bawah dirinya.
"Wo ai ni, Ko." Ujar Rindang malu-malu tanpa berani menatap Levin.
Levin yang sedang memakan pisang goreng langsung tersedak mendengar kalimat itu.
"Apa ini pertama kalinya?" Rindang menutup mulutnya, ia terkejut dengan perilakunya sendiri.
"Iya." Semburat merah terpancar di wajah Levin, padahal Rindang menyuruhnya mengatakan cinta tapi Rindang sendiri belum pernah melakukannya.
Gila, suamiku bisa tersipu kayak gitu juga. Rindang ingin menggigit pipi Levin tapi sayang mereka sedang berada di tempat umum.
Setelah menghabiskan kopi dan pisang goreng mereka kembali ke rumah. Rindang dan Levin membeli berbagai peralatan masak dan mandi setelah kemarin selesai menata furniture di rumah baru mereka. Walaupun semua itu sangat menguras tenaga dan waktu tapi mereka menikmati setiap prosesnya.
"Aku penasaran sama kado dari Kafa dan Mahira, berat banget soalnya." Rindang duduk bersila di sudut ruang tamu dimana ia meletakkan kado pernikahan dari saudara dan beberapa teman terdekatnya. "Koko mau tebak nggak?"
"Mesin kopi." Dari bentuknya yang tidak terlalu besar Kafa menebak itu adalah mesin kopi atau microwave. "Aku bantu buka ya." Levin membawa gunting untuk membuka kertas kado biru muda yang membungkus kotak tersebut.
"Wah smart rice cooker, untung kita belum beli ini." Rindang senang mendapat penanak nasi, selama ini ia menggunakan penanak nasi biasa yang mamanya bawakan.
"Bagus ya."
"Bagus banget Ko, boleh tolong bawain ke dapur?"
"Tentu saja sayang." Levin mengangkat penanak nasi itu dan membawanya ke dapur. Levin meletakkannya di tempat kosong yang memang sudah mereka sediakan untuk penanak nasi.
"Apa!"
Suara pekikan Rindang membuat Levin yang sedang mencuci tangan terperanjat. Levin setengah berlari menghampiri Rindang di ruang tamu.
"Ada apa?" Levin mengusapkan tangannya ke celana karena ia belum sempat mengeringkannya barusan.
"Khalisa hamil lagi." Rindang mengucek matanya dan membaca pesan yang Khalisa kirimkan baru saja.
Niat pengen punya anak kedua setelah Azka umur 5 tahun tapi qadarullah dikasih hamil sekarang. Mama, kamu bakal punya anak kedua.
Dua detik berikutnya Khalisa mengirim foto USG. "Mahira juga hamil, mereka hamil barengan, Masya Allah." Rindang terharu mendengar kabar tersebut, ia memberi selamat pada Khalisa yang mendapat rezeki luar biasa dari Allah.
"Alhamdulillah, Azka akan jadi Koko kecil."
"Ya ampun lucu banget aku bayangin Azka sama adiknya nanti, cuma beda setahun setengah, kita sementara numpang anak mereka dulu ya."
"Harusnya Azka panggil aku Papa karena dia panggil kamu Mama."
"Kalau gitu mulai sekarang aku ajarin Azka panggil Koko, Papa ya biar sama kayak aku." Rindang lanjut melakukan panggilan video dengan Khalisa. Sekarang ia ingin punya kekuatan super agar bisa pergi menemui Khalisa. Rindang harus membuat jadwal pergi ke Sleman, ia tidak puas jika hanya bicara lewat ponsel.
Kafa: Pokoknya aku nggak mau belajar naik sepeda!
Levin: Kalau pakai kacamata ganteng nggak?
Rindang: Enggak.
Levin: Terus aku harus ngapain biar kamu bilang ganteng?
Rindang: Harus jungkir balik dulu.
__ADS_1