
"Imlek tahun ini rasanya bener-bener sepi." Aisyah memandang kosong ke arah meja makan yang penuh dengan sajian khas Imlek. Bebek peking, yu sheng, siu mie, sumpling, lumpia, telur berwarna hitam yang direbus dengan kecap asin dan teh. Kue keranjang, kue mangkok dan berbagai manisan buah juga ikut memenuhi meja makan.
Semua makanan itu dibuat oleh koki rumah yang dibantu oleh Aisyah, Ica, Khalisa dan Mahira. Namun tak ada yang bisa menandingi lezatnya bebek peking buatan Renata. Beberapa tahun ini bebek peking di atas meja terasa berbeda setelah Renata tiada. Tahun ini terasa lebih hampa karena Jaya ikut pergi.
"Jangan pasang muka masam, nanti anak-anak ikut sedih." Lirih Umar.
Aisyah mengembuskan napas berat, ia pikir dengan menyibukkan diri membereskan rumah dan memasak akan membuatnya tidak sedih lagi. Aisyah berusaha mengalihkan pikirannya dengan bekerja tapi saat diam seperti ini,ia kembali teringat pada papa dan mama nya. Setiap sudut di rumah ini mengingatkannya pada mereka.
"Tahun ini semuanya bisa pulang, Kafa dan Mahira serta cucu kita Zulaikha juga ada, tersenyumlah istriku."
Aisyah memutar kepala melihat Umar lalu mengulas senyum di balik cadarnya. Namun Umar tahu jika Aisyah sedang tersenyum karena matanya akan terlihat menyipit.
"Minum teh dulu Mbak, Mas." Ica meletakkan teh hangat di hadapan Aisyah dan Umar. "Mbak Aisyah harus jaga kesehatan, Mbak kelihatan lebih kurus."
"Makasih ya." Ucap Aisyah pada Ica. "Kamu juga."
Ica membawa dua gelas teh lainnya ke taman belakang menghampiri Daniel yang sedang mengawasi anak-anak bermain.
"Bi, tolong bawa es krim ke taman belakang ya." Pinta Ica pada salah seorang ART. Semalam ia dan Aisyah membuat es krim untuk anak-anak.
Azka dan Zulaikha bermain di kolam yang penuh dengan bola bersama Zunaira. Si kembar Fatah dan Fatimah menonton film di laptop. Sedangkan Azmal membaca buku di kursi sudut taman seorang diri.
"Minum teh Pa." Ica duduk di samping Daniel dan memberikan teh untuk sang suami.
"Makasih sayang." Daniel menyesap teh hangat tersebut perlahan.
"Papa juga merasa Imlek tahun ini sepi?" Ica menerima teh Daniel yang tinggal setengah dan meletakkannya di meja.
Daniel mengangguk, "tahun kemarin masih ada Papa."
"Tapi Pa, kita akan kedatangan cucu lagi." Ica berusaha menghibur Daniel, kandungan Khalisa sudah memasuki usia 7 bulan. Sebentar lagi cucu kedua mereka akan lahir.
"Mama benar." Daniel tersenyum, di tengah kesedihan yang melanda ia tetap bersyukur karena kebersamaan keluarga ini.
Sementara itu terdengar suara ribut dari kamar Kafa yang bersebelahan dengan kamar Khalisa. Tidak ada hari tanpa keributan antara Kafa dan Mahira.
"Kamu nggak usah makan kalau nggak mau pakai kaos kaki."
"Ya ampun, kan di dalem rumah masa pakai kaos kaki juga?"
"Di dalam rumah ada Mas Azfan juga dan dia bukan mahram kamu."
"Iya-iya!" Mahira mengerucutkan bibirnya.
"Aku jewer ya kamu kalau nggak mau nurut!" Kafa gemas melihat ekspresi Mahira.
"Ummi!" Mahira berteriak keluar kamar berlari menuruni tangga dan memanggil-manggil Aisyah. "Ummi tolong aku Umm!" Mahira bersembunyi di belakang tubuh Aisyah sebelum Kafa berhasil menangkapnya.
"Ada apa Mahira?" Aisyah bingung melihat Kafa juga berlari dari arah tangga.
"Kafa mau jewer telinga ku Ummi." Mahira mengadu pada Aisyah.
"Astagfirullah Kafa, kamu apa-apaan sih?" Aisyah mengomel, ia tak habis pikir pada Kafa dan Mahira yang masih sering bertengkar seperti anak kecil padahal mereka sudah menjadi orangtua.
Kafa berusaha menangkap Mahira yang bersembunyi di belakang ummi nya. Mahira curang karena melibatkan Aisyah dan Umar dalam hal ini.
"Kafa berhenti." Seru Aisyah.
"Kafa, jangan seperti itu sama istrimu." Tukas Umar seraya menahan tangan Kafa agar berhenti mengejar Mahira.
"Ummi, Abi, Mahira nggak mau pakai kaos kaki makanya Kafa mau jewer nih sekarang." Kafa masih berusaha menangkap Mahira.
"Stop stop, bicara baik-baik dong Kafa."
"Mahira." Aisyah melihat Mahira yang masih bersembunyi di belakang punggungnya seperti anak ayam yang berlindung di bawah tubuh induknya, "ayo sini." Ia meminta Mahira duduk di hadapannya.
Kafa tersenyum puas melihat wajah Mahira ketakutan karena sebentar lagi pasti Aisyah yang akan menasehati Mahira.
"Sebenarnya pakai kaos kaki itu nggak wajib."
"Loh kok nggak wajib sih Ummi?" Protes Kafa.
"Kafa, Ummi kamu belum selesai bicara." Sahut Umar agar Kafa tidak memotong pembicaraan Aisyah.
"Yang wajib itu menutup aurat, sebenarnya nggak masalah kalau kita nggak pakai kaos kaki asal gamis kita bisa menutup sampai kaki dan itu bukan perintah Kafa, itu perintah Allah jadi Ummi harap kamu mengerti." Aisyah mengatakan itu dengan nada lembut agar mudah diterima oleh Mahira.
"Iya Ummi, aku minta maaf." Mahira menunduk dalam, Kafa sudah sering memberitahunya tapi ia masih mengulanginya lagi.
Aisyah tersenyum, ia menangkup pipi Mahira lalu menghadiahi menantunya itu satu kecupan di kening seraya berdoa agar hati Mahira lebih lembut untuk menerima nasehat.
Mata Mahira melebar mendapat kecupan dari mertuanya, ia tersenyum lebar merasakan kasih sayang Aisyah yang sudah seperti ibu kandungnya.
"Tolong panggil Khalisa sama Azfan ya di kamarnya, kita siap-siap makan." Pinta Aisyah pada Mahira sementara ia pergi ke taman belakang. Aisyah meminta Azka dan Zulaikha berhenti bermain.
__ADS_1
Semua orang duduk mengelilingi meja makan. Aroma masakan menusuk-nusuk hidung memancing rasa lapar.
"Khalisa dan Azfan nggak disini dulu agak lama?" Aisyah melihat Khalisa.
"Pengennya sih gitu Ai, tapi banyak kerjaan yang ditinggalin di rumah." Khalisa masih ingin tinggal lebih lama disini tapi Azfan harus segera menyelesaikan proyek kaligrafi di masjid Ulil Albab.
"Ce, jangan lupa nanti yang di tas hitam dibawa, Mama udah masukin kue dan makanan." Ica meletakkan potongan bebek di piring Khalisa.
"Iya Ma."
"Umma, kenapa kita nggak disini aja?" Azka menatap Umma nya, rupanya ia juga ingin tinggal lebih lama di rumah ini. Ia bisa bermain dengan Zunaira dan Zulaikha disini.
"Nanti kan kesini lagi sayang tapi kita harus pulang ke Sleman, Abi ada kerjaan." Khalisa mengusap rambut lebat Azka.
"Oh iya tadi ada suara ribut apa Ma?" Azfan mendengar suara teriakan tadi sebelum Mahira memanggilnya dan Khalisa untuk makan.
"Biasa itu Mahira sama Kafa udah kayak kucing dan tikus, berantem mulu."
Kafa terkekeh, sepertinya ia dan Mahira memiliki hobi yang sama yakni berantem.
"Kalau Mahira nurut, aku nggak bakal gitu Tante." Kata Kafa mengelak.
"Bohong Tante, Kafa parah banget dia siksa aku setiap hari."
"Bener Kafa?" Kini Aisyah melempar tatapan tajam pada Kafa.
"Astagfirullah Ummi, enggak." Kafa heran, rasanya semua orang disini menyudutkannya, "sebenarnya Ummi, Abi, Tante Ica dan Om Daniel ini keluarga aku bukan sih, kenapa selalu belain Mahira."
Daniel tersenyum geli, kepribadian keras Kafa ini sangat mirip dengan Jaya.
"Bukan belain Mahira, kami cuma mau kamu lebih lembut sedikit sama istri kamu seperti Om memperlakukan Tante Ica, seperti Abi mu memperlakukan Ummi kamu." Ujar Daniel berusaha meluruskan kesalahpahaman Kafa.
"Tuh dengerin." Cibir Mahira.
"Mahira juga begitu, Kafa ngasih tahu kan untuk kebaikan Mahira sendiri jadi coba diikutin." Tambah Ica.
"Iya Tante." Mahira nyengir, ia menendang kaki Kafa karena keributan ini berasal dari Kafa.
"Tuh Tante, Om, sekarang aja kaki Kafa ditendang loh."
Mereka tertawa karena sebesar apapun usaha untuk mendamaikan Kafa dan Mahira, keduanya tetap hobi mencari keributan.
Setelah makan mereka melakukan sesi foto bersama yang tidak boleh dilewatkan setiap tahun. Walaupun mereka kehilangan satu anggota keluarga yang biasanya selalu berada di posisi tengah.
"Makasih ya." Khalisa tersenyum pada Azmal, ia duduk di kursi tersebut menggantikan Jaya yang biasanya selalu ada di posisi tersebut.
Mereka mengambil foto berkali-kali dengan berbagai pose yang nanti akan dicetak dan disimpan di dalam album khusus.
*******
Mobil Levin terparkir di halaman luas kediaman Jaya. Dalam rangka tahun baru Imlek, Levin dan Rindang serta Ravina berkunjung ke rumah itu. Apalagi setelah mendengar Khalisa akan kembali ke Sleman hari ini, Rindang buru-buru pergi kesini karena ia sudah cukup lama tak bertemu Khalisa.
Rindang mengedarkan pandangan begitu turun dari mobil, taman depan tertata rapi dihiasi dengan berbagai tanaman. Akhirnya ia bisa menghirup udara luar. Sejak hamil, Rindang jarang keluar rumah karena ia mengalami morning sickness yang parah dan jadi malas bergerak.
"Mama, ini rumah Ko Azka?" Ravina menggandeng tangan Rindang.
"Ini rumah Kakek nya Ko Azka, rumah Koko kan yang di Sleman sayang."
"Yang harus naik pesawat?"
"Iya." Rindang mengusap-usap kepala Ravina.
Kedatangan mereka langsung disambut oleh Khalisa. Keduanya berpelukan setelah lama tidak bertemu.
"Jadi adu perut nih kita." Khalisa tertawa melihat perutnya dan Rindang saling menempel. Usia kandungan mereka hanya terpaut satu bulan.
Rindang dan Levin menyapa semua orang yang berada di ruang tamu. Selain Idhul Fitri, tahun baru Imlek adalah saat yang ditunggu-tunggu karena mereka bisa berkumpul dan memiliki hari libur yang panjang.
"Halo Ko, gimana kabarnya?" Kafa menjabat tangan Levin.
"Alhamdulillah selalu luar biasa setiap hari." Levin melebarkan senyum.
Dua dokter tampan itu saling berpelukan ringan dan menepuk punggung seolah memberi semangat. Levin masih menyelesaikan pendidikannya sebagai dokter spesialis sedangkan Kafa baru hendak mendaftar pendidikan spesialis. Meski kadang terasa melelahkan dan ingin menyerah tapi mereka harus tetap melangkah maju.
"Masya Allah, perut Rindang udah gede banget ya." Ica mengusap perut buncit Rindang.
"Gede banget Tante, susah banget buat jalan."
"Kamu dan Khalisa gemes banget dari kecil bareng, TK, SD dan kuliah bareng sekarang hamilnya juga bareng."
"Sama-sama hamil anak kedua juga Ma." Tambah Daniel.
"Iya Pa gemes banget, kita dapat dua cucu sekaligus ini."
__ADS_1
Rindang dan Khalisa saling berpandangan. Mata Khalisa berkaca-kaca karena perjuangan Rindang selama masa kehamilan tidak lah mudah.
"Mama Rindang juga punya bayi disini?" Azka mendongak menatap Rindang.
"Iya, nanti Koko temenin adik main ya." Rindang mengelus pipi kemerahan Azka.
Azka tidak menjawab, ia bingung apakah dirinya bisa menemani dua adik sekaligus. Ekspresi Azka membuat Khalisa dan Rindang tertawa gemas.
Khalisa mengajak Rindang ke taman belakang untuk mengobrol disana sedangkan Ravina langsung bergabung dengan Azka dan Zulaikha menuju ruang tengah untuk bermain.
"Kamu kok buru-buru balik sih?" Rindang duduk di salah satu kursi yang terletak di pinggir kolam koi.
"Mas Azfan ada tanggungan kerjaan di masjid, nggak enak kalau ditinggal lama-lama." Khalisa meletakkan jus mangga di atas meja yang ia bawa dari dapur barusan.
Rindang meneguk jus tersebut sedikit lalu menatap Khalisa lekat.
"Jangan sedih." Khalisa menyentuh punggung tangan Rindang.
"Harusnya aku yang bilang gitu ke kamu, jangan sedih Sa."
Khalisa mengangguk, "aku selalu berdoa supaya aku bisa ikhlas atas semua yang terjadi."
"Tahun ini banyak kejadian luar biasa ya." Rindang membalas genggaman Khalisa.
"Mari bersyukur karena sudah berhasil melewati tahun ini dengan hati dan raga yang kuat."
"Bukan cuma tahun ini, kita juga harus berterimakasih sama Allah dan diri sendiri atas tahun-tahun luar biasa sebelumnya."
Seiring berjalannya waktu Rindang dan Khalisa menyadari bahwa obrolan mereka tak lagi hanya tentang pakaian bagus yang sedang tren di pasaran atau makanan yang akan mereka makan besok seperti saat masih tinggal di apartemen semasa kuliah. Namun obrolan mereka sudah tentang kehidupan, tentang rasa syukur yang harus selalu terpatri dalam hati sebab apapun yang terjadi—kebahagiaan dan kesedihan itu datangnya dari sang pencipta. Mereka tak pantas merajuk jika kesedihan menghampiri.
"Allah benar-benar luar biasa, aku dikasih kesempatan untuk hamil." Suara Rindang terbata, bahkan hingga perutnya membuncit ia belum percaya bahwa dirinya bisa hamil.
Sejak awal menikah Rindang dan Levin sudah sepakat untuk tidak memiliki anak. Hingga akhirnya Ravina datang memberi banyak warna baru di kedipan mereka. Lalu hal luar biasa yang paling mengejutkan adalah, Rindang melihat tanda plus pada test pack yang ia gunakan. Itu benar-benar di luar rencana mereka. Takdir Allah tetap lah yang terbaik terlepas dari rencana mereka.
"Aku setuju sama kamu." Setetes kristal bening mengalir ke pipi Khalisa. Jika ditarik beberapa tahun ke belakang Khalisa juga pernah putus asa karena tak segera hamil. Satu hal yang Khalisa dapatkan yakni ia bisa bermunajat lebih lama dan lebih dekat dengan Allah.
"Kok jadi melow sih?" Rindang menghambur ke pelukan Khalisa. Ini adalah tangisan bahagia dan syukur atas apa yang telah terjadi di kehidupan mereka. "Jujur aku takut mau lahiran."
"Kamu pasti bisa, kamu pernah melalui sesuatu yang lebih berat dan lebih sakit dari ini."
"Tapi aku mikir lagi, kamu aja bisa masa aku nggak bisa?"
"Makanya aku bilang, kamu pasti bisa, kamu selalu lebih unggul dari aku." Khalisa mengusap-usap punggung Rindang.
Rindang melepas pelukannya, "nggak salah? aku selalu jauh tertinggal di belakang mu."
"Enggak lah, kamu berhasil punya butik tapi aku enggak."
Rindang mengibaskan tangan di depan wajah Khalisa, "aku punya butik yang letaknya di dalam Alindra Mall, sadar Khalisa."
"Intinya aku bersyukur banget punya sahabat seorang Rindang Anjana yang dulu suka pakai baju kurang bahan tapi sekarang Masya Allah—aku cuma bisa lihat mata kamu."
"Aku juga bersyukur punya sahabat Khalisa Syanin Alindra yang bisa segalanya, ngajarin aku ngaji, bantu suntik insulin, kupasin kulit salak, banyak deh kalau ditulis di buku bisa setebel ini." Rindang mengangkat satu tangannya setengah meter dari atas meja.
Khalisa tertawa, Rindang sangat berlebihan.
"Tolong cari aku kalau kamu nggak lihat aku di surga."
"Yang bener tuh aku numpang kamu, Khalisa."
"Pokoknya cari aku."
"Iya aku bakal nungguin kamu di teras surga."
Keduanya kembali tertawa, obrolan mereka jadi kemana-mana padahal ini masih pagi.
Persahabatan mereka sudah sampai tahap dimana tak dapat selalu bertemu tapi tetap saling mendoakan.
__ADS_1
Cowok-cowok kompak pakai baju hitam nih