Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
60


__ADS_3

Sebanyak 50 paket menu buka puasa dan sembako tertata rapi di bagasi mobil Khalisa siap dibagikan pada pengendara yang lewat. 150 paket lainnya berada di mobil Hasan dan Faqih yang akan dibagikan di daerah lain agar mereka menjangkau lebih banyak orang tak hanya warga di dekat kampus.


"Cantik banget tangan kamu." Huma menggoda Khalisa, ia tak bisa melepaskan pandangan dari benda berkilau yang tersemat di jari manis Khalisa. Sore ini Huma juga ikut membagikan paket buka puasa dan sembako itu setelah mendapat izin dari Hasan karena ia bukan anggota HAWASI.


"Apa tanganku lebih cantik dari muka ku?" Khalisa kesal karena Huma tidak berhenti menggodanya padahal ia sudah berusaha menyembunyikannya dari orang lain. Cukup orang terdekatnya saja yang tahu. Jika sudah menikah maka Khalisa akan memberitahu seluruh dunia jika ia telah menjadi istri Azfan. Namun untuk sekarang Khalisa harus menahan diri meski ia kesal melihat banyak mahasiswi yang mendekati Azfan.


"Emang iya." Huma menjulurkan lidahnya enggan berhenti menggoda Khalisa. "Kok Azfan bisa tahu ukuran jari kamu ya padahal kamu sendiri nggak tahu."


"Azfan bilang dia cuma kira-kira aja pakai jari kelingkingnya dan Alhamdulillah pas."


"Aaahh jadi pengen nikah juga." Huma menggelayut di lengan Khalisa, ia tak bisa membayangkan bagaimana manisnya Khalisa dan Azfan nanti setelah menikah karena kepribadian mereka berbeda. Khalisa aktif dan cerewet sedangkan Azfan pendiam dan pemalu. Mereka akan menjadi pasangan yang saling melengkapi.


"Nanti aku cariin jodoh, mau yang kayak gimana?" Khalisa melepaskan tangannya dari Huma karena harus mengambil paket sembako dan memberikannya pada orang-orang yang lewat.


Huma menyusul, ia ikut mengambil bungkusan yang lumayan berat itu bersama anggota HAWASI disitu.


"Yang kayak Geza." Bisik Huma.


Khalisa hampir saja menjatuhkan paket sembako di tangannya karena terkejut mendengar jawaban Huma. Ia bisa diomeli para senior jika sampai gula atau minyak di dalam kantong plastik itu tumpah dan berceceran.


"Nggak ada cowok lain apa." Khalisa bukan tidak setuju jika Huma memang menyukai Geza tapi kenapa harus Geza, dunianya sangat sempit. Sahabatnya sendiri menyukai teman Khalisa dari kecil bahkan Geza sudah menganggapnya seperti adik sendiri.


"Ih emang kenapa, dia lucu orangnya."


"Nanti kalau kalian berantem, aku bingung mau bela siapa." Jawab Khalisa asal. "Katanya kamu mau dapat jodoh yang suka Harry Potter juga."


"Zaman sekarang udah langka beda lagi kalau kita hidup dua puluh tahun yang lalu pasti banyak tuh pecinta Harry Potter kayak aku."


"Ada lah pasti, kamu aja belum ketemu sama orang itu."


Huma mengerucutkan mulutnya tapi sedetik kemudian ia langsung tersenyum saat memberikan paket sembako pada salah satu pejalan kaki.


"Pulang dari sini ikut ke apartemen ya."


"Ngapain?"


"Mau rapat sama calon suami, ada Rindang juga."


"Mentang-mentang punya calon suami." Huma mendorong lengan Khalisa hingga membuat sahabatnya itu sedikit terhuyung. Huma tertawa, "padahal aku dorongnya nggak pakai kekuatan."


"Ini udah sore ya, energi ku udah habis." Khalisa balas mendorong Huma pelan.


Azfan penasaran apa yang sedang Khalisa dan Huma bicarakan sampai mereka tertawa seperti itu hingga saling dorong. Apakah sesuatu yang lucu? Azfan tidak dapat mendengarnya karena terlalu jauh.


Azfan kembali fokus membagikan makanan dan sembako itu pada pengendara yang lewat, ia tidak mau melihat Khalisa terlalu lama meski hanya punggungnya saja.


"Khalisa!"


Suara pekikan itu mengalihkan perhatian Azfan, ia memberikan dua bungkusan pada pejalan kaki dan kembali melihat ke tempat Khalisa dan Huma.


"Astaghfirullah maaf-maaf, aku sengaja." Khalisa berjongkok, ia tidak sengaja menjatuhkan satu bungkus sembako itu karena bercanda dengan Huma. Khalisa membelalak melihat beras berceceran keluar dari kantong plastik itu.


"Kamu bisa serius dikit nggak sih, ada kalanya kita bercanda tapi kalian udah berlebihan."

__ADS_1


Khalisa mendongak, "maaf Kak Adira aku bener-bener nggak sengaja." Katanya memohon maaf pada senior seangkatan Hasan yang satu jurusan dengannya itu.


Huma ikut terkejut dengan omelan kakak tingkat bernama Adira itu.


"Maaf Kak, ini salah ku dorong Khalisa barusan." Huma ikut minta maaf karena ini semua karena dirinya yang mengajak Khalisa bercanda.


"Kamu juga, kamu bukan anggota HAWASI kan, kenapa ikut kesini sih?" Suara Adira meninggi membuat Khalisa dan Huma tersentak hingga mencuri perhatian anggota HAWASI lain.


"Ada apa ini, tahan emosi Kakak apalagi ini bulan puasa." Azfan menghampiri Khalisa, ia buru-buru membereskan kantong plastik yang sudah robek itu dan memindahkannya ke dalam bagasi mobil Khalisa. "Lagian Khalisa udah bilang nggak sengaja dan udah minta maaf, nggak perlu marah-marah seperti itu sampai mencuri perhatian banyak orang." Suara Azfan pelan tapi tegas membuat Adira terdiam, ia tak takut meski Adira adalah kakak tingkat mereka karena reaksi wanita itu sudah berlebihan terhadap Khalisa.


"Masuk mobil gih." Pinta Khalisa dengan suara lirih pada Huma yang matanya mulai berkaca-kaca. Huma sudah mendapat izin dari Hasan tapi tidak semua anggota mengetahuinya sehingga Adira bicara seperti itu. Namun untuk berbuat kebaikan apakah harus mereka yang resmi bergabung dengan organisasi itu.


"Maafin aku." Lirih Adira dijawab anggukan pelan oleh Khalisa dan senyum samar.


Mereka kembali melanjutkan aktivitas membagikan sisa paket sembako.


"Azfan." Panggil Khalisa. "Makasih ya."


Azfan menggeleng, "Khalisa nggak perlu berterimakasih untuk ini." Ia mengulas senyum paling manis, senyum yang membuat Khalisa segera mengalihkan pandangan ke arah lain. "Oh iya, aku udah foto lukisan gaun pengantin kamu."


"Udah dikirim?" Khalisa akan membuat gaun pengantin dengan lukisan yang ia berikan pada Azfan saat festival kampus dulu. Mama nya telah memilih salah satu designer untuk membuat pakaian pengantin Khalisa.


"Udah aku kirim ke email."


"Oke, boleh kamu yang nyetir ke apartemen?"


"Boleh, aku akan nyetir buat Khalisa terus setelah ini."


Khalisa tersipu mendengar ucapan Azfan, ia menunduk dalam menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah memerah.


Azfan dan Khalisa naik ke mobil dimana Huma juga telah menunggu disana. Huma masih syok setelah kena marah Adira barusan. Ia ingin menangis tapi tak ada air mata yang keluar, mungkin karena ia sedang berpuasa hingga air mata di dalam tubuhnya kering.


"Kok kamu nggak di depan?" Tanya Huma melihat Khalisa duduk di sampingnya.


"Belum waktunya."


Azfan hanya tersenyum mendengar percakapan Khalisa dan Huma, ia mulai menjalankan mobil itu meninggalkan area depan kampus menuju apartemen Khalisa yang tidak sampai 5 menit dari sini.


Sebenarnya Khalisa tidak ingin pernikahannya dirayakan dengan mewah. Namun Renata dan Jaya sudah mengatur semuanya untuk Azfan dan Khalisa. Mereka bilang memiliki alasan tersendiri mengapa resepsi pernikahan itu harus dirayakan dengan meriah yang tidak bisa ditolak Khalisa.


Rindang sudah menunggu di ruang tengah dengan laptopnya karena ia yang merekomendasikan tempat desain kartu undangan termasuk suvenir.


"Lepas aja jas nya kalau panas." Kata Khalisa pada Azfan yang mengenakan jas HAWASI.


"Eh." Rindang menyembunyikan sereal coklat yang dari tadi ia makan tanpa susu melihat Khalisa, Huma dan Azfan datang.


"Nggak apa-apa, makan aja." Khalisa duduk di hadapan Rindang disusul Huma dan Azfan.


"Kalian pada puasa, nggak enak ah." Rindang membuka laptopnya.


Khalisa mengeluarkan ponsel memeriksa email dari Azfan.


"Azfan, kalau menurut kamu ini bagus nggak?" Khalisa menunjukkan foto lukisan gaun pengantin yang Azfan kirimkan, ia belum meminta pendapat Azfan soal baju tersebut.

__ADS_1


Tentu saja bagus, kalau tidak bagus maka Azfan tidak akan menyimpan lukisan itu meski Khalisa bilang ia hanya asal membuatnya. Jika asal-asalan menghasilkan lukisan sebagus itu, Azfan tak bisa membayangkan akan sebagus apa jika Khalisa niat melukis.


"Bagus, warnanya nggak mencolok dan modelnya sederhana, cocok untuk Khalisa."


Khalisa tersenyum lebar mendengar pendapat Azfan, "kalau gitu kamu juga harus pakai baju warna sampanye, nggak apa-apa?"


Azfan mengangguk.


"Ukur gih." Titah Rindang pada Khalisa untuk mengukur badan Azfan karena mereka tidak bisa fitting baju secara langsung.


Khalisa membelalak, kenapa harus dirinya yang mengukur badan Azfan, pasti akan sangat canggung.


"Bukannya Ci Gracia kirim orang kesini buat ukur bajunya?" Gracia adalah designers yang akan membuat pakaian untuk Khalisa dan Azfan.


"Aku batalin." Kata Rindang enteng, "lagi pula nanti yang ukur cewek juga, sama aja kan mending kamu yang ukur, Ci Gracia percaya sama kamu karena kamu juga udah sering bikin baju."


Khalisa melirik Azfan ragu, ia memang sering membuat pakaian tapi tetap saja ia belum pernah membuatnya untuk Azfan.


"Apa mau aku yang ukur?" Tantang Rindang yang langsung mendapat protes dari Khalisa.


"Ya udah biar adil, aku aja yang ukur." Akhirnya Huma menyahut karena geregetan melihat perdebatan Rindang dan Khalisa.


"Enggak." Azfan dan Khalisa menjawab bersamaan lalu mereka berpandangan dan menunduk bersama-sama.


Huma tertawa, "emang kalau jodoh tuh mirip ya."


"Udah deh kalian pilih aja undangan yang bagus, aku mau ukur badan Azfan dulu." Khalisa melangkah menuju ruang kerjanya disusul Azfan dimana ia meletakkan meteran jahit dan alat tulis untuk mencatat ukurannya.


"Kira-kira mereka kalau udah nikah manggil apa ya?" Huma berbisik pada Rindang.


"Abi Umi kali." Jawab Rindang, "nggak mungkin kan mereka manggil nama, nggak sopan."


"Belum punya anak udah Abi Umi."


"Atau Ubi Ami."


"Ubi bakar atau ubi kukus."


Huma dan Rindang tertawa terbahak-bahak karena kekonyolan mereka sendiri.


"Tanya aja sama orang-orang, bagusnya mereka manggil apa." Kata Huma lagi belum puas mentertawakan Khalisa.


"Eh, bagus yang mana?" Rindang menggeser laptopnya agar Huma juga melihat contoh desain undangan pernikahan disana.


"Aku denger bajunya warna sampanye, berarti kartu undangannya juga harus sampanye."


"Gila sih Akong Jaya, mereka nggak cuma ngasih undangan aja tapi sama tiket pesawat juga."


"Serius?!" Huma memekik disambut anggukan oleh Rindang.


Khalisa melongokkan kepala demi melihat Rindang dan Huma, apa yang mereka bicarakan sampai seperti itu.


Dengan hati-hati Khalisa mengukur bahu Azfan dan mencatatnya pada buku kecil di atas meja. Ia sudah sering membuat pakaian untuk Daniel atau Azmal tapi saat mengukur badan Azfan rasanya jauh berbeda.

__ADS_1


Azfan mengatup bibirnya rapat, bagaimana jika Khalisa mendengar jantungnya yang berdetak dua kali lebih kencang.


Hari pernikahan semakin dekat, mereka juga telah mengurus berbagai dokumen di KUA yang cukup menguras tenaga dan pikiran meski sebagian besar sudah ditangani oleh keluarga Khalisa. Namun meski begitu mereka tetap menikmati setiap proses tersebut.


__ADS_2