
Azka Kashif Alindra, nama itu tertulis di bagian depan box bayi yang terletak di samping brankar. Bayi itu akan dipanggil Azka yang merupakan gabungan dari nama Azfan dan Khalisa. Mereka telah menyiapkan nama itu sejak mengetahui jenis kelamin sang jabang bayi setelah melakukan USG. Mereka sengaja merahasiakannya dari semua orang. Itu sebabnya Khalisa dan Azfan saling menatap penuh arti mendengar orang-orang berseru laki-laki ketika Azfan memecah kelapa gading saat prosesi 7 bulanan.
Khalisa dan bayinya sudah dipindahkan ke ruang rawat. Jika sehat maka besok Khalisa diperbolehkan pulang. Dokter meminta Khalisa dirawat karena tekanan darahnya rendah.
"Keinginan Ama terwujud, cicit nya laki-laki." Azfan masih tak bisa mengalihkan pandangan dari Azka yang berada di gendongannya, ia sudah jatuh cinta sejak Azka belum terlihat dan masih berada di dalam kandungan Khalisa. Azfan masih terlihat kaku saat menggendong Azka, karena ini pertama kali baginya. Meski memiliki dua adik, dulu Azfan menunggu mereka agak besar untuk menggendongnya karena takut.
"Anteng nih anaknya." Azfan menahan diri untuk tidak mencubit pipi tembam Azka.
Setelah puas minum ASI dengan penuh perjuangan akhirnya Azka terlelap. Karena baru pertama kali menyusui, Khalisa sedikit kesulitan tadi apalagi Azka tidak sabar untuk minum yang membuatnya semakin sulit menemukan putingg Umma nya. Namun akhirnya mereka berhasil melakukannya. Khalisa sampai mengeluarkan air mata saat pertama kali Azka menyusu padanya, sakit dan terharu bercampur jadi satu.
Huma pamit pulang lebih dulu setelah melihat Azka dan menggendongnya sebentar. Huma dan Kafa juga yang mengambil peralatan milik Khalisa dan Azka di rumah. Sebelumnya Azfan dan Khalisa sudah menyiapkan satu tas khusus untuk dibawa ke rumah sakit. Namun tadi mereka buru-buru pergi ke rumah sakit sehingga tidak sempat membawa tas tersebut.
Saat ini Kafa pergi ke bandara untuk menjemput Ica dan Daniel.
"Umma istirahat dulu ya." Azfan mengusap kepala Khalisa.
"Mas Azfan jangan lupa beli makanan ya, tadi kan cuma buka puasa sama teh." Khalisa menarik tangan Azfan dan menelitinya, "sakit nggak?"
"Enggak, memangnya kenapa?"
"Tadi aku pegang nya terlalu kenceng." Khalisa ingat tadi ia mendengar suara tulang jari Azfan berbunyi.
"Tanganku baik-baik saja, terimakasih sayang." Azfan mengecup punggung tangan Khalisa, walaupun mengucapkan seribu terimakasih pun Azfan tak akan mampu membalas jasa Khalisa yang telah melahirkan bayi mereka. "Tidur gih."
Khalisa mengangguk dan memejamkan mata, ia memang mengantuk karena kurang tidur sekaligus kelelahan setelah berjuang melahirkan Azka.
Azfan menatap Khalisa dan bayinya bergantian, tiba-tiba air matanya kembali meleleh mengingat perjuangan Khalisa tadi. Azfan mengecup bibir Khalisa sebelum beranjak dari kursi di samping brankar.
Azfan berpindah ke sofa mengambil ponsel untuk memesan makanan. Ia memesan beberapa porsi sate ayam untuk mertuanya yang sebentar lagi akan datang. Ibu Azfan juga akan datang malam ini. Azfan sengaja mengabari ibunya setelah Azka lahir karena ibunya itu mudah panik. Azfan khawatir itu justru akan membuat Khalisa tidak nyaman.
"Assalamualaikum."
Azfan terkesiap mendengar suara Ica bersamaan dengan pintu ruangan yang terbuka.
Ica langsung menutup mulut ketika melihat Khalisa tidur lalu pandangannya terfokus pada bayi mungil di dalam box.
"Waalaikumussalam Ma." Azfan mencium tangan mertuanya.
"Selamat Azfan." Ica memeluk Azfan. "Kamu udah jadi Abi.
"Dan Mama jadi Ama." Balas Azfan dengan senyum lebar.
"Selamat ya Fan." Daniel juga memeluk Azfan menepuk-nepuk punggungnya dengan bangga.
"Azka mirip sekali dengan Akong nya." Kata Azfan dengan senyum bermekaran.
"Oh ya?" Mata Daniel membulat, ia segera menyusul Ica melihat cucu mereka dengan tidak sabar.
Ica mengangkat tubuh Azka dan mengecup pipinya beberapa kali dengan gemas.
"Bener-bener mirip Akong nya nih." Ica menghadapkan Azka pada Daniel.
"Masya Allah, Azka kamu cakep banget." Daniel mencium bibir mungil Azka. Dadanya terasa hangat melihat bayi mungil di gendongan Ica. Daniel masih tak percaya jika Khalisa benar-benar telah melahirkan seorang anak. "Semoga kamu jadi anak baik, sholeh dan berbakti sama orangtua."
"Papa mau gendong nggak?"
"Mau sayang, aku lagi nunggu giliran."
"Bismillahirrahmanirrahim." Ica memberikan Azka pada Daniel. Ia mengelus pelan rambut Azka yang tebal dan hitam. "Anteng banget dia nggak bangun."
__ADS_1
Azfan tersenyum, mereka tidak tahu saja tadi suara Azka menangis terdengar hingga ujung koridor.
"Zunai sama Azmal kok nggak ikut ma?" Tanya Azfan.
"Sebenernya mereka udah ribut tadi mau ikut tapi mereka kan lagi ada ujian di sekolah jadi Mama nggak bolehin ikut."
"Kasihan mereka pasti nggak sabar lihat keponakannya."
"Video call aja nanti kalau Cece nya sudah bangun."
Daniel menimang Azka dengan penuh kasih sayang, sesekali ia mencium pipi kemerahan cucunya dengan gemas. Meski begitu Azka sama sekali tidak terusik.
"Aku mau coba gendong dong." Ujar Kafa yang sedang duduk di sofa.
"Bisa nggak kamu?" Daniel melihat Kafa ragu.
"Bisa lah Om, aku sering gendong Fatah sama Fatimah dulu." Kafa mengambil alih Azka pelan-pelan.
"Sebenarnya saya juga belum gendong dari tadi." Ujar Azfan, ia masih belum berani menggendong tubuh si kecil padahal ia sangat ingin melakukannya.
"Oh kalau gitu coba Mas Azfan belajar ntar, masa Abi nya nggak bisa gendong." Kafa meledek Azfan padahal ia sendiri merasa ragu saat menggendong Azka.
"Saya mau ke depan dulu mau ambil pesanan makanan." Izin Azfan setelah mendapat pesan dari kurir untuk bertemu di lobi rumah sakit.
"Eh Mama boleh minta tolong beliin air nggak di minimarket depan tapi harus nyebrang."
"Boleh Ma, berapa?"
"Tiga aja yang satu literan, Mama nggak sempet beli apa-apa barusan."
"Ya udah, Azfan pergi dulu." Azfan melihat Azka di gendongan Kafa sekali lagi sebelum keluar ruangan. Ayolah ia hanya akan pergi ke minimarket depan tapi rasanya berat sekali meninggalkan Azka. Bagaimana jika Azfan harus kuliah nanti, pasti ia akan selalu terbayang-bayang pada sosok Azka.
Setelah mengambil pesanan makanan, Azfan menyeberang ke minimarket untuk membeli air mineral Ica. Azfan juga membeli beberapa camilan serta buah untuk Khalisa.
"Iya, mertua kamu udah dateng ya?" Tanya Kirana.
"Baru aja sampai." Jawab Azfan, ia tidak bisa menyalami ibunya karena tangannya penuh dengan barang bawaan.
"Mereka bawa apa?" Lirih Kirana.
"Kenapa ibu nanya gitu?" Azfan mengerutkan kening.
"Ibu malu sama mereka karena Ibu nggak bawa apa-apa."
"Bu," Azfan menggeleng, "kenapa Ibu harus malu, mereka juga nggak akan peduli kok Ibu bawa sesuatu apa enggak, kehadiran Ibu aja pasti udah bikin Papa, Mama dan Khalisa seneng."
"Tetep aja Fan, kita ini kan orang nggak punya."
Azfan meletakkan kantong plastik berisi 3 botol air mineral tersebut.
"Ibu nggak boleh berpikir seperti itu." Azfan mengusap lengan ibunya. "Kalau Khalisa tahu Ibu bilang gini pasti dia akan sedih, nggak boleh Bu."
Kirana mengusap matanya yang basah, sepanjang perjalanan tadi ia menangis karena mengkhawatirkan keadaan Khalisa. Ia harusnya datang lebih awal untuk mendampingi menantunya itu.
"Assalamualaikum." Azfan dan Kirana mengucapkan salam. Azfan mendorong pintu dan masuk bersama ibunya.
"Waalaikumussalam, Bu Kirana." Ica menyapa Kirana ramah dan menanyakan kabarnya.
"Alhamdulillah baik Bu." Balas Kirana dengan senyum manis, ekspresi sedihnya saat di lobi tadi sama sekali tidak berbekas.
__ADS_1
Si mungil Azka berpindah ke gendongan Kirana. Tak berapa lama kemudian Azka berada di gendongan Azfan yang katanya belum berani menggendong anaknya. Azka sudah seperti piala bergilir yang tidak memiliki kesempatan untuk tidur di dalam box nya.
Akhirnya Azka diletakkan di dalam box nya karena mereka akan makan. Azfan sudah memesan sate ayam untuk semuanya. Azfan baru sempat makan berat setelah hanya meminum segelas teh hangat tadi untuk buka puasa.
Suara tangisan Azka mengalihkan perhatian semua orang. Akhirnya mereka bisa mendengar tangisan Azka yang begitu nyaring hingga menggema ke seluruh ruangan. Tangisan itu juga membuat Khalisa terbangun dari tidurnya yang tidak seberapa lama.
"Biar Ibu yang lihat." Kirana beranjak untuk melihat Azka, "kayaknya pipis nih." Ia mengecek popok Azka yang ternyata sudah basah. Itu sebabnya Azka merasa tidak nyaman dan akhirnya menangis.
"Ibu, udah lama sampai?" Khalisa melihat Kirana yang sedang mengganti popok Azka.
"Lumayan, udah makan juga barusan bareng-bareng." Jawab Kirana.
Azfan ikut beranjak mendekat ke brankar Khalisa karena ia sudah selesai makan.
"Haura mau makan lagi?" Tanya Azfan pada Khalisa.
"Mau ke kamar mandi." Suara Khalisa terdengar serak.
"Ya udah yuk aku anterin."
"Setelah nyusuin Azka, dia kelihatan haus." Khalisa mengulurkan tangan menyentuh rambut Azka.
Kirana memberikan Azka pada Khalisa setelah mengganti popoknya.
"Agak dramatis nih Umma nya kalau nyusuin." Lirih Khalisa mengingat saat kali pertama Azka menyusu tadi. Namun ternyata rasanya tidak sesakit tadi, melihat Azka minum banyak ia sudah luar biasa bahagia.
"Biasa awal-awal memang sakit, nggak dramatis kok." Ica mengusap puncak kepala Khalisa. "Kamu sudah jadi Ibu yang hebat sayang."
"Mama udah dari tadi sampai?" Khalisa menyentuh pipi gembul Azka, rasanya ia ingin menggigit pipi itu.
"Iya udah lumayan lama." Ica menyentuh rambut tebal Azka. "Tebel nih rambutnya kayak Abi nya."
"Allah itu luar biasa ya Ma, nggak terbayang bayi sebesar ini bisa keluar dari tubuh ku."
Ica tersenyum, "Mama juga merasa seperti itu saat melahirkan kamu dulu."
Azka perlahan terlelap dalam dekapan sang ibu. Ica pun membantu Khalisa memindahkan Azka ke dalam box.
"Aku mau ke kamar mandi dulu." Khalisa turun dari ranjang dengan gerakan perlahan.
Azfan membimbing Khalisa menuju kamar mandi sambil membawa kantong infusnya.
"Jadi takut mau pipis." Khalisa merasakan nyeri di bagian bawah tubuhnya ketika duduk di atas WC, mungkin karena bekas jahitannya.
Azfan menggantung kantong infus Khalisa di atas tiang dekat WC dan berjongkok di hadapan Khalisa.
"Masih sakit banget?" Ia bertanya dengan hati-hati.
"Agak nyeri, sedikit." Khalisa memejamkan mata, ayolah ini hanya buang air kecil. "Lihat wajah Abi aja ya biar nggak sakit." Candanya.
Azfan tersenyum, Khalisa masih saja bisa bercanda dalam keadaan seperti ini. Padahal Azfan begitu tegang menunggu Khalisa.
"Aku akan panggil Abi mulai sekarang." Khalisa memegang pundak Azfan, "terimakasih sudah jadi Abi siaga."
"Umma, ini sudah tugasku, aku akan berusaha untuk jadi suami dan Abi yang baik untuk kamu, untuk Azka." Suara Azfan terdengar begitu lembut. "Eh kencingnya udah keluar." Ujarnya spontan.
Khalisa tertawa, "ini cuma kencing, kenapa Mas Azfan se-exited itu sih?"
Azfan ikut tertawa menyadari kebodohannya. Tidak, Azfan masih belum bisa move on dari momen lahiran Khalisa tadi.
__ADS_1
Serius banget nih Akong liatin Azka 😂