Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
139


__ADS_3

Rindang menarik napas dalam-dalam ketika keluar dari rumahnya, ia melangkah dengan hati-hati masuk ke dalam mobil yang akan membawanya menuju masjid Al-Fatah. Rindang didampingi Huma dan Khalisa sedangkan orangtuanya sudah berada di masjid lebih dulu.


Semalam Rindang tidak bisa tidur memikirkan akad hari ini, ia terus berdoa agar prosesi akad berjalan dengan lancar. Rindang juga sempat bertukar pesan dengan Levin tadi malam. Rindang menanyakan apakah Levin sudah benar-benar siap untuk mengucapkan kalimat qobul. Levin cukup percaya diri dan menjawab bahwa ia sudah berlatih untuk itu.


"Kamu cantik banget." Bisik Huma yang berada di sisi kiri Rindang, ia bahkan sempat terdiam beberapa saat memandang Rindang yang begitu anggun pagi ini.


Rindang hanya tersenyum di balik cadarnya, ia belum bisa mengucapkan sepatah katapun karena terlalu tegang. Bahkan sekarang ia mengeluarkan keringat dingin, rasanya mobil berjalan sangat lambat padahal jarak rumah dan masjid hanya sekitar 2 kilometer. Namun kali ini 2 kilometer itu terasa sangat jauh.


"Kamu udah cek gula darah kan tadi?" Tanya Khalisa yang duduk di sisi kanan Rindang, ia mengecek peralatan medis milik Rindang yang sudah ia siapkan pada pouch khusus.


"Udah, tadi rendah banget tapi aku udah minum jus buah buat naikin."


"Semoga udah stabil sekarang, kamu kurang istirahat ya?" Khalisa menarik tangan Rindang dan menggenggamnya.


"Aku nggak bisa tidur semalem, sama sekali nggak niat begadang tapi emang susah tidur."


"Tuh kan kamu kecapekan."


Rindang terkekeh, Khalisa sudah seperti seorang ibu yang mengomeli anaknya. Karena semuanya serba mendadak, Rindang tidak lagi memikirkan untuk istirahat. Rindang harus segera menyelesaikan semuanya hingga lupa waktu. Walaupun orang-orang di sekitarnya banyak membantu tapi Rindang ingin memastikan semua berjalan sesuai rencananya.


"Tenang-tenang, aku udah sarapan banyak tadi sampai begah nih perut." Rindang menepuk-nepuk perutnya, ia mengatakan itu untuk menenangkan Khalisa. Sebenarnya Rindang hanya memakan sepotong roti gandum dengan selai kacang karena ia tak mau perutnya terlihat buncit saat mengenakan gaun pengantin.


"Nggak percaya." Huma kembali berbisik di telinga Rindang.


Rindang menepuk paha Huma agar tidak lagi membahas hal ini atau kalau tidak mereka akan mendengar Khalisa mengomel lagi.


Mobil Rindang berhenti di pelataran masjid yang juga sudah penuh oleh mobil keluarga besar Rindang.


Rindang melihat papa nya melangkah menghampiri mobil yang membawanya kemari. Khalisa dan Huma keluar lebih dulu agar Jonas bisa bicara berdua dengan Rindang.


"Wah anak Papa cantik sekali." Jonas menatap kagum pada sang anak semata wayangnya, "Rindang cantik sekali, kamu sangat mirip Mama mu." Jonas mengusap pipi Rindang dengan hati-hati takut merusak riasan wajahnya. Jonas jadi teringat pada Michelin ketika hari pernikahan mereka dulu. "Kamu sedih?"


"Enggak, kenapa Rindang harus sedih?" Rindang menatap papa nya.


"Karena Papa nggak bisa menikahkan kamu, nggak seperti Daniel yang bisa menikahkan Khalisa dengan suaminya."


Rindang menggeleng, ia menurunkan tangan papa nya yang berada di pipi untuk menggenggamnya. Rindang tidak pernah iri terhadap Khalisa yang bisa dinikahkan langsung oleh papa nya sedangkan ia tak bisa.


"Rindang sama sekali nggak sedih tentang hal itu, sebaliknya Rindang bahagia banget sekarang, Rindang mau bilang terimakasih banyak karena Papa dan Mama selalu mendukung Rindang." Rindang berterimakasih karena mereka tidak menentang keputusannya untuk memeluk Islam dan menikah dengan Levin. Mereka selalu mendukung Rindang.


Jonas mengecup puncak kepala Rindang, ia berusaha menahan diri agar tidak menangis tapi percakapan ini membuatnya emosional. Rindang adalah anak satu-satunya, sungguh berat untuk melepasnya. Namun Jonas percaya Levin bisa menjaga dan membahagiakan Rindang.


"Maafin Papa."


"Papa jangan minta maaf."


"Mama sebentar lagi akan kesini, Papa masuk dulu." Jonas mengusap kepala Rindang satu kali lagi lalu keluar dari mobil.


Di antara orang-orang yang hadir pagi itu di dalam masjid Al-Fatah, tak ada satu pun berasal dari keluarga Levin. Hanya Daniel dan Ica yang berperan sebagai pengganti orangtua Levin. Beberapa kali Levin melihat ke arah pintu, berharap ada mama atau papa nya tiba-tiba datang untuk menyaksikan pernikahannya. Levin seperti hidup seorang diri di bumi, ia kesepian duduk di antara mereka.


Levin memang selalu kesepian, seperti saat merayakan hari raya ia tak bisa melakukan sungkeman dengan orangtuanya. Tak ada kue lebaran di rumahnya, biasanya Levin akan membeli kue dan memakannya dengan Meylin. Namun saat hari raya, Levin masih bisa bertemu dengan saudara sesama muslim di luar sehingga ia selalu menganggap mereka adalah keluarga meskipun tidak mengenalnya. Namun sekarang Levin merasa benar-benar kesepian—sepi yang tak berujung.


Daniel yang dari tadi memperhatikan Levin mencoba untuk mengajaknya bicara agar tidak terlalu tegang. Daniel tahu, Levin bukannya sedang bersedih dihari bahagianya, anak itu hanya menginginkan kehadiran orangtuanya.


Masjid ini menjadi bangunan yang paling bersejarah di hidup Daniel, karena dulu ia juga mengucapkan syahadat dan Akas nikah disini. Dulu orangtua Daniel juga tak hadir pada hari bahagianya. Itu mengapa Daniel sangat mengerti perasaan Levin. Hanya saja Levin benar-benar sendirian, tak ada keluarga yang ikut bersamanya.


"Saya akan mulai." Penghulu mengulurkan tangan pada Levin. "Mau latihan dulu?"


Levin tak perlu latihan lagi karena dari kemarin ia sudah cukup berlatih mengucapkan kalimat qobul.


Di dalam mobil, Rindang bersama dua sahabatnya melihat ke arah layar yang menampilkan suasana di dalam masjid. Rindang tak henti merapalkan shalawat agar urusan mereka dilancarkan.


"Wah Ko Levin cukup PD." Lirih Huma melihat Levin menggeleng ketika penghulu menanyakan apakah mereka perlu latihan lebih dulu.

__ADS_1


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Levin Evander Deristiano bin Michael Deristiano dengan Rindang Anjana binti Jonas Aderic dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu unit rumah dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Rindang Anjana binti Jonas Aderic dengan mas kawin tersebut, tunai."


Saat para saksi berseru Sah, napas-napas yang semula tertahan akhirnya bisa diembuskan dengan panjang. Mereka memanjatkan doa yang dipimpin oleh penghulu. Mendoakan keberkahan dalam rumah tangga Levin dan Rindang setelah ini.


Beberapa saat kemudian Michelin dan Ica datang untuk menjemput Rindang di dalam mobil. Langkah demi langkah membawa Rindang menuju teras masjid.


Levin beranjak dari duduknya melihat Rindang datang, ia tak dapat menahan tangisnya lagi. Perasannya saat ini campur aduk antara bahagia dan haru menjadi satu. Air mata Levin mengalir deras melihat Rindang yang sekarang telah resmi menjadi istrinya.


Rindang tampak anggun dengan gaun berwarna putih, jilbab yang terulur hingga ke punggung dan mahkota kecil di atas kepalanya.


Hati Levin yang semula terasa kosong karena ketidakhadiran orangtua, kini terisi penuh setelah Rindang datang. Levin menunduk mengusap pipinya yang basah lalu kembali mendongak dan memasang senyum paling manis saat Rindang semakin dekat.


Jantung Rindang berdebar kencang, apa ini? Huma bilang di dalam novel saat jatuh cinta maka tokohnya akan merasakan debaran kencang dan sekujur tubuhnya seperti terkena listrik. Saat mendengar hal itu dari Huma, Rindang menganggap itu tak masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang bisa merasa seperti tersengat listrik.


Namun sekarang Rindang merasa semua ucapan Huma masuk akal, ketika ia mencium punggung tangan Levin, tubuhnya bergetar seperti terkena sengatan listrik. Bahkan Rindang tak bisa menopang tubuhnya sendiri, jika Levin tidak menahan lengannya pasti ia sudah ambruk.


"Kamu cantik sekali." Bisik Levin sedetik sebelum ia mendaratkan bibirnya pada kening Rindang.


"Koko nangis?" Rindang memejamkan mata membiarkan Levin mengecup keningnya lebih lama.


"Aku nggak bisa menahannya setelah melihatmu." Balas Levin dengan suara rendah. "Aku akan berdoa."


"Baik." Rindang mengangkat dua tangan sebatas dada sementara Levin menyentuh puncak kepalanya dan membisikkan doa setelah akad.


Levin menarik tangannya kembali setelah berdoa, matanya berbinar-binar menatap Rindang. Bagaimana mungkin Levin baru menyadari bahwa Rindang memiliki wajah yang sangat cantik, terlepas dari cadar yang menghalangi sebagian wajahnya, Levin tetap bisa melihat kecantikan sang istri.


"Maaf, saya terlambat." Suara berat seseorang di depan pintu mengalihkan perhatian semua orang yang berada di dalam masjid.


"Papa."


"Om!"


"Maaf semuanya, saya Michael papanya Levin." Michael memperkenalkan diri pada semua orang, ia mengedarkan pandangan mencari kebenaran orangtua Rindang. Karena tak bertemu sebelumnya, Michael tidak tahu sosok Jonas dan Michelin.


"Papa." Panggil Levin.


"Maafin Papa." Michael bergegas memeluk Levin, ia merasa amat bersalah karena membiarkan Levin mengurus semuanya sendiri.


"Makasih Papa udah datang."


"Maaf, Papa terlambat." Hanya kata maaf yang bisa Michael katakan pada Levin atas rasa bersalah yang menguasai dirinya.


"Papa jangan minta maaf." Levin mengurai pelukan.


"Papa bangga sama kamu nak." Michael menepuk pundak Levin dua kali dan beralih melihat Rindang.


Michael merentangkan tangan untuk memeluk Rindang, "selamat Rindang."


Rindang menoleh ke arah Levin, ia ragu hendak memeluk Michael. Bolehkah ia memeluk Michael? Namun setelah melihat Levin mengangguk, akhirnya Rindang memeluk Michael.


"Maaf, Om nggak bisa menepati janji Om untuk membawa Tante Val kesini." Setitik kristal nening membasahi pipi Michael. Ia telah berusaha merayu Valerie agar ikut menghadiri pernikahan anak mereka. Namun Valerie tetap pada pendiriannya, ia enggan datang.


"Dengan Om datang kesini, saya sudah senang." Ucap Rindang membesarkan hati Michael.


"Maka sekarang kamu boleh panggil Papa."


Rindang tersenyum lebar, itu akan terdengar canggung tapi ia harus melakukannya. Tadi malam Rindang juga memikirkan sebutan apa yang akan ia gunakan untuk memanggil Levin setelah menikah nanti. Jika Khalisa bisa memanggil Mas atau Abi maka Rindang tak menemukan panggilan yang pas untuk Levin. Apakah Rindang harus menanyakan ini pada Levin, ia bertanya-tanya apakah dulu Khalisa juga bertanya pada Azfan sebelum mengubah panggilannya.


"Baik, Papa." Ujar Rindang sedikit tercekat.


"Semoga Tuhan memberikan kebahagiaan dan memberkati pernikahan kalian." Michael menatap Levin dan Rindang bergantian.

__ADS_1


"Terimakasih Pa."


"Terimakasih Om—Pa." Rindang belum terbiasa memanggil Michael dengan sebutan papa, itu sebabnya ia sedikit kikuk.


Levin menggenggam tangan Rindang yang dingin membawanya duduk di hadapan penghulu untuk menandatangani surat nikah mereka.


Setelah itu mereka mengabadikan momen di dalam masjid bersama keluarga dan beberapa kerabat dekat orangtua Rindang.


Ketika hendak mengambil foto di luar masjid tiba-tiba ada belasan wartawan yang mengerumuni Rindang dan Levin. Rindang kaget melihat mereka, ia telah berusaha menutup rapat tentang pernikahannya tapi ada saja wartawan yang mengetahui hal ini.


"Ci, tolong katakan sesuatu tentang pernikahan kalian."


"Mengapa Ci Rindang tiba-tiba menikah, selama ini tidak terdengar kabar bahwa Cici akan menikah sejak putus dari Jason."


"Mengapa pernikahan ini begitu tertutup?"


"Tolong kenalkan kepada kami laki-laki yang beruntung menikahi seorang Rindang."


Mereka berebut memberi pertanyaan terhadap Rindang. Beberapa orang yang berjaga di depan masjid dengan sigap melindungi Rindang dan Levin.


Rindang terlalu terkejut dan bingung untuk menjawab pertanyaan mereka, ia tak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Bahkan Rindang sengaja tidak menggunakan gedung khusus untuk pernikahannya karena ingin merahasiakan hal ini.


"Saya akan menjawab pertanyaan kalian satu per satu tapi mohon untuk tenang." Akhirnya Rindang bersuara.


Levin merangkul pinggang Rindang dari samping, "kita bisa langsung masuk mobil kalau kamu nggak mau jawab." Lirihnya.


Rindang harus menjawab rasa penasaran mereka dan orang-orang di luar sana. Jika menghindar sekarang maka itu hanya akan menimbulkan prasangka dari sebagian orang.


"Pertama saya tidak berniat menyembunyikan pernikahan ini, saya pasti akan memberitahu tapi bukan sekarang karena berbagai alasan, salah satunya adalah suami saya bukan seorang selebriti, selebgram atau semacamnya dan dia tidak terbiasa dengan suasana seperti ini jadi saya mohon kepada teman-teman wartawan untuk menghargai privasi kami."


Levin menatap Rindang kagum karena ketegasannya, ia tak pernah bilang bahwa dirinya bisa saja terganggu dengan keberadaan wartawan tapi Rindang mengetahuinya. Rindang mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati Levin.


"Boleh aku memberitahu mereka?" Rindang melihat Levin, jika Levin tak setuju maka ia tak akan memberitahu wartawan tentangnya.


"Nggak masalah." Levin menggeleng, lagi pula cepat atau lambat pasti mereka akan mengetahui tentang dirinya.


"Karena kalian sudah disini maka saya akan memberitahu bahwa laki-laki di samping saya sekarang adalah Levin Evander Deristiano yang telah resmi menjadi suami saya."


"Mendengar nama belakangnya, apakah Levin merupakan putra dari pemilik hotel Aswatama?"


"Benar, kalau begitu cukup sampai disini dulu." Rindang melangkah hendak meninggalkan teras masjid.


"Tolong jawab satu pertanyaan lagi." Desak mereka.


"Cukup cukup." Seru penjaga yang tengah berusaha melindungi Rindang dan Levin.


Rindang mencengkram erat lengan Levin ketika menuruni tangga masjid, pandangannya berkunang-kunang hingga ia tidak bisa melihat pijakannya sendiri.


"Rindang!" Orang-orang memekik ketika tiba-tiba tubuh Rindang ambruk tapi untung saja Levin sigap menangkapnya.


Levin mengangkat tubuh Rindang yang tidak sadarkan diri. Ia berseru agar wartawan yang berkerumun itu memberi jalan untuknya.


"Gula darahnya sangat rendah tadi pagi." Ucap Khalisa pada Levin. "Rindang pasti melewatkan sarapan."


"Aku harus bawa dia ke rumah sakit, Rindang mengalami hipoglikemia." Levin membawa Rindang masuk ke dalam mobilnya. Ia memeriksa detak jantung Rindang menggunakan stetoskop. "Pa, Ma, kita harus bawa Rindang ke rumah sakit." Ujarnya ketika mertuanya masuk mobil.


Jonas berada di jok kemudi, ia menjalankan mobil keluar dari halaman masjid dengan kecepatan tinggi. Jonas tak mau terjadi sesuatu yang buruk pada Rindang.


Levin menggenggam tangan pucat Rindang, sebagai dokter harusnya ia tidak terlalu panik tapi saat ini terjadi pada Rindang, ia tak bisa mengendalikan diri.



__ADS_1


__ADS_2