
Khalisa terbangun oleh suara deru mobil yang cukup nyaring mengejutkannya dari tidur singkatnya. Khalisa bahkan masih mengenakan mukena, ia tidur di atas sajadah usai shalat subuh. Seingatnya tadi Khalisa sedang berdzikir dan tiba-tiba ia berpindah ke dunia mimpi setelah semalaman tidak tidur.
Khalisa mengingat-ingat mimpinya barusan, ia bermimpi bahwa Azfan datang kesini menghibur kesedihannya karena kejadian kemarin. Khalisa tertawa, meski tidak ada disini tapi Azfan datang ke mimpinya untuk membuatnya tersenyum. Andai Azfan benar-benar datang.
Khalisa mengintip keluar jendela, ia melihat mobil box terparkir di depan resor. Ternyata mobil itu yang telah membangunkannya. Biasanya saat pagi begini memang ada beberapa mobil box yang berdatangan untuk mengantar stok bahan makanan, pembersih ruangan dan selimut serta bed cover yang baru selesai dicuci.
"Ah kenapa muka ku kayak alien gini." Khalisa melihat pantulan wajahnya di kaca, matanya bengkak akibat menangis sangat lama semalam. Khalisa menghabiskan sepanjang malam untuk berdoa bermunajat kepada Allah meminta petunjuk dalam menghadapi Fawas yang datang dengan niat baik melamarnya. Meski Daniel bilang bahwa Khalisa tak perlu memaksakan diri, jika tak ingin maka tolak saja lamaran itu. Namun Khalisa melakukan apa yang Ica sarankan kepadanya yakni menyertakan Allah di setiap urusan.
Khalisa melirik ke bawah sana melihat dua laki-laki turun dari mobil box tersebut. Mata Khalisa membulat melihat sosok Azfan disana. Tidak-tidak, pasti Khalisa masih bermimpi. Tidak mungkin Azfan ada disini kan? Khalisa mengucek matanya memastikan bahwa laki-laki itu bukan Azfan tapi orang lain. Namun penglihatan Khalisa semakin jelas. Lelaki itu melihat ke arah Khalisa. Pandangan mereka bertemu lalu terkunci untuk beberapa saat.
Jantung Khalisa berdebar kencang, tanpa melepas mukena Khalisa keluar dari kamar berlari menuruni tangga yang menghubungkan lantai dua dan satu. Beberapa orang yang berpapasan dengan Khalisa melihat heran karena Khalisa terburu-buru begitu. Bahkan tanpa sadar Khalisa tidak menggunakan alas kaki.
"Azfan!" Pekik Khalisa, ia tak mempedulikan wajahnya yang saat ini seperti alien, ia hanya ingin memastikan bahwa laki-laki itu memang Azfan.
Azfan melihat Khalisa berlari menghampirinya tanpa alas kaki, "Khalisa."
"Azfan, kok kamu disini?" Mata Khalisa berkaca-kaca melihat sosok Azfan berada di hadapannya. Padahal barusan ia hanya bisa merasakan Azfan melalui mimpinya tapi sekarang cowok itu benar-benar ada di depannya.
"Khalisa, kenapa kamu nggak pakai sandal?" Azfan melihat sepasang kaki Khalisa tanpa kaos kaki sekilas. Wajah Khalisa juga terlihat pucat, apakah Khalisa sakit?
"Hah?" Khalisa segera menurunkan mukenah untuk menutupi kakinya. "Aku barusan lihat kamu dari atas ternyata ini beneran kamu."
"Aku ikut Pak Dhe ngirim batik, aku nggak nyangka kalau costumer nya ternyata Tante Ica." Azfan melepas sandal jepitnya tapi Khalisa mencegahnya.
"Nggak usah, sandal ku ada di atas barusan aku buru-buru sampai nggak sempet pakai sandal." Tolak Khalisa. Pasir pantai tak akan membuat kakinya terluka, ia juga tak mungkin membiarkan Azfan pulang tanpa sandal. "Jadi Mama pesen batiknya ke Ibu kamu."
"Kamu kenapa?" Azfan melihat mata Khalisa bengkak seperti habis menangis. Azfan tak kuasa melihat jejak air mata di wajah Khalisa, ia ingin merangkul tubuh mungil itu untuk meringankan beban Khalisa tapi menyentuh saja ia tak bisa.
"Nggak apa-apa, aku nggak tidur semaleman baru tidur sebentar setelah shalat subuh jadi gini, nasib punya mata sipit langsung kelihatan bengkak." Khalisa mengusap pipinya yang basah, kenapa ia menangis? Khalisa hanya terlalu senang bisa melihat Azfan disini, di kota kelahirannya.
"Cece, ini sandalnya tadi Ce Khalisa lari dari atas sampai nggak pakai sandal." Seorang karyawan menghampiri Khalisa membawa sepasang sandal resor untuk Khalisa.
"Aduh Mbak Put, maaf ya ngerepotin." Khalisa mengenakan sandal selop berwarna putih tersebut. "Makasih Mbak."
"Sama-sama Ce, saya permisi dulu." Puput segera undur diri dari sana setelah memberikan sandal pada Khalisa.
Khalisa tidak bisa berhenti tersenyum padahal belum lama ini mereka bertemu bahkan makan bersama. Namun bertemu Azfan di tempat selain kampus atau apartemennya membuat Khalisa merasakan sesuatu yang berbeda. Atau karena diam-diam ia memang mengharapkan kedatangan Azfan.
Azfan mengangguk mencoba percaya pada ucapan Khalisa, ia berharap tak ada sesuatu yang menyakiti gadis itu apalagi sampai membuatnya menangis.
"Kalau gitu aku bantu Pak Dhe dulu nurunin kain batiknya." Ujar Azfan, ia melihat dua karyawan dengan pakaian seragam warna coklat telah memindahkan kain-kain batik itu menggunakan troli khusus sehingga mereka tak perlu mengangkatnya.
"Aku juga mau ganti ini." Khalisa sedikit mengibaskan mukenah nya.
Azfan melihat punggung Khalisa semakin menjauh lalu tak lagi terlihat setelah masuk ke lobi resor. Azfan meraba dadanya yang bergemuruh, jika tak ada suara ombak apakah ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri?
Azfan tak tahu apakah ia harus senang atau sebaliknya karena ia tak menduga bahwa mereka akan bertemu tapi wajah sedih Khalisa justru membuat hatinya terasa perih.
Kapan kah mereka bisa berbagi cerita satu sama lain, membagi kebahagiaan dan kesedihan agar terasa lebih ringan. Azfan ingin menjadi tempat Khalisa berkeluh kesah. Azfan tak cukup pantas untuk Khalisa yang berasal dari keluarga yang tak hanya kaya tapi juga baik hati.
Mereka telah selesai memindahkan semua kain batik ke dalam ruang penampungan di bagian belakang resor.
"Kamu kenal sama cewek itu?" Tris dari tadi penasaran melihat Azfan mengobrol dengan seorang gadis disini. Ia pikir keponakannya yang pemalu itu tidak akan mengenal siapapun apalagi ini pertama kalinya Azfan kesini.
"Namanya Khalisa Pak Dhe, dia temen kuliah ku, anaknya Pak Daniel yang ngasih aku toko dan mama nya Khalisa itu yang pesen batik ke Pak Dhe." Jelas Azfan.
"Wah kebetulan yang mengejutkan."
Azfan melihat Khalisa kembali dengan gamis merah muda dan jilbab panjang berkelir senada.
"Pak Dhe." Khalisa menyapa Tris ramah, "makasih Pak Dhe dan Azfan sudah jauh-jauh ngirim batik kesini, pasti nanti seragam karyawan disini lebih kece pakai batik itu." Khalisa lebih percaya diri dari pada barusan karena ia telah mencuci muka meski bengkak di matanya tak bisa hilang semudah itu tapi setidaknya wajahnya terlihat lebih cerah setelah terkena air.
"Sama-sama Nduk, itu semua batik tulis buatan ibu-ibu di Giriloyo kalau Pak Dhe ini tugasnya cuma ngirim." Tris melebarkan senyumnya membalas sapaan sekaligus pujian dari Khalisa.
__ADS_1
"Jangan bilang cuma dong Pak Dhe, kalau nggak ada yang ngirim batik-batik itu nggak akan sampai ke konsumen, ya kan?"
Azfan spontan tersenyum, Khalisa memang paling ahli memuji orang lain. Khalisa tahu cara menghargai orang lain.
"Butuh tanda terima nggak Pak Dhe?" Tanya Khalisa.
"Oh iya," Tris sampai lupa kalau ia harus meminta tanda tangan penerima setelah barang sampai di tempat tujuan. Ia mengeluarkan ponsel dan menyodorkannya pada Khalisa. "Boleh tanda tangan disini."
"Permisi ya." Khalisa mengambil alih ponsel Tris untuk memberi tandatangannya sebagai bukti terima. "Makasih Pak Dhe dan Azfan." Katanya sekali lagi seraya mengembalikan ponsel tersebut. "Pak Dhe dan Azfan langsung pulang?"
"Rencananya kami mau istirahat sebentar nanti siang baru lanjut lagi." Jawab Tris.
"Kalau gitu sarapan disini aja dulu."
"Terimakasih, saya sudah sarapan tadi kalau Azfan kebetulan puasa."
Azfan mengangguk pelan saat Khalisa melihat ke arahnya.
"Pak Dhe sama Azfan istirahat aja di resor sebentar, ada kamar kosong kok."
"Nggak usah, tidur di mobil aja." Tolak Azfan, ia hanya datang untuk mengantar batik bukan tidur di resor mewah tersebut.
Khalisa tahu bahwa mereka tak akan mau istirahat di resor tersebut. Khalisa menemukan alternatif lain untuk mereka dari pada tidur di mobil box.
"Aku antar ke tempat karyawan istirahat biasanya, nggak apa-apa ayo." Khalisa tersenyum lebar mengajak mereka ke ruang istirahat khusus karyawan.
"Makasih ya." Akhirnya Tris mau mengikuti Khalisa, ia juga tidak enak jika menolak kebaikan gadis itu.
Ruangan di lantai satu itu cukup luas memiliki tempat tidur susun untuk para karyawan istirahat. Kebetulan saat ini ruangannya kosong karena para karyawan juga sedang sibuk.
Alis Azfan terangkat, ini bahkan tiga kali lebih luas dari pada tempat kosnya.
"Pak Dhe istirahat aja dulu, tadi kan aku udah tidur." Ujar Azfan.
"Kamu tahu aja kalau Pak Dhe ngantuk berat."
Meski Khalisa tidak memberitahu Tris yakin bahwa tempat ini bersih justru itu yang membuatnya sungkan.
"Ayo kalau mau lihat-lihat." Khalisa mengajak Azfan keluar agar Tris bisa segera istirahat. "Liburan kamu produktif sekali ya Fan."
"Iya untungnya Pak Dhe ngajak kesini kalau nggak, pasti liburanku di dalam rumah terus." Azfan melangkah bersama Khalisa melewati beberapa gazebo yang biasanya menjadi tempat makan bagi para tamu yang menginginkan suasana luar ruangan. "Kamu nggak apa-apa kan?" Azfan bertanya ragu.
"Udah nggak apa-apa." Khalisa tersenyum, obat paling manjur untuk hati yang sedang gelisah adalah bersujud kepada Allah. Khalisa merasa jauh lebih tenang setelah menghabiskan sepanjang malam bermesraan dengan sang khalik.
"Syukurlah kalau gitu." Azfan mengangguk mengembangkan senyumnya, sepertinya Khalisa memang tidak mau menceritakan sesuatu yang telah membuatnya sedih maka Azfan tidak akan memaksanya yang terpenting sekarang Khalisa sudah baik-baik saja.
"Muka ku jelek ya?" Khalisa tertawa.
Azfan menggeleng tak terima jika Khalisa menyebut dirinya jelek, "kamu cantik."
Tawa Khalisa terhenti mendengar jawaban Azfan, ia mengalihkan pandangan memegang kedua pipinya yang terasa panas. Bagaimana jika mukanya memerah saat ini, Khalisa malu. Kendalikan diri kamu Khalisa.
"Cece!"
Khalisa mendengar suara Zunaira, siapa lagi yang meneriakkan kata itu jika bukan si bungsu yang sepertinya akan tumbuh lebih cerewet dari Khalisa.
"Itu adik aku, Zunaira." Khalisa menunjuk Zunaira yang berlari ke arahnya. "Di belakangnya Azmal, adik kedua aku."
"Mereka mirip Pak Daniel."
"Ya itu yang bikin Mama iri sama Papa karena anak-anaknya lebih mirip Papa."
"Cece kok tidur disini nggak bilang sih sama Zunai, nanti pokoknya Zunai ikut tidur disini." Zunai mulai ngoceh.
__ADS_1
"Eh dateng-dateng kok ngomel, salam dulu dong Zunai."
"Assalamualaikum Ce." Zunaira mengucap salam sambil melirik Azfan, ia bertanya-tanya siapa sosok laki-laki yang berdiri di samping Khalisa itu.
"Waalaikumussalam adik Cece." Jawab Khalisa, "kenalin ini Mas Azfan temen Cece dari Jogja."
"Halo Mas, aku Zunai." Zunaira memperkenalkan diri dengan malu-malu sambil merangkul Khalisa.
"Halo Zunaira, kamu cantik sekali."
"Dari lahir wes ayu Mas." Gumam Zunaira menyembunyikan wajahnya di perut Khalisa.
Azfan tertawa ia menahan diri untuk tidak mentowel pipi gembul Zunaira.
Khalisa juga mengenalkan Azfan pada Azmal.
"Mama mana, jangan bilang Azmal nyetir sendiri kesini." Khalisa tidak melihat mamanya turun dari mobil, Azmal memang sudah mulai belajar menyetir mobil tapi belum diperbolehkan mengendarainya sendiri tanpa pendamping.
"Sama Ko Kafa kok." Azmal menoleh ke belakang sesaat.
"Azmal puasa nggak?" Khalisa mengulurkan tangannya untuk merapikan rambut Azmal.
"Puasa." Azmal ikut merapikan rambutnya karena tadi ia tak sempat menyisirnya.
"Azfan, itu Kafa sepupu aku." Ujar Khalisa melihat Kafa turun dari mobil.
"Wah ada tamu siapa ini?" Kafa melihat Azfan.
"Ini Mas Azfan temen Cece di UII."
"Kenalin Mas Azfan, aku Kafa." Kafa mengulurkan tangannya. "Orang Jogja ya?" Tebaknya.
"Iya, Khalisa pernah cerita tentang kamu." Azfan menjabat tangan Kafa.
"Jurusan farmasi juga?"
"Bukan, Ahwal Al-Syakhshiyah."
"Bisa jadi pengacara dong,
bulan depan aku juga kuliah di UII, mohon bantuannya." Kafa mengulas senyum, sungguh ia sudah tidak sabar untuk kuliah. "Kesini emang mau nemuin Ce Khalisa?"
"Bukan, kebetulan aku ngirim batik kesini dan ternyata ketemu Khalisa."
"Udah ah kamu kayak tukang sensus aja." Tegur Khalisa pada Kafa yang gemar sekali menanyakan banyak hal termasuk pada orang yang baru ditemuinya. Sepertinya Kafa harus kuliah di broadcasting bukannya dokter.
"Aku seneng lo bisa kenalan sama temen Cece selain Mbak Huma." Kafa tidak pernah melihat teman kuliah Khalisa berkunjung karena rata-rata mereka berasal dari daerah yang jauh dari Banyuwangi.
"Ko, ayo main bola mumpung masih pagi." Azmal melihat Kafa, dari pada Kafa tidak berhenti mewawancarai Azfan maka lebih baik ia mengajaknya bermain bola pantai.
Kafa mengangguk, ia pergi ke gudang tempat mereka menyimpan bola.
Zunaira masih setia menempel pada Khalisa seperti anggrek yang enggan lepas dari inang nya.
"Azmal paling pendiam sepertinya." Gumam Azfan, pandangannya lurus ke arah Kafa dan Azmal yang saling mengoper bola.
"Iya mungkin karena cowok sendiri jadi dia lebih pendiam."
Mereka terdiam sesaat bahkan Zunaira juga diam masih memeluk perut Khalisa, sepertinya ia masih mengantuk.
"Azfan, makasih kamu udah kesini walaupun tujuan kamu bukan ketemu aku tapi aku tetep harus berterimakasih." Kedatangan Azfan sekaligus menjadi jawaban dari doa Khalisa tadi malam. Semula Khalisa ragu-ragu tapi pagi ini ia yakin untuk menolak lamaran Fawas.
"Berterimakasih untuk apa?" Azfan tidak mengerti, ia hanya datang kesini lalu Khalisa berterimakasih.
__ADS_1
Khalisa hanya menjawabnya dengan senyuman, ia tidak mau menceritakan hal itu pada Azfan.
Azfan mengalihkan pandangan pada bangunan resor yang terapung. Melihat itu membuat Azfan sadar bahwa kaligrafi berukuran 1 meter saja tidak cukup untuk melamar seorang Khalisa karena gadis itu memiliki segalanya. Azfan harus berusaha lebih keras lagi untuk memiliki kepercayaan diri mengungkapkan perasaannya terhadap Khalisa.