
Azfan membuat seduhan jahe dan lemon yang bisa menghangatkan tubuh Khalisa akibat masuk angin. Terakhir Azfan menambahkan sedikit madu untuk memberikan rasa manis. Karena sedang menyusui Khalisa tidak boleh minum sembarang obat sehingga seduhan jahe ini bisa membantunya.
"Mbak, tolong jagain Azka dulu ya, Umma nya lagi nggak enak badan." Ujar Azfan pada Nadira yang sedang berada di halaman belakang dengan Azka.
"Iya Mas, ini sudah tugas saya." Maksudnya Azfan tidak perlu minta tolong tapi Azfan dan Khalisa tidak pernah lupa mengatakan tolong dan terimakasih setelah Nadira selesai mengerjakan sesuatu.
Azfan menaiki anak tangga menuju lantai dua. Azfan mendapati Khalisa sedang duduk di pinggiran tempat tidur memunggungi pintu. Azfan perlahan mendekat dan merangkul bahu Khalisa.
"Minum ini dulu." Azfan menyodorkan segelas seduhan jahe pada Khalisa. Ia memeriksa kening sang istri, "sedikit hangat."
"Enggak kok, tangan Abi habis pegang gelas ini jadi kerasa hangat." Khalisa menyesap seduhan jahe buatan Azfan perlahan-lahan, rasa pedas dari jahe, asam lemon dan manisnya madu berpadu dalam gelas tersebut, Azfan pandai membuatnya. Khalisa ingin menghabiskannya sekaligus.
"Nggak perlu minum obat penurun panas?"
Khalisa menggeleng, ia sudah mengecek suhu tubuhnya dan itu berada di angka normal.
"Terus kenapa tadi muntah-muntah? karena es krim itu?"
"Iya, aneh banget rasanya."
"Tapi aku habisin dua cup dan rasanya sama sekali nggak aneh, Kafa dan Mahira juga bilang es krim nya enak."
"Lidah aku kali yang aneh, sekarang bayangin rasa es krim yang tadi itu aja aku mual lagi."
"Mau aku pesenin gelato kesukaan Umma nggak?"
Khalisa tak pernah bisa menolak Butterscotch Vanilla Gelato yang ada di Mangan Gelato, saat kuliah dulu ia harus makan gelato tersebut setidaknya seminggu sekali.
"Nggak usah, aku minum ini aja." Khalisa meneguk seduhan jahe itu hingga habis.
"Umma pintar." Azfan mengusap puncak kepala Khalisa, "aku ganti baju dulu."
Khalisa meletakkan gelas kosong di atas nakas dan mengambil ponselnya disana. Khalisa berbaring sambil memainkan ponsel, ia tahu itu tidak baik untuk kesehatan matanya tapi kepalanya pusing dan ia juga tak bisa mengabaikan pesan Naira. Sejak Naira memberi kabar tentangnya, mereka jadi sering bertukar pesan dan menceritakan banyak hal.
Azfan mengusul Khalisa berbaring di atas tempat tidur setelah mengganti pakaian dengan kaos oblong dan sarung. Dua pakaian yang selalu Azfan kenakan saat di rumah.
"Taruh dulu dong hp nya sayang biar kamu bisa istirahat."
"Bentar Bi, dikit lagi." Ibu jari Khalisa masih menari-nari di atas layar ponselnya.
"Lagi chatting sama siapa?" Azfan memperhatikan ekspresi wajah Khalisa yang tampak serius
"Naira, dia cerita tentang pertemuannya sama suaminya, Abi mau tahu nggak ceritanya?"
Azfan mengangguk walaupun sebenarnya ia tidak ingin tahu tapi melihat Khalisa begitu bersemangat ingin menceritakan hal itu, ia tak kuasa menolaknya.
Khalisa mengembalikan ponselnya ke atas nakas, ia memiringkan tubuhnya menghadap Azfan.
Khalisa menceritakan kembali pertemuan pertama Naira dan Ajmal yang sekarang menjadi suaminya. Mereka bertemu di rumah sakit tempat Naira biasa melakukan check up rutin. Saat itu Ajmal sedang mengantar adiknya. Naira melihat adik Ajmal menggigil dengan jilbab yang basah. Karena kebetulan Naira memiliki jilbab cadangan, akhirnya ia memberikan jilbab tersebut pada adik Ajmal.
"Kayaknya waktu itu Ajmal langsung jatuh cinta sama Naira, terus seminggu kemudian orangtua Ajmal datang ke rumah Naira untuk meminangnya lalu seminggu berikutnya mereka menikah, indah banget ya Bi." Khalisa mengakhiri ceritanya dengan sepasang mata yang berbinar-binar, ia ikut bahagia dengan kabar yang Naira bagikan kepadanya.
"Karena Allah yang menulis ceritanya, sudah pasti indah." Azfan menyelipkan anak rambut Khalisa ke belakang telinga.
"Aku juga cerita tentang Rindang waktu itu, aku bilang kalau Naira dan Rindang itu sama-sama kuat dalam menghadapi cobaan yang Allah berikan."
__ADS_1
"Umma kelihatan akrab sekali dengan Naira." Sebenarnya Khalisa bisa akrab dengan siapapun.
"Kenapa Bi?" Khalisa mengerutkan kening melihat ekspresi Azfan.
"Sejak kejadian itu aku nggak terlalu suka sama Naira tapi Umma masih bisa berteman baik sama dia, aku tahu kita nggak boleh punya rasa dendam karena itu seperti menggenggam bara api tapi aku nggak bisa kayak Umma."
"Maafin aku, itu kesalahan ku."
"Sudah jangan bicarakan itu lagi." Azfan mendekap tubuh Khalisa. "Umma mau tidur?"
"Iya, kepalaku sedikit pusing." Khalisa merapatkan tubuhnya pada Azfan dan memejamkan mata. Mungkin karena sudah lama tidak naik pesawat, Khalisa jadi mabuk udara.
Setelah Khalisa terlelap, Azfan turun dari tempat tidur menuju meja kerjanya. Azfan mulai sibuk dengan laptopnya, ia membuka belasan email masuk yang rata-rata berisi pesanan kaligrafi dalam jumlah banyak dan undangan pengajian. Azfan berencana membuka toko kaligrafi yang lebih luas. Azfan juga ingin membuka lowongan bagi mereka yang memiliki bakat membuat kaligrafi agar ia bisa memproduksi kaligrafi dan hiasan dinding dengan jumlah yang lebih banyak.
Azfan memutar kursi yang didudukinya setelah sekitar setengah jam berkutat dengan laptopnya, ia melihat Khalisa masih tidur dengan posisi yang sama.
"Kamu pasti kecapekan." Azfan mengusap kepala Khalisa dan mengecup keningnya. Suhu tubuh Khalisa memang normal tapi wajahnya terlihat pucat. Azfan mengecup kening Khalisa sekali lagi sebelum keluar dari kamar karena sebentar lagi ia akan memulai bimbingan.
"Azka mau sama Abi ya?" Azfan melihat Azka sedang berada di atas Baby Walker sambil menggigit Teether. Azfan mengangkat Azka dari Baby Walker karena si kecil terlihat bosan berada disana.
Karena Azka berada di gendongan Azfan, Nadira segera membereskan mainan Azka yang berserakan dan memasukkannya ke dalam kotak. Sebentar lagi anak-anak yang mengikuti bimbingan akan datang, Nadira harus segera membereskan ruangan itu. Sebenarnya Nadira bisa mengajak Azka bermain di ruang tengah tapi Azka selalu mengajak ke ruang tamu sehingga Nadira tidak punya pilihan selain menuruti kemauan si kecil.
"Itu Mas udah dateng." Azfan membuka pintu mendengar ketukan di luar sana. Satu per satu murid bimbingan Taman Tahfidz berdatangan. Mereka berjumlah 10 orang laki-laki. Setiap hari ada 10 orang yang bergantian mengikuti bimbingan ditentukan dengan jumlah hafalan mereka. Sedangkan murid perempuan berjumlah 8 orang yang dibimbing oleh Khalisa dan Ayin dihari lain.
Azfan memulai bimbingan siang itu dengan membaca doa lalu dilanjutkan doa muroja'ah bersama. Azka anteng di pangkuan Azfan mendengarkan bacaan Al-Qur'an Abi nya dan anak-anak yang berada di ruangan itu.
******
Khalisa bersemangat membuat menu makanan untuk Azka hari ini. Setelah menggunakan pisang dan alpukat, kali ini Khalisa mencoba membuat makanan dari jagung, tahu dan telur yang dihaluskan. Warnanya terlihat cantik setelah jadi, Khalisa tidak sabar memberikannya pada Azka.
Azka berteriak girang melihat Khalisa datang membawa makanan, ia sudah bisa mengenali mangkok yang biasa digunakan untuk wadah makannya. Jika melihat itu, Azka mengerti bahwa ini saatnya ia makan.
"Wah nggak sabar mau makan nih Azka, Umma." Azfan mengangkat Azka agar duduk di pangkuannya sementara Khalisa menyuapi si kecil.
"Ayo Bi, baca doa dulu."
Azfan membaca doa sebelum makan dengan perlahan agar Azka juga bisa mendengarnya.
Khalisa menyuapkan sedikit bubur membiarkan Azka mengecap rasanya terlebih dahulu karena ini kali pertama Azka makan jagung dan telur.
"Enak nggak?" Azfan memperhatikan ekspresi Azka.
Awalnya Azka mengernyitkan keningnya tapi setelah suapan kedua ia mulai terlihat menyukai makanan tersebut.
"Kayaknya Azka lebih suka makanan gurih dari pada manis, waktu itu disuapin pisang langsung mau muntah."
"Kita harus coba buah lain seperti pepaya atau apel, siapa tahu Azka suka."
Saat menyuapi Azka mereka harus siap dengan pakaian yang akan kotor karena si kecil kadang mengambil sendok di tangan Umma nya. Maka lantai dan pakaian Azfan juga akan ikut kotor.
"Pinter banget, makannya lahap." Khalisa mengusap sisa makanan di mulut Azka.
"Makasih Umma udah masakin makanan enak buat Azka." Azfan mengubah posisi Azka menghadap dirinya, ia mencium Azka dan berterimakasih karena Azka makan dengan lahap. Suatu kali jika Azka menyemburkan makanannya, mereka akan stres berusaha mencari tahu alasan mengapa hal itu bisa terjadi. Namun dokter mengatakan itu normal bagi anak kecil, ada makanan tertentu yang tidak ia suka atau pada momen tertentu ia sedang tidak ingin makan. Sebagai orangtua mereka harus tetap sabar menghadapi mood si kecil yang berubah-ubah.
"Sama-sama sayang." Khalisa mencium pipi tembam Azka beberapa kali.
__ADS_1
"Saatnya mandi." Azfan beranjak untuk memandikan Azka sedangkan Khalisa mencuci mangkok bekas makan Azka.
"Aku udah siapin baju Azka di atas Bi." Ujar Khalisa sebelum Azfan masuk kamar mandi dekat dapur. Khalisa harus menyiapkan pakaian ganti Azka karena jika Azfan yang memilihnya maka penampilan Azka akan terlihat aneh. Kadang Azfan memakaikan baju tidur dengan celana berbahan jeans yang sangat tidak sesuai. Azfan sering menggunakan kombinasi aneh untuk Azka. Sejak saat itu Khalisa tak mempercayakan pada Azfan untuk urusan pakaian si kecil.
"Mbak Nadira bikin apa, kok baunya nggak enak?" Khalisa melihat Nadira sedang mengeluarkan sesuatu dari dalam kukusan.
"Saya lagi bikin kue bolu, masa sih baunya nggak enak?" Nadira mengayunkan tangan mengarahkan asap kue itu ke wajahnya, ia menghirup aroma vanilla yang sangat manis membuatnya tidak sabar menyantap kue tersebut. Namun Nadira akan memberikan potongan pertama untuk Khalisa dan Azfan, ia akan memakan sisanya.
"Iya." Khalisa menutup hidungnya, perutnya seperti diaduk-aduk mencium aroma kue yang baru keluar dari kukusan tersebut.
"Apa ada bahan yang kadaluarsa ya Mbak?" Nadira menghirup sekali lagi tapi ia hanya mencium aroma manis, mungkin hidungnya bermasalah. "Tapi saya yakin semuanya masih baru kok."
"Duh aku nggak kuat sama baunya." Khalisa berlari keluar dari dapur.
"Mbak Khalisa nggak mau coba kuenya?" Nadira menyusul Khalisa.
"Enggak." Khalisa setengah berteriak, ia berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Khalisa benar-benar tidak sanggup mencium aroma vanilla pada kue itu, akhirnya ia memuntahkan semua isi perutnya sesampainya di toilet kamarnya.
Ini membuat Khalisa teringat pada kejadian dua Minggu yang lalu di bandara. Khalisa juga merasa es krim vanilla yang seharusnya menjadi kesukaannya memiliki rasa aneh. Sekarang kue vanilla buatan Nadira juga beraroma tidak enak. Khalisa merasa ada yang aneh dengan dirinya.
"Jangan-jangan Cece hamil lagi."
Khalisa menggeleng kuat ketika ucapan Kafa tiba-tiba berkelebat di pikirannya. Tidak, tidak mungkin. Khalisa memejamkan mata berusaha mengingat, apakah ada hari dimana ia lupa minum pil KB nya.
"Umma."
Suara Azfan membuat Khalisa terperanjat. Khalisa membersihkan mulutnya dan keluar dari toilet, ia melihat Azfan sedang memakaikan baju untuk Azka.
"Umma kenapa, Mbak Nadira bilang Umma lari dari dapur gara-gara nggak suka sama bau kue."
"Abi nyium bau nggak enak juga kan?" Tanya Khalisa penuh harap, ia berharap bukan hanya dirinya yang mencium bau tidak enak itu.
"Itu cuma bau kue." Jawaban Azfan membuat senyum Khalisa lenyap. "Kenapa Um?" Azfan melirik Khalisa.
"Eh enggak, nggak apa-apa." Khalisa mengambil sisir untuk merapikan rambut Azka. "Abi inget nggak kapan terakhir aku haid?"
"Waktu kita dateng ke acara wisudanya Rindang." Azfan ingat betul saat itu Khalisa harus minum obat pereda nyeri karena khawatir tidak bisa menghadiri acara wisuda Rindang.
Khalisa mendelik, harusnya ia datang bulan sejak dua Minggu lalu. Mengapa Khalisa baru menyadari itu. Tidak, ini pasti karena Khalisa kecapekan sehingga jadwal datang bulannya tidak teratur.
Azfan melihat Khalisa, "Umma hamil?"
"Hm?" Khalisa mengerjapkan matanya. "Gimana kalau aku hamil, Bi aku telat dua Minggu."
"Jangan panik dulu, coba Umma cek, kita punya banyak test pack di laci."
Khalisa menelan ludah dengan susah payah, ia melangkah membuka laci nakas dimana ia menyimpan test pack miliknya. Khalisa mengambil salah satu test pack digital yang pernah ia pakai dulu. Khalisa kembali masuk ke kamar mandi dengan ketakutan yang menyelimutinya. Khalisa takut akan banyak hal, ia belum siap karena Azka masih sangat kecil untuk memiliki adik.
"Azka, Umma hamil kayaknya." Azfan mengangkat tubuh Azka tinggi-tinggi dan mencium pipinya. "Kamu akan punya adik." Azfan tersenyum lebar melihat Azka tertawa saat ia mengangkat tubuh si kecil.
__ADS_1