
"Ko Levin masih suka sama Khalisa?" Akhirnya Rindang bisa mengajukan pertanyaan itu karena Kafa berada jauh di depan sana sehingga tidak akan mendengar obrolan mereka. Rindang hanya ingin mengingat Levin untuk mengubur rasa itu dalam-dalam karena Khalisa sudah bahagia dengan Azfan.
Levin tidak segera menjawab karena ia juga tak tahu bagaimana perasaannya saat ini terhadap Khalisa. Levin tidak bisa mengatakan bahwa ia tak lagi menyukai Khalisa, tapi ketika melihat Khalisa tertawa maka Levin juga ikut bahagia.
"Aku udah ikhlas dengan ketentuan Allah." Jawab Levin dengan bijak, ia tidak mau menjawab masih suka atau tidak lagi, sebab Levin juga tidak bisa menyelami hatinya sendiri.
"Alhamdulillah, aku harap Koko menemukan wanita yang sama baiknya dengan Khalisa." Rindang tersenyum di balik cadarnya, senyum yang tidak bisa Levin lihat.
Levin tersenyum menyentuh dadanya yang terasa bergemuruh mendengar kalimat Rindang. Pelan-pelan ia mengaminkan doa itu dalam hati.
"Emang belum ada cewek Banyuwangi yang nyangkut ya?" Canda Rindang, mereka berhasil menyusul Kafa yang seolah asyik dengan dunianya sendiri, sang jomblo sedang menikmati kesendiriannya.
Levin menggeleng disertai tawa, meski banyak perawat atau dokter yang mendekatinya dan menunjukkan ketertarikan padanya tapi ia tidak menanggapinya. Levin hanya berniat mencari ilmu bukan yang lain. Bagi Levin mereka adalah teman baik tidak lebih.
"Mungkin karena nggak pernah punya pacar jadi aku nggak tahu cara mendekati wanita."
"Bohong banget." Rindang tak percaya jika Levin tidak tahu cara mendekati cewek karena ia sering melihat sikap manis Levin pada Khalisa. Hanya saja Khalisa sudah menaruh perasaan pada cowok lain sehingga ia pura-pura tidak mengetahui perasaan Levin.
"Tapi aku bener-bener kagum sama kamu Rindang, aku hampir nangis tadi lihat penampilan kamu kayak gini."
"Lebay banget." Rindang memutar bola mata, dari tadi Levin tidak berhenti membahas tentang penampilannya sekarang.
"Pasti nggak gampang kan?"
Rindang mengangguk dan tersenyum getir, jika diingat-ingat perjalannya hingga menjadi seperti sekarang memang tidak mudah. Namun sekarang Rindang merasa semuanya semakin mudah. Rindang merelakan uang tabungannya terkuras habis untuk membayar penalti pada brand-brand yang telah mengkontrak nya untuk bekerja sama.
"Wǒ zhīdào." Levin paham betul bagaimana perasaan Rindang karena dulu ia juga merasakannya apalagi keluarga mereka pasti awalnya tidak mendukung. Benar-benar merasa asing di keluarga sendiri. "Kamu bisa sampai di tahap ini tuh luar biasa sekali, Rin."
"Ini semua berkat Ko Levin karena aku bisa ketemu banyak temen di komunitas mualaf, pokoknya aku mau bilang terimakasih banget sama Koko dan Om Daniel yang udah bikin komunitas ini."
"Aku nggak ngelakuin apa-apa, kamu berjuang berdua hanya dengan Allah." Levin merasa tidak pantas jika Rindang berterimakasih padanya.
"Tapi Koko jangan salah sangka, aku nggak sebaik penampilanku, aku masih Rindang yang dulu, Rindang yang suka ceplas-ceplos dan hiperaktif, kadang malu sama penampilanku sendiri." Rindang tertawa di ujung kalimatnya.
"Penampilan sama tingkah laku itu nggak bisa disamain karena menutup aurat itu wajib, yang penting kamu nggak melanggar syariat."
"Kalau Koko dulu apa hal yang paling berat setelah jadi muslim?"
"Mmmm," Levin melirik Kafa yang berjalan di sampingnya, ia sedang berusaha mengingat hal apa paling berat yang ia rasakan dulu. Karena sudah sangat lama Levin hampir lupa. "Keluarga sih, pasti tiap Imlek ada aja sindiran dari keluarga besar, kalau kamu?" Levin juga penasaran pada cerita Rindang.
"Nggak makan bab1 sih." Rindang kembali tertawa, ia penggemar berat olahan daging bab1 tapi setelah mualaf ia harus benar-benar meninggalkannya. Tidak bisa pelan-pelan seperti saat ia belajar Al-Qur'an.
"Bisa diganti sapi."
"Dan nggak minum miras, Koko tahu sendiri lah dulu aku kayak apa." Sesaat setelah mengenal Khalisa, Levin juga otomatis mengenal Rindang sehingga mereka saling mengetahui kebiasaan masing-masing. "Tapi sekali lagi aku beruntung punya Khalisa, dia yang paling berperan di kehidupan ku selama ini." Bagi Rindang, tanpa Khalisa ia tidak akan mengetahui bagaimana nikmatnya mencintai Allah—Tuhan yang Maha Esa.
Tak terasa mereka sampai pada bagian paling belakang di museum tersebut. Baru kali ini mereka membahas sesuatu yang berat, bukan hanya sekedar candaan kosong tapi lebih dari itu. Mereka bertukar cerita dan saling menguatkan satu sama lain. Levin paham betul pada apa yang Rindang rasakan sehingga ia bisa memberikan suntikan motivasi padanya.
"Khalisa mana ya?" Sekarang Rindang baru sadar kalau dari tadi ia tidak melihat Khalisa. "Sebentar aku telepon." Rindang mengeluarkan ponselnya untuk menanyakan keberadaan Khalisa.
Selama Rindang bicara dengan Khalisa melalui telepon, tanpa sadar Levin terus memperhatikan Rindang. Baru ketika Rindang mengakhiri pembicaraan nya, Levin tersadar dan segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Levin beristigfar berkali-kali dalam hati karena melihat Rindang yang telah berusaha menutupi seluruh bagian tubuhnya. Jangan pandangan mu Vin.
******
Pertemuan itu berakhir dengan makan siang bersama setelah shalat duhur di sebuah rumah makan tradisional yang berada di dekat museum Al-Bayan. Berbagai hidangan khas Jogja tersaji di atas meja yang dikelilingi oleh 7 orang. Levin yang semula datang sendiri, ikut bergabung dengan Khalisa.
Mereka berdoa terlebih dahulu sebelum makan. Hidangan gudeg, krecek dan kerupuk kulit serta oseng-oseng mercon berupa jeroan kambing yang dimasak pedas telah tersaji di atas meja.
"Aku coba dulu." Azfan memakan potongan nangka muda yang telah dimasak dengan bumbu gudeg, ia memastikan bahwa gudeg tersebut sesuai dengan selera Khalisa atau tidak. "Mungkin ini terlalu manis untuk Haura."
__ADS_1
"Ya udah aku makan yang lain aja." Khalisa bisa kehilangan selera makan jika membukanya dengan gudeg yang memiliki rasa terlalu manis.
"Khalisa nggak suka manis ya?" Ayin melihat Khalisa yang duduk tepat di hadapannya.
"Iya Mbak, aku sukanya pedes dan Mas Azfan sebaliknya." Khalisa terkekeh di ujung kalimatnya.
"Terus masaknya gimana kalau beda selera?"
"Nggak aku bikin pedes dan nggak manis juga mbak jadi sama-sama ngalah."
"Eh-eh anak siapa itu?" Rindang menunjuk bocah laki-laki berusia sekitar satu tahunan yang berjalan mendekati kursi Azfan.
Azfan ikut melihat bocah tersebut dan sedikit menggodanya, bocah yang mengenakan baju berbentuk singa itu tertawa. Matanya yang besar berbinar-binar melihat Azfan.
"Lucu sekali, mana Mama kamu hm?" Azfan mengusap kepala anak itu dengan gemas. Azfan melihat ke arah meja lain yang tidak jauh darinya. Sepertinya mereka adalah orangtua anak tersebut. Mereka tidak sadar jika anaknya berjalan meninggalkan meja.
"Mama Papanya lagi makan itu sampai nggak sadar kalau anaknya kabur." Ujar Khalisa.
"Ayo balik ke Papa Mama nanti mereka bingung nyariin kamu." Pinta Azfan pada anak yang sebenarnya tidak terlalu mengerti terhadap kalimatnya. "Mau Om anterin?"
"Mau." Jawab anak laki-laki itu membuat Azfan dan yang lainnya terperangah. Mereka pikir bocah sekecil itu tidak mengerti pada apa yang orangtua ucapkan.
Azfan beranjak menggendong anak kecil tersebut kembali ke orangtuanya.
"Ya ampun, Adek digendong siapa ini?" Mama anak itu akhirnya sadar bahwa putranya tak ada di dekatnya dari tadi. "Makasih ya Mas, baru belajar jalan jadi lagi aktif banget." Ia mengambil alih si anak dan memangku nya.
"Nggak apa-apa, dia nggak nakal kok." Azfan tersenyum simpul lalu kembali ke mejanya untuk melanjutkan makan yang sempat tertunda.
"Lucu ya." Gumam Khalisa ketika Azfan kembali duduk di sampingnya.
"Lucu." Azfan mengangguk, senyum cerahnya belum pudar masih terpesona pada anak kecil yang menghampirinya barusan.
Setetes kristal bening jatuh mengenai sendok Khalisa, ia menangis dalam diam tanpa isakan. Khalisa tak ingin siapapun tahu pada apa yang ia rasakan saat ini termasuk Azfan. Khalisa pandai dalam menyembunyikan kesedihan dan rasa sakitnya.
******
Untuk pertama kalinya Daniel dan Ica mengunjungi rumah kontrakan Khalisa dan Azfan. Kedatangan mereka ke Sleman memang dikhususkan untuk menginap di rumah tersebut dengan membawa Zunaira yang akan meramaikan suasana.
"Lumayan nyaman rumahnya Ma." Pandangan Daniel menyapu seluruh bagian depan rumah berpagar putih tersebut. Terdapat carport yang cukup menampung satu mobil dan motor. Terdapat air mancur mini di tengah taman yang tidak luas. Khalisa tidak menanam apapun di taman tersebut kecuali rumput.
"Cece mana Ma?" Zunaira melongokkan kepala dari jendela mobil, ia tidak sabar bertemu Khalisa.
"Sabar Zunai, Mama udah telepon Cece katanya dia baru beres makan, lagi jalan pulang." Sahut Ica yang juga melihat sekeliling rumah Khalisa dan Azfan, ini lebih luas dari rumah kontrakannya dan Daniel dulu saat awal-awal menikah.
"Mama pengen tanam bunga disitu." Ica menunjuk taman depan yang kosong, ia tidak bisa melihat tanah kosong tanpa ditanami apapun.
"Beli aja besok tanaman hias terus Mama penuhin deh taman itu." Daniel paham betul pada hobi istrinya yakni bercocok tanam.
"Tapi Khalisa nanti bakal repot urus tanamannya, dia udah cukup sibuk kuliah."
"Tanam bunga yang nggak butuh banyak perawatan aja Ma, jadi nggak akan menyita waktu Khalisa."
"Itu mobil Cece!" Zunaira berseru melihat mobil Khalisa perlahan bergerak mendekat.
Daniel dan Ica sama-sama menoleh ke arah mobil yang masih berada di ujung jalan. Penglihatan Zunaira cukup tajam. Zunaira keluar dari mobil melompat-lompat tidak sabar ingin segera memeluk Khalisa.
"Cece!" Zunaira menghambur ke pelukan Khalisa begitu Cece nya itu keluar dari mobil. "Cece abis dari mana?"
"Dari museum sama Ko Kafa dan Cece Rindang, sama dua temen Cece juga." Jawab Khalisa ketika Zunaira melepas pelukannya lalu berpindah pada Azfan. "Jangan minta gendong." Ia memperingatkan Zunaira.
__ADS_1
Khalisa mencium tangan papa dan mama nya serta memeluk mereka. Khalisa cukup lama tidak pulang ke Banyuwangi karena jadwal kuliahnya semakin padat.
"Karena sekarang udah 6 tahun jadi Zunai nggak akan minta gendong lagi." Cetus Zunaira dengan ekspresi sok serius.
"Boleh gendong sebentar." Azfan merentangkan tangannya untuk menggendong Zunaira.
"Sampai dalem ya." Zunaira kegirangan ketika Azfan membawanya masuk rumah. "Malam ini boleh tidur sama Cece dan Mas nggak?"
"Boleh."
"Nggak boleh."
Azfan dan Ica menjawab bersamaan. Ica menggeleng pada Zunaira.
"Kamarnya cuma ada dua Ma disini." Azfan menurunkan Zunaira ke atas sofa dengan pelan-pelan.
"Zunaira tidur sama Papa dan Mama." Tukas Daniel seraya meletakkan koper yang mereka bawa.
Azfan mencium tangan mertuanya dan memeluk mereka. Daniel dan Ica tidak menganggap Azfan sebagai menantu melainkan seperti anak mereka sendiri bahkan Daniel lebih sering menelepon Azfan dari pada Khalisa. Dulu Daniel sering mengetes hafalan Khalisa melalui panggilan video tapi sekarang Azfan telah menggantikannya. Itu sebabnya intensitas obrolan Daniel dan Khalisa melalui telepon jauh berkurang.
"Mama, Papa dan Zunaira sudah makan siang belum?" Tanya Azfan.
"Udah, tadi kami mampir di restoran depan sebelum masuk komplek ini." Jawab Daniel.
"Disitu nggak terlalu enak makanannya Ma." Khalisa melepas tali rambut Zunaira yang kendur dan merapikannya.
"Iya makanya sepi." Sahut Zunaira dengan polosnya.
"Eh Zunai nggak boleh ngomong gitu di depan orang lain ya." Ica menasehati Zunaira.
"Azfan pindahin ke kamar ya." Azfan menarik koper mertuanya.
"Loh kalian nggak tidur di kamar ini?" Daniel melihat Azfan yang membawa kopernya masuk ke kamar paling dekat dengan ruang tamu.
"Haura nggak mau di kamar ini soalnya jendelanya terlalu rendah." Terang Azfan, katanya Khalisa takut jika tiba-tiba ada yang masuk padahal jendela itu dilengkapi dengan teralis.
"Mama dan Papa istirahat dulu gih, pasti capek kan nyetir berjam-jam." Pinta Khalisa, ia bisa melihat wajah lelah papa dan mamanya.
"Zunai juga ngantuk." Zunaira turun dari sofa melangkah melewati papa nya masuk ke kamar.
Ica geleng-geleng padahal Zunaira lebih banyak tidur selama perjalanan. Daniel juga menyusul Zunaira, ia ingin tidur sebentar sebelum masuk waktu ashar.
"Gimana hasil pemeriksaan dokter?" Tanya Ica ketika Azfan juga meninggalkan ruang tamu untuk bersih-bersih badan. Ica ingin menanyakan hal itu sejak lama tapi tidak nyaman jika membicarakannya melalui telepon.
Khalisa menjelaskan bahwa dokter mengatakan ia memiliki sedikit masalah ovulasi yang ditandai dengan darah menstruasi berlebihan. Dokter bilang Khalisa bisa saja hamil secara normal tapi untuk saat ini ia disarankan untuk melakukan IVF karena Khalisa memang ingin segera hamil.
"Jadi Khalisa mau IVF?"
"Dokter bilang kalau mau IVF harus bener-bener siap harus istirahat cukup, makan sehat dan nggak boleh stress sedangkan sekarang jadwal kuliah Khalisa padat banget, dokter nggak mau proses ini akan sia-sia karena Khalisa menjalaninya dengan setengah hati."
"Azfan bagaimana?"
"Mas Azfan sama sekali nggak maksa Khalisa untuk segera hamil Ma."
Ica menarik Khalisa ke dalam pelukannya untuk menguatkan sang putri sulungnya itu, ia tak kuasa melihat Khalisa sedih. Ica ingin mengambil semua kesedihan Khalisa untuknya sendiri.
"Khalisa jangan pernah berputus asa karena rahmat Allah itu sangat luas, dulu Ai Aisyah diberikan kepercayaan memiliki Kafa setelah 4 tahun pernikahan."
Khalisa memejamkan mata, ia tidak pernah berputus asa terhadap rahmat Allah yang tak ada batasnya.
__ADS_1