
Pagi ini matahari bersinar begitu cerah seolah ikut berbahagia untuk Mahira dan Kafa yang akan segera melangsungkan acara pertunangan. Empat mobil dari pihak keluarga besar Kafa telah memenuhi halaman rumah Mahira.
Jika dilihat sekilas penampilan anggota keluarga Kafa tampak jauh berbeda. Saudara Kafa dari abi nya mengenakan jilbab lebar bahkan memakai cadar, itu sangat kontras dengan gaya pakaian anggota keluarga dari pihak Aisyah.
Sebelumnya Aisyah juga sudah memberitahu bahwa Mahira tidak boleh lupa bahwa Kafa berasal dari keluarga campuran Jawa dan Chinese. Sehingga Mahira harus membiasakan diri untuk hidup di tengah perbedaan setelah menikah dengan Kafa nanti.
"Jangan tegang." Azfan berbisik pada Kafa ketika turun dari mobil.
Kafa tidak menjawab, jika Azfan memberitahunya sekarang maka itu sudah terlambat karena ia sudah tegang sejak dari apartemen.
"Sinyo, lengjing xialai, yiqie duhui hao qilai de." Samuel—salah satu saudara Kafa juga berusaha menenangkan Kafa yang dari tadi tidak bicara sepatah kata pun. Ia mengatakan semuanya akan baik-baik saja, lagi pula mereka sudah sampai disini.
"Tenang Nyo, udah sampai sini nggak akan batal lamarannya." Celetuk yang lain hingga menimbulkan tawa.
Kafa hanya tertawa hambar, candaan om nya itu sama sekali tidak lucu menurutnya.
"Kalau Om lihat dari fotonya, calon istri kamu matanya lebar, pinter loh kamu pilih pasangan."
"Kebetulan aja, Om pikir saya pilih pasangan lihat bentuk mata nya?" Kafa akhirnya bersuara.
Mereka dipersilakan masuk menempati ruang tamu. Tidak ada dekorasi khusus karena mereka memang menggelar acara tersebut secara sederhana.
Mahira tampak mempesona dengan balutan gamis mocca dan khimar bewarna senada. Mahira hanya menggunakan riasan tipis hasil tangan kakaknya karena ia tidak memiliki keterampilan menggunakan make-up. Mahira tidak mau mengambil resiko jika wajahnya akan terlihat seperti badut jika ia mencoba untuk menggunakan make-up sendiri.
Kafa yang melihat Mahira tidak bisa mengalihkan pandangan, dalam hati ia menggerutu mengapa harus ada acara lamaran seperti ini. Kenapa mereka tidak langsung menikah saja.
Jantung Kafa bergemuruh seperti gunung Merapi yang sempat erupsi beberapa saat lalu. Namun gemuruh ini hanya Kafa yang bisa mendengarnya. Mahira berjalan mendekat dan duduk di samping ibunya. Pandangan Mahira dan Kafa bertemu dan terkunci untuk beberapa saat. Mahira mengatupkan bibirnya rapat takut jika ia tak bisa mengendalikan diri dan mengucapkan kalimat aneh di depan keluarganya dan keluarga besar Kafa yang datang hari ini.
Mahira belum mengenal sebagian besar dari keluarga Kafa, hanya Khalisa dan Azfan yang tidak asing di matanya.
Mahira jadi ingat kali pertama ia melihat Kafa saat mereka sedang mengikuti Pesona Ta'aruf. Kafa menjadi mahasiswa baru paling bersinar di antara yang lain sehingga Mahira bisa langsung menemukannya. Mata Mahira memang paling pintar menemukan cowok tampan.
"Ya ampun nggak nyesel kuliah disini, banyak cowok ganteng." Salah satu teman Mahira berbisik. Mereka tengah berbaris di lapangan bersama mahasiswa baru yang lain untuk mengikuti Pesona Ta'aruf.
"Mau kuliah atau nyari pacar sih kamu?" Mahira menggerutu.
"Tuh-tuh lihat cowok yang disana."
"Ih jangan ditunjuk malu." Mahira menurunkan tangan temannya itu, "kalau menurutku yang paling ganteng tuh dia, yang lagi kasih sambutan." Ia menunjuk seorang cowok bermata sipit yang tengah memberi sambutan sebagai wakil mahasiswa baru dengan dagunya.
"Tapi sayang dia nggak satu jurusan sama kita."
__ADS_1
"Nggak penting, yang penting dia jadi suamiku nanti." Mahira mengerlingkan matanya.
"Woy bangun, mimpi kamu ketinggian Mahira!"
Mahira tertawa mendapat pukulan di lengannya yang cukup keras, cukup untuk membangunkannya dari khayalan.
Suatu hari Mahira memberanikan diri untuk menyapa Kafa di tempat parkir. Hari itu Mahira tidak membawa sepedanya, ia mencoba bicara dengan Kata untuk menumpang mobil cowok itu. Namun Mahira dibuat terkejut karena ternyata Kafa bukan orang yang ramah, sebaliknya ia sangat galak tapi Mahira sama sekali tidak takut. Mahira justru semakin ingin berteman dengan si galak Kafa.
Mahira tak menyangka bahwa celetukan nya waktu itu kini akan segera menjadi kenyataan.
"Jangan dilihatin terus." Ibu Mahira berbisik karena anaknya itu telah memandang Kafa terlalu lama.
Mahira mengerjapkan mata tersadar dari lamunan panjangnya tentang Kafa.
Umar mengucapkan salam sebagai permulaan dan mengatakan maksud kedatangan mereka kesini. Saudara-saudara Mahira yang lain awalnya terkejut ketika melihat Umar turun dari mobil. Mereka tidak menduga bahwa seorang lelaki yang telah meminang Mahira adalah anak dari seorang ustadz terkenal. Umar sering diundang mengisi pengajian di Jawa Tengah jadi ia adalah sosok familiar bagi mereka.
"Bismillahirrahmanirrahim, kedatangan saya kesini Inshaa Allah dengan niat baik, saya berharap Bapak dan Ibu merestui hubungan kami, tidak ada maksud lain saya ingin meminang putri Bapak dan Ibu," Kafa memandang lurus pada bapak dan ibu Mahira. "Mahira Atiqah untuk menjadi pasangan hidup saya."
"Bagaimana Mahira?" Bapak Mahira melihat sang putri.
Nggak nolak lah Pak, aku masih sangat waras untuk menerima Kafa. Mana ganteng banget lagi hari ini.
"Bismillahirrahmanirrahim, ya, saya bersedia." Mahira mengulas senyum lebar, matanya berkaca-kaca saat mengatakan kalimat pendek tersebut. Ia tak menyangka dirinya akan sampai pada tahap ini sebelum menyelesaikan kuliah.
"Bismillahirrahmanirrahim." Aisyah menyematkan cincin di jari manis Mahira. Saat seperti ini Aisyah ingat ketika ia melakukan hal serupa pada Ica dulu. Aisyah belajar dari orangtuanya yang dulu tidak merestui hubungan Daniel dan Ica, ia jangan sampai melakukan hal seperti itu pada anak-anaknya. Maka dari itu ketika Kafa mengatakan ia jatuh cinta maka Aisyah langsung mendukung keputusan sang anak untuk melamar Mahira. Aisyah yakin seorang wanita yang telah membuat Kafa jatuh cinta maka ia bukan gadis biasa.
"Terimakasih Ummi." Mahira mencium tangan Aisyah.
"Semoga hubungan kalian lancar dan selalu diridhoi Allah." Aisyah memeluk Mahira.
Mahira mengaminkan doa Aisyah dalam hati, entah kenapa air matanya tiba-tiba meleleh saat Aisyah memeluknya. Mahira seperti merasakan pelukan seorang ibu yang sesungguhnya.
Berbagai masakan dan buah-buahan telah tersaji di depan mereka. Bapak Mahira mengatakan buah-buahan tersebut berasal dari kebun mereka sendiri.
"Semoga makanannya cocok di lidah ya." Ujar ibu Mahira.
"Pasti cocok, lidah kami juga lidah Jawa kok." Balas Ariel, ia adalah sepupu Aisyah yang jika dilihat sekilas wajahnya mirip Khalisa.
"Azka gendong Abi yuk." Azfan hendak mengambil alih Azka yang terlelap dalam gendongan Khalisa.
"Nggak apa-apa, Abi makan aja."
"Gantian, Umma pasti pegel dari tadi gendong Azka kan?" Azfan mengambil alih Azka pelan-pelan agar tidak membuat si kecil terbangun.
__ADS_1
Akhirnya Khalisa menyuapi Azfan agar sang suami tetap bisa makan sambil menggendong Azfan. Setelah memiliki Azka, mereka jarang bisa makan bersama. Apalagi saat makan di luar makan mereka harus gantian kecuali Azka tidur dan bisa diletakkan di dalam stroller. Namun itulah nikmatnya menjadi orangtua.
******
Sepulang dari rumah Mahira, mobil mereka penuh oleh belasan kotak bakpia buatan orangtua Mahira. Tak hanya itu, ada buah salak dan jambu dersana yang menjadi favorit Khalisa. Orangtua Mahira begitu baik hati membawakan mereka begitu banyak bakpia dan salak.
"Papa lihat penjualan produk pertama kamu lancar." Daniel yang berada di jok depan menoleh pada Khalisa.
"Alhamdulillah Pa, banyak yang memberi respon positif terhadap produk itu." Khalisa melihat data penjualan krim anti strechmark pertamanya telah mencapai 10.000 pcs di seluruh cabang Alindra Mall dan official store Alindra Beauty di e-commerce. Bagi Khalisa itu sangat luar biasa mengingat dirinya baru pertama kali membuat produknya sendiri.
"Terimakasih Azfan, kamu sudah menjaga Khalisa dengan sangat baik hingga bisa seperti sekarang." Daniel menepuk lengan Azfan yang sedang fokus mengemudi.
"Saya nggak berbuat apa-apa Pa, Khalisa memang luar biasa." Azfan tersenyum dengan pandangan tetap fokus ke jalanan.
"Sekarang kalian harus fokus sama skripsi dulu, kan ada Nadira yang bisa bantu jagain Azka." Sahur Ica, Azka berada di gendongannya. "Kalau butuh apa-apa, jangan lupa kasih tahu Mama atau Papa, kami siap membantu kamu dan Azfan kapanpun."
"Pasti Ma." Khalisa mengangguk.
"Papa seneng karena kamu bisa menyalurkan ilmu yang sudah kamu dapat di kampus untuk hal-hal yang berguna, tapi Khalisa kalau suatu hari kamu mau membuka butik sendiri, Papa siap mewujudkannya."
"Untuk sekarang, Khalisa belum kepikiran untuk buka butik Pa karena bikin desain aja nggak sempet." Khalisa tertawa di ujung kalimatnya, kadang saat merindukan desain-desainnya ia hanya bisa melihat buku sketsanya. Ingin rasanya Khalisa membuat desain itu menjadi pakaian tapi ia tidak punya cukup waktu. Karena memilih bahan untuk satu pakaian saja, Khalisa bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Untuk sekarang Khalisa hanya fokus pada Azka dan skripsi nya.
Azfan merasa ini tidak adil bagi Khalisa karena ia masih bisa mengerjakan hobinya yakni membuat kaligrafi sedangkan Khalisa harus menahan diri untuk tidak menjahit. Namun Azfan juga tak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa membantu Khalisa sebisanya.
"Oh iya Taman Tahfidz kalian gimana?" Daniel hampir saja lupa menanyakan hal tersebut pada Azfan dan Khalisa.
"Alhamdulillah, sudah ada satu orang yang berhasil menghafal 30 juz Pa."
"Masya Allah, selamat ya Fan, Khalisa." Daniel melihat Azfan dan Khalisa bergantian, ia kagum pada mereka karena disela aktivitas yang padat Khalisa dan Azfan masih bisa membuka bimbingan tersebut.
"Ini semua nggak terlepas dari Kak Fawas juga yang sudah membantu kami membimbing anak-anak Pa." Ujar Azfan dengan rendah hati.
"Khalisa nggak berbuat banyak Pa." Khalisa terkekeh.
"Justru Khalisa yang paling berperan." Sahut Azfan, "dia selalu menyemangati saya saat sedang lelah."
Pipi Khalisa bersemu mendengar pujian Azfan di depan orangtuanya.
Ica tersenyum melihat Khalisa yang tengah tersipu malu. Ia bisa merasakan bahwa kebahagiaan dapat tercipta jika mereka membantu dan bermanfaat bagi orang lain bukan dengan kemewahan atau kekayaan yang mereka miliki.
__ADS_1