
"Kenapa Haura tersenyum?" Azfan heran melihat Khalisa tersenyum lebar dalam tidurnya. Ia mengusap rambut Khalisa dan mencoba memanggil nama sang istri untuk membangunkannya karena jam sudah menunjukkan pukul 2 malam. Ini waktunya mereka mendirikan shalat tahajjud bermunajat pada Allah.
"Hm?" Akhirnya Khalisa membuka mata setelah Azfan membangunkannya dengan lembut. Senyum di wajah Khalisa belum pudar apalagi setelah ia melihat wajah manis Azfan tepat di depan matanya.
"Haura mimpi indah?" Azfan menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Khalisa.
Khalisa mengangguk, "aku mimpi beli balon."
Senyum Azfan mengembang mendengar cerita Khalisa, apakah Khalisa ingin membeli balon sampai terbawa mimpi. Kalau iya maka Azfan akan membelikan balon itu untuk Khalisa sekarang juga meskipun ini tengah malam. Azfan akan mencari toko yang buka 24 jam dan meniupnya sendiri untuk Khalisa.
"Tapi balonnya untuk anak kita."
Mata Azfan yang tadinya berbinar-binar berubah redup setelah mendengar kalimat Khalisa selanjutnya. Ternyata bukan balon yang Khalisa inginkan tapi seorang anak.
Azfan mendekap Khalisa dan mengusap-usap punggungnya, "aku akan berusaha lagi." Gumamnya. Jika hanya balon, Azfan bisa mewujudkannya tapi seorang anak sungguh itu hanya Allah yang dapat memberikannya pada mereka.
"Enggak Mas, aku yang harus bilang gitu."
"Tahu nggak kalau Allah menunda hajat kita itu artinya Allah sedang menyiapkannya agar sempurna."
Khalisa mengangkat kepalanya dari dada bidang Azfan, "Makasih Mas, kamu selalu menguatkan dan menghiburku."
"Jangan berterimakasih karena hanya ini yang bisa aku lakukan buat Haura." Azfan lebih dulu bangun dari posisi tidur, "Haura mau wudhu dulu?"
"Mas aja dulu biar aku siapin sajadah nya." Khalisa ikut bangun.
Sementara Azfan pergi ke kamar mandi, Khalisa menggelar sajadah untuk mereka di samping tempat tidur. Mereka tidak punya ruang khusus shalat tak seperti di apartemen Khalisa yang ruang tersendiri khusus beribadah. Namun dimanapun tempatnya mereka tetap akan menyukai saat dimana bisa menghabiskan waktu untuk beribadah pada Allah.
"Mama mau ke kamar mandi juga?" Khalisa melihat Ica keluar dari kamar.
"Iya, Khalisa aja duluan." Ica menyentuh pundak Khalisa mempersilakannya masuk ke kamar mandi lebih dulu, ia bisa menunggu sembari menetralkan rasa kantuknya karena Daniel membangunkannya barusan.
"Makasih Ma." Khalisa masuk ke kamar mandi lebih dulu untuk berwudhu. "Oh iya, sajadahnya ada di lemari."
"Iya sayang." Ica duduk di sofa menyangga kepalanya dengan tangan, ia masih pusing karena baru bangun tidur.
Beberapa menit kemudian Khalisa telah selesai berwudhu dan kembali ke kamar. Azfan telah menunggunya dengan wajah cerah.
"Mau surat apa malam ini?" Tanya Azfan sebelum memulai shalat. Itu adalah pertanyaan yang biasa ia katakan pada Khalisa hampir setiap malam. Sebenarnya surat apapun Khalisa menyukainya karena suara merdu Azfan seperti obat dari segala rasa lelahnya akibat aktivitas di siang hari. Namun Azfan tidak ingin membuat Khalisa kesal jika ia membacakan surat yang terlalu panjang.
"Al-Kautsar."
Azfan mengangkat alis, tumben pendek banget.
__ADS_1
"Boleh aku tanya alasannya kenapa mau surat itu atau nggak ada alasan?"
"Ketika putra Rasulullah yang bernama Ibrahim wafat, orang-orang kafir mencemooh beliau dan mengatakan Nabi Muhammad adalah orang yang terputus sehingga membuat nya sedih, lalu Allah menurunkan surat Al-Kautsar jadi Nabi nggak sedih lagi."
"Aku akan membacakannya dengan bagus." Azfan bangkit dari duduknya.
"Mas selalu melakukan itu setiap hari." Khalisa berdiri di belakang Azfan untuk memulai shalat malam itu.
Tahajjud adalah shalat yang rutin mereka lakukan berjamaah berdua. Sedangkan untuk shalat wajib Azfan biasa pergi ke masjid sementara Khalisa sendiri di rumah.
Pernikahan adalah ibadah paling lama bagi umat muslim sehingga untuk memulainya harus disertai ilmu yang cukup karena jika tidak, bukannya ibadah—pernikahan akan mendatangkan dosa.
Khalisa bersyukur memiliki suami Azfan karena sejauh ini tak banyak perbedaan di antara mereka khususnya dalam hal beribadah. Mereka menganut madzhab yang sama sehingga tak banyak perbedaan pendapat antara keduanya.
"Mas." Panggil Khalisa setelah mereka selesai shalat dan berdoa.
"Hm?" Azfan melihat Khalisa.
"Aku pernah nonton film yang ceritanya itu si istri nggak bisa hamil jadi dia minta suaminya untuk nikah lagi."
"Kapan Haura nonton film seperti itu?" Azfan mengerutkan kening karena ia tahu Khalisa jarang bahkan hampir tidak pernah menonton film atau drama jika bukan Huma yang mengajaknya.
"Dulu awal-awal kuliah."
"Terus?"
"Haura mau nonton di bioskop? aku nggak tahu film bagus yang lagi tayang di bioskop sekarang, mungkin sekali-sekali kita bisa coba pergi kesana biar kayak orang pacaran." Azfan nyengir mengusap puncak kepala Khalisa. "Ayo tilawah dulu, masih ada waktu 15 menit sebelum subuh." Ajaknya.
Khalisa mengambil mushaf di atas nakas. Azfan akan meneliti bacaan Khalisa dan menegurnya membenarkan bacaan jika ada yang kurang tepat.
******
Ica memesan nasi uduk untuk sarapan menggunakan jasa pesan antar. Ia berkilah ingin membantu para ojek online mengawali hari ini dengan orderan makanan darinya. Padahal sebenarnya Ica tidak percaya diri terhadap masakannya sendiri. Ica bisa saja membuat nasi uduk sendiri andai hanya Daniel dan Khalisa yang hendak memakannya karena pasti mereka telah terbiasa dengan masakannya. Namun disitu juga ada Azfan sehingga lebih baik Ica membeli sarapan tersebut dari luar.
"Mas suka bawang goreng kan?" Khalisa memindahkan bawang goreng miliknya ke piring Azfan.
"Makasih Haura." Azfan mengganti bawang goreng tersebut dengan teri kacang karena Khalisa menyukainya.
Mereka menikmati nasi uduk dengan ayam goreng, bihun, tempe orek dan teri kacang dilengkapi dengan bumbu kacang yang kental. Ica tidak salah memilih warung makan ini karena nasi uduknya pas dengan selera mereka.
"Mama boleh nggak Ce tanam bunga di halaman depan?" Ica berusaha menahan diri untuk tidak menanam apapun di halaman depan rumah ini tapi ia paling tidak bisa jika melihat taman kosong.
"Boleh." Khalisa tidak menolak meski ia tak tahu apakah bisa merawat tanaman tersebut. Namun Khalisa tahu jika mama nya menyukai tanaman hias.
__ADS_1
"Boleh nggak Fan?" Kini Ica bertanya pada Azfan karena itu adalah rumah kontrakan mereka berdua.
"Boleh Ma tapi kami nggak pandai merawat tanaman."
Khalisa melihat Azfan, ternyata mereka memiliki pemikiran yang sama. Meskipun tak pernah membahas soal tanaman sebelumnya tapi Azfan tahu kalau Khalisa tidak memiliki hobi bercocok tanam.
"Mama mau beli tanaman yang nggak ribet rawatnya, paling cuma disiram aja dua hari sekali kalaupun lupa siram tanaman ini nggak akan gampang mati."
"Sansiviera aja Ma." Sahut Zunaira.
"Ide bagus." Ica mengusap-usap kepala Zunaira dengan gemas, anak bungsunya banyak mengetahui soal tanaman karena ia membiasakan Zunaira bercocok tanam sejak kecil. Ica ingin salah satu anaknya memiliki kesukaan yang sama dengannya dan sepertinya Zunaira menyambut dengan baik keinginan mama nya.
"Sebenarnya kedatangan Papa dan Mama kesini juga untuk membicarakan soal Alindra Beauty." Perkataan Daniel mengalihkan perhatian Khalisa dan Azfan.
Mereka berada di ruang tamu setelah menghabiskan sarapan nasi uduk pagi itu.
"Khalisa suka produk Alindra Beauty kan?" Tanya Daniel.
Khalisa menjawabnya dengan anggukan beberapa kali, ia hampir tidak pernah menggunakan brand lain untuk perawatan tubuh dan wajah karena Alindra Beauty sangat cocok dengannya.
"Papa, Mama dan Ai Aisyah sepakat untuk memberikan Alindra Beauty pada Khalisa, tapi Papa mau tanya pendapat Khalisa dulu bersedia atau nggak."
Khalisa melihat mama nya seolah meminta jawaban. Ica menyentuh punggung tangan Khalisa seraya mengangguk pelan agar Khalisa memberi jawaban sesuai kata hatinya.
"Ilmu Khalisa di universitas akan bermanfaat untuk mengembangkan produk Alindra Beauty." Tambah Daniel.
"Gimana dengan rumah sakit Pa?" Khalisa yakin sesuatu yang Daniel berikan untuknya pasti untuk kebaikan mereka semua.
"Kafa akan mengurusnya, Khalisa nggak perlu ngasih jawaban sekarang karena waktunya masih lama, untuk sekarang Khalisa fokus kuliah dulu, Papa ngasih tahu ini supaya Khalisa nggak kaget aja."
"Kalau gitu nanti Khalisa bicarakan lagi sama Mas Azfan dan Kafa."
"Tentu saja Khalisa harus menanyakan pendapat suami." Daniel menatap teduh Khalisa dan Azfan.
Azfan melihat Khalisa dengan tatapan penuh arti, ia percaya Khalisa mampu meneruskan Alindra Beauty yang berada di bawah naungan Alindra grub. Itu adalah bidang prodi yang Khalisa pelajari di kampus yakni farmasi. Namun tentu saja Azfan lebih mengutamakan Khalisa. Jika Khalisa menyukainya maka Azfan pasti akan setuju.
Ica mengajak Khalisa dan Zunaira pergi ke toko tanaman hias yang tidak jauh dari rumah kontrakan Khalisa. Ica membeli beberapa sansiviera, spider plant dan beberapa jenis calathea untuk ditanam di teras karena rumah itu benar-benar gersang.
"Tahu nggak merawat tanaman itu bisa memberikan perasaan bahagia."
Mereka menanam sansiviera dekat kolam ikan koi dengan air mancur mini. Sementara di sekeliling taman Ica menanam spider plant yang akan mempercantik halaman.
"Aku suka lihat bunga tapi nggak suka merawatnya." Khalisa menyiram sansiviera yang baru saja ditanam.
__ADS_1
"Setelah ada tanaman ini, mau nggak mau Khalisa pasti akan merawatnya." Sahut Ica sambil memperhatikan Zunaira yang sedang menanam calathea dengan Azfan.
Kebahagiaan itu sederhana, contohnya menanam bunga seperti ini. Mereka tak perlu pergi keluar mencari hiburan sebab kebahagiaan itu diciptakan oleh diri sendiri.