Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
70


__ADS_3

Kaligrafi seluas satu meter yang ditulis dengan tinta emas dan hitam itu tampak mempesona terpajang apik di salah satu dinding ruang tamu apartemen Khalisa. Kaligrafi itu bisa berpendar di kegelapan. Setiap kali Khalisa melihat kaligrafi tersebut kalimat Azfan saat mengucapkan ijab qabul kembali terngiang di telinganya.


Hari ini Genap satu bulan sejak Azfan mengucapkan janji suci di depan penghulu, orangtua dan para saksi. Itu adalah salah satu hari paling indah di kehidupan Khalisa dan Azfan.


Khalisa sangat menyukai perannya sebagai seorang istri, ia tak lagi tinggal sendirian di apartemennya yang luas ini. Azfan tak hanya menjadi seorang suami tapi juga sahabat, kakak dan guru bagi Khalisa.


Setiap waktu yang mereka lewatkan terasa amat berharga. Khalisa bisa merasakan kasih sayang Azfan dan bimbingan sang suami. Mereka sama-sama belajar terhadap banyak hal.


Setelah pulang dari masjid usai mendirikan shalat isya' berjamaah, biasanya Azfan akan tilawah bersama Khalisa. Saling mengoreksi kesalahan dalam membaca Alqur'an.


Kadang Khalisa yang sudah tidak bisa menahan kantuk akan tertidur di atas sajadah sedangkan Azfan masih terus membaca ayat Alqur'an dengan suaranya yang merdu.


Seperti sekarang Azfan baru menyelesaikan aktivitas tilawahnya setelah khatam 30 juz. Azfan membisikkan doa selesai membaca Alqur'an dan meletakkan mushaf di atas nakas. Ketika menunduk, Azfan mendapati Khalisa sudah tertidur di pangkuannya.


Azfan menduga Khalisa kelelahan setelah menghabiskan waktu berjam-jam di toko kain memilih bahan untuk dress Renata. Khalisa menjadi orang yang perfeksionis saat memilih bahan untuk baju yang akan dibuatnya. Atau Khalisa kecapekan karena Azfan membaca surat Al-Kahfi saat shalat tadi. Katanya kaki Khalisa sampai kaku saking lamanya shalat mereka malam ini. Karena ini malam Jumat jadi Azfan sekalian membacakan surat Al-Kahfi dalam shalatnya.


"Kalau Huma bilang shalat ku lama maka dia salah besar karena ternyata shalat bareng Mas Azfan jauh lebih lama." Begitu ucapan Khalisa tadi yang membuat Azfan terkekeh gemas.


Dengan hati-hati Azfan mengangkat tubuh Khalisa memindahkannya ke atas ranjang, ia tidak mau membuat Khalisa terbangun.


"Mmh Mas." Khalisa membuka mata.


"Maaf aku membangunkan mu." Khalisa tipe orang yang mudah bangun sehingga meski Azfan sudah berusaha hati-hati ternyata Khalisa tetap bangun.


"Maaf aku ketiduran." Khalisa mengucek matanya.


"Ayo lepas dulu mukenanya." Azfan melepas mukena Khalisa yang masih melekat di tubuh sang istri.


"Mas, ini malam Jumat, Mas butuh sesuatu dari aku?"


Azfan yang sedang melipat mukena Khalisa tidak segera menjawab, ia membereskan sajadah mereka dan mengembalikannya ke tempat semula.


"Enggak Haura, kamu pasti capek hari ini." Azfan tidak mau egois dengan tak memikirkan keadaan Khalisa.


"Aku cuci muka dulu biar nggak ngantuk kalau Mas mau sesuatu." Khalisa hendak bangun dari posisi berbaring tapi Azfan mencegahnya.


"Ayo kita tidur malam ini, aku juga ngantuk." Azfan melepas kopiah dan ikut berbaring di samping Khalisa.


"Mas ikhlas?" Khalisa menatap Azfan.


"Aku ridho dan ikhlas." Azfan menelusup kan tangannya ke bawah leher Khalisa.


Senyum Khalisa tersungging, lengan ini adalah bantal paling nyaman di dunia yang tidak bisa ia dapatkan dimanapun kecuali dari suaminya sendiri.


"Katanya kaki Haura kaku gara-gara berdiri terlalu lama."


"Aku nyesel bilang gitu karena 1.400 tahun yang Rasulullah shalallahu alaihi wassalam shalat bahkan sampai kaki beliau bengkak demi mendoakan kita agar diampuni oleh Allah, lalu sekarang nggak sampai 1 jam aja udah mau ngeluh."


"Sesungguhnya kalaupun kita mau bershalawat 25.000 perhari itu nggak cukup untuk membalas cinta Rasulullah terhadap kita, umatnya."


Khalisa mengubah posisinya menghadap Azfan dan memeluk tubuh sang suami.


"Kalau gitu mau coba surat Al-Baqarah nanti malam?" Tanya Azfan.


"Mas," Khalisa merengek memasang wajah memelas pada Azfan, sekarang ia seperti dirinya 15 tahun yang lalu ketika meminta dibelikan balon pada Ica. Bedanya kali ini Khalisa memohon pada Azfan agar tidak membaca Al-Baqarah saat tahajjud nanti karena ia belum menghafal arti dari surat terpanjang dalam Al-Qur'an tersebut. Kurang afdhol jika Khalisa tidak mengerti makna surat yang ia baca saat shalat.

__ADS_1


"Ssshhh ayo tidur, mata Haura udah sipit banget." Tangan Azfan meraba-raba nakas mencari remote untuk mematikan lampu ruangan  dan menggantinya dengan lampu tidur.


"Kalau kata Zunaira sih dari lahir udah begini Mas."


Azfan mendekat tubuh mungil Khalisa dan menepuk-nepuk punggungnya seperti sedang menidurkan anak kecil.


"Mas, kita udah satu bulan nikah tapi kok aku belum ada tanda-tanda hamil ya?" Itu adalah pertanyaan yang beberapa hari ini berputar-putar di kepala Khalisa. Sejak awal ia dan Azfan sepakat untuk tidak melakukan program KB. Bagi mereka, anak adalah anugerah besar dari Allah.


Khalisa sempat bertanya pada Ica, dulu mamanya itu langsung hamil saat bulan pertama menikah. Khalisa jadi overthinking setiap kali mengingat dirinya belum hamil meski Azfan tak pernah mempertanyakan hal itu.


"Sayang, ini baru satu bulan, Allah mungkin mau kita berduaan dulu." Azfan berusaha menenangkan Khalisa. "Allah adalah sebaik-baik penentu."


Khalisa mengembuskan napas berat, ia membenamkan wajahnya pada Azfan. Khalisa berusaha menepis semua pikiran buruk di kepalanya.


Hening. Kamar dengan sinar temaram itu mulai senyap. Hanya suara kendaraan dari luar apartemen yang terdengar sayup-sayup.


"Siapa dari kalangan hamba sahaya yang pertama kali masuk Islam?" Khalisa tiba-tiba memecah keheningan.


Azfan menahan senyum, saat ngantuk seperti ini Khalisa masih saja menanyakan pertanyaan adak seperti itu. Entah sejak kapan main tebak-tebakan sebelum tidur menjadi kebiasaan bagi mereka. Jika Azfan memberi pertanyaan maka Khalisa yang akan menjawab begitu juga sebaliknya.


"Besok aja aku jawabnya ya." Sungguh Azfan tidak bisa berpikir dalam keadaan ngantuk seperti ini. Ia bukan Khalisa yang mengingat setiap nama orang di kepalanya.


Azfan tidak mendengar jawaban Khalisa, sepertinya Khalisa sudah tertidur. Azfan mencium puncak kepala sang istri dan berdoa semoga pernikahan mereka selalu dilimpahi keberkahan oleh Allah.


******


Bel apartemen Khalisa berdenting beberapa kali dipagi hari ketika dua penghuninya sedang sibuk membersihkan lantai dan sofa ruang tamu. Azfan meletakkan Vacuum Cleaner untuk membuka pintu.


Azfan melirik layar monitor di samping pintu untuk melihat siapa yang datang.


Mendengar nama Ria, Khalisa segera meletakkan sapu dan menyusul Azfan ke depan pintu. Khalisa sudah sangat lama tidak bertemu Ria dan Bowo sejak kejadian itu. Mereka sudah minta maaf untuk Revan tapi setelah itu Khalisa tak pernah melihat Ria dan Bowo lagi di apartemen.


"Bu Ria." Khalisa menebar senyum lebar menyambut kedatangan wanita berusia 50 tahunan itu.


"Khalisa, gimana kabar kamu?"


"Saya sehat, Bu Ria dan Pak Bowo gimana, kok lama nggak kelihatan?" Khalisa memberi pelukan pada Ria. "Ayo masuk Bu, Pak."


Khalisa mempersilakan mereka duduk. Setelah lama tidak bertemu rasanya Khalisa merindukan tetangganya yang suka memberi makanan tersebut. Terlepas dari kejahatan yang telah Revan lakukan, bagi Khalisa mereka tetaplah tetangga yang baik.


"Ini pasti suami kamu ya." Bowo melihat Azfan yang duduk di samping Khalisa.


"Benar Pak, saya Azfan." Azfan memperkenalkan diri pada mereka. Meski ini bukan pertama kalinya mereka bertemu.


"Maaf kami nggak bisa memenuhi undangan kalian." Ucap Ria, pandangannya sendu. Sejak kejadian itu Ria tak pernah bisa melihat wajah Khalisa lagi karena ia akan selalu teringat pada kejahatan yang Revan lakukan terhadap Khalisa. Saat ini pun Ria dan Bowo rasanya belum sanggup bertemu Khalisa karena malu. Ditambah wajah Khalisa yang selalu mengulas senyum seolah-olah tak terjadi apapun sebelumnya. Meski Khalisa telah memaafkan mereka tapi tetap saja kelakuan Revan sangat berlebihan. Bahkan sebagai orangtua, mereka tak bisa memaafkan Revan.


"Ini untuk Khalisa dan suami, saya berharap rumah tangga kalian selalu bahagia." Ria meletakkan bingkisan di atas meja.


"Terimakasih Bu Ria dan Pak Bowo." Ucap Khalisa. "Selama ini Ibu dan Bapak tinggal dimana?"


"Kami tinggal di Semarang, hari ini juga kami mau ngurus pindahan."


"Loh kenapa pindah Bu?" Khalisa terkejut karena mereka tiba-tiba mau pindah padahal selama ini keduanya selalu bilang menyukai apartemen ini tak hanya karena fasilitasnya yang lengkap tapi juga penghuni lain yang ramah sehingga membuat mereka kerasan.


"Khalisa, kami nggak akan sanggup melihat kamu lagi, kamu anak baik dan setiap melihat kamu, kami akan ingat pada kejahatan Revan pada mu."

__ADS_1


Khalisa berpindah duduk di samping Ria, ia menyentuh paha Ria dengan lembut.


"Bu, itu sudah berlalu dan Revan juga sudah mempertanggungjawabkan perbuatannya, Ibu dan Bapak nggak perlu seperti ini."


"Khalisa." Ria menggenggam tangan Khalisa, "semakin kamu begini maka kami akan merasa nggak enak dan bersalah."


"Tapi Ibu bilang menyukai apartemen ini."


"Kami memang menyukainya tapi saya nggak mau egois karena walaupun kamu terlihat baik-baik saja di luar tapi saya yakin luka di dalam diri kamu belum sepenuhnya sembuh, akan lebih baik kalau kami nggak tinggal disini lagi."


"Kami sudah menemukan tempat yang sama nyamannya dengan disini jadi nak Khalisa jangan khawatir." Tambah Bowo.


Khalisa mengangguk, "dimanapun Ibu Ria dan Pak Bowo tinggal saya harap kalian selalu sehat dan bahagia."


Khalisa beranjak hendak membuat teh untuk Ria dan Bowo tapi mereka melarangnya. Sebab mereka harus segera mengurus kepindahan.


"Kami pergi dulu, jaga diri kamu baik-baik." Ria memberi Khalisa pelukan seperti seorang ibu terhadap anaknya.


"Saya bakal kangen sama masakan Ibu."


"Khalisa tenang aja, kalau semua urusan pindahan sudah beres saya akan mengirim makanan untuk kalian."


"Bapak dan Ibu jaga kesehatan ya, jangan makan sembarangan dan istirahat yang cukup." Pesan Khalisa.


"Pasti Khalisa, Azfan, saya permisi dulu." Ria melihat Azfan yang dari tadi hanya diam.


"Hati-hati di jalan Pak, Bu." Azfan menjabat tangan Bowo.


Khalisa dan Azfan mengantar mereka hingga depan pintu.


"Mereka orangtua yang baik tapi sayang Revan sama sekali nggak mencontoh orangtuanya." Azfan kembali menutup pintu. "Haura pasti belum bisa melupakan kejadian itu kan?"


Khalisa tersenyum getir, sepertinya ia memang tak akan pernah melupakan kejadian itu.


"Sekarang ada aku, Haura jangan khawatir."


Khalisa beruntung memiliki Azfan di hidupnya karena rasa was-was nya sejak kejadian itu perlahan sirna setelah ada Azfan.


Mereka melanjutkan aktivitas bersih-bersih yang sempat tertunda karena kedatangan Ria dan Bowo.


"Zaid bin Harisah." Seru Azfan tiba-tiba membuat Khalisa kebingungan. "Jawaban dari pertanyaan Haura semalam."


Ah Khalisa baru ingat kalau semalam ia memberikan pertanyaan itu pada Azfan sebelum tidur.


"Mas nggak nyari di internet kan?" Khalisa menatap Azfan curiga.


"Enggak sayang, dari tadi aku diam karena memikirkan itu."


"Kalau gitu harus dikasih hadiah." Khalisa melangkah menghampiri Azfan.


"Ada hadiahnya?" Azfan membelalak senang karena biasanya mereka tak memberi hadiah meski menjawab pertanyaan dengan benar.


"Ada dong." Khalisa berjinjit mengecup bibir Azfan.


Ketika Azfan hendak membalas ciuman itu, Khalisa lebih dulu berlari dan menghilang di balik dinding yang membatasi antara ruang tamu dan ruang tengah.

__ADS_1


Azfan mematikan Vacuum Cleaner dengan cepat demi mengejar Khalisa yang membuatnya geregetan dan gemas tak karuan. Beraninya Khalisa kabur setelah melakukan itu pada Azfan.


__ADS_2