Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
67


__ADS_3

Usai sarapan Khalisa dan Azfan pergi ke resor untuk mengunjungi keluarga Azfan yang siang ini akan kembali ke Jogja. Khalisa duduk di kursi penumpang di samping Azfan sementara Zunaira berada di belakang. Tadinya mereka hendak naik motor milik Daniel tapi karena Zunaira ingin ikut maka mereka membawa mobil. Saat ada Khalisa, Zunaira memang selalu menempel pada Khalisa seperti lem. Namun untung saja semalam bocah 5 tahun itu langsung tidur setelah pulang dari hotel karena kelelahan bermain dengan teman-temannya di resepsi pernikahan Khalisa dan Azfan. Sehingga Zunaira tidak merengek minta tidur dengan Khalisa. Jika itu terjadi maka Ica lah yang harus memutar otak untuk merayu Zunaira.


"Cece sama Mas kok pegangan tangan sih, emang boleh?" Zunaira bertanya dengan wajah polosnya.


Azfan buru-buru menarik tangannya kembali membuat Khalisa terkekeh pelan. Ekspresi Azfan seperti maling yang tertangkap basah padahal ia tidak sedang melakukan tindak kejahatan.


"Aku seharusnya fokus menyetir." Kata Azfan gugup. Ia kini menatap fokus ke jalanan dengan dua tangan memegang kemudi.


"Boleh dong kan Mas Azfan udah jadi suami Cece." Jawab Khalisa sambil menoleh ke belakang melihat Zunaira yang duduk sambil makan buah ceri. "Eh Meme bawa topi nggak, panas banget loh mataharinya."


"Enggak, Zunai pengen kulitnya coklat."


Khalisa geleng-geleng, anak sesuai Zunaira seharusnya tidak akan memperhatikan warna kulit tapi beda halnya dengan adik bungsu Khalisa itu.


"Kemarin aku lihat Kafa." Gumam Azfan tanpa melihat Khalisa.


"Oh ya? serius Mas, kok aku nggak tahu." Khalisa pikir Kafa benar-benar tidak akan datang ke pernikahannya. Khalisa merasa memiliki harapan setelah mendengar ucapan Azfan tersebut, ia yakin suatu hari Kafa juga bisa menerima keputusan ini dan ikut bahagia atas dirinya.


"Aku lihat sekilas dia di depan pintu masuk lalu pergi." Azfan menoleh sesaat, ia jelas melihat kesedihan di wajah sang istri. Tadinya Azfan tidak mau memberitahu Khalisa karena ia yakin itu akan membuatnya sedih. Namun Azfan tidak bisa menyembunyikan hal itu terlalu lama.


"Silau lo Me, nih kacamata kamu." Khalisa memberikan kacamata hitam milik Zunaira yang berada di dashboard mobilnya.


"Cece nggak pakai?" Zunaira memakai kacamata tersebut dan turun dari mobil sesampainya di tempat parkir resor.


"Enggak." Khalisa ikut turun disusul Azfan.


"Mbak Marwah main pasir, aku kesana dulu ya." Zunaira berlari menghampiri Marwah yang sedang bermain pasir dengan saudaranya yang lain.


"Haura mau pakai topi?" Tanya Azfan karena ia melihat topi putih di dalam mobil. "Itu ada topi di dalam."


"Nggak apa-apa aku pakai topi itu, ada nama Ko Levin."


Azfan terdiam menimbang-nimbang, mengizinkan Khalisa mengenakan topi pemberian Levin atau membiarkan sang istri kepanasan. Tentu saja Azfan memilih pilihan kedua karena ia tidak mau Khalisa kepanasan.


Azfan mengambil topi berwarna putih itu dan memakaikannya pada Khalisa, "nggak apa-apa nama Kak Levin ada di topi ini yang penting nama ku sudah memenuhi hati mu." Gumamnya membuat Khalisa memekik gemas, dari mana Azfan menemukan kalimat manis seperti itu.


"Bu Lek Diah sudah sarapan belum?" Khalisa menyapa Diah yang merupakan adik ayah Azfan, ia mencium punggung tangan Diah dan mengucapkan salam.


"Sudah Nduk, makasih ya bilang sama Pak Daniel dan Bu Ica karena sudah ngasih kami tempat menginap yang bagus dan makanan enak." Diah tersenyum ramah.


"Sama-sama Bu Lek, Ibuk ada dimana?" Khalisa bertanya keberadaan Kirana.

__ADS_1


"Ada di dapur bantu cuci piring padahal orang-orang dapur udah ngelarang tapi Mbak Kirana tetep aja bantu beres-beres."


Khalisa membelalak, jiwa ibu-ibu memang tak akan pernah bilang dimana pun mereka berada.


"Aku ke dapur dulu ya." Ujar Khalisa pada Azfan, ia bergegas menuju dapur resor untuk menemui mertuanya.


Sementara itu Azfan berkumpul dengan saudaranya yang lain sebelum mereka kembali ke Jogja. Azfan dan Khalisa juga akan kembali ke Jogja setelah masa liburan berakhir.


Khalisa terkejut karena bukan hanya Kirana yang berada di dapur tapi juga Galuh dan Safa. Mereka sedang mencuci piring dan peralatan masak.


"Ibuk, ibu kenapa ikut cuci piring?" Khalisa menghampiri Kirana.


Beberapa pegawai yang berada di dapur memberitahu Khalisa bahwa mereka telah melarang Kirana melakukan itu.


"Khalisa, ibuk kan cuma bantu cuci piring dari pada nganggur di depan."


"Bukannya sebentar lagi Ibuk ke bandara, kenapa nggak siap-siap?" Khalisa mengambil alih piring di tangan Kirana.


"Udah semua kok, baju-bajunya Safa dan Marwah juga udah dimasukin, kami nggak bawa banyak barang."


"Mbak Galuh juga, Agam kemana mbak?" Kini Khalisa melihat Galuh.


"Agam lagi main di depan sama Marwah, kamu juga ngapain kesini pengantin baru bukannya nempel terus sama suaminya malah kesini." Galuh tetap melanjutkan mencuci piring lainnya.


"Kerjaan ibuk memang begini setiap hari di rumah."


"Iya tapi kan di rumah Bu." Khalisa menarik tangan Kirana membawanya keluar dapur. "Safa, Mbak Galuh ayo sini, nggak mau ketemu Mas Azfan dulu sebelum berangkat?"


Anak-anak kecil sedang membuat rumah-rumahan dari pasir termasuk Zunaira yang langsung akrab dengan keluarga Azfan tanpa rasa canggung.


"Mas Azfan mana?" Tanya Khalisa pada Zunaira.


"Itu." Zunaira menunjuk ke parkiran dimana Azfan sedang mengobrol dengan Levin.


Khalisa mengikuti arah pandang Zunaira, ia melangkah menghampiri mereka, "Koko kok kemarin nggak dateng, katanya mau ambil cuti khusus buat aku dan Azfan."


Levin tersenyum manis melihat kedatangan Khalisa, ia memang bilang hendak mengambil cuti sehari penuh untuk menghadiri acara pernikahan Azfan dan Khalisa. Namun setelah dipikir, Levin tidak akan sekuat itu untuk menyaksikan gadis yang dicintainya menikah dengan laki-laki lain. Meski di mulut Levin berkata baik-baik saja tapi jauh di dalam hatinya ia merasa hancur. Levin tidak mau menyakiti dirinya sendiri dengan menghadiri acara itu. Levin sudah cukup sakit hati beberapa bulan yang lalu saat Khalisa menolaknya.


"Sorry banget Khalisa, kemarin harusnya aku cuti tapi ada satu dokter yang harusnya masuk tapi beliau ada urusan mendadak jadi kalau aku ikutan cuti takutnya bakal keteteran." Levin melihat Khalisa mengenakan topi pemberiannya seolah-olah Khalisa memberinya harapan bahwa suatu hari ia masih bisa diterima sebagai sosok laki-laki bukan sekedar kakak. Harusnya Levin tidak memberi topi itu karena setiap kali melihatnya, ia akan merasa punya kesempatan untuk memiliki Khalisa padahal itu tak akan pernah terjadi. Khalisa dan Azfan terlihat begitu saling mencintai.


"Iya Pak dokter sibuk terus sekarang."

__ADS_1


Levin mengambil paper bag di dalam mobilnya, "ini hadiah dari aku buat kalian."


Khalisa menerima paper bag berwarna merah hati tersebut, "Koko masih sempet beli hadiah?"


"Aku udah pesen sejak jauh hari hadiahnya, semoga kalian suka ya."


"Pasti suka."


"Selamat atas pernikahan kalian, semoga langgeng dan bahagia terus." Mata Levin jelas menggambarkan bahwa ia tidak sedang baik-baik saja, Khalisa juga menyadari itu. Kalau hubungan kalian berhenti di tengah jalan, aku siap gantiin posisi Azfan.


"Makasih Ko."


"Makasih Kak Levin."


Balas Azfan dan Khalisa bersamaan.


"Kalau gitu aku balik dulu."


"Loh kok balik, nggak disini dulu, Koko belum sarapan kan?"


"Aku harus balik ke rumah sakit." Dusta Levin padahal hari ini ia hendak berdiam diri di apartemennya tanpa melakukan apapun.


"Eh bentar-bentar." Khalisa berjalan mengelilingi mobilnya untuk mengambil suvenir berupa parfum pria. "Buat Koko." Ia memberikannya pada Levin.


"Wah dapet suvenir juga aku, makasih ya Khalisa dan Azfan, aku pulang dulu assalamualaikum."


"Waalaikumussalam." Jawab Khalisa dan Azfan bersamaan.


"Kalian ngobrolin apa barusan?" Tanya Khalisa pada Azfan ketika Levin sudah masuk ke mobilnya.


"Titip Khalisa ya Fan, jaga dia baik-baik." Azfan menirukan gaya bicara Levin, "padahal aku ini suamimu, tanpa dia suruh juga pasti aku jagain kamu, dan titip katanya, memangnya dia siapa?" Azfan muram saat berkata seperti itu.


"Kamu cemburu?" Khalisa tersenyum menggandeng lengan Azfan.


Azfan tidak menjawab, masih bertanya? apa tidak kelihatan dari wajahnya? Bagi Azfan yang berhak berkata seperti itu adalah orangtua Khalisa dan keluarga Khalisa. Perkataan Levin telah menyinggung perasaan Azfan.


"Udah jangan cemberut." Khalisa mencium telapak tangan Azfan dengan sayang.


"Besok aku beliin topi baru." Azfan melepas topi yang Khalisa kenakan.


Khalisa tertawa padahal tadi Azfan sendiri yang bilang bahwa tidak masalah jika ia menggunakan topi tersebut meski ada nama Levin.

__ADS_1


"Iya deh, ayo samperin Ibuk, sebentar lagi kan mereka pulang." Khalisa menggelayut di lengan Azfan.


Levin tersenyum getir melihat kemesraan Khalisa dan Azfan melalui spion mobilnya. Mengapa bukan dirinya yang bisa memiliki Khalisa.


__ADS_2