
Azfan melihat Khalisa yang sedang membaca juz 2 Al-Qur'an di tengah-tengah adik tingkat yang sore ini mengikuti kegiatan rutin Tasmi'ul Qur'an untuk menguji sekaligus mempertahankan hafalannya. Suara Khalisa begitu lembut masuk ke telinga Azfan membuatnya tidak ingin mendengarkan suara apapun kecuali bacaan Al-Qur'an itu. Azfan heran mengapa Khalisa cemburu pada Syifa padahal gadis itu memiliki suara yang bagus. Bacaan Khalisa juga lembut dan tidak terburu-buru dengan pelafalan yang tepat.
Banyak mahasiswa baru yang telah bergabung dengan HAWASI setelah dibuka pendaftaran seminggu lalu. Mereka adalah para penghafal Al-Qur'an dari berbagai fakultas di UII.
Azfan tak yakin apakah Khalisa mau memaafkannya. Ia telah bicara berlebihan terhadap gadis itu. Padahal selama ini Khalisa sama sekali tidak menganggapnya berbeda. Azfan yang telah membangun dinding kokoh di antara mereka.
Wajar saja jika Kafa menganggap Azfan tidak pantas untuk Khalisa karena sekarang tempat tinggal saja ia tidak punya sedangkan Khalisa memiliki hunian mewah di tengah kota. Jika Azfan memikirkannya sekarang ia tak akan mampu memantaskan diri untuk Khalisa. Namun Azfan selalu berdoa Allah memberinya jalan agar ia bisa bersanding dengan gadis itu. Setiap kali melihat kaligrafi QS Ar-Rum ayat 21 yang selesai Azfan buat maka ia begitu ingin memperjuangkan Khalisa.
Azfan telah mencurahkan cintanya terhadap Khalisa pada kaligrafi itu. Ia tidak punya apa-apa, hanya cinta dan doa yang senantiasa ia bisikkan di setiap sujudnya.
Seandainya itu benar, pasti aku udah nikah sama Fawas.
Kalimat Khalisa kembali terngiang di telinga Azfan. Azfan tertegun saat mendengarnya. Meski Rindang telah memberitahu Azfan jika Khalisa memiliki perasaan yang sama tapi Azfan tetap saja tak percaya apalagi setelah bertemu Kafa. Setelah mendengar sendiri dari Khalisa, perlahan Azfan mulai percaya. Mungkinkah Khalisa menolak Fawas karena Azfan. Membayangkannya saja membuat Azfan berbunga-bunga. Kini dada Azfan seperti taman yang penuh dengan bunga dan kupu-kupu.
Usai pembacaan hingga juz 3, Hasan membahas tentang program HAWASI selama Ramadhan yang akan segera tiba.
"Ini mungkin akan menjadi kali terakhir saya untuk memimpin musyawarah karena setelah Ramadhan kita akan memilih pengurus baru." Hasan mengedarkan pandangan ke seluruh anggotanya, ia telah banyak mendapat teman dan kebaikan dari organisasi tersebut. Mereka adalah tim yang kompak dan bisa saling menghargai satu sama lain.
"Sudah waktunya istirahat ya Kak." Timpal Faqih selaku wakil ketua.
"Betul Kak, sudah saatnya untuk adik-adik kita menunjukkan kemampuannya memimpin organisasi." Hasan memberi jeda sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya. "Apa kalian ada usul untuk kegiatan kita selama bulan Ramadhan, untuk yang baru bergabung satu Minggu ini juga boleh memberikan pendapatnya."
Hasan menunggu dengan sabar memberi kesempatan bagi anggota lain mengusulkan kegiatan yang bisa mereka lakukan selama bulan suci Ramadhan.
"Kita akan melakukan tadarus usai subuh." Kata Aliyah.
"Bagi-bagi takjil." Sahut salah satu anggota baru yang duduk di barisan paling belakang.
"Bagus, kita juga tidak mungkin melewatkan itu." Hasan mengangguk setuju, hampir setiap tahun mereka melakukannya.
"Mungkin kita juga bisa membagikan bingkisan menjelang Idhul Fitri." Khalisa ikut mengajukan pendapat.
"Ide yang bagus." Hasan juga menyetujuinya.
"Dari mana kita dapat dananya?" Tanya Syifa.
Khalisa menoleh melihat Syifa, "inshaa Allah uang kas kita cukup, ya Mbak?" Ia gantian melihat Aliyah yang merupakan bendahara HAWASI.
"Inshaa Allah jumlahnya cukup karena kita sudah mengumpulkannya selama satu tahun untuk Ramadhan tahun ini." Jawab Aliyah.
"Bagaimana kalau ternyata kurang karena harga sembako menjelang Idhul Fitri pasti naik."
"Inshaa Allah cukup kok." Kini Hasan ikut menyahut meski ia tidak tahu pasti berapa jumlah uang kas yang mereka miliki.
"Kalau tetap kurang, apakah Khalisa mau menambah dananya karena kamu yang punya usulan itu?" Syifa bertanya begitu dengan senyum lebar di wajahnya. Ia menatap lurus pada Khalisa yang memasang wajah datar, sedatar lantai masjid yang mereka duduki.
Khalisa mengangguk dengan senang hati ia akan memberi tambahan dana jika memang akhirnya jumlahnya tidak cukup untuk mereka membagikan bingkisan Idhul Fitri.
"Tolong jangan memperdebatkan sesuatu yang tidak perlu didebatkan." Seru Hasan menengahi, ia menutup pertemuan sore itu karena waktu magrib hampir saja tiba.
"Baik Kak." Syifa menunduk menuruti ucapan Hasan begitupun dengan Khalisa.
__ADS_1
Khalisa membuka tutup botol air mineral di tangannya lalu meneguknya sedikit. Kerongkongannya terasa kering setelah melafalkan juz 2 hingga selesai.
Mereka mengakhiri pertemuan sore itu setelah selesai membahas kegiatan selama bulan Ramadhan tahun ini. Besok mereka akan kembali melakukan kegiatan Tasmi'ul Qur'an di masjid Ulil Albab hingga juz 30.
"Khalisa." Panggil Azfan seraya mengejar Khalisa yang sudah berada di depan pintu masjid.
"Kenapa?"
"Aku minta maaf soal kemarin." Azfan beranjak, "aku sudah bicara keterlaluan."
"Kamu beneran berpikir kalau kita mustahil bersatu?" Tanya Khalisa tanpa melihat Azfan.
Azfan menggeleng, itu adalah kalimat yang justru membuatnya sakit hati sampai sekarang meski ia sendiri yang mengucapkannya. Pikiran Azfan sedikit kacau setelah bertemu Kafa ditambah tiba-tiba diusir dari tempat kos. Harusnya ia tidak bertemu Khalisa lebih dulu karena pikirannya amat keruh.
"Karena aku Khalisa yang lahir di keluarga chinese?"
"Enggak Khalisa, aku sama sekali nggak berpikir seperti itu, justru aku kagum sama kamu dan keluarga kamu."
"Jadi maksud kamu kita bisa bersatu?"
"Hm?" Azfan menaikkan alisnya, ia melirik ke kanan dan kiri lalu mengusap tengkuknya, mengapa Khalisa selalu menyudutkan nya dengan kalimat seperti itu. "Aku akan bikin kemustahilan itu jadi mungkin dengan pertolongan Allah." Azfan memasrahkan semuanya pada Allah sebab ia
Khalisa menahan senyum menatap lurus ke depan pada gerbang utama yang hampir tidak terlihat karena matahari hampir tenggelam.
"Kenapa kamu selalu ragu-ragu?" Selama mengenal Azfan, Khalisa merasa Azfan selalu ragu-ragu saat menghadapi sesuatu. Seperti saat Azfan ditunjuk untuk ikut lomba MTQ, ia ragu-ragu tak percaya pada kemampuannya sendiri. Padahal pada akhirnya Azfan mendapat gelar juara favorit. "Apa kamu termasuk orang yang mengulang-ulang wudhu juga karena ragu?"
"En ... nggak aku nggak pernah ragu soal ibadah." Jawab Azfan terbata.
"Harusnya kamu juga nggak ragu untuk semua hal karena Allahu Akbar."
"Oh iya, ini wadah makanan yang kemarin, itu pertama kalinya aku makan roti dikasih alpukat ternyata enak." Azfan menyodorkan wadah plastik milik Khalisa.
Khalisa mengerutkan kening, itu adalah wadah plastik bening sekali pakai tapi Azfan bahka telah mencucinya hingga bersih.
"Alhamdulillah kalau kamu suka, lain kali aku bikinin lagi." Khalisa menerima wadah tersebut dan memasukkannya ke dalam tas. Ia mengambil ponselnya yang bergetar singkat tanda ada pesan masuk.
Khalisa mendapat pemberitahuan bahwa mama nya telah mengirim sejumlah uang ke nomor rekeningnya. Khalisa membelalak, kenapa mama nya mentransfer uang sebanyak itu padahal ia belum memintanya. Lagi pula Khalisa tak akan minta uang sebanyak itu pada mamanya.
"Mama kirim foto seragam karyawan yang udah jadi." Khalisa menunjukkan ponselnya yang menampilkan foto seragam pegawai resor dan hotel Jinggo berupa kemeja dengan kombinasi motif batik berlengan panjang dan rok span.
"Wah itu Khalisa yang desain?" Mata Azfan berbinar-binar melihat seragam yang Khalisa desain untuk para karyawan papa dan mamanya. "Bagus, kelihatan rapi dan nyaman digunakan."
"Justru para Ibu di Desa kamu dengan tangannya yang luar biasa menghasilkan batik sebagus ini."
"Tetap saja tanpa desain kamu, nggak akan jadi seragam bagus seperti itu."
"Azfan!" Terdengar suara Hasan memanggil Azfan dari jarak sekitar 3 meter.
"Kamu dipanggil Kak Hasan tuh, aku pulang dulu ya." Pamit Khalisa lalu mengucapkan salam. Ia ingin segera sampai di apartemen dan menghubungi mama nya.
"Kenapa Kak?" Azfan tidak jadi pulang, ia kembali masuk ke masjid itu karena Hasan memanggilnya.
__ADS_1
"Ada program untuk para Qori' dan Qori'ah, saya berencana untuk mengajukan kamu untuk ikut program ini." Hasan menunjukkan tablet nya yang menampilkan sebuah foto untuk program pelatihan bagi para Qori' dan Qori'ah di Indonesia. "Jadi ini adalah program latihan selama seminggu lalu lomba nya akan diadakan di Turki."
"Turki?" Azfan mengulang kata terakhir Hasan.
"Iya, kamu harus ikut karena ini kesempatan bagus untuk kamu, kalau menang hadiahnya juga nggak sedikit dan kalaupun nggak menang kamu bisa punya pengalaman bersama bertemu Qori'dan Qori'ah dari seluruh dunia."
Azfan terdiam, "tapi gimana kalau saya justru nggak bisa membawa kemenangan?"
"Sama sekali bukan masalah, kalau nggak menang nggak akan ada yang tahu tapi kalau menang semua media pasti akan memberitakannya, kamu pikir-pikir dulu, saya akan kirim file program ini ke email kamu ya, kasih saya jawaban paling lambat besok."
"Makasih Kak Hasan." Azfan mengangguk dalam, ia mohon pamit dari situ karena langit hampir gelap.
Pergi ke Turki? itu sama sekali tidak ada di daftar negara yang ingin Azfan kunjungi, selain itu keluar pulau Jawa saja ia tidak pernah.
******
Sesampainya di apartemen Khalisa mengeluarkan wadah plastik dan meletakkannya bersama wadahnya yang lain di dalam lemari penyimpanan di dapur. Sepertinya setelah ini Khalisa harus mencuci wadah itu meski telah digunakan, bukan membuangnya. Lebih ramah lingkungan dan hemat.
Khalisa mendial nomor mama nya untuk menanyakan uang yang baru masuk ke rekeningnya.
"Assalamualaikum, Khalisa."
"Waalaikumussalam Mama, aku barusan dapat pemberitahuan kalau Mama kirim uang ke rekening ku tapi kenapa banyak banget Ma, Mama salah kirim ya?" Khalisa membuka kulkas mengambil dua buah kiwi dan mencucinya.
"Enggak kok, itu Mama kasih untuk mengapresiasi desain seragam yang sudah Khalisa buat."
"Mama, itu kan desain aku kasih buat Mama."
"Tetep aja Mama harus kasih, coba bayangin kalau Mama minta jasa designer profesional pasti biayanya lebih dari itu sayang, udah kamu terima aja sebentar lagi kan puasa pasti di kampus banyak kegiatan, kamu sumbangkan beberapa untuk kegiatan itu."
Khalisa mendongak, tiba-tiba saja ia ingin menangis mendengar kata-kata mama nya. Baru saja ia berselisih dengan Syifa karena ia menyarankan berbagi bingkisan diakhir Ramadan lalu mama nya memberinya uang. Meski jauh tapi Khalisa merasa Ica ada disini dan ikut merasakan apa yang ia alami disini.
"Uang untuk sewa apartemen juga nggak perlu bayar lagi selama satu tahun ke depan, Mama jangan kasih uang lagi."
"Iya-iya, Mama nggak akan kirim lagi, gimana Tasmi'ul Qur'an hari ini, lancar kan?"
"Alhamdulillah semuanya lancar Ma." Khalisa memotong buah kiwi menjadi dua bagian dan memakannya menggunakan sendok.
"Besok muroja'ah bareng Papa ya setelah subuh."
"Papa atau Khalisa?"
"Khalisa."
Khalisa tertawa, ia pikir papanya yang akan muroja'ah kepadanya. Papa nya itu memang jarang menghubunginya tapi sekalinya menelepon pasti Ce, juz 16 ya atau Ce, surat Ali Imran ya.
"Ya udah Ma, Khalisa mau mandi dulu baru banget nyampe apartemen, Mama dan Papa jaga kesehatan ya."
"Iya sayang, kamu juga."
"Terimakasih banyak Mama dan Papa udah ngirimin Khalisa uang
__ADS_1
"Iya sama-sama, Mama tutup dulu assalamualaikum."
"Waalaikumussalam." Khalisa meletakkan ponselnya untuk melanjutkan makan buah kiwi sebelum pergi ke kamar mandi bersiap mendirikan shalat magrib.