
Apartemen 35 lantai yang berjarak sekitar 3 kilometer dari kampus UII itu merupakan hunian pilihan Aisyah untuk anaknya Kafa selama berkuliah disini. Tak berbeda jauh dengan Casey Avenue, apartemen ini juga memiliki fasilitas yang mewah dan lengkap.
Khalisa menekan bel sesampainya di depan apartemen Kafa, ia membawa paper bag berisi dua kotak makanan untuk sarapan bersama Kafa setelah seminggu mengikuti kegiatan kampus yang sangat padat. Ini pertama kalinya Khalisa berkunjung kesini.
"Assalamualaikum." Khalisa mengucap salam ketika Kafa membuka pintu, ia melihat Kafa sudah rapi dengan sweatshirt dan celana bahan berwarna abu-abu. "Mau kemana masih pagi?" Khalisa masuk ke apartemen itu.
"Waalaikumussalam, mau jalan-jalan mumpung akhir pekan, Cece bawa apa?"
"Bawa sarapan." Khalisa salah fokus pada kaligrafi yang berada di salah satu sisi dinding ruang tamu bertuliskan ayat kursi. "Beli dimana?" Tanya Khalisa.
"Kenapa?" Kafa balik bertanya.
"Bagus." Puji Khalisa jujur.
Bukannya menjawab Kafa mengajak Khalisa menuju ruang makan, kebetulan ia juga belum sarapan. Ia bersemangat menyiapkan piring untuk memindahkan makanan yang Khalisa bawa.
"Cece bawa Avocado Toast." Khalisa mengeluarkan dua kotak berisi toast dari paper bag nya. Khalisa memang penggemar berat buah-buahan sehingga sebisa mungkin ia menyelipkan buah di setiap makanannya.
"Kelihatan enak."
"Pasti enak dong." Khalisa langsung melahap roti panggang dengan alpukat itu sementara Kafa lebih dulu memindahkannya ke piring dan menggunakan garpu serta piring. Khalisa tertawa, mereka berasal dari keluarga besar yang sama tapi cara makan mereka sungguh berbeda.
"Wah alpukat nya enak banget." Kata Kafa dengan mulut penuh makanan. "Oh iya aku denger Ko Levin yang temannya Om Daniel dari komunitas mualaf itu koas di rumah sakit Kafasha ya."
"Iya, kamu bisa cek email karena Ko Levin pasti kirim email secara resmi untuk minta izin koas disana."
"Tapi dia kan udah dapat izin Cece."
"Rumah sakit itu juga punya kamu."
Kafa terdiam karena fokus menikmati makanannya. Khalisa memang pandai membuat makanan sedangkan Kafa setelah tinggal disini, ia memutuskan untuk menggunakan jasa catering karena ia ingin fokus pada kuliahnya.
"Kalau Cece mau kemana?" Tanya Kafa.
"Belum tahu." Khalisa tak pernah merencanakan tempat khusus yang ingin ia kunjungi saat akhir pekan. Jika tidak ada tempat yang ingin dikunjungi maka Khalisa akan berada di apartemen seharian.
Khalisa punya satu Avocado Toast di mobil dan ia belum tahu akan memberinya pada siapa. Azfan mungkin? ia sudah lama tidak bertemu Azfan, bukankah seminggu itu waktu yang sangat lama. Khalisa juga belum tahu bagaimana kondisi jahitan di kepala Azfan.
Selesai makan Khalisa pamit karena Kafa juga sudah berencana pergi keluar maka ia tidak mau mengganggu Kafa lagi. Ia hanya datang untuk sarapan sekaligus melihat-lihat apartemen Kafa.
Mobil Khalisa perlahan bergerak melewati area pertokoan yang menjual berbagai macam barang seperti pakaian, sepatu, perhiasan dan makanan. Tempat ini sempurna bagi Azfan karena ia tidak memiliki saingan.
Sebelum turun Khalisa meraih kotak makanan di kursi penumpang. Ia melihat Azfan baru membuka toko itu. Sepertinya Khalisa datang kepagian. Khalisa mengucapkan salam yang langsung dijawab oleh Azfan meski lelaki itu belum melihatnya.
__ADS_1
"Baru buka?"
Azfan mengangkat wajah, ia baru sadar kalau itu adalah Khalisa. Sungguh Azfan tidak ingin bertemu Khalisa setelah kejadian seminggu yang lalu. Semakin memikirkannya maka Azfan akan makin membenarkan semua ucapan Kafa.
"Iya." Azfan membiarkan Khalisa masuk. "Aku mau minta maaf."
Khalisa berbalik melihat Azfan, "untuk apa?"
"Untuk sementara aku izin tinggal disini."
"Memangnya kenapa tempat kos kamu?" Khalisa mengerutkan kening heran.
Azfan menunduk, ia tak bisa menceritakan hal yang sebenarnya pada Khalisa karena itu menyangkut perasaannya pada Khalisa.
"Aku nggak bisa cerita alasannya." Azfan menarik kursi untuk Khalisa.
Khalisa melihat Azfan bingung, sebenarnya Azfan tak perlu minta izin karena tempat ini memang untuknya. Khalisa hanya bingung kenapa Azfan tiba-tiba keluar dari tempat itu padahal ia tahu Azfan pernah mengatakan menyukai tempat itu. Namun Khalisa tidak mau mendesak Azfan, ia yakin Azfan memiliki alasan kuat untuk merahasiakan itu darinya.
"Luka kamu gimana?" Khalisa ikut duduk menyusul Azfan, ia juga meletakkan kotak makanan di atas meja.
"Udah kering sepenuhnya."
"Alhamdulillah kalau gitu, ini aku bawa sarapan buat kamu." Khalisa mendorong kotak tersebut pada Azfan.
Khalisa merasa ada yang berbeda dari sikap Azfan, sebenarnya apa yang telah terjadi pada Azfan hingga raut wajahnya amat muram.
"Semoga kamu belum sarapan." Khalisa mengembangkan senyum lebar.
"Belum kok."
Khalisa menunggu Azfan membuka kotak makan itu tapi tak ada tanda-tanda bahwa Azfan akan membukanya.
"Kamu nggak suka alpukat ya?" Khalisa lupa bertanya apakah Azfan suka alpukat atau tidak.
"Aku suka hampir semua makanan." Akhirnya Azfan membuka kotak tersebut, sebenarnya tanpa membukanya ia sudah bisa melihat isi di dalamnya. "Tapi aku makan nanti aja."
Khalisa manggut-manggut padahal ia menunggu pendapat Azfan mengenai makanan buatannya itu. Khalisa bertanya-tanya mengapa sikap Azfan begitu dingin? apa karena Azfan sudah tahu tentang Fawas. Namun terakhir bertemu Azfan terlihat baik-baik saja. Bahkan Khalisa seperti berhadapan dengan orang yang berbeda sekarang.
"Kalau mau cari tempat kos, aku bisa bantu Fan."
Azfan menggeleng, "kamu udah terlalu banyak bantu aku Khalisa." Azfan tidak mau membuat dirinya semakin terlihat menyedihkan karena selalu mendapat bantuan Khalisa. Ia sudah cukup hancur dengan ucapan Kafa ditambah diusir dari tempat kos. Azfan tidak mau membuat lukanya menganga lebih lebar.
"Azfan, justru kamu yang selalu bantu aku." Khalisa tidak suka dengan kalimat Azfan. "Huma juga kan tinggal di kosan deket sini, siapa tahu dia punya info tentang kosan yang masih kosong."
__ADS_1
"Makasih Khalisa tapi aku nggak mau ngerepotin kamu lagi."
"Nggak repot kok." Khalisa mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Huma. "Bentar ya."
Azfan menahan napas untuk beberapa saat, "Khalisa, aku bukannya nggak bisa cari tempat kos, aku nggak punya uang cukup buat bayar."
Khalisa terkejut dengan nada bicara Azfan yang tak pernah ia dengar sebelumnya. Khalisa melihat Azfan dengan pandangan nanar.
Rasanya mata Khalisa seperti ditusuk-tusuk jarum, panas dan bersiap mengeluarkan airnya. Khalisa bukan tipe cewek cengeng yang gampang menangis. Namun kalimat Azfan justru membuat hati Khalisa perih.
"Maaf." Khalisa menunduk, ia menelan salivanya dengan susah payah seperti ada kerikil yang menyangkut di kerongkongannya. Sakit.
"Maaf Khalisa aku nggak bermaksud bentak kamu." Detik itu juga Azfan merasa amat bersalah padahal niat Khalisa baik.
Khalisa mengangkat wajah menghapus pipinya kasar dan mengulas senyum yang justru membuat Azfan semakin hancur. Mengapa Khalisa masih bisa tersenyum.
"Aku yang salah, harusnya aku nggak maksa waktu kamu bilang nggak usah." Suara Khalisa gemetar menahan tangis. "Maaf bikin kamu harus ngomong kayak gitu, aku anggap nggak pernah denger."
"Khalisa nggak salah, aku yakin selama ini kamu selalu bicara hati-hati supaya nggak bikin aku tersinggung, itu karena kita berbeda."
Khalisa melihat Azfan penuh tanya, berbeda?
"Kita lahir dan tumbuh dewasa di lingkungan yang sangat jauh berbeda itu sebabnya kamu bingung."
"Aku biasa hidup dengan perbedaan."
"Kita membicarakan perbedaan yang lain."
"Tolong jangan membesar-besarkan nya."
"Seandainya Khalisa dan aku memiliki perasaan yang sama maka mustahil bagi kita untuk bersatu."
Khalisa tertegun mendengar kalimat Azfan, "hati-hati dengan bicara mu dan kamu bukan Tuhan yang bisa menentukan takdir seseorang, bagiku perbedaan terbesar bagi dua manusia untuk bersatu adalah agama dan keyakinan, kalau cuma harta yang Allah titipkan itu sama sekali nggak jadi masalah."
"Itu menurut mu, Pak Daniel dan Bu Ica pasti menginginkan menantu yang setara dengan kamu."
"Seandainya itu benar pasti sekarang aku udah nikah sama Fawas."
Azfan terdiam tidak bisa lagi membalas kalimat Khalisa.
"Aku nggak nyangka ya, pikiran kamu kuno." Khalisa beranjak dari kursi, "aku pulang dulu, jangan lupa dimakan, kalau dingin pasti nggak enak." Katanya seraya berlalu dari sana.
Khalisa menyandarkan tubuhnya begitu masuk mobil, ia menarik napas dalam dan mengembuskan nya. Khalisa pikir selama ini mereka sudah berteman baik dan mengerti sifat masing-masing. Namun Azfan ternyata memiliki pemikiran seperti itu. Khalisa sudah berusaha memahami Azfan, ia juga selalu berhati-hati untuk bertindak agar tidak menyinggung perasaannya.
__ADS_1
"Mustahil untuk bersatu katanya?" Khalisa mengulang kalimat Azfan, ia benar-benar kesal dengan kalimat itu. Tak ada yang mustahil jika kita memiliki kemauan untuk mewujudkannya.