Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
92


__ADS_3

"Maaf belum bisa ajak Haura ke bioskop." Azfan amat berat meninggalkan Khalisa sendirian di rumah karena ia harus memenuhi undangan untuk menjadi imam shalat di Majid Agung Jami' Malang. Ini memang bukan pertama kalinya Azfan diundang menjadi imam tapi sebelumnya ia hanya memenuhi undangan di sekitar Yogyakarta.


Azfan hanya bisa pergi sendiri karena Khalisa sedang kurang sehat. Ia juga tidak lama berada di Malang sehingga untuk menghemat ongkos Azfan pergi seorang diri.


Khalisa tersenyum dengan menahan sakit pada kepalanya, ia tidak pernah bilang ingin menonton film di bioskop. Azfan hanya salah paham ketika Khalisa membahas soal film menyangka bahwa Khalisa ingin pergi ke bioskop.


"Aku udah siapin baju Mas di koper kecil." Khalisa melirik koper hitam dekat meja rias dimana ia telah memasukkan semua barang keperluan Azfan selama 2 hari di Malang.


"Makasih sayang, kamu sakit tapi masih bisa nyiapin semuanya." Azfan mengusap rambut Khalisa, "Haura udah telepon Huma?" Azfan tidak bisa membiarkan Khalisa sendirian di rumah jadi ia berinisiatif meminta Humaira menginap disini selama ia berada di Malang. Andai orangtua Khalisa masih disini pasti Azfan tidak seberat ini meninggalkan istrinya di rumah.


"Udah, dia lagi siap-siap kesini." Khalisa hendak beranjak dari kasur tapi Azfan mencegahnya. "Aku mau anter Mas Azfan ke depan."


"Ya udah pelan-pelan." Azfan membantu Khalisa bangun. Ia mengambil tas selempang kecil miliknya untuk menyimpan ponsel dan dompet dan menarik koper berjalan menuju depan rumah.


Khalisa tidak lupa meraih jilbab di belakang pintu sebelum keluar.


Halaman rumah mereka terlihat sedikit berbeda karena ada beberapa tanaman hias yang mempercantik taman. Benar kata Ica, tanaman itu bisa membuat perasaan mereka bahagia ketika melihatnya. Mau tidak mau Khalisa yang awalnya tak suka merawat tanaman sekarang harus rutin menyiramnya. Ia juga mencari tahu cara-cara merawat tanaman di internet.


"Kulit Haura masih panas." Azfan merasakan suhu tubuh Khalisa ketika mencium keningnya. Azfan menyentuh kening Khalisa dan pipi. "Nanti obatnya diminum lagi ya."


"Iya, Mas tenang aja aku ahlinya obat." Khalisa mengembangkan senyum lebar untuk menenangkan Azfan, "jangan lupa telepon setelah sampai Malang." Ia memeluk Azfan erat. "Hati-hati ya Mas." Perasaan Khalisa mengatakan Azfan akan sering bepergian jauh setelah ini karena semakin banyak yang mengenal suaminya itu. Tentu saja Khalisa harus ikhlas karena Azfan pergi untuk menyebarkan kebaikan.


"Semoga Allah selalu melindungi Haura ku." Bisik Azfan seraya mencium pipi kemerahan Khalisa karena demam. Anehnya Khalisa makin terlihat cantik dengan wajah memerah seperti itu tapi bukan berarti Azfan menyukai keadaan Khalisa sekarang.


"Astaghfirullah! aku nggak lihat." Suara Huma mengejutkan Khalisa dan Azfan, ia menutup matanya dengan telapak tangan dan memutar badan karena barusan tak sengaja menyaksikan Azfan dan Khalisa melakukan adegan romantis yang seharusnya tak ia lihat.


"Aku berangkat ya."


Khalisa mencium punggung dan telapak tangan Azfan lama. Azfan telah memesan taksi online untuk membawanya ke bandara.


"Huma jangan berantem sama Haura ya." Pesan Azfan.


"Aku bukan anak kecil." Cibir Huma. Ia telah membawa tiga buah novel fantasi yang belum dibacanya demi menemani Khalisa disini. Asal ada novel dimanapun Huma pasti betah.


Azfan melambaikan tangan pada Khalisa sebelum masuk ke dalam mobil yang perlahan menghilang dari halaman rumah. Setelah mobil itu benar-benar tidak terlihat Khalisa baru mengajak Huma masuk.


"Muka kamu pucet banget." Huma meletakkan tas kain dan mengeluarkan novelnya. Sedangkan Khalisa kembali berbaring masih dengan tasbih di tangannya, itu bukan tasbih digital yang biasa ia gunakan tapi tasbih dari kayu gaharu milik Azfan.


"Pusing banget aku."

__ADS_1


"Jangan stress terus makanya." Huma menarik selimut Khalisa hingga sebatas pinggang. "Uang banyak, nilai bagus, suami udah punya apalagi yang dipikirin sih?"


"Huma," Khalisa melihat Huma yang duduk bersandar pada ujung ranjang di sampingnya, "udah satu tahun tapi aku belum hamil juga."


"Ck kamu ngomong apa sih Sa." Huma memukul lengan Khalisa pelan, "belum rezeki, Allah pasti ngasih sesuatu untuk hamba-Nya tepat waktu, ini kayak bukan kamu banget lo suka overthinking kayak gini, kamu kena virus apa?"


"Aku nggak mau overthinking tapi setiap saat pikiran itu terus muncul jadi aku akhirnya berpikir untuk ngenalin Mas Azfan sama wanita lain."


"Eh gila kamu!" Suara Huma meninggi mengejutkan Khalisa. "Udah-udah tidur, nggak waras kamu lama-lama." Huma mengambil salah satu novelnya dan membuka halaman yang terakhir dibacanya.


Khalisa berbalik memunggungi Huma, bahunya bergetar, ia kembali menangis tanpa suara. Huma menyadari bahwa Khalisa sedang menangis tapi ia tetap pura-pura fokus membaca novel.


"Kamu nggak punya alasan buat ngelakuin hal itu sama Azfan." Ucap Huma ketika ia mendengar Khalisa mulai terisak. "Azfan itu ngasih hatinya buat kamu semua, aku yakin dia nggak pernah nuntut soal anak kan ke kamu."


"Tolong banget Sa, berpikir waras, kalian tuh masih jalan satu tahun, di luar sana itu banyak yang udah bertahun-tahun nggak punya anak tapi tetap bertahan berdua lagian solusinya nggak harus nikah lagi tapi bisa adopsi."


Huma melirik Khalisa, ia yakin Khalisa mendengar semua kalimatnya. Huma merosot meletakkan novel dan memeluk Khalisa dari belakang.


"Aku nggak tahu gimana rasanya jadi kamu, aku cuma mau ngasih tahu kalau Azfan cinta banget sama kamu, dia nggak akan pernah menduakan kamu."


Karena efek obat yang Khalisa minum akhirnya ia tertidur dengan Huma yang memeluknya seperti seorang ibu yang mendekap anaknya. Huma yang tadinya ingin melanjutkan membaca novel akhirnya ikut tidur meski jam masih menunjukkan pukul 8.


Khalisa selalu memasang senyum lebar di depan banyak orang seolah-olah tak pernah ada kesedihan yang hinggap di hatinya. Namun saat sendiri Khalisa lebih sering menangis terutama saat shalat. Khalisa selalu mencurahkan seluruh keluh kesahnya pada Allah dan menangis, itu adalah caranya menenangkan diri.


******


"Fan, Azfan!"


Azfan terkesiap tersadar dari lamunannya ketika Faiz—seseorang yang menjemputnya di Bandara Abdulrachman Saleh menepuk bahunya beberapa kali. Azfan mengerjapkan mata berusaha kembali ke dunia nyata.


Faiz terkekeh melihat Azfan gelagapan, ia sudah mengucapkan salam dua kali dan berdiri tepat di hadapan Azfan sekitar 5 menit tapi Azfan tidak juga menyadari kehadirannya.


Azfan segera menjabat tangan laki-laki yang berusia sekitar 30 tahunan tersebut dan menjawab salam. Azfan meminta maaf karena melamun dari tadi hingga tidak menyadari kehadiran Faiz. Azfan yakin ia tidak mengantuk tapi justru pikirannya yang melayang jauh entah kemana.


"Masya Allah akhirnya bisa bertemu juara MTQ internasional yang biasanya hanya bisa saya lihat di tv dan layar ponsel."


Azfan mengucapkan terimakasih karena telah diundang dan diberi kesempatan untuk mengunjungi kota Apel ini serta menjadi imam di Masjid Jami' Agung bertepatan dengan peringatan isra' mi'raj.


"Mobilnya disana, silakan." Faiz mempersilakan Azfan masuk ke dalam taksi yang akan membawa mereka ke hotel Alimar.

__ADS_1


"Perjalanannya akan lumayan lama kalau Azfan mau tidur dulu nggak apa-apa." Ujar Faiz karena Azfan terlihat belum sadar sepenuhnya mungkin karena efek perjalanan yang ditempuh menggunakan pesawat.


"Iya Mas Faiz saya sudah tidur selama di pesawat."


"Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu." Faiz bisa menebak bahwa sedang ada yang begitu mengganggu pikiran Azfan, ia telah belajar psikologi selama 4 tahun dan eskpresi Azfan menyiratkan ada sesuatu yang tidak baik terjadi dalam hidupnya.


Azfan melihat Faiz ragu menimbang-nimbang apakah akan menceritakan masalahnya pada lelaki yang baru dikenalnya itu atau tidak. Selama ini Azfan tidak pernah menceritakan keluh kesahnya pad siapapun karen tidak memiliki teman dekat kecuali Bimo dan Idris.


"Kamu bisa cerita apapun." Faiz mengerti keraguan Azfan karena ini pertemuan pertama mereka. "Kali ini kamu boleh konsultasi gratis tapi lain kali nggak gratis ya." Canda Faiz berusaha mencairkan suasana, benar saja Azfan tertawa dan mulai bersiap memulai ceritanya.


Azfan menceritakan bahwa istrinya yang dulu selalu berpikir positif dan yakin bahwa masa depan akan selalu baik sekarang lebih sering berpikiran buruk. Azfan tidak ingin Khalisa terus-terusan bersedih karena keadaan mereka saat ini yang belum dikaruniai keturunan. Azfan ingin mengatakan bahwa pernikahan bukan hanya tentang memiliki keturunan, lebih dari itu dengan mereka yang selalu bersama-sama meraih cinta Allah itu sudah cukup bagi Azfan. Namun Azfan tak berani mengatakannya karena takut menyinggung perasaan Khalisa.


Apalagi ketika Khalisa menyinggung soal wanita lain antara mereka berdua. Meski Khalisa mengatakannya cerita itu ada dalam film tapi Azfan bisa menangkap maksud Khalisa. Azfan pura-pura tidak mengerti dan menganggap Khalisa hanya ingin pergi ke bioskop. Azfan tak ingin membahas hal seperti itu dengan Khalisa. Kalaupun mereka tidak pernah punya kesempatan untuk memiliki keturunan Azfan tak akan menikah lagi. Itu adalah mimpi buruk yang tak pernah Azfan bayangkan. Ketika ia mengucap janji di depan penghulu dan Daniel, Azfan sudah berjanji bahwa Khalisa akan selalu menjadi satu-satunya.


"Jadi istri mu kehilangan pikiran positif itu?" Akhirnya Faiz memberi tanggapan setelah mendengarkan cerita Azfan secara seksama.


"Benar Mas."


"Kamu harus bicara dari hati ke hati dan buat dia percaya kalau pernikahan nggak semuanya tentang anak, yakinkan dia kalau suatu hari kalian pasti akan punya keturunan dan kamu nggak akan pernah mau menduakan dia."


Azfan mengangguk, dulu ia yang selalu merasa ragu terhadap kehidupan rumah tangga mereka. Azfan tidak yakin apakah dirinya bisa membahagiakan Khalisa dengan kesederhanaan yang ia miliki. Saat begitu Khalisa lah yang paling membuat Azfan yakin bahwa semuanya akan berjalan baik selama mereka bersama. Namun sekarang Khalisa yang justru dipenuhi keraguan apalagi setelah mereka tahu penyebab Khalisa tidak juga hamil.


"Saya telepon istri saya dulu." Azfan merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponsel, ia lupa bahwa Khalisa memintanya menelpon setelah sampai di Malang.


Cukup lama untuk Khalisa menjawab telepon, Azfan pikir mungkin Khalisa tidur lagi setelah shalat subuh. Meskipun Khalisa tidak pernah melakukan itu tapi Azfan ingat kondisi Khalisa sedang tidak baik sekarang. Dokter juga mengatakan Khalisa harus banyak istirahat.


"Assalamualaikum Mas, maaf lama angkatnya, aku di dapur barusan."


"Waalaikumussalam, di dapur? memangnya kondisi Haura sudah baikan, kok nggak beli makanan dari luar aja?"


"Aku udah enakan Mas, Huma bikinin bubur nih, Mas Azfan sudah sarapan?"


"Alhamdulillah kalau Haura sudah baikan, aku baru aja jalan dari bandara, sarapannya di hotel nanti."


"Oh iya Mas, aku sama Huma mau ketemu Naira nanti agak siang di toko Mas Azfan katanya Naira lagi nyari kaligrafi buat dipajang di ruang tengah."


"Memangnya Haura udah bisa jalan keluar?"


"Udah kok malah kalau dibuat diem aja nggak akan cepet sembuh, Mas Azfan hati-hati ya disana semoga kegiatan hari ini lancar dan berkah."

__ADS_1


"Aamiin, terimakasih sayang, aku tutup dulu ya." Azfan memutus sambungan setelah Khalisa menjawab salamnya.


Azfan sedikit lega mendengar kondisi Khalisa sudah lebih baik. Mendengar suara Khalisa membuat Azfan ingin segera pulang padahal ia baru saja sampai di kota Apel ini.


__ADS_2