
Bagi Azfan berkumpul dengan banyak orang adalah hal yang melelahkan untuk pikirannya. Jika boleh memilih lebih baik Azfan berlari keliling lapangan kampus dari pada harus berkumpul dengan banyak orang meskipun itu adalah teman-temannya sendiri dan mereka pernah menimba ilmu bersama-sama selama 3 tahun bahkan ada juga teman SMP nya. Mereka bukan orang asing tapi Azfan lebih baik berkumpul dengan orang asing karena mereka tak akan mengeluarkan kata-kata yang bisa menyinggung perasaannya.
Namun terlambat untuk mundur setelah Azfan mengganti pakaian yang dijahit oleh Khalisa dengan penuh ketelatenan. Alasan Azfan pergi kali ini hanya karena ia menghargai jerih payah Khalisa untuk membuat pakaian tersebut. Jika Khalisa tak ikut serta maka Azfan juga tidak akan pergi ke acara reuni tersebut.
Khalisa telah siap mengenakan gamis berwarna hijau tua dengan aksen mutiara di bagian pergelangannya. Gamis itu sangat cantik melekat di tubuh langsing Khalisa.
"Mas." Khalisa membalikkan badan setelah melihat penampilannya sekali lagi di depan cermin. Ia menghampiri Azfan yang tengah memasang wajah gundah karena harus keluar dan bertemu banyak orang. "Mas." Panggilnya sekali lagi.
"Iya sayang?" Azfan mengerjapkan matanya beberapa kali melihat Khalisa sudah selesai bersiap-siap. "Haura cantik sekali." Ia bangkit dari pinggiran tempat tidur menggenggam kedua tangan istrinya. Bagaimana mungkin Khalisa tampak begitu mempesona dengan gamis tersebut. Azfan tak rela jika orang lain melihatnya.
"Aku nggak pakai apa-apa, cuma bedak." Khalisa mengusap-usap wajahnya karena takut bedak yang digunakannya terlalu tebal.
"Gimana kalau orang lain lihat?" Azfan makin galau.
Khalisa tertawa, tentu saja orang lain akan melihatnya karena ia bukan makhluk halus yang bisa tak terlihat.
"Mas, jangan berpikir macam-macam karena acara reuni ini adalah saatnya bagi Mas dan teman-teman menyambung tali silaturahmi setelah lama nggak ketemu, nggak akan ada yang bully Mas lagi, semuanya akan baik-baik saja." Khalisa mencium tangan Azfan bolak-balik karena ia menyukai aroma tangannya—tidak—bukan hanya tangan tapi semuanya.
Perlahan Azfan mengembangkan senyum karena perkataan Khalisa mampu membuat rasa gundahnya berkurang. Benar saja, ia punya Khalisa maka tak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Temen-temen SMA ku nggak semua dari lingkungan pondok jadi Haura jangan terkejut kalau ucapan mereka ada yang menyinggung perasaan Haura."
Khalisa mengerti lagi pula ia terbiasa mendengar kata-kata pedas karena keluarga besarnya dari pihak Jaya juga memiliki lidah tajam seperti silet yang bisa mengiris hati pendengarnya.
Azfan mengangguk menggenggam tangan Khalisa keluar dari unit apartemen menuju basemen dimana mobil Khalisa diparkirkan.
Acara reuni itu diadakan di salah satu restoran yang terletak di tengah kota Yogyakarta dan diperkirakan akan dihadiri oleh 100 alumni seangkatan Azfan.
"Baju ini bikin kulit Mas Azfan kelihatan lebih putih lo." Tukas Khalisa ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Haura pandai memilih warna baju." Azfan mulai menjalankan mobil dengan kecepatan sedang di jalanan yang padat disiang ini. Jalan raya memang tak pernah sepi oleh kendaraan yang berlalu-lalang. Beberapa tahun ini pemerintah sedang mendorong masyarakat untuk memakai kendaraan umum agar kemacetan berkurang.
Sekitar 30 menit perjalanan mereka sampai di sebuah restoran dengan arsitektur bangunan bergaya tradisional khas Yogyakarta. Restoran itu telah dibooking oleh ketua panitia reuni hasil iuran seluruh peserta.
Azfan turun lebih dulu membukakan pintu mobil untuk Khalisa.
"Mas, aku ke toilet sebentar ya." Khalisa ingin buang air kecil.
"Mau aku antar?"
__ADS_1
"Enggak usah, cuma sebentar, Mas duluan aja samperin mereka."
Di dalam sana sebagian besar alumni sudah hadir memenuhi restoran. Mereka terlihat berbincang-bincang dan sesekali tertawa.
"Tahun ini Azfan bilang mau datang." Tukas cowok berambut ikal, salah satu teman SMA Azfan bernama Ridho yang telah mengirim email pada Azfan tentang acara reuni tersebut.
"Oh ya? tumben, biasanya dia paling anti ikut acara kumpul-kumpul begini." Sahut cowok bertubuh kurus dengan rambut klimis.
"Kita tahu sendiri lah dia nggak punya uang, iuran reuni ini kan nggak sedikit." Cewek berjilbab hitam ikut menimpali.
"Udah-udah, jangan ngomongin orang di belakang." Naira menengahi, ia adalah putri kyai pengasuh pondok pesantren tempat mereka belajar dulu.
"Ya ampun Ning, kalau nggak ada Ning Naira mah kami pasti lebih parah dari ini." Balas mereka.
"Assalamualaikum." Suara Azfan mengalihkan perhatian mereka.
"Waalaikumussalam." Mereka salah tingkah karena orang yang mereka bicarakan tiba-tiba muncul di depan mata.
Azfan menyapa mereka dengan senyum tipis dan menanyakan kabarnya. Azfan duduk bergabung dengan mereka, ia gelisah karena Khalisa tidak segera kembali dari toilet.
"Akhirnya Fan, tahun ini kamu ikut acara ini."
Azfan membuka mulut hendak membalas ucapan Miya bahwa sejak awal ia membayar iuran pada Fadil yang juga salah satu panitianya. Namun belum sempat Azfan menyahut, temannya yang lain lebih dulu menimpali.
"Fan, gimana sekarang kamu masih naksir Ning Naira?" Tanya mereka seraya melirik Naira yang duduk berjarak 3 kursi dari Azfan.
Mendengar namanya disebutkan Naira membelalak, dari sudut matanya ia melihat Azfan masih setia memasang wajah datar. Azfan bergeming padahal Naira penasaran pada jawaban cowok itu. Ia sendiri sudah lama mengetahui fakta bahwa Azfan menyukainya. Namun setelah lulus mereka tidak pernah bertemu lagi sehingga Naira tak tahu apakah Azfan masih memiliki perasaan yang sama terhadapnya.
"Kalaupun masih naksir pasti cinta kamu nggak akan terwujud Fan, karena Yusuf yang santri kesayangan Kyai saja nggak bisa bikin Naira jatuh hati."
"Astaghfirullah, kenapa kalian jadi ngomongin aku?" Naira menatap tajam pada teman-temannya, ia dari tadi diam tapi kena senggol juga oleh mulut mereka. Selain itu mereka terlalu banyak bicara sehingga tidak ada kesempatan bagi Azfan untuk menjawab. Sungguh Naira penasaran pada perasaan Azfan sekarang. Naira agak kaget melihat penampilan Azfan sekarang, jauh berbeda dengan saat SMA dulu. Naira akui bahwa Azfan memang tampan dan pendiam. Itu sudah cukup untuk menjadi suami idaman bagi Naira. Astaghfirullah, apa yang sudah Naira pikirkan.
"Tapi Azfan kamu hebat lo bisa kuliah di UII, kamu emang anak beasiswa sejati, dari SMP sampai kuliah bisa kena biaya murah, Allah maha adil."
Azfan menelan kembali kalimatnya, ia telanjur malas dengan hinaan mereka yang dibungkus dengan kata-kata manis. Kemampuan mereka untuk mencemooh orang telah berkembang.
"Apa salahnya dapat beasiswa, itu membuktikan kalau dia mahasiswa yang pintar dan pantas diperhitungkan oleh kampus."
Kedatangan Khalisa mengalihkan perhatian mereka. Khalisa menyentuh pundak Azfan dan menebarkan senyum pada mereka. Khalisa memang tidak mendengar percakapan mereka sepenuhnya tapi itu cukup membuatnya mengerti bahwa Azfan sedang tersudut.
__ADS_1
"Maaf telat memperkenalkan diri, saya Khalisa istri Mas Azfan."
Mereka tertegun untuk beberapa saat termasuk Naira yang sama sekali tidak berpikir kalau Azfan sudah menikah. Mengapa tak ada yang tahu jika Azfan sudah menikah.
"Semoga kalian berkenan menerima saya ikut acara ini." Khalisa duduk di kursi kosong yang terletak di samping Azfan.
"Dan tenang aja kami juga sudah membayar iuran pada Fadil." Akhirnya Azfan bisa mengeluarkan suara setelah kedatangan Khalisa membuat mereka terdiam.
"Loh Azfan kamu udah nikah, kok nggak ngasih undangan sih?" Tanya Miya.
"Undangannya terbatas dan kami juga nggak nikah disini jadi maaf nggak bisa undang kalian." Jawab Azfan.
"Tunggu-tunggu, kamu Khalisa, kayak nggak asing sama nama itu." Yara yang duduk tepat di samping Khalisa melihatnya lekat. Kemudian setelah sadar bahwa yang ada di hadapannya adalah Khalisa Syanin Alindra Yura membelalak.
"Nama Khalisa kan nggak cuma satu di dunia ini." Sahut yang lain.
"Kamu anak Daniel Alindra?" Yura terkejut lebih ke tidak menyangka bahwa Azfan teman mereka menikah dengan Khalisa.
"Iya bener, kamu kenal sama Papa aku?" Khalisa masih setia tersenyum.
"Nggak kenal juga sih tapi sering denger namanya, beliau juga yang mendirikan komunitas mualaf yang anggotanya sekarang ada dimana-mana." Yura membeberkan kekagumannya pada Daniel.
"Gimana ceritanya kalian bisa nikah?" Tanya mereka tak percaya.
"Kalian tahu kan Mas Azfan itu orangnya gimana, pendiam dan pemalu tapi Masya Allah saya jatuh hati ketika mendengar bacaan Al-Qur'an nya." Khalisa melihat Azfan yang menarik tangannya lalu menggenggamnya. "Jadi saya yang melamar dia duluan." Khalisa merendahkan suaranya saat mengucapkan kalimat itu.
Teman-teman Azfan langsung heboh tak percaya karena mereka hampir tidak pernah mendengar pihak perempuan yang lebih dulu melamar. Bahkan Azfan tak mengira bahwa Khalisa akan menceritakan hal tersebut pada mereka.
"Jadi cuma itu alasan kamu jatuh cinta sama Azfan?" Giliran Ridho memberi pertanyaan.
"Cuma itu?" Khalisa mengulang pertanyaan Ridho, "menurutku itu alasan yang luar biasa ketika sebagian besar orang menilai seseorang dari uang yang mereka miliki, ada juga yang menilai dari beasiswa yang mereka dapatkan lalu merendahkannya padahal menurutku itu justru bagus." Khalisa menjawab dengan nada menyindir ditambah senyum yang selalu terlukis di wajahnya. Jika menyakiti orang dengan tetap tersenyum maka Khalisa juga bisa melakukannya.
Mereka kembali terdiam tidak berani bertanya apapun lagi terhadap Khalisa.
Satu per satu waiter mengantar makanan ke atas meja-meja yang tersebar di seluruh penjuru restoran. Sebagian lainnya juga berada di area outdoor restoran tersebut.
Tadinya Khalisa berekspektasi tinggi terhadap teman-teman Azfan, ia berpikir mereka tak seperti yang Azfan katakan. Namun rupanya mereka jauh lebih parah dari itu. Sepertinya Khalisa tak akan memaksa Azfan untuk ikut acara seperti ini lagi.
Setelah berbincang-bincang cukup lama Khalisa mulai mengetahui cinta pertama Azfan yang juga hadir hari ini. Khalisa melirik Naira yang duduk tak jauh darinya. Naira memang cantik dan tak banyak bicara. Khalisa mengerti kenapa Azfan dulu menyukai seorang Naira.
__ADS_1