
Data penjualan produk Alindra Beauty menurun drastis sejak seminggu terakhir. Dalam hal ini tak hanya krim anti strechmark tapi juga hampir seluruh produk. Dampak media sosial begitu terasa, orang-orang akan mudah terhasut dan menyuarakan untuk menghentikan pembelian produk Alindra Beauty walaupun mereka tak mengerti alasannya.
Aisyah berpikir keras untuk menghadapi semua ini, ia telah melewati banyak cobaan dalam meneruskan bisnis papa dan mama nya itu. Aisyah telah membicarakan hal ini dengan Daniel dan Khalisa. Mereka mengumpulkan bukti sebanyak mungkin untuk memenangkan kasus tersebut. Aisyah harus membuktikan bahwa Alindra Beauty tidak bisa dijatuhkan semudah itu.
Khalisa menutup laptopnya setelah menyelesaikan panggilan video dengan Daniel dan Aisyah. Daniel meminta Khalisa untuk tetap tenang dan tetap fokus pada ujian skripsi yang sudah berada di depan mata. Aisyah mengatakan dokter yang menangani Elena bersedia menjadi saksi. Polisi juga telah mendapatkan catatan medis Elena. Meski begitu Khalisa tak bisa tenang kalau masalah ini tidak segera ditangani.
"Minum vitaminnya dulu." Azfan menghampiri Khalisa dengan membawa segelas air dan ASI booster yang biasa Khalisa minum.
"ASI nya seret dari kemarin padahal aku udah rutin minum vitamin." Khalisa memasukkan satu kapsul ASI booster ke dalam mulut dan meneguk segelas air hingga habis.
"Itu karena Umma banyak pikiran." Azfan memutar kursi Khalisa agar menghadap dirinya.
"Aku merasa bersalah sama Azka karena ASI ku nggak lancar." Khalisa mendongak menatap Azfan dengan pandangan sayu. "Aku gagal jadi ibu yang baik untuknya."
Azfan menggeleng, "jangan bilang seperti itu, Umma sudah berusaha yang terbaik untuk Azka."
"Aku juga gagal meneruskan bisnis keluarga."
"Sayang, ini nggak bisa dikatakan sebagai kegagalan karena krim itu sudah terjual lebih dari sepuluh ribu sejak pertama kali diluncurkan."
Khalisa menunduk dalam dan mulai terisak, ia telah menyusahkan banyak orang. Ternyata Khalisa tak sekuat yang dirinya bayangkan, ia amat lemah. Khalisa terlalu yakin bisa menangani semuanya tapi itu tidak mudah.
"Menangis lah, aku justru khawatir karena nggak lihat Umma menangis." Azfan memeluk Khalisa, ia paham betul jika Khalisa tak mau menampakkan kesedihannya di depan orang lain. Khalisa lebih sering menangis saat shalat. Azfan tak kuasa jika melihat Khalisa terus menerus menahan tangisannya agar terlihat tegar. Azfan selalu siap menjadi tempat Khalisa berkeluh kesah. Sayangnya Khalisa sangat jarang mengeluh seolah ia bisa mengatasi semuanya sendiri.
"Kalau lelah bilang aja, lelah itu sifat alami manusia." Azfan menepuk-nepuk punggung Khalisa.
"Aku capek Bi." Khalisa semakin terisak, akhirnya kata itu keluar dari mulutnya. Khalisa lelah harus bolak-balik kampus untuk melakukan bimbingan skripsi, ia lelah terbangun di tengah malam untuk mengganti popok Azka dan menyusuinya. Khalisa lelah memilih setiap bahan untuk membuat krim itu dan merevisinya berkali-kali demi menghasilkan produk terbaik hingga sampai ke tangan konsumen. Khalisa lelah memasak dan membersihkan rumah. Khalisa lelah karena harus menggendong Azka sambil menahan kram di perutnya. Khalisa lelah menahan diri untuk tidak menjahit karena tak memiliki cukup waktu padahal ia memiliki ratusan desain di buku sketsanya. Khalisa hampir kehilangan kewarasannya menjalani ini semua.
"Ada kalanya kita harus istirahat agar apa yang kita kerjakan mendapatkan hasil yang lebih baik, istirahat bukan berhenti, Umma boleh istirahat."
Khalisa memejamkan mata membenamkan wajahnya di perut Azfan. Tidak. Khalisa meralat semua kalimat yang baru saja ia pikirkan. Khalisa bersyukur karena masih bisa melakukan hal-hal yang membuatnya lelah. Khalisa bersyukur bisa menjadi seorang ibu yang harus bangun tengah malam untuk menyusui sang buah hati. Khalisa tidak boleh lelah apalagi menyerah. Ada Azfan yang akan selalu membantunya dalam situasi apapun.
"Cuci muka yuk terus siap-siap ke kampus." Ajak Azfan setelah merasa Khalisa lebih tenang.
Khalisa mengurai pelukan menatap baju Azfan yang basah karena air matanya.
"Nangis itu bukan berarti lemah, sama seperti tertawa ia adalah ungkapan emosi kita jadi jangan merasa bersalah karena menangis." Azfan mengusap air mata Khalisa yang membasahi pipi mulusnya. Azfan mendaratkan kecupan di kening Khalisa cukup lama.
Hari ini Khalisa akan menjalani sidang skripsi. Setelah mengikuti beberapa kali bimbingan dan mendapatkan persetujuan dosen akhirnya skripsi Khalisa sudah dapat diujikan. Khalisa telah mempersiapkan sidang ini dengan baik, ia berharap semuanya berjalan lancar.
"Aku aja yang gendong Azka biar baju Umma nggak kusut." Azfan memasang Hipseat.
Khalisa memposisikan Azka menghadap ke depan agar bisa melihat pemandangan di sekitarnya.
"Yeah hari ini Azka ikut Umma sama Abi ke kampus." Khalisa menggenggam tangan Azka dan mengayun-ayunkan nya. Azka tertawa ceria, kakinya menendang-nendang aktif.
"Azka mau jajan batagor Umma." Azfan mengecilkan suaranya seperti anak kecil.
"Belum boleh, Azka jajan ASI aja ya." Khalisa mencium bibir merah Azka beberapa kali dengan gemas. "Abi nya aja ya yang jajan batagor nanti pakai sambel, oh iya Bi semua barang-barang Azka ada disini." Khalisa mengambil baby bag Azka dimana ia telah memasukkan popok baru, tisu basah, susu dan mainan kesukaan Azka.
"Susunya udah diangetin sayang?"
"Udah, aku taruh beberapa kantong susu juga di cooler bag buat jaga-jaga."
Khalisa duduk di kursi kemudi sementara Azfan dan Azka berada di jok sampingnya. Perjalanan dari ruko ke kampus hanya sekitar 7 menit dengan kecepatan rendah. Khalisa pergi lebih awal agar tidak gugup saat mendapat giliran nanti.
"Azka happy banget nih naik mobil." Khalisa menginjak gas meninggalkan ruko dua lantai yang telah ditinggalinya selama satu tahun ini.
__ADS_1
"Umma jangan tegang, aku yakin Umma udah paham betul tentang skripsi itu."
"Inshaa Allah, semoga aku bisa jawab semua pertanyaan penguji begitupun dengan Abi."
"Aku masih Minggu depan tapi sekarang udah deg-degan."
Ujian ini sangat penting bagi mereka untuk menentukan kelulusan selama 4 tahun mengenyam pendidikan di kampus UII.
"Azka doain Umma ya biar sidang nya lancar." Azfan mencium puncak kepala Azfan yang tertutup tudung jumper nya. Khalisa sengaja memakaikan jumper dengan bahan tebal karena cuaca sedang mendung.
Ketika Azfan turun dari mobil, beberapa mahasiswa lain langsung salah fokus pada Azka. Ini karena Azka pertama kalinya dibawa ke kampus apalagi sebelumnya tak pernah ada yang membawa bayi.
"Ya ampun anak Khalisa gemes banget." Teman-teman Khalisa mentowel pipi tembam Azka.
Khalisa tertawa, tak apa jika mereka mentowel pipi Azka asal jangan pipi Abi Azka.
"Kenalin Aunty, namanya Azka." Khalisa memperbaiki posisi kupluk Azka yang sedikit miring.
"Masya Allah Azka mirip Mama nya."
"Oh ya?" Khalisa membelalak, akhirnya ada yang bilang Azka mirip dirinya. Itu karena mereka tak pernah bertemu Daniel sebab semua orang yang mengenal Daniel pasti akan bilang Azka mirip Akong nya.
"Aku pergi dulu ya." Pamit Khalisa pada Azfan.
"Nanti kalau udah selesai telepon aku, semoga lancar ya." Azfan mengusap kepala Khalisa dan berdoa agar sidang Khalisa hari ini berjalan lancar.
"Umma pergi dulu ya sayang." Khalisa mencium pipi Azka yang kemerahan.
Saat melihat Khalisa semakin berjalan menjauh Azka mulai menangis dan menunjuk-nunjuk ke arah Umma nya, ia tak ingin Khalisa meninggalkannya. Azka ingin ikut Khalisa pergi.
"Umma masih kuliah nanti kalau udah selesai Umma kesini lagi ya." Azfan mengalihkan perhatian Azka pada pohon-pohon yang ada di sekitar mereka. Azfan juga memberikan mainan kesukaan Azka agar berhenti menangis. Rupanya Azka sudah bisa mengenali wajah Umma nya sehingga enggan jauh-jauh dari Khalisa.
"Khalisa!"
Khalisa mengerjapkan mata mendengar panggilan seseorang di ujung koridor. Huma tampak melambaikan tangan lalu setengah berlari menghampiri Khalisa. Huma juga akan menjalani sidang skripsi hari ini.
"Gila tegang banget aku!" Huma menekan dadanya yang terasa mau meledak saking tegang nya.
"Nggak usah tegang nanti malah lupa sama materi sendiri." Khalisa menepuk-nepuk bahu Huma padahal ia sendiri sedang tegang.
*****
Khalisa memasang senyum ketika memasuki ruangan ujian untuk menutupi ketegangannya. Di hadapannya terdapat 3 dewan penguji dan 1 dewan pembimbing yang selama ini telah membimbing Khalisa menyelesaikan skripsinya.
Khalisa mulai mempresentasikan materi skripsinya tentang formulasi krim anti strechmark yang mengandung Lipobelle Soyaglycone sebagai bahan utama. Lipobelle Soyaglycone adalah bentuk liposom dari genistein yang diambil dari kacang kedelai. Bahan tersebut dapat membantu memproduksi kolagen sehingga ampuh untuk mencegah munculnya strechmark khususnya pada ibu hamil.
Khalisa dapat menjelaskan materinya dengan baik karena ia telah mempelajari ini bahkan sebelum menyusun skripsinya.
Pertanyaan demi pertanyaan diajukan dan Khalisa dapat menjawabnya dengan lancar yang bisa diterima oleh dewan penguji. Namun ada juga beberapa kekurangan pada materi yang Khalisa tuliskan sehingga ia harus merevisinya. Padahal Khalisa yakin materi tersebut sudah sempurna tapi ada saja hal yang terlewat. Dewan penguji memang begitu teliti terhadap materi-materi tersebut.
Khalisa dapat mengembuskan napas lega setelah keluar dari ruangan, akhirnya setelah berada selama kurang lebih satu jam ia dapat menghirup udara segar di luar ruangan. Rasa lega menyelimuti Khalisa karena bisa mengikuti sidang dengan lancar.
"Semangat, mereka baik kok." Khalisa menenangkan Huma yang sebenar lagi mendapat giliran masuk ke ruangan itu.
Wajah Huma memerah, "semoga aku nggak pingsan di dalam."
"Enggak bakal lah, kamu udah latihan sama aku kan."
__ADS_1
Huma mengangguk pelan, ia meneguk sedikit air mineral sebelum masuk ke ruang ujian. Semoga Huma tidak kebelet kencing di tengah-tengah sidang apalagi sampai ngompol.
Khalisa merogoh tasnya mengeluarkan ponsel untuk menelepon Azfan.
"Aku di kantin Umma." Suara Azfan terdengar tidak terlalu jelas karena gemuruh mahasiswa lain. Khalisa tebak keberadaan Azka di kantin telah mencuri perhatian mereka.
Khalisa buru-buru melangkah menuju kantin untuk menyusul dua laki-laki paling berarti di hidupnya. Ralat. Daniel dan Azmal juga laki-laki paling berarti di hidup Khalisa ditambah Jaya dan Yusuf kakeknya. Ada banyak sosok berarti di hidup Khalisa sehingga jika ditanya ia tak akan bisa menyebutkannya dalam satu tarikan napas.
Senyum Khalisa mengembang melihat Azfan yang tengah duduk di salah satu kursi kantin. Khalisa mengedarkan pandangan mencari keberadaan Azka, dimana si mungil Azka?
"Bi."
Azfan menoleh dan tersenyum lebar melihat Khalisa, ia menanyakan bagaimana ujian Khalisa hari ini. Khalisa mengatakan bahwa semuanya lancar tanpa ada kendala yang berarti.
"Syukurlah kalau begitu." Azfan mengusap lengan Khalisa, "aku percaya Umma bisa."
"Azka mana?"
"Itu lagi sama anak-anak yang aku nggak tahu siapa tapi mereka tahu kamu." Azfan menunjuk pada kerumunan mahasiswi yang sedang bergiliran menggendong Azka. Azfan tak bisa mencegahnya karena mereka memaksa ingin menggendong Azka.
Khalisa menghampiri mereka, Azka sedang berada di gendongan Clarin.
"Eh eh kok kayak mau nangis sih?" Seru mereka melihat ekspresi wajah Azka.
Azka mulai merengek, sepertinya ia tidak betah berada di tengah-tengah kerumunan orang yang membuatnya kegerahan.
"Nah ini Mama nya datang, hayo loh Clarin bikin Azka nangis."
"Eh enggak kok, sumpah nggak aku apa-apain." Clarin mengacungkan dua jari pada Khalisa.
"Kayaknya Azka haus, Aunty." Khalisa mengusap air mata Azka.
"Minum susu Aunty aja ya." Canda Clarin.
"Emang ada isinya?" Celetuk yang lain.
Clarin mendelik, "susu aku namanya susu Indomilk bukan ASI."
"Azka pulang dulu ya Aunty, makasih udah nemenin Azka." Khalisa mengambil alih Azka yang mulai rewel, ini adalah waktu Azka tidur siang.
"See you Azka." Mereka melambaikan tangan melihat kepergian Khalisa dan Azka.
Sesampainya di mobil Khalisa langsung menyusui Azka. Kali ini Azfan yang mengemudi menuju rumah. Mereka akan pulang sebentar sebelum pergi ke kantor polisi untuk mengikuti proses penyidikan.
"Azka ngantuk banget kayaknya." Azfan melirik Azka yang mulai terpejam sambil menyusu.
"Ini waktunya Azka tidur Bi tapi Azka diajak main terus sama Aunty di kampus jadinya Azka rewel."
"Mereka excited banget lihat Azka tadi, pipi Azka juga nggak berhenti ditowel sama mereka."
"Asal jangan Abi nya yang ditowel."
Azfan tertawa, "kalau nggak?"
"Kalau nggak aku bakal cuci pipi Abi pakai detergen biar bersih dari bekas towelan cewek lain."
Azfan kembali tertawa, hal seperti itu tak mungkin terjadi karena Azka jauh lebih menggemaskan.
__ADS_1