
Rindang menyiapkan berbagai hidangan untuk menyambut mertuanya. Valerie akan berkunjung ke rumah Rindang dan Levin untuk pertama kalinya. Meskipun makanan itu bukan masakan Rindang sendiri tapi ia cukup lelah karena perutnya juga sudah membesar. Rindang jadi sulit bergerak.
Levin sudah memberitahu untuk tidak perlu menyiapkan banyak makanan untuk orangtuanya. Namun Rindang ingin memberikan yang terbaik, ini adalah bentuk rasa syukurnya karena akhirnya Valerie bisa menerimanya sebagai menantu.
"Itu mobil mereka." Levin melihat mobil papa nya berhenti di depan rumah. Levin bergegas membuka gerbang sedangkan Rindang pergi ke kamar untuk memanggil Ravina yang juga begitu bersemangat menyambut Akong dan Ama nya.
"Selamat tahun baru Vin." Michael memeluk Levin dan menepuk-nepuk punggungnya. "Semoga tahun ini kamu dan Rindang mendapat banyak berkat dan kebahagiaan."
"Aamiin, terimakasih Pa." Levin juga memeluk mama nya dan terakhir mengucapakan selamat tahun baru pada Meylin. "Harusnya kami yang datang ke rumah Papa dan Mama."
"Kami bisa ngerti, Rindang juga nggak mungkin menempuh perjalanan jauh dengan kehamilannya yang sudah tua." Sahut Valerie.
"Selamat tahun baru Ko." Meylin memeluk Levin erat, ia sangat merindukan Levin karena sejak menikah mereka jadi jarang bertemu. Meylin merasa sangat kesepian di rumah tapi melihat Koko nya bahagia bersama Rindang, ia jadi tak terlalu khawatir.
"Meme mau hadiah apa nih dari Koko?" Tanya Levin pada sang adik.
"Koko harus lulus cepet dan jadi dokter yang hebat."
"Koko nggak salah dengar, Meme udah dewasa banget sekarang."
Meylin tersipu dipuji seperti itu oleh Kokonya. Jika Levin masih tinggal di rumah mungkin Meylin tak akan pernah berkembang dan masih suka bertingkah manja.
"Ravina!" Meylin berseru melihat Ravina di depan pintu, "Ai kangen banget sama kamu." Meylin menggendong Ravina meski ia harus menggunakan tenaga ekstra.
"Ravina juga kangen Ai Meylin." Mata Ravina berbinar-binar menatap Meylin.
"Rambut kamu lucu banget, siapa yang bikinin cepol?"
"Mama."
Rindang mengucapkan selamat tahun baru pada mertuanya dan berterimakasih karena mereka sudah meluangkan waktu untuk datang kesini.
"Mama nggak sabar mau ketemu dia." Valerie mengusap perut Rindang, baginya janin yang di dalam perut Rindang saat ini tetaplah cucu pertamanya.
"Ma, Ravina lucu banget pakai gaun merah ya." Michael mengambil alih Ravina karena Meylin terlihat kesusahan menggendongnya.
Valerie hanya melirik Ravina sebentar tanpa membalas kalimat Michael. Jujur saja Ravina memang tampak menggemaskan dengan gaun merah tersebut. Namun Valerie tak mau memujinya.
"Kalian harus makan, Rindang udah siapin semuanya." Levin mengajak semuanya masuk.
"Tapi saya nggak masak sendiri, semuanya beli." Timpal Rindang sebelum mereka mengira jika makanan di atas meja itu adalah masakannya.
"Nggak apa-apa, kamu lagi hamil besar begini jangan sampai kecapekan."
Rindang lega karena Valerie tidak mempermasalahkan itu. Levin juga sudah memberitahu hal tersebut tapi tetap saja Rindang merasa khawatir. Ia juga tak terlalu pandai memasak.
Mereka duduk mengelilingi meja makan untuk menyantap sarapan. Valerie dan Michael memang melewatkan sarapan di hotel karena ingin makan bersama Rindang dan Levin.
"Nggak ada Hong bak ya?" Meylin melihat semua sajian di atas meja, ada satu menu yang selalu ada di rumahnya setiap hari tapi tidak ada disini.
__ADS_1
Valerie dan Michael saling berpandangan, kenapa Meylin tiba-tiba menanyakan olahan yang tak bisa dimakan oleh Rindang dan Levin. Mungkin karena Levin sudah lama tidak tinggal di rumah, Meylin lupa jika Koko nya sudah memeluk Islam sejak lama.
"Meylin mau Hong bak, Cece pesenin sekarang." Rindang mengambil ponsel yang ada di atas meja. Rindang tahu restoran Chinese non halal yang dulu selalu menjadi tempat makan favoritnya. Hong bak di restoran itu sangat enak, Rindang akan memesannya untuk Meylin.
"Apa nggak masalah kalau kita menyandingkan makanan non halal dengan makanan halal?" Michael bertanya, ia tak mau membuat kesalahan.
Meylin mendelik, ia lupa jika Rindang dan Levin tidak bisa makanan olahan daging babii.
"Ce nggak usah, maaf banget aku lupa." Meylin menautkan dua tangannya di depan dada meminta maaf pada Rindang. Ia juga meminta maaf pada Levin dan Ravina meskipun si kecil Ravina tidak tahu apa yang membuat Meylin harus minta maaf padanya.
"Enggak, nggak apa-apa, Cece pesenin."
"Enggak Ce, nggak jadi, aku makan ini aja."
"Terimakasih karena Meme sudah mau mengerti." Ujar Levin pada Meylin, ia memaklumi jika Meylin lupa.
Rindang meletakkan ponselnya kembali, padahal ia tak masalah jika Meylin memang menginginkan Hong bak. Asal mereka tetap menjaga agar makanan tersebut tidak bercampur.
Meylin mengutuk dirinya sendiri dalam hati, bagaimana mungkin ia bisa lupa hal sepenting ini. Itu karena Meylin selalu makan Hong bak di rumah.
"Mama bikinin baju buat anak kamu nanti." Valerie mengeluarkan jaket, baju tidur dan beberapa topi yang ia rajut sendiri untuk anak Rindang nanti.
"Ya ampun Ma, ini bagus banget, Mama bikin semuanya sendiri?"
"Iya."
"Makasih banyak Ma, padahal Mama sibuk tapi masih sempet bikinin baju."
Mata Rindang berkilat-kilat melihat tiga jaket rajut berwarna biru, kuning dan abu-abu yang sangat cantik. Untuk membuat satu jaket saja memakan waktu yang tidak sebentar.
Sejak mengetahui Rindang hamil, Valerie mulai merajut pakaian untuk calon cucunya tersebut. Itu adalah impiannya sejak lama bahkan sebelum Levin menikah.
Valerie tidak menyukai Rindang dulu karena penyakitnya. Valerie sudah memperkirakan bahwa Rindang tak mungkin hamil. Namun ternyata Rindang berhasil hamil, itu akhirnya membuat Valerie bisa menerimanya.
"Mama, ini baju buat adik ya?" Ravina menunjuk baju-baju tersebut lalu melihat mama nya.
"Iya sayang, bagus ya Ama bikinnya."
"Bagus." Ravina manggut-manggut. "Ravina juga mau baju kayak gini."
"Nanti Mama beliin ya." Rindang mengusap kepala Ravina pelan, takut merusak rambut yang sudah ia tata sedemikian rupa.
Ravina terdiam, wajahnya menyiratkan kekecewaan. Ama nya membuat baju itu hanya untuk adik padahal Ravina juga menginginkannya.
"Mama, Papa dan Meme nginep dimana?" Tanya Levin, ia mengangkat Ravina agar duduk di pangkuannya. Ia bisa melihat perubahan raut muka Ravina. Pasti Ravina juga berharap Valerie membuat baju untuknya juga.
"Di resor nya Bu Alisha,apa namanya Pa?" Valerie melihat Michael, ia tak ingat persis nama resor tempat mereka bermalam.
"Resor Jinggo." Jawab Michael.
"Itu pun karena terpaksa, Meylin yang minta."
__ADS_1
"Tapi tempatnya bagus banget kan Ma." Meylin membela diri, ia sudah mencari penginapan yang memiliki pemandangan indah di Banyuwangi. Resor Jinggo salah satunya dan Meylin merasa puas dengan pemandangan yang disajikan. Ia ingin tinggal disini lebih lama.
"Iya sih." Valerie tidak bisa memungkiri bahwa tempat itu memang bagus.
*******
Pakaian untuk calon buah hatinya sudah Rindang siapkan di lemari khusus. Tidak banyak yang baru karena baju Ravina saat bayi juga banyak dan masih layak pakai. Mereka mengetahui jenis kelamin sang jabang bayi setelah beberapa kali melakukan USG. Rindang akan segera memiliki putri kedua. Rindang bisa membayangkan betapa menggemaskan memiliki dua anak perempuan.
Rindang menggantung jumper dan jaket rajut buatan Valerie bersama baju-baju yang lain.
"Ravina kapan mau pergi beli baju?" Rindang bertanya pada Ravina yang sedang mewarnai di atas tempat tidur.
"Ma, Ama bikin sendiri baju buat adik?" Ravina mengangkat wajah, mengalihkan perhatian dari buku gambar miliknya.
"Iya, Ama suka merajut katanya makanya dia bikin baju buat adik."
"Tapi kenapa Ama nggak pernah bikinin buat Ravina?"
Rindang terkejut tak menduga bahwa Ravina akan bertanya seperti itu. Rindang menyesal karena tidak memikirkan perasaan Ravina.
Rindang melangkah dan duduk di samping Ravina yang tengkurap sambil mewarnai gambar pemandangan.
"Bukannya Ama nggak mau bikin, tapi Ama kan sibuk terus Ravina juga udah besar badannya jadi Ama nggak sempet bikin buat Ravina."
Ravina terdiam mencerna kalimat mama nya.
"Jadi Ama bukannya nggak mau bikin buat Ravina?"
"Iya, Ama mau bikin tapi nggak sempet, Ama kan kerja seharian di ruang operas," Rindang mengangkat Ravina agar duduk berhadapan dengannya. "eh gimana kalau Mama bikinin baju buat Ravina ya sekarang."
"Mama bisa?"
"Mama pengen banget bikin baju rajut buat Ravina tapi sayangnya Mama belum bisa jadi harus belajar dulu, Ravina mau nggak Mama jahitin gaun aja?"
"Tapi Mama udah sering bikin gaun."
"Ravina nggak mau?"
"Mau."
"Ya udah yuk, pilih kain sama Mama." Rindang menggendong Ravina menuju ruang kerjanya dimana ia menyimpan koleksi bahan kainnya disana.
Rindang membuka laci khusus bahan kain chiffon dengan berbagai warna. Itu adalah salah satu kain yang biasanya Rindang gunakan untuk membuat gaun.
Ravina memilih warna merah muda yang langsung disetujui oleh Rindang. Setelah itu Rindang memilih kain satin berwarna senada agar serasi untuk dijadikan kombinasi dengan bahan chiffon.
"Nanti Mama bikinin pita warna merah muda juga ya."
"Iya." Ravina mengangguk bersemangat. Meski sudah sering menemani Rindang menjahit pakaian tapi ia selalu senang saat melakukan itu.
Rindang melihat buku sketsa desainnya, ia menggambar banyak desain gaun untuk anak-anak. Setelah menemukan desain yang pas, Rindang segera membuat pola.
__ADS_1
Selagi bisa Rindang akan membuat banyak pakaian untuk Ravina. Setelah melahirkan, ia tak akan sempat melakukannya. Apalagi ini pengalaman pertama Rindang melahirkan, pasti rasanya akan jauh berbeda dibandingkan saat mengurus Ravina.