Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
95


__ADS_3

Lengket. Azfan menginjak kulit mangga ketika turun dari taksi di depan rumah mertuanya. Azfan menunduk memungut kulit mangga tersebut dan membuangnya ke tempat sampah. Kulit mangga itu menyadarkan Azfan bahwa ia hanya mengenakan sandal jepit yang hampir putus untuk kesini.


Azfan cukup nekat karena pergi ke Banyuwangi tanpa membawa apapun, hanya dengan ponsel di tangannya. Azfan sendiri tidak sadar jika ia pergi dengan membawa ponsel. Kalau tidak pasti ia tak akan sampai disini. Ia pergi cukup jauh ke kota paling timur di pulau Jawa tersebut.


Sarung dan kaos oblong yang melekat di tubuh Azfan sudah kering. Apakah ia pantas mentertawakan penampilannya sekarang. Jika hanya pergi ke minimarket depan rumah mungkin tak masalah tapi ia menaiki pesawat dengan pakaian kusut tersebut. Untungnya tak ada pandangan aneh yang menyapa Azfan atau karena ia tidak sadar karena dikuasai amarah sejak keluar dari rumah.


"Mas Azfan ya? sendirian Mas?" Seorang satpam menyadari kehadiran Azfan di depan pagar, buru-buru ia membukakan gerbang untuk Azfan.


"Iya." Azfan mengulas senyum tipis pada satpam, tadinya ia akan menunggu hingga pagi di depan rumah ini karena kedatangannya sudah pasti mengganggu istirahat Daniel dan Ica.


"Masuk aja Mas."


"Papa dan Mama pasti sudah tidur."


"Sepertinya belum karena lampu ruang kerja mereka masih nyala." Satpam menunjuk salah satu jendela di lantai dua yang tampak berwarna kekuningan karena lampu di dalamnya menyala. Satpam tersebut menyalakan HT memberitahukan kedatangan Azfan pada Daniel.


"Makasih Pak." Azfan berlalu dari sana masuk melalui pintu utama yang tidak dikunci, mungkin karena sudah ada dua satpam yang berjaga di depan.


Daniel dan Ica turun melalui tangga dengan terburu-buru antara percaya dan tidak ketika satpam memberitahu bahwa Azfan datang. Ketika melihat Azfan berdiri di depan pintu seorang diri, mereka makin tidak sabar menemui menantunya itu. Ada banyak pertanyaan di kepala mereka. Mengapa Azfan datang tanpa mengabari lebih dulu di tengah malam begini. Mengapa Azfan hanya datang sendiri. Sejak menikah Azfan dan Khalisa selalu pulang bersama. Apa masalah yang sedang menimpa keduanya hingga Azfan tidak bisa memberitahu lewat telepon. Apalagi Daniel dan Ica juga baru kembali dari rumah Azfan dan Khalisa setelah menginap beberapa hari.


"Azfan." Daniel dan Ica berseru bersamaan membuat Azfan yang tadinya menunduk kini berani mendongak. "Kamu datang sendiri?" Tanya Daniel tak percaya.


"Maafkan saya Pa." Azfan menghambur memeluk Daniel, ia menangis tanpa suara.


"Ada apa Azfan?" Ica tidak sabar, dadanya memanas melihat Azfan seperti itu. Perasannya tidak enak. Kenapa Azfan meminta maaf . Apakah Azfan memutuskan untuk meninggalkan Khalisa. Tidak, tidak mungkin.


"Maafkan Azfan Pa, Ma." Azfan melepas pelukan, "harusnya saya bisa menyelesaikan masalah ini sendiri dengan Khalisa tapi saya justru memilih pergi."


Daniel membimbing Azfan duduk di sofa agar lebih tenang untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Azfan duduk dengan digapit Daniel dan Ica di kiri dan kanan.


"Khalisa meminta saya menikah lagi dan tentu saja saya tidak mau apapun alasannya, tolong Papa dan Mama beritahu Khalisa untuk tidak melakukan ini." Terdengar nada putus asa dari suara Azfan. Ternyata pertemuan Khalisa dengan Naira kemarin menghasilkan keputusan yang tak dapat Azfan terima ini. Azfan ingin marah tapi ia tidak mungkin melampiaskan kemarahannya pada Khalisa. Ia hanya bisa pergi jauh berharap kemarahannya reda.


Daniel dan Ica kaget luar biasa mendengar jawaban Azfan. Mereka tak percaya Khalisa melakukan hal senekat itu pada Azfan. Padahal Ica sudah memberi nasehat pada Khalisa untuk tetap bersabar pada ketentuan Allah. Lalu kenapa sekarang Khalisa justru meminta Azfan berpoligami.


"Apa alasannya karena Khalisa nggak segera hamil?" Suara berat Daniel memecah keheningan beberapa saat di antara mereka. "Kamu yakin cuma itu?"


"Pa, apapun alasannya saya nggak mau menikah lagi." Tegas Azfan.


"Saya juga nggak mungkin membiarkan mu melakukan itu."

__ADS_1


"Khalisa tahu kamu pergi kesini?" Tanya Ica yang dijawab gelengan oleh Azfan. Pasti sekarang Khalisa sedang kebingungan mencari keberadaan Azfan. Tiba-tiba rasa bersalah menyergap ke dalam hatinya.


Daniel merangkul Azfan, ia menyadari betapa pikiran Azfan dan Khalisa masih labil tapi sebenarnya mereka sudah cukup dewasa untuk menjalani kehidupan rumah tangga. Namun semakin berjalannya waktu tentu ada masalah yang mampir untuk menguji keduanya. Disitulah peran orangtua juga diuji.


"Mama akan bicara pada Khalisa, kamu istirahat dulu di kamar." Ica beranjak dari duduknya melangkah menaiki anak tangga kembali ke ruang kerjanya untuk menelepon Khalisa.


Mereka memang belum tidur karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan ketika satpam memberitahukan kedatangan Azfan. Rencananya mereka akan tidur sebentar sebelum tahajjud. Namun kedatangan Azfan sepertinya akan membuat mereka terjaga lebih lama. Ica harus segera menelepon Khalisa yang pasti sedang kebingungan mencari keberadaan Azfan.


******


Pagi itu Rindang kedatangan Levin dan Meylin yang katanya sekalian mampir karena mereka joging di sekitar sini. Tentu saja Rindang tidak percaya karena rumah Levin cukup jauh dari apartemennya. Mereka pasti sengaja pergi kesini. Walaupun mereka datang dengan berpakaian olahraga tapi tidak ada setetes pun keringat yang luruh dari kulit putih keduanya. Rindang ingin tertawa karena Levin dan Meylin sungguh tidak pandai berakting.


"Mau minum apa?" Tanya Rindang setelah mempersilakan dua bersaudara itu duduk.


"Cece punya jus nggak?" Meylin yang sempat melongo beberapa saat melihat penampilan Rindang akhirnya bersuara.


"Ada, tapi jus kemasan nggak bikin sendiri, kalau yang bikin sendiri bisa ke rumah Khalisa." Canda Rindang seraya melangkah meninggalkan Levin dan Meylin untuk mengambil jus.


"Masa kamu nggak tahu, bukannya kamu suka main media sosial." Bisik Levin tak percaya jika ini pertama kalinya Meylin melihat perubahan Rindang.


"Sumpah Ko, aku nggak tahu." Meylin balas berbisik, ia memang sering main media sosial tapi bukan berarti ia jadi tahu segala hal tentang Rindang atau teman Levin yang lain.


"Jadi kalian cuma mampir kesini?" Rindang menyipitkan matanya menatap Levin dan Meylin.


"Sebenarnya kami kesini karena Meylin penasaran sama kamu Rin karena kemarin aku sempet cerita tentang kamu, sekalian aku juga mau pamit mau balik ke Banyuwangi nanti siang."


Meylin menyikut Levin karena memberitahukan hal itu pada Rindang.


Rindang tersenyum di balik cadarnya, tebakannya tidak salah. Mereka bukan hanya sekadar mampir.


"Cuma sebentar disini?"


"Iya, kalau Mama nggak diturutin pasti bakal ngomel terus minta aku pulang." Levin meneguk jus stroberi yang memiliki rasa dominan asam tersebut hingga tersisa setengah gelas.


"Aku salut sama Cece, nggak takut kehilangan followers."


Kini giliran Levin yang menyikut Meylin karena bicara sembarangan.


"Coba cek sekarang berapa followers aku." Kata Rindang untuk meyakinkan Meylin bahwa ia sama sekali tak takut kehilangan followers.

__ADS_1


Meylin benar-benar mengeluarkan ponselnya dan mengetik nama Rindang Anjana pada kolom pencarian. Sesaat kemudian Meylin mendelik karena jumlah followers Instagram Rindang jauh lebih banyak dari terakhir kali ia lihat, sekitar satu tahun yang lalu.


"Itu siapa?" Levin mendengar suara seseorang muntah-muntah dari dalam kamar Rindang.


"Itu Khalisa, dari tadi muntah-muntah, masuk angin kayaknya semalem abis hujan-hujanan."


"Masuk angin, mau aku beliin bubur nggak?" Levin menawarkan.


"Nggak usah Ko aku udah pesen bubur bentar lagi dateng,


aku samperin dia dulu ya, kuenya jangan lupa dimakan." Rindang menghampiri Khalisa yang tidak juga keluar dari kamar mandi. "Sa, aku masuk ya." Rindang menempelkan telinga pada pintu, tanpa menunggu jawaban Khalisa, ia menerobos masuk.


"Ke dokter aja yuk." Rindang memijit tengkuk Khalisa, ia khawatir karena beberapa hari ini kondsi Khalisa juga kurang baik. Sekalinya baikan, Khalisa nekat hujan-hujanan seolah ia manusia besi yang tahan banting, manusia besi sekalipun bisa berkarat terkena hujan.


"Aku udah pesen tiket ke Banyuwangi." Khalisa membasuh mukanya di wastafel.


"Yakin mau susulin Azfan dengan keadaan kamu yang kayak gini." Setelah tahu Azfan berada di Banyuwangi, Khalisa langsung ingin pergi menyusul sang suami.


"Tinggal minum obat aja ntar baikan." Khalisa melangkah keluar diikuti Rindang.


"Gimana mau minum obat kalau kamu belum makan apapun dari tadi."


"Siapa yang datang?" Khalisa mendengar suara orang lain di ruang tamu.


"Ko Levin sama Meylin."


Khalisa pergi menemui Levin dan Meylin di ruang tamu, ia menyapa keduanya dengan ramah dan duduk bergabung.


"Kamu sakit, wajah mu pucat banget."


"Beberapa hari ini emang lagi kurang sehat Ko." Khalisa mengulas senyum tipis dengan bibirnya yang pucat. Bagaimana tidak pucat, Khalisa telah mengeluarkan seluruh isi perutnya pagi ini dan belum makan apapun lagi.


"Oh iya kebetulan Ko Levin juga mau ke Banyuwangi, gimana kalau kalian bareng aja?" Rindang khawatir jika Khalisa pergi seorang diri dengan kondisinya yang tidak baik.


"Khalisa mau ke Banyuwangi juga?" Levin melihat Khalisa dan Rindang bergantian. "Pesawat yang jam berapa?"


"Jam satu siang Ko, aku ambil penerbangan paling awal hari ini."


"Aku juga jam satu berangkat, Garuda Indonesia?"

__ADS_1


Khalisa mengangguk. Rindang akhirnya bisa sedikit lega karena ada yang menemani Khalisa selama di perjalanan. Tadinya Rindang meminta Khalisa sabar menunggu hingga Azfan pulang. Namun Khalisa tidak bisa menunggu barang sebentar dan bersikukuh hendak menyusul Azfan. Pernikahan itu memang tidak mudah, Rindang makin yakin kalau ia tak akan pernah menikah. Ia sudah cukup bahagia dengan dirinya saat ini.


__ADS_2