Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
Epilog


__ADS_3

Angin sore bertiup lembut menggoyangkan pohon sawo kecik, pohon kepel, palem dan kurma yang tidak pernah berbuah meski tumbuh subur di sepanjang jalan Boulevard hingga depan masjid.


Disini 5 tahun yang lalu Khalisa diselimuti rasa bimbang saat hendak mengatakan perasannya pada Azfan. Khalisa mungkin satu-satunya wanita di tahun itu yang memiliki keberanian untuk mengajak seorang lelaki menikah dengannya.


Bagaimana jika ia menolak, bagaimana jika ia sudah menyukai wanita lain?


Namun dengan segala keraguan yang memeluk jiwanya, Khalisa tak punya pilihan selain mengatakan perasannya ketika Azfan keluar dari masjid setelah mendirikan shalat ashar berjamaah.


Azfan ingin mengatakan perasaannya pada gadis itu tapi ia tidak pernah punya kepercayaan diri untuk melakukannya. Setelah mendengar ungkapan perasaan Khalisa, Azfan merasa doa-doanya selama ini telah Allah kabulkan.


Khalisa, harusnya kamu nggak pernah berpikir jika aku akan menolak mu. Tidak.sama sekali tidak. Bahkan sebelum kamu menyatakannya, aku sudah menerima mu.


Azfan yang pemalu dan selalu demam panggung akhirnya memiliki pasangan yang super ramah dan selalu percaya diri di depan banyak orang. Azfan belajar banyak hal dari Khalisa.


Hingga saat ini Azfan selalu berterimakasih karena Khalisa mau menerimanya. Dulu Azfan tak punya apa-apa selain tekad yang kuat untuk menikahi Khalisa.


"Kenapa lihat aku gitu?" Azfan salah tingkah saat Khalisa menatapnya lekat.


"Aku cuma mau bilang terimakasih untuk semuanya, terimakasih sudah mengajarkan cinta yang sebenarnya." Khalisa tersenyum lembut—selembut angin yang bertiup sore itu. Angin itu mengingatkan Khalisa pada saat-saat penuh keraguan 5 tahun yang lalu.


"Jadi apa cinta yang sebenarnya?" Azfan menatap setiap lekuk wajah Khalisa dengan lekat. Sepasang mata sipitnya yang runcing dan kulit pucat nya.


"Cinta itu soal kebahagiaan dan kesedihan sekaligus, aku selalu ingat kata-kata Abi kalau saat bahagia membuat kita banyak bersyukur sedangkan kesedihan membuat kita semakin dekat pada-Nya."

__ADS_1


Mereka telah melalui banyak hal bersama. Tak hanya kebahagiaan dan canda tawa tapi juga kesedihan dan isak tangis. Khalisa masih ingat saat tahun pertama menikah ia sering menangis karena tak segera memiliki keturunan apalagi setelah mengetahui masalahnya ada pada dirinya. Namun Azfan selalu menguatkan Khalisa dan akhirnya mereka memiliki anak pertama yang luar biasa.


"Maka kebahagiaan dan kesedihan sama-sama berharga, seperti surga dan neraka, dua-duanya diciptakan dari Allah yang Maha Cinta." Azfan selalu mengajarkan pada Azka bahwa Allah adalah Maha Cinta yang sebenarnya. Allah bukanlah dzat yang emosinya berubah-ubah, Dia tak mungkin membenci mereka yang enggan beribadah. Allah selalu memanggil hamba-Nya dengan kasih sayang dan cinta yang amat banyak.


Khalisa meraih tangan Azfan dan mengecupnya. Matanya berbinar-binar saat menatap sang suami. Sepasang mata Khalisa memancarkan cinta yang meletup-letup seperti kembang api di tahun baru.


"Terimakasih sudah menghadirkan Azka dan Khadijah, Haura ku." Azfan juga mengecup punggung dan telapak tangan Khalisa. "Aku nggak bisa berjanji untuk selalu memberi kebahagiaan bagi kalian, yang jelas aku akan mencurahkan seluruh cintaku pada Umma, Azka dan Khadijah."


"Abi, Umma, aku juga cinta sama kalian." Azka mendongak menatap Abi dan Umma nya.


"Sama adik?" Khalisa mentowel pipi Azka.


"Sama adik juga, aku akan jadi Koko yang baik untuk Khadijah."


Meskipun wajah Azka lebih mirip Khalisa tapi sifatnya persis seperti Abi nya. Bahkan Azka juga kidal tapi ia mampu menulis dengan baik.


Azfan mengecup kening Khadijah yang berada di gendongan Khalisa. Setelah lelah menendang-nendang saat Khalisa shalat, Khadijah tertidur dengan sendirinya.


"Nggak ada wanita lain kan?" Khalisa menatap Azfan tajam, ia masih tidak bisa melupakan candaan Azfan saat itu.


"Nggak ada sayang, aku cuma bercanda waktu itu." Azfan kapok bercanda seperti itu lagi. Gara-gara candaan itu juga Azfan kena omel Daniel, Ica dan Kirana. Azfan tak akan bercanda seperti itu lagi.


Bagaimana mungkin ada wanita lain sedangkan hati Azfan yang sempit ini sudah dipenuhi oleh Khalisa.

__ADS_1


"Haura satu-satunya, ketahuilah bahwa setelah menikah dengan mu, hari-hariku terasa luar biasa, kamu tahu sendiri hidupku sangat hambar." Dulu kehidupan Azfan amat hambar tapi setelah mengenal Khalisa, jadi memiliki hidup yang manis dan penuh rasa. Awalnya Azfan merasa bahwa dunia Khalisa terlalu ramai untuknya yang selalu merasa kesepian. Namun Azfan salah, Khalisa selalu menuntun dan merangkulnya agar lebih dekat dengan anggota keluarga Khalisa yang lain.


"Kita akan melalui hari selanjutnya dengan berbagai rasa—besok, lusa, tahun depan dan tahun-tahun berikutnya."


Azfan mengangguk, ia selalu menyukai setiap detik yang dilaluinya bersama Khalisa dan anak-anak.


"Ayo pulang." Azfan menggenggam tangan Khalisa dan Azka menuju tempat parkir yang sudah lengang, hanya ada beberapa mobil dan motor yang tersisa.


"Abi, Umma, kapan Koko bisa punya adik lagi selain Khadijah?" Azka bertanya dengan wajah polosnya.


Khalisa dan Azfan yang berada di kursi kemudi saling berpandangan dan tersenyum.


"Tunggu adik Khadijah besar dulu sayang."


Azfan meraih tangan Khalisa dan menggenggamnya, ia tak akan memaksa Khalisa untuk memiliki anak lagi. Bagi Azfan dua anak sudah cukup membuatnya bahagia tapi jika Khalisa menginginkan satu atau dua anak lagi tentu ia tak akan menolak, itu artinya Azfan harus bekerja lebih keras lagi menafkahi mereka.





Bonus foto Khalisa waktu kecil.

__ADS_1


__ADS_2